Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Ulang Tahun Pernikahan
Lampu-lampu gantung berbahan kristal memantulkan pendar keemasan di atas meja privat restoran bergaya klasik Eropa itu. Udara beraroma kayu manis dan wine mahal, diiringi alunan gesekan biola lembut yang seharusnya menciptakan atmosfer romantis. Namun bagi Arga, setiap detik yang berputar di ruangan ini terasa seperti siksaan yang merambat pelan.
Nabila duduk di seberangnya, tampak begitu memikat. Ia mengenakan gaun malam berwarna merah marun dengan potongan bahu terbuka—gaun yang dibeli khusus untuk malam ini. Gelang emas putih pemberian Arga melingkar cantik di pergelangan tangannya, berkilau setiap kali ia menggerakkan jemarinya. Di samping Nabila, Reza duduk dengan setelan jas hitam yang rapi, tersenyum lebar sambil menyesap wine dari gelas kristalnya.
Di mata orang asing yang melintas, mereka bertiga adalah gambaran sempurna dari kesuksesan, keindahan, dan persahabatan yang hangat. Namun di balik meja itu, ada ketegangan yang pekat dan rahasia membusuk yang hanya Arga yang mengetahuinya secara utuh.
"Terima kasih ya, Mas," Nabila membuka suara, menatap Arga dengan binar mata yang penuh kepura-puraan. Tangannya terulur di atas meja, menyentuh punggung tangan Arga yang dingin. "Restoran ini indah banget. Mas selalu tahu cara bikin aku merasa jadi wanita paling beruntung di dunia."
Arga membiarkan tangan istrinya membelai jemarinya. Ia tidak menarik tangannya, meski setiap sel tubuhnya menolak sentuhan itu. Ia menatap Nabila, membiarkan ingatan masa lalu berputar di kepalanya: saat mereka masih makan mi instan berdua di kontrakan sempit, saat Nabila berjanji akan selalu menemani Arga dalam suka dan duka.
Kapan kamu mulai berubah, Nabila? Apakah kemewahan ini yang membunuh ketulusanmu, atau memang kamu tidak pernah tulus sejak awal?
"Mas hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu, Nabila," jawab Arga, suaranya tenang dan dalam, seolah tanpa cela. "Lima tahun lalu, Mas berjanji di depan almarhum ayahmu untuk membahagiakanmu. Dan Mas tidak pernah main-main dengan janji."
Nabila tersenyum manis, walau ada sedikit kilat kebingungan di matanya saat mendengar nama almarhum ayahnya disebut. Di sisinya, Reza terkekeh pelan sambil mengetukkan jarinya di atas meja.
"Kamu memang suami teladan, Ga," potong Reza dengan nada santai yang dibuat-buat. "Tapi jujur aja, kalau bukan karena bantuan dan arahan bisnis dari kamu, aku juga enggak bakal bisa menikmati malam mewah kaya gini bareng kalian. Dana segar 50 miliar yang kamu cairkan tadi pagi... benar-benar menyelamatkan proyek baruku."
Nabila menoleh pada Reza, matanya melebar sedikit dengan binar kagum yang tak sempat ia sembunyikan. "Wah, Reza... selamat ya! Mas Arga memang paling bisa diandalkan kalau soal membantu sahabatnya."
"Tentu," kata Arga, matanya bergantian menatap Nabila dan Reza. Ada dinamika terselubung di antara dua orang di hadapannya—tatapan mata yang bertahan sedetik lebih lama dari seharusnya, jarak tubuh Reza yang terlalu miring ke arah Nabila, dan bagaimana Nabila tertawa lebih lepas saat Reza melemparkan lelucon.
Chemistry terlarang itu ada di sana, telanjang di depan mata Arga. Mereka merasa sangat aman karena berpikir Arga adalah suami bodoh yang hanya tahu cara mencari uang.
Arga mengangkat gelas wine-nya. Cahaya lampu membuat cairan merah di dalam gelas itu tampak seperti darah.
"Mari kita bersulang," ujar Arga mendadak, memotong pembicaraan mereka.
Reza dan Nabila buru-buru mengangkat gelas mereka masing-masing.
"Untuk apa, Mas?" tanya Nabila penuh rasa ingin tahu.
Arga menatap lurus ke dalam mata istrinya, lalu beralih ke mata Reza. Senyum tipis yang penuh teka-teki terukir di bibir Arga.
"Untuk janji ulang tahun pernikahan kita," ucap Arga pelan namun mantap. "Untuk kesetiaan yang tak ternilai harganya, dan untuk persahabatan yang... akan mencatat sejarahnya sendiri dalam hidup kita bertiga."
Dua gelas kristal itu berdenting dengan gelas Arga. Suara gemerincingnya memenuhi keheningan singkat di meja mereka.
Reza tersenyum lebar dan langsung menyesap minumannya, merasa berada di puncak dunia karena mendapatkan modal besar sekaligus mempertahankan wanita idalamannya. Nabila tersenyum manja, menyandarkan bahunya agak dekat ke arah Reza secara refleks sebelum akhirnya menyadari posisinya dan kembali menatap Arga.
Arga meminum wine-nya perlahan, membiarkan rasa pahit meleleh di lidahnya. Di balik gelas kaca itu, hatinya telah mati. Janji pernikahan yang dulu ia junjung tinggi kini resmi ia kubur malam ini. Yang tersisa hanyalah penghitungan mundur menuju kehancuran dua orang yang sedang tertawa di hadapannya.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt