Apa salah jika memiliki kakak yang super posesif, ini tidak boleh itu tidak boleh?
Bahkan Papa dan Mama juga tidak pernah membatasi apa yang kulakukan. Hampir semua laki-laki yang mendekatiku akan mundur secara perlahan karena kakak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Blerina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Possessive Brother| 12
"Kak, Aletha mau pergi main sama temen boleh?", gadis itu bertanya penuh harap.
"Tidak boleh!".
"Tapikan, Aletha pengen kaya temen-temen lainnya bisa jalan dimall." Aletha masih belum menyerah meyakinkan sang kakak, berharap kali ini ada setitik kelonggaran. Sudut matanya tidak sengaja menangkap objek yang bisa membantunya, Renata sang ibu yang sedang berjalan menuju mereka.
"Ma, Aletha mau main ke mall boleh ya?", Ibunya tentu saja mengangguk mengijinkan putrinya. Asalkan tetap berhati-hati dan tidak boleh pergi sampai melebihi batasan, yang artinya sebelum jam tujuh malam ia sudah berada dirumah. Tetapi, setitik cahaya harapan tadi langsung menghilang begitu saja ketika Elang kekeh melarangnya.
"Tidak boleh! besok kamu masih ujian".
"Oh iya, habis ujian saja Tha. Nanti mama kasih ijin kok", Dengan pasrah gadis itu mengangguk. Kakaknya itu memang tidak pernah membiarkannya bersenang-senang, berteman saja harus sesuai dengan yang dia inginkan. Aletha gadis itu padahal sudah berusia delapan belas tahun, ketika remaja seusianya bisa melakukan segala hal. Ia justru masih seperti anak usia tujuh tahun yang belum mengerti apapun, ini tidak boleh, itu juga. Gadis seperti Aletha juga ingin memiliki seorang pacar, bisa bercerita kepada teman-temannya tentang bagaimana acara kencannya dengan sang pacar.
"Kakak nyebelin!" Aletha berdiri dari duduknya dan berlalu meninggalkan ibu dan kakaknya.
"Heh! Kamu mau kemana? kan sudah kakak bilang jangan pergi tanpa ijin dariku!".
"Ke kamar!", Aletha menjawab kakaknya itu dengan ketus lalu berbalik menuju arah sebaliknya menuju tangga. Sebenarnya tadi karena begitu kesal, gadis itu yang terkadang berubah menjadi lemot salah arah. Bukannya berjalan ke arah tangga, ia justru berjalan ke arah pintu utama rumahnya. Ia menaiki tangga dengan menghentak-hentakkan kaki kecilnya, meninggalkan derap keras. Renata tersenyum melihat kelakuan Aletha yang masih seperti sepuluh tahun lalu, selalu membuat suara hentakan kaki keras menunjukkan jika dirinya sedang kesal.
Elang laki-laki itu menghembuskan napas pelan, hatinya terasa nyeri ketika harus berdebat dengan Aletha. Lagi pula apa yang dilakukan olehnya benar, demi kebaikan Aletha juga. Ketika Elang hendak menyusul adiknya yang sedang kesal berpangkat marah, Renata melarangnya.
"Elang! mama mau bertanya!", raut wajah ibunya yang selalu cantik dengan dandanan sederhana itu berubah menjadi mengerikan, Elang yang biasanya selalu terlihat berani dengan segala hal tampaknya saat ini merasakan takut. Laki-laki yang memakai kaos polo berwarna hitam itu mengangguk pelan, lalu memasang baik-baik telinganya.
"Semalam kamu kemana? Bisa jelaskan ini?", Gawat. Sungguh benar-benar gawat, ibunya tahu kemana ia semalam pergi. Elang melirik sebentar foto dirinya yang tengah duduk bersandar didalam sebuah ruangan VIP bar yang semalam ia datangi bersama sahabat-sahabatnya. Disamping foto itu juga ada foto lain ketika Anna sedang merangkul mesra lengannya dan mencium pipi kirinya, Elang masih memikirkan jawaban yang tepat sebagai alasan.
"Ma, itu.."
"Sudah mama bilang berkali-kali berhentilah datang ke tempat penuh dosa seperti itu!", Elang membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu tetapi Renata lebih dulu memarahi Elang lagi, laki-laki itu hanya diam mendengarkan dan tidak berniat untuk mengelak.
"Kamu selalu melarang Aletha melakukan apapun, selalu membatasi adikmu itu tapi kamu sendiri yang memberi contoh buruk! kamu mau Aletha seperti kamu iya? pergi-pergi ke tempat seperti bar?".
"Ma.."
"Diam, kamu tidak usah menjawab apapun! mama kecewa sama kamu Lang!".
Laki-laki itu menghembuskan nafas lega ketika ibunya sudah beranjak pergi dari sofa, aura nya masih begitu mengerikan. Namun, sedikit lengkungan tipis terbit di bibirnya. Ia tahu dari mana sifatnya yang mengerikan ketika marah, tentunya ibunya yang baru saja memarahinya.
__________________________________________
"maaf aku nggak di ijin-in sama Kak Elang", Aletha menelpon temannya karena acara jalan-jalannya tidak jadi, setelah mendengar jawaban dari temannya ia hanya menghela napas pelan. Sampai kapan ia akan menjadi gadis yang dikurung seperti ini, ia tidak pernah pergi kemana-mana dengan teman-teman satu sekolahnya. Tak jarang mereka mengatakan jika Aletha itu terlalu sombong karena selalu menolak ajakan siapapun, kecuali Arka.
Ia juga harus menerima kenyataan jika memiliki banyak musuh disekolah karena bersahabat dengan idola mereka, Arka laki-laki tampan yang selalu menjadi incaran para gadis disekolah-nya. Tetapi, Arka itu seorang badboy , setiap ada masalah disekolah pasti ada Arka. Hampir setiap hari berangkat terlambat, hukuman dan Arka itu memang seperti jodoh yang tidak bisa dipisahkan.
Aletha sampai heran dengan sahabatnya, ia sekolah selalu menghindari yang namanya masalah justru bersahabat dengan biangnya masalah seperti Arka. Tetapi, selain Arka gadis itu tidak memiliki teman.
"Susah banget bujuk kakak". Gadis itu bergumam sambil mencari ide untuk membujuk kakaknya itu.
🌹🌹
jangan ada pelakor lah....
tak masuk di akal????
ini aku yg bodoh apa thoor nya yg ngelantur????