NovelToon NovelToon
Sebelum Segalanya Berubah

Sebelum Segalanya Berubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Fantasi / TimeTravel
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: SunFlower

Rania menjalani kehidupan yang monoton. Penghianatan keluarga, kekasih dan sahabatnya. Hingga suatu malam, ia bertemu seorang pria misterius yang menawarkan sesuatu yang menurutnya sangat tidak masuk akal. "Kesempatan untuk melihat masa depan."

Dalam perjalanan menembus waktu itu, Rania menjalani kehidupan yang selalu ia dambakan. Dirinya di masa depan adalah seorang wanita yang sukses, memiliki jabatan dan kekayaan, tapi hidupnya kesepian. Ia berhasil, tapi kehilangan semua yang pernah ia cintai. Di sana ia mulai memahami harga dari setiap pilihan yang dulu ia buat.

Namun ketika waktunya hampir habis, pria itu memberinya dua pilihan: tetap tinggal di masa depan dan melupakan semuanya, atau kembali ke masa lalu untuk memperbaiki apa yang telah ia hancurkan, meski itu berarti mengubah takdir orang-orang yang ia cintai.

Manakah yang akan di pilih oleh Rania?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#32

Happy Reading...

.

.

.

Sepanjang perjalanan pulang menuju apartemen Arkana, air mata Rania tak berhenti mengalir. Tangannya mencengkeram setir kemudi dengan kuat, sementara pandangannya kabur oleh genangan air mata yang terus jatuh tanpa bisa ia kendalikan. Sesekali ia mengusap pipinya dengan punggung tangan, namun air mata itu kembali mengalir, seolah menolak untuk berhenti.

Dadanya terasa sesak. Nafasnya naik turun tidak beraturan. Setiap kali ia mencoba menenangkan diri, potongan kejadian di rumah sakit kembali hadir dengan jelas di benaknya, memaksa hatinya untuk kembali merasakan luka yang baru saja terbuka.

FLASH BACK ON

Setelah mengetahui kondisi Alisa dari perawat, Rania sebenarnya berniat untuk langsung pulang. Ia merasa kakinya sudah tidak sanggup melangkah lebih jauh. Kepalanya pening, dadanya penuh dan hatinya kacau. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah cepat, menundukkan kepala, berharap tidak bertemu siapa pun yang bisa membuat semakin rapuh.

Namun takdir seolah sengaja mempermainkannya.

Saat Rania melewati ruang rawat Alisa, pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka. Melisa keluar dengan wajah lelah dan mata sembab. Tubuh mamanya benar- benar terlihat kurus. Langkah Rania terhenti. Begitu pula dengan Melisa. Tubuh mereka sama-sama menegang, seolah waktu mendadak berhenti berputar.

Mereka saling menatap.

Tidak ada pelukan. Tidak ada sapaan hangat. Hanya tatapan kaku yang dipenuhi keterkejutan dan perasaan yang sulit diartikan. Lima tahun. Hampir lima tahun mereka tidak saling bertemu. Dan kini, pertemuan itu terjadi di tempat yang sama-sama tidak mereka harapkan.

“R.. Rania?” bibir pucat Melisa bergetar saat menyebut nama itu. Suaranya lirih, nyaris tak terdengar seolah takut jika suara itu terlalu keras akan membuat sosok di hadapannya kembali menghilang.

Rania diam. Wajahnya datar namun matanya menyimpan sesuatu. Melisa perlahan mengangkat tangannya, jemarinya gemetar. Tangannya terulur, ingin menyentuh wajah anak perempuannya itu, seakan ingin memastikan bahwa Rania benar-benar nyata bukan sekadar bayangan dari rasa rindu dan penyesalan.

Namun sebelum sentuhan itu terjadi, Rania menepis tangan Melisa.

Tidak keras. Tidak kasar. Tapi cukup untuk membuat Melisa terhenyak dan menarik tangannya kembali. Dadanya terasa nyeri, seolah ada sesuatu yang runtuh di dalam dirinya. Dari dalam ruangan, Alisa yang melihat kejadian itu hanya bisa terdiam. Air mata perlahan mengalir di pipinya yang tirus, matanya menatap Rania penuh rindu dan rasa bersalah.

Dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan, Melisa kembali membuka suara. “Kamu.. apa kabar, Rania?” tanyanya pelan, suaranya bergetar menahan tangis.

Rania menatap wajah wanita di hadapannya. Wajah yang dulu begitu ia kenal, wajah yang juga menyimpan banyak luka baginya. Ia tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kehangatan.

“Kabarku?” Rania menghela napas pelan. “Aku baik. Bahkan sangat baik..” jawabnya dengan suara tenang. “Hidupku sekarang jauh lebih baik tanpa kalian.”

Ucapan itu menusuk Melisa tanpa ampun. Senyum miris terbit di wajahnya. Matanya berkaca-kaca, namun ia memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak. “Maafkan Mama, Rania...” ucapnya dengan suara patah.

Namun Rania langsung memotong ucapannya. “Tidak perlu.” katanya singkat. “Tidak perlu minta maaf. Aku tidak membutuhkan itu lagi. Aku bahagia dengan hidupku yang sekarang. Bahkan aku seharusnya mengucapkan terima kasih. Berkat kalian aku bisa hidup seperti ini..”

Tanpa menunggu jawaban, Rania melangkah pergi. Langkahnya cepat, tegas dan tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Ia meninggalkan Melisa yang terdiam kaku di depan pintu ruangan, serta Alisa yang menangis tanpa suara di balik kaca pembatas.

FLASH BACK OFF

Kilasan itu kembali menghantam ingatan Rania saat mobilnya melaju di jalanan malam. Tangisnya kembali pecah. Bahunya bergetar, dadanya terasa semakin sesak.

“Kenapa rasanya tetap sakit..” gumamnya lirih di sela isakannya.

Ia telah mengatakan bahwa dirinya bahagia. Ia telah pergi dengan kepala tegak. Namun nyatanya, hatinya tidak sekuat yang ia ucapkan. Dan air mata itu menjadi saksi bahwa masa lalu belum sepenuhnya melepaskannya.

.

.

.

Rania menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil. Ia sengaja memilih untuk tetap berada di dalam mobil itu cukup lama, membiarkan mesin mati dan suasana sunyi menyelimuti dirinya. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Rania tidak ingin Arkana melihat kondisinya yang sekarang. Ia tidak ingin lelaki itu peduli hanya karena rasa kasihan. Ia tidak ingin terlihat lemah, tidak di hadapan Arkana.

Beberapa menit berlalu, hingga akhirnya Rania merasa detak jantungnya mulai lebih teratur. Meski dadanya masih terasa nyeri, ia memaksakan diri untuk bangkit. Ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar, lalu berjalan menuju apartemen Arkana yang berada di lantai paling atas. Langkahnya terasa berat, namun ia tetap berjalan.

Begitu memasuki apartemen, Rania sedikit merasa lega. Tempat itu ternyata masih kosong dan sunyi. Tidak ada suara televisi, tidak ada jejak kehadiran siapa pun. Tanpa membuang waktu, Rania langsung melangkah menuju kamar mandi. Ia membuka keran air dingin dan mengguyur tubuhnya tanpa ragu. Air dingin itu mengalir deras, membasahi rambut dan tubuhnya.

Namun alih-alih membuat perasaannya membaik, air dingin itu justru membuat hatinya semakin perih. Dadanya terasa semakin sesak. Ini adalah pertama kali ia benar-benar mengabaikan keluarganya. Kesadaran itu menghantamnya dengan keras, membuat air mata kembali luruh tanpa bisa ia tahan.

Hampir tiga puluh menit Rania berdiam di kamar mandi. Hingga akhirnya, dengan tubuh yang terasa lelah dan pikiran yang kacau, ia memutuskan untuk menyudahi mandinya. Dengan rambut yang masih basah dan hanya mengenakan bathrobe, Rania melangkah keluar lalu langsung membaringkan dirinya di atas tempat tidur.

Baru saja ia memejamkan mata, sebuah suara membuatnya terkejut.

“Kamu akan sakit kalau tidur dengan rambut masih basah.” ujar Arkana datar namun terdengar jelas.

Tubuh Rania menegang seketika. Ia membuka mata dan segera bangkit, lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Pandangannya tertuju pada Arkana yang ternyata sedang duduk di sofa sudut kamar mereka. Rania terdiam, tenggorokannya terasa kering, seolah semua kata menguap begitu saja.

