Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 : Belajar Memotong Sayur
Suara bising pisau baja yang beradu dengan permukaan talenan kayu terdengar berulang-ulang di sebuah sudut ruangan dapur komersial berukuran sedang. Tempat itu adalah sebuah lembaga kursus kuliner tersembunyi yang sengaja didirikan di kawasan pinggiran kota, jauh dari jangkauan sorotan mata publik dan gosip kaum sosialita ibu kota. Udaranya diisi oleh aroma ragi, tepung terigu, dan bau harum mentega cair yang dipanggang.
Di hadapan sebuah meja kerja berbahan stainless steel yang mengkilap, Kirana berdiri dengan fokus penuh. Mengenakan sebuah apron putih sederhana yang menutupi pakaian rumahannya dan rambut panjangnya yang diikat asal-asalan ke belakang dalam sebuah gulungan longgar, ia memegang sebutir wortel segar di tangan kiri. Sementara itu, tangan kanannya menggenggam pisau chef profesional yang tajam berkilau. Dengan gerakan yang masih kaku, canggung, dan dipenuhi rasa kehati-hatiian yang luar biasa, ia mencoba mengiris wortel tersebut menjadi potongan dadu kecil atau brunoise dengan tingkat presisi yang diajarkan oleh sang instruktur.
Silet!
Gerakan pisaunya sedikit meleset dari perhitungan. Ujung pisau tajam itu bergeser sepersekian milimeter dan menggores permukaan kulit jari telunjuknya dengan cepat.
"Aduh!" desis Kirana pelan, segera menarik tangannya sambil meringis menahan perih yang langsung menjalar.
Ia meletakkan pisau di atas meja kerja. Darah segar berwarna merah terang langsung merembes keluar dari luka tipis yang menganga di jari telunjuknya. Tanpa panik berlebihan atau berteriak histeris seperti kebiasaannya di masa lalu, Kirana mengambil selembar tisu bersih untuk menekan lukanya sejenak demi menghentikan pendarahan. Setelah itu, ia mengambil selembar plester luka berwarna kulit dari dalam tas kecilnya dan melilitkannya dengan cekatan.
Di jari-jari tangan Kirana yang lain—ibu jari, jari tengah, hingga jari manis—sudah berbaris rapi plester-plester luka serupa dalam berbagai ukuran. Semuanya adalah bukti nyata, saksi bisu dari perjuangan keras, keringat, dan rasa sakit yang harus ia bayar selama dua minggu terakhir demi menguasai keterampilan dasar dapur.
Semenjak ia memutuskan untuk membangun kemandirian mutlak dan berhenti bergantung pada orang lain di rumah besar itu, Kirana menyadari satu hal mendasar yang selama ini diabaikannya: ia bukan lagi nona muda manja dari keluarga terpandang yang seluruh kebutuhan hidupnya dilayani oleh koki profesional atau asisten rumah tangga. Ia ingin bisa mengurus kehidupannya sendiri, menyiapkan makanan sehat untuk bayi di dalam kandungan yang dirahasiakannya, dan membuktikan kepada dirinya sendiri—serta diam-diam kepada suaminya—bahwa ia mampu melakukan hal-hal remeh yang selama ini diremehkan sebagai kelemahannya.
Karena itulah, secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapa pun, Kirana mendaftarkan diri ke kelas memasak dasar khusus pemula. Ia menggunakan sisa tabungan pribadinya yang disimpan rapat-rapat, memanfaatkan jam-jam siang saat Arka sibuk bekerja di kantor dan ibu mertuanya sibuk dengan kegiatan sosial. Di kelas itu, tidak ada yang mengenalnya sebagai Nyonya Pratama, istri sang CEO dingin yang hidup dalam sangkar emas. Di sana, di antara para ibu rumah tangga dan remaja yang ingin belajar mandiri, ia hanyalah Kirana—seorang wanita muda yang sedang belajar mengenali dunia dari titik nol.
