Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.
Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.
"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.
Dante menga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyekapan Tanpa Suara
Di dalam ruangan privat yang kedap suara itu, Marco merintih menahan sakit pada pergelangan tangannya yang patah. Matanya terbelalak ketakutan menatap ujung belati titanium yang berada hanya beberapa sentimeter di depan wajahnya, serta cengkeraman tangan besi Dante yang mengunci lehernya.
"Jangan membunuhnya di sini, Aura," potong Dante dengan suara berat dan tenang. "Darah pria ini tidak pantas mengotori karpet gedung ini. Lagipula, dia memiliki banyak informasi penting tentang sisa-sisa jaringan Arcanum yang harus kita perah habis."
Aura menarik napas panjang, meredam desakan impulsif di dadanya untuk langsung menghujamkan belati tersebut. Gadis itu menurunkan pisau titaniumnya, menatap Marco dengan tatapan sedingin es. "Kau benar, Dante. Membunuhnya terlalu cepat adalah sebuah kemurahan hati yang tidak pantas dia dapatkan."
Dante mengisyaratkan Valerio dengan lirikan mata. Dengan gerak cepat dan terlatih khas agen profesional, Valerio menyuntikkan cairan obat penenang ke leher Marco melalui jarum hipodermik kecil. Dalam hitungan detik, mata Marco memutar ke atas, dan tubuhnya terkulai lemas tak berdaya di atas lantai.
"Semuanya bersih di koridor belakang, Boss," bisik Valerio seraya memasangkan borgol baja di kedua pergelangan tangan Marco dan membungkus kepala pria itu dengan kain hitam. "Dua pengawal Marco di luar pintu utama sudah diselesaikan oleh tim dua tanpa suara."
"Bawa dia lewat lift servis bawah tanah," perintah Dante dingin.
Valerio bersama dua anggota tim taktis yang masuk lewat jalur rahasia dengan sigap memapah tubuh Marco. Mereka memasukkan pria pimpinan mafia itu ke dalam sebuah kotak peralatan katering berukuran besar yang roda-rodanya telah dirancang khusus agar tidak menimbulkan suara saat didorong.
Sementara itu, di aula utama lantai satu pesta amal, alunan musik klasik masih bergema indah. Para pejabat, jenderal kepolisian, dan pengusaha korup masih asyik berdansa dan menikmati anggur mahal, sama sekali tidak menyadari bahwa bos besar mereka telah diculik tepat dari bawah hidung mereka sendiri.
Aura merapikan gaun hitamnya di depan cermin, memastikan tidak ada lipatan yang mencurigakan. Dante melangkah mendekatinya, memasangkan kembali mantel bulu hitam di bahu Aura untuk menutupi belati yang tersimpan rapat di paha gadis itu.
"Kau melakukannya dengan sangat baik, Aura," bisik Dante lembut tepat di telinga gadis itu, memecah ketegangan yang menyelimuti tubuh Aura.
"Ini baru permulaan, kan?" sahut Aura, menatap Dante melalui pantulan cermin.
Dante mengulas senyum tipis yang sarat akan dominasi murni. "Ya. Sekarang, kita bawa dia ke tempat di mana dia akan membayar setiap detik trauma yang kau rasakan."
Tanpa menarik perhatian satu pun tamu undangan, Dante merangkul pinggang Aura dengan protektif, menuntunnya berjalan menyusuri koridor VIP menuju lift khusus VIP yang terhubung langsung ke area parkir bawah tanah. Di sana, van taktis hitam telah bersiap dengan mesin yang meraung halus, siap membawa sang tawanan menuju markas penyiksaan rahasia klan Dante.
Iring-iringan van taktis hitam meluncur mulus masuk ke dalam fasilitas bawah tanah yang tersembunyi jauh di bawah pinggiran kota. Tempat itu jauh lebih steril dan canggih dibanding safehouse tempat mereka tinggal sebelumnya. Dinding beton bertulang, lampu neon putih terang yang melapisi langit-langit, serta penjagaan ketat dari pasukan elit klan Dante menyambut kedatangan kendaraan tersebut.
Begitu van berhenti di area bongkar muat khusus, Valerio dan dua anak buahnya langsung membuka pintu belakang. Kotak peralatan katering besar yang berisi tubuh tak berdaya Marco diturunkan dengan hati-hati.
Dante turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan membantu Aura keluar dari kabin van. Gadis itu melangkah mantap di atas lantai semen yang dingin, matanya menyapu sekeliling ruangan dengan sorot penuh antisipasi. Tidak ada rasa takut lagi di dalam dadanya; yang tersisa hanyalah bara api dendam yang siap membakar siapa saja yang merenggut masa lalunya.
"Bawa dia ke Ruang Interogasi Utama," perintah Dante dengan suara berat yang menggema tegas di lorong fasilitas tersebut.
"Baik, Boss," balas Valerio.
Valerio dan anak buahnya menyeret kotak tersebut menyusuri koridor steril hingga tiba di sebuah ruangan kedap suara berukuran sedang. Di tengah-tengah ruangan berdiri sebuah kursi besi kokoh dengan sabuk pengaman baja di bagian tangan dan dada.
Tubuh Marco yang masih terbius dan kepalanya terbungkus kain hitam langsung diangkat, didudukkan secara paksa di atas kursi besi tersebut, lalu diikat dengan kencang. Valerio kemudian menarik kain hitam yang menutupi kepala Marco dan menyiramkan seember air dingin ke wajah pria paruh baya itu.
Byur!
Marco tersentak seketika, terbatuk-batuk hebat sambil megap-megap menghirup udara. Matanya yang rabun karena sisa obat penenang mengerjap-ngerjap beradaptasi dengan cahaya lampu neon yang menyilaukan.
Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, Marco mencoba meronta, namun borgol baja dan sabuk pengaman mengunci gerakannya rapat-rapat. Ia mengangkat kepalanya, dan napasnya langsung tercekat saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
Di balik meja baja interogasi yang dingin, Dante duduk menyilangkan kaki dengan tatapan setajam elang. Di samping kanan berdiri Valerio dengan gestur mengintimidasi, sementara di sebelah kiri, dalam keremangan cahaya sudut ruangan, berdiri sesosok wanita bergaun hitam dengan tatapan mata yang menghujam tajam penuh kebencian—Aura.
"S-selamat malam... Tuan Dante..." suara Marco bergetar hebat, keringat dingin bercucuran membasahi kemeja mahalnya yang kini tampak kusut. "K-kita bisa membicarakan ini... Semua bisnis, semua asetku, akan kuserahkan sepenuhnya kepadamu. Asalkan—"
Sebelum Marco sempat menyelesaikan tawarannya, Dante mengangkat tangan kanannya, menghentikan omong kosong pria pengkhianat itu.
"Asetmu, jaringan gelapmu, dan seluruh nyawa di bawah komandomu sudah berada di dalam genggamanku sejak detik pertama kau mengkhianatiku, Marco," potong Dante dengan nada rendah yang sarat akan ancaman kematian. "Tapi malam ini, bukan aku yang akan meminta pertanggungjawaban atas urusan bisnis itu."
Dante melirik pelan ke arah Aura.
Mendapatkan isyarat tersebut, Aura melangkah maju dari keremangan sudut ruangan. Hak sepatunya berketukan nyaring di atas lantai beton, menciptakan suara gema yang menciutkan nyali siapapun yang mendengarnya. Ia berhenti tepat di depan Marco, menatap wajah pria yang telah menghancurkan hidupnya dua tahun silam tanpa secercah pun rasa kasihan.