Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Ting!
Pintu lift terbuka menyajikan pemandangan aula utama yang sangat megah.
Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit memancarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan.
Sony melangkah masuk tanpa menimbulkan suara langkah kaki sedikitpun.
Matanya langsung tertuju pada satu meja VIP yang berada tepat di depan panggung utama.
Di sana duduk seorang pria berjas abu-abu mahal dan seorang wanita bergaun merah menyala.
Mereka berdua adalah Dimas dan Rina.
"Itu mereka berdua Tuan," bisik Leo sambil sedikit menunjuk ke arah meja VIP.
"Aku tahu, mataku belum buta untuk mengenali wajah dua pengkhianat itu," jawab Sony datar.
"Apakah Anda ingin langsung menyapa mereka sekarang juga?" tanya Leo bersiap.
"Belum saatnya, biarkan mereka bersenang-senang sebentar lagi menikmati puncak dunia," ucap Sony menolak.
Sony berjalan santai menuju sebuah meja kosong yang berada di sudut ruangan agak gelap.
Tidak ada yang memperhatikan kedatangan mereka berdua karena semua tamu undangan sibuk mengobrol.
Aura Sony saat ini sangat berbeda sangat drastis dengan Sony yang dulu lemah dan mudah ditindas.
Sekarang dia memancarkan tekanan tak kasat mata yang membuat sembarang orang enggan mendekat.
Teng! Teng!
Suara ketukan palu dari atas panggung langsung menghentikan semua obrolan di dalam ruangan.
Seorang pria paruh baya yang merupakan juru lelang tersenyum ramah ke arah para penonton.
"Selamat malam para tamu kehormatan sekalian yang sudah hadir," sapa juru lelang itu dengan lantang.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu di acara lelang amal yang diselenggarakan oleh Grup Dimas ini."
Prok! Prok! Prok!
Suara tepuk tangan meriah langsung menggema memenuhi seluruh area ruangan.
Dimas berdiri dari kursinya dan melambaikan tangan ke semua orang dengan gaya yang sangat arogan.
Rina yang berada di sebelahnya tersenyum sangat manis sambil menggandeng lengan Dimas dengan bangga.
"Lihatlah wajah munafik mereka berdua itu," gumam Sony sambil menyesap segelas air putih.
"Mereka berdua membangun citra baik di atas tumpukan mayat keluarga Anda," balas Leo ikut merasa jijik.
"Tenang saja, malam ini citra palsu itu akan hancur lebur berkeping-keping," ucap Sony meletakkan gelasnya.
Trak.
"Mari kita mulai lelang pertama malam ini dengan sebuah kalung berlian asli dari Eropa," teriak juru lelang.
"Harga awal dibuka di angka lima ratus juta rupiah untuk barang indah ini!"
Para tamu undangan mulai mengangkat papan nomor mereka satu per satu.
"Enam ratus juta!"
"Tujuh ratus juta!"
Hanya dalam waktu singkat, harga kalung berlian itu sudah mencapai angka satu miliar rupiah.
"Dua miliar rupiah," suara Dimas tiba-tiba terdengar sangat keras memotong semua tawaran yang ada.
Semua orang di ruangan itu langsung menoleh ke arah Dimas dengan pandangan kagum.
"Tuan Dimas memang sangat murah hati dan kaya raya," puji salah satu tamu di meja sebelah.
"Tentu saja, itu pasti hadiah kecil untuk Nona Rina yang sangat cantik jelita," sahut tamu lainnya.
Tidak ada lagi yang berani menawar lebih tinggi karena mereka tidak mau menyinggung perasaan Dimas.
"Dua miliar rupiah, tiga kali, terjual kepada Tuan Dimas!" teriak juru lelang sambil mengetuk palu keras.
Tok!
Rina langsung mencium pipi Dimas dengan sangat manja di depan umum.
"Terima kasih sayang, kau memang pria yang paling hebat," ucap Rina dengan suara yang sengaja dibuat-buat.
"Apa sih yang tidak untuk calon istriku tercinta ini," jawab Dimas sambil tertawa puas.
Sony hanya menatap adegan menjijikkan itu dengan tatapan kosong tanpa emosi sedikitpun.
"Sabar Tuan, barang yang paling diincar Dimas ada di urutan paling terakhir," bisik Leo mengingatkan.
"Aku tahu, aku sudah membaca daftar urutan barang lelangnya tadi di dalam mobil," jawab Sony tenang.
Waktu terus berlalu dan beberapa barang antik sudah berhasil terjual dengan harga yang cukup tinggi.