NovelToon NovelToon
Sistem Raja Wisata: Gunung Legendaris Warisan Kakek

Sistem Raja Wisata: Gunung Legendaris Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Malam menunjukkan pukul dua dini hari saat seluruh area Gunung Sumber Abadi tiba-tiba gelap gulita.

Suara mesin air yang biasanya berdegung pelan dari arah bawah tebing juga mendadak mati total.

"Bos Rizky, gawat Bos!" teriak Siska dari ujung walkie-talkie yang baru dibeli sore tadi.

"Listrik di seluruh area wisata mati total dan air di toilet bintang lima berhenti mengalir."

"Aku tahu Siska, tetap tenang di posisimu," jawab Rizky santai dari lantai dua ruang kontrol.

"Ini adalah ulah lintah darat desa dan anjing suruhan dari Taman Mega Ria itu."

Rizky meletakkan walkie-talkienya di atas meja dan menatap ke luar jendela kaca gelapnya.

Dia sama sekali tidak merasa panik apalagi takut dengan sabotase murahan seperti ini.

"Sistem, tampilkan laporan pendapatan poin harian dari total pengunjung hari ini," perintah Rizky di dalam hati.

Ding!

[Memproses konversi kepuasan pengunjung harian menjadi Poin Wisata.]

[Lima ribu dua ratus pengunjung menghasilkan total lima ratus dua puluh Poin Wisata.]

[Saldo Poin Wisata Host saat ini adalah lima ratus tiga puluh poin.]

"Sangat tepat waktu, sekarang buka toko infrastruktur dasar yang baru saja kau sebutkan siang tadi," perintah Rizky lagi.

Ding!

[Menampilkan katalog infrastruktur mandiri.]

[Genset Tenaga Surya Tanpa Batas Level 1 Harga 200 Poin.]

[Pompa Air Sumur Bawah Tanah Gaib Level 1 Harga 200 Poin.]

Rizky membaca deskripsi kedua barang tersebut dengan senyum lebar di wajahnya.

Genset itu tidak membutuhkan bahan bakar minyak sama sekali karena menyerap energi matahari di siang hari untuk digunakan sebulan penuh.

Sedangkan pompa air gaib itu bisa menyedot mata air purba dari kedalaman ribuan meter di bawah gunung tanpa memerlukan pipa eksternal dari desa.

"Beli keduanya sekarang juga dan langsung pasang di ruang bawah tanah Pusat Kontrol Wisata ini," putus Rizky tanpa ragu.

[Transaksi berhasil, total empat ratus Poin Wisata telah dipotong.]

[Memulai proses pemasangan infrastruktur mandiri tingkat dasar.]

Hanya dalam waktu kurang dari lima detik, suara dengungan halus terdengar dari lantai bawah bangunan tersebut.

Wunggg.

Lampu-lampu di seluruh area wisata kembali menyala terang benderang bahkan jauh lebih stabil dari sebelumnya.

Suara gemercik air kembali terdengar mengisi tangki-tangki raksasa di atas Toilet Bintang Lima.

"Bos, listriknya sudah menyala lagi!" lapor Siska dengan suara ceria dari walkie-talkie.

"Airnya juga mengalir deras dan entah perasaanku saja atau bagaimana, tapi airnya terasa jauh lebih dingin dan segar dari air desa."

"Itu karena kita sudah memakai sumber air kita sendiri sekarang Siska," balas Rizky sambil tersenyum puas.

"Sekarang tidurlah dengan nyenyak, kita punya banyak pelanggan yang harus dilayani besok pagi."

Rizky mematikan radionya dan bersandar di kursi empuknya menatap langit-langit ruangan.

"Juragan Darma, kau pikir uang ratusan juta dari kotamu itu bisa mengalahkan keajaiban sistemku?" ejek Rizky sendirian di ruangannya yang sepi.

Keesokan paginya, matahari bersinar sangat terik menyinari desa di kaki Gunung Sumber Abadi.

Juragan Darma sedang duduk santai di teras rumah mewahnya sambil menyeruput kopi hitam.

Sruput.

"Bagas, apakah kau sudah memastikan kabel utama dan pipa air ke atas gunung itu hancur total semalam?" tanya Juragan Darma kepada mantan preman kepercayaannya yang baru saja kembali.

Bagas mengangguk dengan sangat yakin sambil menepuk dadanya sendiri.

