Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Ujar mak Eha sembari mengambil satu ekor ikan yang di bungkus daun pisang dan di letakan di dalam caping itu. Dan tentu saja ucapan ibunya itu membuat Tumang merasa terkejut lantas segera melirik bahkan setengah merebut caping yang di bawa mak Eha.
"apa jang ?... Apa mau kau pasak sendiri ikannya ?"
Tanya mak Eha tak kalah heran pada gelagat Tumang yang menarik caping itu dari tangannya.
"Emak dapat ikan ini dari mana? Terus ini caping siapa mak?"
Pertanyaan itu yang di lontarkan Tumang dengan tatapan serius pada mak Eha.
"kau ini kenapa sih jang... Ngelindur atau bagaimana hah?
bukannya ikan ini kau sendiri yang bawa tadi malam. Kalo caping ini sih dari mang Darman tadi subuh. Katanya dia meminta kau meletakan ke orang orangan sawah di sawah mertuanya. Ya... nanti kau kan bisa sekalian lewat ke sawah Juragan"
Balas mak Eha sembari tersenyum menyaksikan Tumang yang tampak seperti bingung. mak Eha ingat betul sewaktu malam tadi. Di mana Tumang datang larut dan mengetuk pintu. Namun karena rasa kantuk berat, mak Eha hanya sekedar membuka kunci dan membukakan pintu lalu kembali masuk ke kamarnya. Dan di pagi harinya, ketika Tumang masih berada di dalam kamarnya, mak Eha mendapati ada ikan yang di bungkus daun pisang. Dan tanpa menanyakan pada Tumang, mak Eha segera membawa ikan itu ke dapur.
Mengetahui hal itu, Tumang pun pada akhirnya hanya mengangguk berusaha menutupi rasa bingungnya itu. Lalu keluar rumah berniat mandi di sumur yang ada di samping rumahnya.
setelah selesai membersihkan diri, Tumang kembali ke rumah dan segera berkemas ringan untuk melakukan rutinitas biasa. yaitu menjaga sawah milik juragan Lemud.
Dan lagi lagi Tumang merasa di buat heran untuk sekian kalinya. Di mana tepat di depan pintu depan, tampak lantai kayu itu basah dan meninggalkan sedikit jejak lumpur. Dengan saksama Tumang menyempatkan berjongkok seperti ingin memastikan jejak itu. Di hadapanya itu tampak jejak kaki namun jejak itu tak terlalu jelas dan mulai mengering. Seperti dua telapak kaki yang di satukan dan setengah di seret.
"waduh celaka. Jangan jangan ini jejak ..."
Gumam Tumang tak sanggup meneruskan ucapannya. Jejak di hadapannya itu mengingatkan dan menduga adalah jejak kaki sosok pocong itu. Dan itu di kuatkan oleh adanya ikan di rumanya secara tiba tiba. Tumang menyadari, jika sebelum ia pergi meninggalkan sosok itu di malam tadi, dirinya sempat setengah memaki sosok itu agar mencari ikan sendiri jika menginginkan ikan.
"masa iya setan itu merajuk ya ? atau dia sengaja mencari ikan itu untuk ku"
Batin Tumang semakin di buat bingung. lalu tak lama setelahnya, Tumang di kejutkan oleh teguran ibunya dari pintu dapur.
"iya jang,, nanti Emak pel ya lantainya. Emak tadi kesiangan bangunnya. Jadi belum sempat pel lantai"
Imbuh mak Eha dari lawang pintu dapur karena mendapati Tumang berkali kali mengusap lantai lalu memperhatikan hujung jarinya. Seperti penuh tanya mengapa lantai masih berdebu ketika hari sudah pagi.
"oh. i... i... Iya mak. Iya tak apa apa. Biar saya saja yang pel lantainya. Mak di dapur saja ya?"
Sahut Tumang sembari tersenyum karena tertangkap basah oleh ibunya itu. Lalu segera membersihkan lantai, mengambil beberapa gelas kotor, dan membuka beberapa jendela rumah. Sebelum pada akhirnya pergi ke sawah bah Lemud sembil membawa bekal seadanya dari ibunya.
Tak heran jika sepanjang perjalanan menuju persawahan itu, Tumang banyak melamun. tak jauh di hadapannya tampak si gembul (anjing peliharaannya) yang berjalan lebih dulu dan sesekali mendengus rimbunnya semak seperti sengaja mencari jejak hewan buruan.
