Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.
Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.
Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Langit yang Dirobek Petir dan Target Baru
Kabut tebal yang menyelimuti perairan Whiskey Peak perlahan tersapu oleh angin malam Grand Line yang semakin liar. Kapal galleon hitam legam, Tartarus, meluncur membelah ombak dengan stabilitas yang nyaris tidak masuk akal. Sistem navigasi otomatis yang terhubung langsung dengan pikiran Muzan Kibutsi memastikan kapal itu mengabaikan setiap pusaran air kecil dan arus silang yang mematikan.
Di ruang kapten yang remang-remang, cahaya biru dari panel holografik sistem memantulkan bayangan wajah Muzan yang tenang namun dingin. Di hadapannya, Vivi (Miss Wednesday) dan Mr. 9 duduk bersandar di sudut ruangan, masih dilingkupi rasa syok dan teror yang belum sepenuhnya mereda.
Vivi memeluk lututnya, menatap lisan ke arah lantai kayu. Otaknya berputar keras. Ia tahu kelompok di depannya ini bukanlah bajak laut biasa yang bisa disuap atau ditipu dengan janji-janji palsu. Mereka adalah monster rasional yang bergerak dengan tujuan absolut.
"Kau tidak perlu ketakutan separuh mati begitu, Tuan Putri," suara Roy Mustang memecah keheningan. Kolonel itu duduk di kursi kapten, sedang membersihkan sarung tangan pyrotex-nya dengan sehelai kain bersih. "Selama kau mematuhi aturan main kami, kerajaannmu tidak akan dihancurkan. Sebaliknya, kami justru akan menyingkirkan parasit yang ingin merebut takhtamu."
Vivi mendongak perlahan, menatap Mustang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Muzan yang berdiri di dekat jendela kemudi. "Kalian... siapa sebenarnya kalian? Organisasi Erebus tidak pernah tercatat di arsip intelijen manapun di dunia ini."
Muzan tidak menoleh. Matanya menatap hamparan laut gelap di luar jendela.
"Identitas kami tidak penting bagimu, Vivi," jawab Muzan datar. "Yang terpenting adalah kenyataan bahwa Crocodile dan Baroque Works-nya telah mengantongi rencana untuk menghancurkan Alabasta dari dalam. Tanpa bantuan kami, negosiasimu dengan Topi Jerami itu hanya akan berakhir sebagai lelucon tragis."
Vivi mengepalkan tangannya. Ia tahu Muzan benar. Pasukan pemberontak di Alabasta semakin tidak terkendali, dan campur tangan Baroque Works di balik layar membuat perang saudara di negaranya tinggal menunggu waktu.
"Baiklah..." bisik Vivi dengan suara lirih namun penuh tekad. "Aku akan memandu kalian. Apa tujuan kita selanjutnya? Apakah kita langsung menuju Alabasta?"
Muzan menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin. "Tidak. Perjalanan kita masih panjang. Kita akan singgah di pulau tempat waktu berhenti."
"Pulau tempat waktu berhenti?" Vivi mengerutkan keningnya, kebingungan.
"Little Garden," jawab Muzan singkat.
Pulau prasejarah di mana para raksasa bertarung selama ratusan tahun, dan tempat di mana agen-agen elit Baroque Works kelas atas—Mr. 3 dan Mr. 5—sudah menunggu untuk menyergap mereka. Namun bagi Muzan, Little Garden bukan hanya sekadar batu loncatan; itu adalah tempat di mana ia bisa memetik lebih banyak buronan berharga dan memperkuat pasukan bayangannya.
Muzan mengalihkan perhatiannya kembali ke dalam sistem.
Saldo Belly-nya saat ini berada di angka 45.369.850 Belly. Kekayaan yang sangat masif untuk ukuran paruh pertama Grand Line. Dan dengan sisa satu slot kosong di kapasitas pengendalian bonekanya (karena ia baru menggunakan 4 slot aktif: Giyu, Zenitsu, Neji, dan Mustang, sementara Gaara dan Itachi disimpan di Storage untuk rotasi taktis), ia memiliki kebebasan penuh untuk melakukan Gacha baru.
"Sistem," perintah Muzan dalam ruang mentalnya. "Buka tab Puppet Gacha."
Panel sistem bergeser, menampilkan roda roulette raksasa dengan spektrum warna yang berkilauan.
"Sebelum kita menghadapi agen-agen Baroque Works yang menggunakan kekuatan lilin dan bom, aku butuh karakter yang memiliki mobilitas udara dan jangkauan serangan jarak jauh yang tidak bisa diantisipasi oleh logika dunia ini," batin Muzan.
