Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 — ANAK YANG DATANG BERSAMANYA
Keheningan yang melingkupi Aula Utama Istana Valerian mendadak menjadi begitu berat hingga suara gesekan jubah Ratu Eleanor di atas tangga tahta terdengar begitu nyaring. Udara di antara Adrian dan Alena membeku, terkunci pada sesosok tubuh mungil yang berdiri di samping sang ibu.
Adrian menunduk. Tatapan mata abu-abunya yang tadinya dipenuhi kilatan amarah yang membakar, perlahan meredup, tergantikan oleh ketidakpercayaan yang membingungkan.
Di bawah naungan cahaya kaca patri berwarna murni, berdiri seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun. Anak itu mengenakan kemeja linen sederhana berwarna putih gading yang bersih, dilapisi rompi katun cokelat pudar. Namun bukan pakaian lusuh itu yang menahan napas Adrian.
Melainkan anak itu sendiri.
Ada sesuatu yang teramat asing sekaligus sangat familiar pada cara anak itu berdiri. Bahunya ditarik ke belakang kaku, dagunya sedikit diangkat—sebuah postur tubuh yang tidak pernah diajarkan pada rakyat biasa, melainkan naluri alami yang hanya dimiliki oleh mereka yang terlahir dari darah bangsawan.
Lalu, mata anak itu.
Adrian merasa jantungnya berdenyut kasar di balik zirahnya. Anak itu memiliki mata berwarna abu-abu pekat—rna mata yang sama persis dengan warna mata keluarga Valerian yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Bukan hanya warnanya, tetapi kedalaman tatapan itu, cara pupilnya mengecil saat memproses rasa takut, hingga kebiasaan kecilnya yang mengernyitkan bagian atas hidungnya ketika bingung.
Semuanya bagai cermin dari masa kecil Adrian sendiri.
"Siapa..." suara Adrian terhenti di tenggorokannya, parau dan goyah. Pria yang tidak pernah berkedip di hadapan ratusan prajurit di medan perang itu kini mendadak kehilangan pijakan. "Siapa anak ini, Alena?"
Alena secara refleks menggeser kakinya, menarik Elian lebih jauh ke balik lipatan gaun hijaunya, berusaha menutupi sosok putranya dari pandangan Adrian yang terlalu intens. Jantung Alena berdetak begitu kencang hingga ia merasa mual.
"Dia putra saya, Yang Mulia," jawab Alena, suaranya diusahakan setenang mungkin, walau setiap kata terasa bagai duri di lidahnya. "Namanya Elian."
"Putramu?" ulang Adrian. Suaranya terdengar kaku, seolah kata itu terasa asing baginya.
Adrian melangkah maju satu demi satu, menurunkan tubuhnya sedikit agar matanya sejajar dengan anak laki-laki itu. Gerakannya begitu pelan, seolah takut jika ia bergerak terlalu cepat, penglihatannya ini akan lenyap bagai ilusi belaka.
Elian, yang menyadari pria berkuasa di hadapannya sedang memperhatikannya, tidak lagi bersembunyi sepenuhnya di balik gaun Alena. Rasa ingin tahunya yang amat besar melebihi rasa takutnya. Dari balik tubuh ibunya, Elian mengintip, menatap Adrian dengan mata abu-abu yang berkedip polos.
Anak itu memperhatikan jubah hitam Adrian, ukiran elang perak di dadanya, dan pedang berhulu emas yang tergantung di pinggang pria itu.
"Apakah Anda seorang pangeran?" tanya Elian mendadak. Suaranya nyaring, jernih, dan jujur tanpa beban protokoler istana.
Ratu Eleanor yang berdiri di tangga tahta menahan napas pelan, sementara Raja Cedric di atas tahta batu menyipitkan matanya, mengamati interaksi di bawahnya dengan raut wajah penuh perhitungan politik.
Adrian membeku mendengar pertanyaan itu. Bibirnya yang biasanya mengatup rapat dan kaku mendadak bergetar tipis. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, sebuah kerutan lembut muncul di sudut matanya—sebuah ekspresi yang begitu asing bagi siapapun yang mengenal sang Putra Mahkota selama tujuh tahun terakhir.
"Ya," jawab Adrian pelan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Elian. "Aku adalah Putra Mahkota negeri ini."
Elian miringkan kepalanya ke kanan, mata abu-abunya berbinar penuh takjub. "Lalu... apakah baju besimu itu terbuat dari perak asli? Ibu bilang pangeran di dalam cerita selalu memakai baju dari perak yang bisa memantulkan cahaya bulan."
Kebiasaan miringkan kepala itu. Cara anak itu menanyakan hal secara langsung tanpa rasa canggung.
Adrian merasa ada jemari gaib yang meremas hatinya kuat-kuat. Sebuah gelombang kehangatan yang asing dan tak rasional mendadak meluap di dalam dadanya, berbenturan keras dengan tembok kebencian yang telah ia bangun selama tujuh tahun.
"Ini perak murni," bisik Adrian, tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam perlahan terangkat, hendak menyentuh bahu anak itu. "Dan ini bukan sekadar baju besi, ini—"
"Elian!"