"bul bul... tunggu bul"
ucap Tumang bicara pada anjingnya. Tak heran anjingnya yang penurut dan terlatih itu seperti mengerti ucapan itu. tak lama setelahnya Tumang tampak berdeku sembari mendekatkan caping yang di bawanya pada hidung anjingnya itu.
"dengus caping ini bul. apa kau mencium yang aneh dari caping ini?"
Timpa Tumang lagi pada anjingnya.
"hauk !!! Guk !!! Guk !!!"
Tiba tiba si gembul terdengar menggonggong seperti memberi jawaban pada tuannya. Dan Tumang paham betul jika gelagat anjingnya seperti itu padanya, itu artinya anjingnya itu ingin menunjukan sesuatu. andai anjingnya itu bisa bicara seperti halnya manusia, mungkin dia akan mengatakan jika memang benar dia mencium jejak aneh dan dia akan mencari sumber jejak itu.
"bagus. Kau memang anjing pintar bul. Temukan dia untukku ya"
Ucap Tumang sembari mengelus kepala si gembul dan melanjutkan langkahnya. Tak heran detik itu si gembul pun bergelagat lebih aktif dan berlari kesana kemari sembari sesekali masuk kedalam semak semak, mendengus lubang lubang atau bongkahan bebatuan, dan sesekali berlari mendahului tuannya.
Sampai pada akhirnya Tumang mendengar anjingnya itu terus saja menggonggong di sekitar persawahan milik mertua mang Darman.
"bukan orang orangan sawah itu bul yang aku maksud. Hadeh... Bagaimana sih kau ini"
ucap tumang sembari berbelok pada pematang sawah menghampiri anjingnya. tak jauh dari anjingnya itu, tampak orang orangan sawah yang menancap di pakaikan baju rombeng namun tanpa bagian kepala.
"aku juga tau bul caping ini dari sini tadinya. nih aku kembalikan ya"
sembari mengaitkan caping sobek itu pada hujung orang orangan sawah itu, Tumang menggelengkan kepalanya dan mengisyaratkan anjingnya untuk berhenti menggonggong kemudian pergi ke jalan sebelumnya. namun sebelum Tumang benar benar pergi, tak heran jika dirinya menyempatkan menatap parit yang memanjang dan terhubung ke aliran sungai.
Di sanalah dirinya seperti teringat lagi pada sosok itu yang membuat dirinya serasa hampir mati karena ketakutan.
"diam bul. Masih pagi ini. Berisik"
Umpat Tumang sembari menyentil kecil hidung si gembul. Namun alih alih anjingnya itu diam menuruti perintahnya. Yang ada si gembul malah sesekali melirik pada dirinya dan sesekali berputar di sekitar betisnya dan terus saja menggonggong.
Ya. seakan mengisyaratkan jika ada sesuatu yang ingin di tunjukan oleh anjingnya itu. apalagi si gembul kali ini bukan menggong ke arah orang orangan sawah itu. Melainkan ke sudut lain di sekitar pematang sawah lainnya.
"bul bul bul. Tidak bul. Jangan bilang kau melihat pocong di tempat ini bul"
Ucap Tumang berusaha bicara pada anjingnya sembari perlahan mundur. Tak lama setelahnya Tumang tampak membalikan tubuhnya dan akhirnya berlari. meninggalkan si gembul yang maju sungkan mundur pun enggan.
Di pagi itu. Ketika matahari memancarkan cahaya hangatnya dan menjalankan tugasnya dari Sang Maha Pencipta. Tumang pun mulai berkeliling di sawah yang tengah di jaganya itu. Beberapa aliran air di pastikan lancar, pematang sawah di periksa mana tau ada yang bedah karena guyuran hujan malam tadi. Tak lupa juga sesekali tangannya meraih tali yang mengikat beberapa tiang dan tergantung kaleng bekas. Lalu berteriak lantang berusaha mengusir sekumpulan burung pipit yang tampak terbang mendekat ke sawah yang tengah di jaganya itu.
Sampai setelah semuanya di rasa baik baik saja, Tumang pun masuk gubuk dan mengawasi hamparan sawah itu dari dalam gubuk itu.