Menjelang sore hari, saat matahari mulai condong ke barat dan memancarkan cahaya jingga keemasan di jalanan kota, Kirana kembali ke rumah besar keluarga Pratama. Ia sengaja masuk lewat pintu belakang area dapur agar kehadirannya tidak menarik perhatian para pengawal atau ibu mertuanya yang kerap mengawasi gerak-geriknya.
Begitu ia melangkah masuk ke dalam dapur besar rumah tersebut, Bi Inah yang sedang sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam langsung menoleh. Mata wanita paruh baya yang setia itu seketika menangkap pemandangan yang membuat hatinya mencelus dan rasa iba merayap naik ke tenggorokannya.
Bi Inah segera meletakkan mangkuk di tangannya di atas meja marmer, lalu bergegas mendekati Kirana dengan langkah cemas dan panik tertahan.
"Ya Allah, Nyonya..." ucap Bi Inah lirih, matanya menatap lekat ke arah tangan kiri Kirana yang tanpa sengaja sedikit terangkat. Jari-jemari wanita muda itu dipenuhi oleh lilitan plester luka di sana-sini, mencerminkan betapa kerasnya ia berjuang di luar sana. "Tangan Nyonya kenapa bisa sampai penuh luka begini? Astaga, apa sebenarnya yang terjadi di luar sana?"
Kirana refleks menarik tangannya ke belakang punggung, mencoba menyembunyikannya, lalu tersenyum tipis untuk menenangkan wanita tua yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri itu.
"Ah, tidak apa-apa, Bi. Cuma luka kecil waktu belajar memasak tadi," jawab Kirana santai, berusaha menyembunyikan rasa perih yang masih berdenyut di ujung-ujung jarinya.
Bi Inah menggelengkan kepalanya perlahan, rambut putih di pelipisnya ikut berguncang. Air mata tipis tampak menggenang di sudut mata wanita paruh baya itu, dipenuhi rasa iba dan kemarahan diam-diam terhadap takdir yang diterima majikannya. Sebagai orang yang lama bekerja di rumah itu, Bi Inah tahu persis betapa tertekannya kehidupan Kirana sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah ini sebagai istri Arka. Ia tahu bagaimana majikannya memperlakukan sang istri dengan dingin, kaku, dan penuh pengabaian. Melihat nona mudanya yang terbiasa hidup mewah di atas limpahan harta kini harus menyembunyikan luka di tangan akibat belajar memasak sendiri, dada Bi Inah terasa sesak oleh rasa kasihan yang teramat sangat.
"Nyonya... kalau mau makan, ingin hidangan apa pun, atau butuh bantuan di dapur, bilang saja sama saya," ujar Bi Inah dengan suara bergetar tulus, sarat akan permohonan. "Kenapa Nyonya harus repot-repot belajar memasak sampai melukai diri sendiri seperti ini? Tuan Arka... Tuan Arka bahkan tidak akan pernah peduli atau menghargainya..."
Kalimat terakhir Bi Inah menggantung di udara yang mendadak terasa dingin. Wanita tua itu langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, merasa sangat menyesal telah mengucapkan kata-kata yang terlalu lancang bagi posisinya sebagai pekerja. Namun, kalimat itu sudah terlanjur lepas dan bergema di sudut dapur yang sepi.
Kirana terdiam seribu bahasa. Senyuman tipis yang tadinya menghiasi bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan mata yang sangat tenang, dalam, dan dewasa. Ia tahu persis apa yang dimaksud oleh Bi Inah. Di rumah besar ini, semua orang—bahkan para pelayan—tahu bahwa Arka tidak pernah sedikit pun menganggapnya ada.
Namun, di luar dugaan Bi Inah, Kirana menggelengkan kepalanya pelan. Ia menatap wanita paruh baya itu dengan sorot mata yang memancarkan keteguhan baja, sebuah kekuatan mental yang baru lahir dari tempaan penderitaan.