"Sudah Juragan, saya sendiri yang memotong kabelnya pakai tang besar dan menghancurkan pipanya pakai palu godam," lapor Bagas bangga.

"Rizky pasti sedang menangis darah sekarang karena ribuan pengunjungnya akan marah-marah mencium bau pesing di toilet mewahnya."

Juragan Darma tertawa terbahak-bahak hingga perut buncitnya berguncang hebat.

Hahaha.

"Bagus sekali, Anton dari Taman Mega Ria pasti akan sangat senang mendengar kabar ini," ucap Juragan Darma bangga.

"Aku akan meneleponnya sekarang juga untuk menagih sisa uang bayaran kita."

Juragan Darma mengambil ponsel pintarnya dan langsung menekan nomor kontak Anton.

Tuuut.

"Halo Tuan Anton, ini aku Juragan Darma," sapa lintah darat itu dengan nada menjilat.

"Tugas semalam sudah beres seratus persen tanpa meninggalkan jejak sama sekali."

Namun balasan dari seberang telepon sama sekali bukan pujian apalagi ucapan terima kasih.

"Beres matamu botak!" bentak Anton dengan suara yang sangat murka hingga membuat Juragan Darma menjauhkan ponsel dari telinganya.

"Kau ini benar-benar tidak becus atau sedang mencoba menipuku hah?"

Juragan Darma mengerutkan keningnya kebingungan mendengar amarah tersebut.

"Apa maksud Tuan Anton, anak buahku benar-benar sudah menghancurkannya," bela Juragan Darma gugup.

"Buka matamu dan lihat aplikasi media sosial sekarang juga dasar kampungan bodoh!" teriak Anton dari seberang sana.

"Ribuan orang sedang melakukan siaran langsung memuji fasilitas air di Gunung Sumber Abadi yang sangat dingin pagi ini!"

"Bahkan ada yang memuji sistem kelistrikan mereka yang kuat mengangkat mesin-mesin tiket elektronik tanpa mati lampu sedikit pun."

Juragan Darma langsung melotot ke arah Bagas yang juga ikut pucat pasi mendengar teriakan dari telepon tersebut.

"Itu tidak mungkin Tuan Anton, pipa desa kita itu satu-satunya jalur air yang naik ke puncak gunung!" bantah Juragan Darma tidak percaya.

"Aku tidak mau tahu, kembalikan uang dua ratus jutaku sekarang juga atau aku akan mengirim orang untuk meratakan rumahmu!" ancam Anton dan langsung mematikan telepon sepihak.

Bip.

Juragan Darma melempar ponselnya ke lantai teras hingga layarnya retak.

Prak.

"Bagas, pergi ke atas gunung sekarang juga dan periksa dengan mata kepalamu sendiri!" perintah Juragan Darma dengan napas tersengal-sengal menahan amarah.

"Bagaimana mungkin anak miskin itu bisa menyulap air dan listrik dari udara kosong."

Di saat yang sama, Rizky sedang berdiri di balkon lantai dua Pusat Kontrol Wisatanya.

Dia melihat Bagas dan dua orang preman suruhan Juragan Darma sedang mengendap-endap di balik semak-semak dekat area parkir.

Mereka terlihat sangat kebingungan melihat lampu-lampu taman yang menyala terang dan pengunjung yang keluar masuk toilet dengan wajah puas.

"Sepertinya tikus-tikus desa sedang melakukan inspeksi mendadak," gumam Rizky dengan senyum meremehkan.

Rizky mengambil pengeras suara kecil dari laci mejanya dan menyalakannya.

"Perhatian kepada seluruh petugas keamanan di area parkir depan," perintah Rizky melalui pengeras suara yang terhubung ke seluruh area wisata luar.

"Ada tiga ekor tikus got yang sedang bersembunyi di balik semak-semak sebelah barat."

"Tolong tangkap mereka dan usir jauh-jauh dari area suci Gunung Sumber Abadi."

Suara Rizky bergema sangat lantang membuat Bagas dan dua temannya melompat kaget dari tempat persembunyian mereka.

Belum sempat mereka berlari kabur, lima orang petugas keamanan bertubuh kekar sudah mengepung mereka dari berbagai sisi.

"Ampun Mas, kami cuma numpang lewat mau cari burung di hutan!" alasan Bagas dengan suara bergetar ketakutan.

"Cari burung kok di area parkir orang dasar preman kurang kerjaan," balas salah satu petugas keamanan sambil memelintir tangan Bagas ke belakang.

