Pria, 30 tahun. keturunan gelap dari pewaris utama klan, terpaksa menikah untuk memangkas opini keluarga tentang kehidupannya dan demi kesepakatan-kesepakatan lainnya demi menjaga kehormatan klan.
"Bagian mana dari tubuhku yang membuatmu tak pernah berselera untuk menyentuhnya," protes Dorrota sambil menanggalkan seluruh pakaiannya.
"Aku bukannya tak berselera, tapi..."
"Jadi benar kabar yang kudengar, kamu memiliki wanita lain. Ah, bukan! tapi Pria lain!"
"Aku tidak peduli apapun yang kamu pikirkan, kesepakatan tetaplah kesepakatan. Ingat batasanmu!" ucap tegas Math Male meninggalkan Dorrota yang terisak dalam kemarahan dan kekecewaannya.
mampukah Dorrota mengambil hati Math Male?
ataukah Math Male akan menemukan hati yang lainnya?
.......
Hallo reader, karya ini hanya berdasarkan imajinasi author sepenuhnya. jika ada kesamaan nama tokoh, latar atau kejadian, hanya merupakan kebetulan yang tidak disengaja.
selamat membaca,
Salam, author Yoshua,
Semoga Semua Bebahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 12
Redrik adalah sosok yang sangat tegas, sedikit kaku dalam beberapa hal, namun ia sangat menjunjung tinggi kehormatan dan peraturan klan, maka ia akan melakukan apa saja dengan dalih melindungi klan.
"Kallida!! Keluarlah! Lihatlah apa yang telah anak-anakmu lakukan!" Redrik terus berteriak membuat kegaduhan di halaman utama.
Semua keluarga, laki-laki dan perempuan, keluar dan berkumpul membentuk lingkaran besar di halaman utama istana, mereka berdiri mengelilingi Redrik yang terbakar amarah, sedangkan Usstica terisak lemah tertunduk bersimpuh di tanah. Kallida dan Math pun datang dengan langkah tergesa.
"Apa yang paman lakukan?!!" Math berlari menghambur membantu Usstica berdiri.
"Bagus kamu segera datang! Tanggung jawab atas perbuatan kotor yang dilakukan Usstica ada padamu!" ucap tegas Redrik tanpa pengampunan.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu perlakukan anakku seperti sampah, Redrik?!" Kallida pun tergopoh membantu Usstica membersihkan kotoran di wajah dan bajunya.
"Tabib! Katakan apa yang kamu ketahui!" teriak Redrik semakin keras.
Semua mata menatap tajam ke arah Usstica, Kallida dan Math. Tatapan penuh penghakiman, seakan siap menghujamkan ribuan anak panah kematian.
"Mohon maaf nyonya Kallida, mohon maaf tuan muda Math." Sang tabib berkata sangat lirih, gemetar dan dipenuhi rasa takut dan sungkan. "saya tidak mengerti, namun ada kehidupan di dalam perut nona Usstica."
CTAK!!!!
Seketika denyut jantung Kallida seakan terhenti, nafasnya tercekik, dunianya tiba-tiba berputar. Sebagai seorang ibu yang selalu harus menyayangi, menjaga dan mendidik anak-anaknya tanpa kehadiran Taddeus, ia merasa sangat lemah dan tak berdaya.
Bagaimana tidak, Taddeus tak pernah bisa selalu ada dan memberinya dukungan, karena masih terjebak dengan cinta pertamanya. Hati Kallida telah hancur dan mati karena selalu dianggap sebagai kekasih bayangan. Dan kali ini, putri kandung semata wayangnya, yang ia harapkan bisa menjadi sahabat baiknya, justru semakin membuatnya patah hati.
"Ibu... Maafkan Usstica!!!" Usstica menjatuhkan kembali tubuhnya, bersimpuh mencium kaki Kallida dengan tangis penyesalan yang terlambat.
Kallida berdiri mematung, bola matanya bergerak ke Kakan dan ke kiri tak menentu, pandangannya mulai mengembun oleh air mata kepedihan. Ia tahu betul bagaimana peraturan kejam di keluarga Male yang telah dijalankan secara turun-temurun. Hal itu membuatnya semakin patah hati ketiga kali.
"Panggil semua tetua adat! Pernikahan Usstica harus dilaksanakan sekarang juga. Panggil ayah! Math harus menutup aib adik tirinya!" Lagi-lagi perintah tegas keluar dari mulut Redrik.
Tak ada komentar yang keluar dari mulut siapapun, Namun penghakiman datang dari tatapan tak menyenangkan dari semua anggota keluarga Male. Math menahan amarahnya dengan mengatupkan keras rahang-rahangnya, ia berusaha menjaga kesadaran adik dan ibu tirinya.
"Ibu, kita hadapi bersama, percayalah padaku," ucap Math menepuk pundak sang ibu tiri. "Hai berisik! Bangun! Hanya begini saja tidak akan membuatmu terbunuh, jangan cengeng." Math menepuk punggung tangan Usstica dengan senyum tersungging yang dipaksanya.
Semua orang menuju ke ruang pengadilan adat, sebuah ruangan yang lebih besar dari ruangan aula utama. Di ruangan tersebut, semua anggota keluarga klan Male, diperbolehkan hadir. Laki-laki dan perempuan, anak bayi sampai dewasa, semua memiliki hak yang sama di ruangan itu.
Math berjalan memapah ibu tirinya yang melemah, setengah bersandar pada atubuh Math, sedangkan Usstica berjalan dengan cemas mengekor dibelakang Math menggenggam ujung kemeja Math.
Mattew duduk di singgasana tertinggi, kemudian berderet di sisi kanan dan kirinya, duduk para tetua adat. Math, Kallida dan Usstica berdiri ditengah-tengah aula pengadilan, anggota lainnya berdiri melingkar sepanjang ruangan itu.
"Sungguh keterlaluan keluarga Taddeus, tak hentinya menimbulkan masalah bagi klan!" Zurick yang baru datang langsung memberikan hujatan sambil menunjuk ke arah Math.
"Hukum cambuk saja keluarga Taddeus!!" seru seorang pria.
"Benar! Seribu cambukan!" sahut yang lainnya.
"Kepala keluarganya saja menghilang, tak ada tanggungjawab!" yang lain pun memaki.
"Baru saja kemarin Math membuat keributan di wilayah lain, kali ini adik tirinya membawa aib kehidupan dari hubungan menjijikkan dengan pria miskin! Sungguh memalukan!" ucap tegas anggota klan Male yang lain.
Berbagai cibiran dan hujatan begitu menusuk dan memekik, begitu menyakitkan, meskipu ucapan mereka tak sepenuhnya salah. Kallida semakin terisak dan ambruk bersimpuh di tanah, begitu pula dengan Usstica yang merasa sangat bersalah dengan sang ibu, tak mampu berdiri apalagi menatap sorot mata kebencian dari semua yang hadir di ruangan itu.
"Semua diam!!!" seru Redrik menenangkan suasana. "Bagaimana ayah? Aku harap ayah bisa adil dan menerapkan hukum secara benar."
"Tuan Mattew, yang dikatakan tuan Redrik itu benar. Karena Usstica membawa kehidupan kotor di dalam tubuhnya, hasil dari kenakalan hubungan bebasnya, maka sesuai hukum klan Male, saudara laki-lakinya harus menikahi adiknya tersebut," ucap pemimpin tetua adat.
Mattew menghela nafas, berpikir beberapa saat, menimbang dan mencari jalan keluar. "Usstica, bisakah kamu memberitahuku, siapa pria yang telah menggaulimu?"
"Pria miskin dari rakyat biasa, Ayah!" Redrik menyela tak memberikan kesempatan bagi Usstica untuk berbicara.
"Sungguh memalukan! Kelakuan menjijikkan tak seharusnya diperbuat oleh seorang putri klan! Cuh!" seru Zurick lalu meludahi Usstica.
"Diam semua!! Kalian juga busuk! Jangan asal meludahi kami!" Math tak bisa lagi menahan amarahnya.
"Math! Kamu diam!" seru Mattew tegas. "Belum saatnya kamu bicara! Jaga batasan kesopananmu! Atau kalian harus keluar dari klan Male!"
Math terdiam setelah mendengar ancaman sang kakek. Math tak masalah jika memang harus meninggalkan klan itu. Namun, ia memikirkan nasib ibu tirinya yang pasti akan menjadi bahan olok-olokan semua orang.
"Sudahlah ayah, pernikahan Usstica dan Math harus dilangsungkan sekarang juga," desak Redrik.
"Paman jangan asal bicara!" teriak Math marah, "Kakek! Hapus peraturan konyol seperti itu, Bagaimana aku bisa meniduri adikku sendiri!" bantah Math.
"Peraturan turun temurun ini tak bisa dicegah Math, mau atau tidak, kamu bertanggungjawab menyelamatkan aib adik perempuanmu," ucap Mattew tak ingin mengubah apa yang telah ditetapkan oleh para pendahulu.
"Maafkan ibu, Math, ibu telah gagal mendidik Usstica menjadi seorang putri klan," tangis Kallida pecah tak terbendung. "Maafkan ibu, tidak bisa menjagamu sampai akhir, ibu yang bersalah Math."
"Dan hukum cambuk bagi orang tua Usstica, tak bisa dihindari. Seribu cambukan dilakukan nanti di tengah hari, setelah proses pernikahan ini selesai," ucap Mattew tak memiliki belas kasihan.
****************
To be continue....
Makasih juga buat bang yosh,keren novelnya, walaupun kadang2 bikin pengen demo wkwk 🤣 semangat terus bang,ditunggu karya2 selanjutnya 😄 jangan bikin yang sad ending Mulu bang hehe
tapi masih kurang sebenarnya... masih belum sebanding sama kejahatan yang dilakukan Kallida 😣