"Bi, aku tidak melakukan semua ini demi Tuan Arka," kata Kirana pelan, setiap kata diucapkannya dengan penuh kesadaran dan ketenangan mutlak, tanpa ada nada keputusasaan di dalamnya. "Aku belajar memasak, aku melukai tanganku, dan aku menghabiskan waktu berjam-jam berdiri di tempat kursus itu bukan untuk mencari pujian, perhatian, atau pengakuan dari suamiku. Aku melakukannya untuk diriku sendiri."
Bi Inah menatap wanita di hadapannya dengan rasa takjub yang mendalam. Ada aura kedewasaan dan ketangguhan yang luar biasa kuat terpancar dari diri Kirana—sesuatu yang sama sekali tidak tampak pada gadis manja yang datang menangis ke rumah ini beberapa bulan lalu.
"Dulu, sebelum menikah, aku adalah orang yang paling tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, Bi," lanjut Kirana sambil mengangkat tangannya yang penuh plester, menatapnya tanpa rasa malu sedikit pun. "Segala sesuatu disiapkan oleh pelayan, hidupku berjalan di atas karpet merah. Tapi sekarang, aku sadar dengan cara yang menyakitkan bahwa hidup tidak bisa disandarkan pada belas kasihan orang lain, bahkan pada seorang suami yang tidur di atap yang sama. Luka-luka di jariku ini... ini adalah tanda nyata bahwa aku sedang bertumbuh. Bahwa aku sedang belajar menjadi wanita yang mandiri, wanita yang tidak akan hancur hanya karena diabaikan."
Bi Inah tidak mampu berkata apa-apa lagi untuk membantah. Tenggorokannya terasa tercekat oleh keharuan. Ia hanya bisa mengangguk pelan, sementara rasa hormat yang begitu besar kini tumbuh memenuhi lubuk hatinya terhadap sang nyonya muda yang telah bertransformasi menjadi sosok yang luar biasa.
Malam harinya, ketika jam dinding menunjuk ke angka sembilan lebih tiga puluh menit, pintu utama rumah besar itu terbuka. Arka kembali ke dalam rumah dalam keadaan letih lesu akibat setumpuk rapat bisnis dan negosiasi yang melelahkan seharian penuh di kantor pusat. Suasana rumah tampak gelap gulita dan sunyi sepi, menyisakan lampu-lampu koridor yang sengaja dibiarkan menyala temaram.
Pria tinggi berbalut jas kantor yang agak kusut itu melangkah masuk ke area dapur untuk meneguk segelas air dingin guna meredakan tenggorokannya yang kering. Di atas meja dapur marmer yang bersih dan mengkilap, tepat di sebelah kulkas besar, tergeletak rapi sebuah kotak makan kecil transparan. Di dalam kotak itu terdapat potongan buah-buahan segar yang dikupas bersih dan dipotong dengan bentuk kotak-kotak kecil yang sangat rapi, disertai secarik kertas kecil bertuliskan tangan dengan tinta hitam: Untuk persediaan vitamin.
Arka mengernyitkan dahi tajam. Ia melirik kotak transparan itu sekilas dengan sebelah mata, lalu mendengus dingin penuh ketidaktertarikan. Di dalam pikirannya yang dipenuhi target korporasi, hal-hal semacam itu hanyalah inisiatif tidak penting dari para pelayan rumah tangga. Tanpa menyentuh, membuka, atau mencicipi sepotong buah pun di dalamnya, Arka membiarkan kotak itu tetap berada di tempatnya semula di atas meja.
Ia sama sekali tidak tahu—dan malam itu tidak sedikit pun peduli—bahwa potongan buah segar di dalam kotak transparan itu disiapkan dengan penuh ketekunan, kesabaran, dan cucuran peluh oleh tangan-tangan mungil Kirana. Tangan yang hari ini kembali terluka, berdarah, dan dibalut plester demi merajut secercah kemandirian di tengah dunia yang membeku, demi menyongsong masa depan di mana ia bisa berdiri tegak tanpa harus berharap pada belas kasihan dari seorang Arka Pratama.
.. mending pretty cure