"Ayo jalan, Bos Rizky sudah melarang kalian menginjakkan kaki di tempat ini."

Ketiga preman itu langsung diseret turun menuruni bukit dengan kasar menjadi tontonan gratis para pengunjung yang sedang antre.

Siska berlari naik ke lantai dua sambil tertawa terbahak-bahak melihat kejadian di bawah sana.

Hahaha.

"Bos, kamu lihat wajah preman botak itu tadi, dia pucat seperti melihat hantu di siang bolong!" seru Siska memegang perutnya.

"Mereka pasti sengaja datang untuk mengecek hasil sabotase mereka semalam kan Bos?"

Rizky mengangguk pelan sambil kembali duduk di kursi kerjanya.

"Benar sekali Siska, dan mereka pulang dengan membawa kebingungan seumur hidup," jawab Rizky santai.

"Mereka tidak akan pernah paham bagaimana cara kerja fasilitas mandiri tingkat dewa milik kita."

"Lalu apa rencana kita selanjutnya Bos?" tanya Siska mulai serius.

"Taman Mega Ria pasti tidak akan diam saja melihat sabotase mereka gagal total hari ini."

Rizky menatap layar laptopnya yang sedang menampilkan kalender digital.

"Kita tidak akan menunggu mereka menyerang lagi Siska, kali ini kita yang akan mengambil langkah serangan pertama," ucap Rizky dengan tatapan tajam yang penuh ambisi.

"Kita akan mengadakan Festival Malam Seribu Bintang akhir pekan ini."

Siska mengerutkan keningnya tidak paham dengan konsep festival tersebut.

"Festival wisata malam hari?" tanya Siska mengulang.

"Tapi Bos, orang-orang takut naik gunung kalau malam karena gelap dan bahaya."

"Itu karena selama ini belum ada tempat wisata gunung yang memiliki pencahayaan sebaik kita," sanggah Rizky yakin.

"Kita akan membuka operasional hingga jam sepuluh malam."

"Air Terjun Pelangi dan Jembatan Kaca akan terlihat sepuluh kali lipat lebih indah saat dihiasi lampu-lampu khusus dari genset baru kita."

Siska mulai membayangkan keindahan pemandangan yang diceritakan bosnya itu dan matanya berbinar terang.

"Itu ide yang sangat gila tapi jenius Bos!" puji Siska antusias.

"Taman Mega Ria selalu tutup jam lima sore, jika kita buka sampai malam, kita akan memonopoli seluruh pasar wisata keluarga di provinsi ini."

"Tepat sekali, sekarang siapkan poster promosi digitalnya dan sebarkan ke semua akun media sosial kita," perintah Rizky membagi tugas.

"Pastikan kamu menuliskan kalimat, wisata malam pertama dan paling terang di atas awan."

"Siap laksanakan Bos Direktur, aku akan membuat poster paling spektakuler hari ini juga!" hormat Siska sambil berlari turun menuju ruang kerjanya di lantai bawah.

Rizky kembali memutar kursinya menghadap ke arah jendela kaca besar yang menampilkan ribuan manusia di bawah sana.

"Anton, kau pikir aku hanyalah anak desa yang bisa diintimidasi dengan mudah," batin Rizky dingin.

"Akan kupastikan Taman Mega Ria milikmu itu berubah menjadi kuburan besi tua dalam waktu kurang dari sebulan."

Ding!

[Pemberitahuan Sistem!]

[Misi Darurat Bertahan dari Sabotase Fisik telah berhasil diselesaikan dengan sempurna.]

[Sistem menghadiahkan Host Cetak Biru Lampu Hias Ilusi Aurora Level 1 untuk mendukung rencana festival malam.]

Rizky tersenyum sangat lebar membaca notifikasi dukungan dari sistem andalannya tersebut.

Semuanya berjalan persis seperti yang dia rencanakan di dalam kepalanya.

Masa depan Gunung Sumber Abadi kini sudah sepenuhnya berada di tangannya sendiri tanpa bisa diganggu gugat oleh siapa pun.

1
Eka Yudha
Bagus sih meskipun fiksi tapi ceritanya hidup
Rifqy Channel
kak nissa segera update ini gue suka pokoknya sampe 100 Bab pun gak apa-apa karena suka bangett
Nissa Safira: terima kasih kak atas dukungannya🙏
total 1 replies
Rifqy Channel
i like it
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!