Ia memutuskan untuk menggunakan opsi tarikan tingkat tinggi. Bukan tiket gratis, melainkan menggunakan saldo Belly secara langsung untuk memastikan peluang mendapatkan petarung udara yang mematikan.
"Gunakan 1.000.000 Belly untuk Gacha Tingkat Legenda!" (Atau menggunakan opsi Gacha kelas atas yang tersedia di sistem).
Catatan Sistem: Sesuai aturan biaya Gacha, 1.000.000 Belly adalah harga untuk Gacha Tingkat Legenda dengan peluang kecil, namun dengan akumulasi kekayaan Muzan, ia siap mengambil risiko atau menggunakan akumulasi sistem. (Mari kita eksekusi tarikan Gacha senilai 1.000.000 Belly).
Roda roulette di dalam pikirannya berputar dengan kecepatan gila. Suara dengungan mekanis memenuhi kepalanya. Warna putih, hijau, biru, ungu, hingga emas berbaur menjadi pusaran cahaya yang menyilaukan.
Muzan mengawasi tanpa berkedip. 636 Poin Mentalnya membuat persepsinya terhadap waktu di dalam ruang mental melambat secara ekstrem. Ia melihat jarum penunjuk meluncur melewati warna biru, bergeser cepat di atas warna ungu, dan terus mendaki ke arah warna emas pekat.
KLIK!
Jarum itu berhenti tepat di warna emas menyala yang memancarkan kilat petir hitam.
«"DING!"»
«"Gacha Tingkat Legenda Berhasil! Selamat, Host mendapatkan Boneka Tingkat Legenda (Tier Emas)!"»
«"Mengekstrak data entitas udara... Menyesuaikan hukum gravitasi dan manipulasi petir alam semesta One Piece..."»
«"Ekstraksi selesai."»
Sebuah kartu berbingkai emas murni melayang keluar dari layar.
Di atas kartu itu, tergambar sosok seorang pria bertubuh tinggi besar dengan ekspresi wajah yang sangat arogan dan dingin. Ia tidak memiliki rambut alami, melainkan mengenakan hiasan kepala berbentuk cincin emas besar yang terhubung dengan gendang petir (taiko drums) melingkar di punggungnya, yang memungkinkannya menghasilkan tegangan listrik hingga ratusan juta volt. Ia bertelanjang dada, mengenakan celana longgar, dan memegang tongkat emas (Naginata darurat / Gold Rod).
Mata Muzan membelalak seketika.
«"Boneka Diperoleh: Enel (God Enel)"»
«"Asal Dunia: One Piece (Skypiea Arc)"»
«"Afiliasi Asli: Penguasa Langit / Penduduk Pulau Langit Skypiea"»
«"Kekuatan/Gaya Bertarung: Goro Goro no Mi (Buah Petir/Logia), Mantra (Kenbunshoku Haki tingkat lanjut yang diperkuat gelombang elektromagnetik)."»
«"Status Boneka: Tersimpan di [Puppet Storage]"»
Napas Muzan tertahan. Enel. Sang "Dewa" dari Pulau Langit Skypiea.
Di dunia One Piece, kemampuan Goro Goro no Mi miliknya dikenal sebagai salah satu Buah Iblis tipe Logia yang paling merusak dan tak terkalahkan, dengan kecepatan bergerak setara petir dan jangkauan Mantra (Haki Observasi) yang mencakup seluruh pulau berkat kombinasi gelombang elektromagnetik.
"Ini..." Muzan menyunggingkan senyum lebar yang dipenuhi ambisi gelap. "Ini adalah senjata pamungkas untuk menguasai langit."
Di dunia di mana sebagian besar bajak laut dan Angkatan Laut bertarung di permukaan laut atau daratan, memiliki entitas yang bisa terbang, memanggil badai petir dari jarak berkilo-kilometer, dan membaca setiap pikiran musuh melalui gelombang listrik adalah sebuah kecurangan mutlak.
Muzan langsung menarik kartu Enel ke dalam Puppet Storage. Ia tidak akan memanggilnya di dalam ruangan sempit kapal Tartarus; Enel adalah badai berjalan yang membutuhkan ruang terbuka yang luas.
«"Saldo Belly saat ini: 24.369.850 Belly."»
Muzan menutup panel sistemnya. Ia berdiri dari tempatnya bersandar, menatap ke arah luar jendela kemudi. Perahu kecil Mr. 9 yang hancur telah dibuang ke laut, dan kini kapal Tartarus meluncur dengan stabil menembus malam Grand Line.
"Tuan Putri," ucap Muzan, menoleh ke arah Vivi yang masih tegang. "Simpan rasa takutmu untuk nanti. Perjalanan kita baru saja menjadi jauh lebih menarik."