Suara Alena memotong udara bagai sabetan pedang.
Sebelum jemari Adrian sempat menyentuh kain kemeja Elian, Alena merenggut tubuh mungil putranya, menarik anak itu ke dalam pelukannya. Alena mundur dua langkah lebar, menaruh jarak aman di antara Adrian dan anaknya. Napas Alena memburu, matanya yang hijau hazel memancarkan ketakutan yang begitu liar dan nyata.
"Maafkan ketidaksopanan putra saya, Yang Mulia," kata Alena cepat, suaranya gemetar oleh kepanikan yang tak lagi bisa disembunyikan. "Dia tidak terbiasa dengan tata krama istana. Kami... kami minta izin untuk mengundurkan diri ke Paviliun Barat."
Adrian berdiri perlahan, membetulkan posisinya. Tangan yang tadi terulur kini mengepal kaku di udara sebelum jatuh kembali ke sisinya. Matanya yang tajam menatap Alena, membaca ketakutan yang teramat sangat di mata wanita itu.
Mengapa Alena begitu takut? Jika anak ini adalah hasil dari hubungannya dengan pria lain—pria dari desa asal Alena yang disebutkan di dalam surat tujuh tahun lalu—mengapa wanita itu tampak begitu histeris ketika Adrian mendekati anak itu?
"Tunggu, Alena," sela Raja Cedric dari atas tahta, suaranya yang berat memecah ketegangan di antara mereka. Sang Raja berdiri, jubah kebesarannya menyapu lantai batu. "Kau dan anakmu telah resmi berada di bawah perlindungan hukum tradisi sebagai Selir Kerajaan. Gareth akan mengawasi keselamatan kalian di Paviliun Barat."
Raja Cedric menatap Adrian dengan tatapan dingin penuh peringatan. "Adrian, kembalilah ke ruang dewan. Para menteri dan Duke Ardent sudah menunggumu untuk membahas logistik perbatasan utara."
Adrian tidak bergerak. Matanya tetap terkunci pada Alena dan Elian yang kini perlahan mundur menuju pintu keluar aula.
Ketika Elian dipandu berjalan keluar oleh ibunya, anak laki-laki itu sempat membalikkan kepalanya, menatap Adrian sekali lagi dari balik bahu Alena. Anak itu tidak menunjukkan rasa benci. Sebaliknya, ada kilatan rasa ingin tahu yang mendalam di mata abu-abunya—seolah-olah secara naluriah, jiwa anak itu mengenali pria yang berdiri di tengah aula tersebut.
Pintu ganda kayu ek berderit ditutup kembali dengan dentuman keras, memisahkan pandangan mereka.
Ruang Aula Utama mendadak terasa begitu kosong dan sunyi.
Adrian berdiri terpaku di tengah aula, menatap pintu yang baru saja tertutup. Di dalam pikirannya, sebuah perhitungan matematis dan kronologis yang mengerikan mulai berputar secara liar.
Tujuh tahun.
Alena melarikan diri tepat tujuh tahun yang lalu. Anak itu... Elian... berusia tepat tujuh tahun.
Anak itu memiliki mata keluarga Valerian. Anak itu memiliki struktur wajah dan kebiasaan yang tidak mungkin ditiru oleh seorang anak jelata.
Adrian meraba dada zirahnya, merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang secara tidak teratur. Logikanya yang selama ini rasional mencoba menolak dugaan gila yang mulai merekah di kepalanya. Surat itu... surat pengakuan kejam yang ditulis Alena tujuh tahun lalu menyatakan bahwa wanita itu tidak pernah mencintainya dan telah pergi bersama pria lain.
Namun, jika surat itu benar... mengapa mata anak itu begitu serupa dengan matanya sendiri?
"Adrian," panggil Ratu Eleanor lembut, melangkah turun dari tangga tahta dan mendekati putranya. Sang Ratu meletakkan tangannya di atas lengan baju besi Adrian. "Kau harus menghadiri rapat dewan."
Adrian memalingkan wajahnya menatap ibunya. Di mata Ratu Eleanor, Adrian tidak melihat terkejut. Pria itu melihat sesuatu yang jauh lebih berbahaya: sebuah kepastian yang sengaja disembunyikan.
"Ibu..." bisik Adrian, suaranya bergetar oleh campuran kemarahan dan harapan yang menakutkan. "Berapa umur anak itu sebenarnya?"
Ratu Eleanor tidak menjawab. Ia hanya menatap putranya dengan rasa iba yang mendalam, lalu menepuk pelan lengan Adrian sebelum berjalan berlalu meninggalkannya sendirian di tengah aula besar.
Adrian mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa sakit, kebingungan, dan kecurigaan yang telah terlelap selama tujuh tahun kini bangkit kembali bagai badai yang siap merobohkan seluruh dinding Istana Valerian.
Ia harus mencari tahu kebenarannya. Apapun yang disembunyikan Alena, apapun yang coba ditutupi oleh dewan... Adrian bersumpah akan membongkarnya, walau ia harus menghancurkan seluruh istana ini dengan tangannya sendiri.