Arkana bangkit dari duduknya. Tanpa berkata apa pun, ia berjalan mendekat ke arah meja rias Rania. Ia menarik salah satu laci dan mengambil sebuah hair dryer. Arkana menoleh, menatap Rania sejenak.

“Duduk.” Katanya singkat sambil menunjuk kursi di hadapannya.

Rania menuruti. Ia berjalan pelan dan duduk di kursi tersebut. Namun alih-alih menghadap cermin, Rania justru memutar tubuhnya menghadap Arkana. Perlahan, ia meletakkan keningnya di perut Arkana dan memeluk pinggang lelaki itu erat-erat, seolah takut jika Arkana akan menjauh.

Arkana terdiam. Ia tidak menegur, tidak pula mendorong Rania. Ia memilih mengabaikan sikap Rania itu. Arkana menyalakan hair dryer dan mulai mengarahkan angin hangat ke rambut Rania. Tangan satunya mengacak-acak rambut Rania dengan gerakan pelan namun pasti.

Suara hair dryer memenuhi keheningan kamar. Rania tetap diam, wajahnya tersembunyi di balik tubuh Arkana. Arkana terus mengeringkan rambut Rania tanpa terburu-buru.

Hampir lima belas menit berlalu, hingga Arkana merasakan bajunya di bagian perut sedikit basah. Keningnya berkerut. Ia baru menyadari bahwa bahu Rania bergetar pelan.

Rania sedang menangis.

Arkana tidak menghentikan gerakannya. Ia tidak bertanya dan tidak mencoba memaksa Rania untuk berbicara. Ia hanya terus mengeringkan rambut Rania, sementara tangannya sesekali mengusap lembut belakang kepala gadis itu, seolah memberikan ruang dan waktu bagi Rania untuk meluapkan semua perasaannya.

Dalam diam, Arkana membiarkan Rania bersandar dan menangis sepuasnya. Karena terkadang, kehadiran tanpa kata jauh lebih menenangkan daripada ribuan pertanyaan.

.

.

.

Wajib LIKE dan KOMEN.. Biar authornya semangat up...

1
Puji Hastuti
Kok gitu sih arkana
Kustri
bukan'a sonya izin krn nenek'a sakit, gmn sih,
raka itu siapa
chochoball: skip time ituuu... itu mau tulis kana tapi keliru raka.. Raka itu tokoh di story satunya.. Boleh mampir juga ya kakak.. sama- sama masih on going..
total 1 replies
Kustri
arkan ke bali apa ke istri'a🤔
Kustri
unik & menarik
gaaaas pol
Kustri
ini awal memperbaiki masa lalu💪
Kustri
penasaran👍
Kustri
aman👍
beneran baru nemu yg alur'a spt ini
lanjutkaaan
Kustri
baru nemu crita spt ini, berbeda tp menarik💪
Kustri
kpn ketemu laki" misterius yg di part awal, g sabaaaar😁
Kustri
mosok gk ngabari kantor, kan yg meninggal ortu kandung lho
chochoball: kasih kabar kokkk... cm di sini rania kan termasuk salah satu karyawan yang di abaikan.. rania cuma di manfaatin doang..
total 1 replies
Kustri
ya hrs tega, mrk semena" koq👍💪
Kustri
🫂😭
Kustri
tulisan'a rapi, bagus💪💪💪
susah nyari yg begini
Kustri
lho kt'a tinggal di apart, koq ini dirmh to
💪💪💪rania
Kustri
judul'a menarik lwt diberanda... cb mampir
ish... kasian, hidup segan mati tk mau💪
Erni Kusumawati
terkadang luka itu sulit utk dihapus tp sedikit demi sedikit bisa terkikis dg keikhlasan walaupun bekasnya akan selalu ada
Puji Hastuti
Lanjut kk 😍
Erni Kusumawati
Rania semoga kebahagiaan berpihak kepadamu
Puji Hastuti
Lanjut kk
Puji Hastuti
Kak, kok novel cinta yang seharusnya tak ada di cari gak muncul ya
chochoball: Cinta Yang Tak Seharusnya Ada kak..🙂🙂🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!