"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.
Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29 - Peringatan Kevin
Preman kepala itu meludah darah tipis, lalu menyeringai. "Kalian sudah cari mati. Tuan Muda Kevin yang suruh kami."
Kalimat itu terekam jelas oleh tiga body camera, dua ponsel warga, dan kamera kecil di sudut gerobak Pak Yanto.
Roni menyadarinya terlambat.
Agus tidak tersenyum. Ia hanya berkata, "Terima kasih atas pengakuannya."
Wajah Roni langsung berubah. "Gue... gue cuma ngomong!"
"Nanti jelaskan di Polsek," kata Raka.
Petugas datang, mengambil keterangan awal, dan membawa Roni serta dua temannya untuk diperiksa. Garuda Shield menyerahkan salinan rekaman, surat kontrak pengamanan, identitas anggota, dan kronologi singkat. Semuanya rapi. Tidak ada anggota yang kabur. Tidak ada pemukulan liar. Tidak ada celah mudah untuk membalikkan cerita.
Sore itu, nama Garuda Shield mulai beredar di antara pedagang kecil di jalan tersebut.
Bukan sebagai preman baru.
Sebagai orang yang membuat preman lama akhirnya duduk di mobil patroli.
Pak Yanto menyalami Raka dengan dua tangan. "Saya tidak tahu harus bilang apa, Pak."
"Bilang saja usaha Bapak buka besok seperti biasa."
Mata Pak Yanto memerah. "Insyaallah."
Raka meninggalkan lokasi dengan perasaan tenang, tetapi ia tahu badai baru saja mendapat nama.
Kevin.
Tiga hari kemudian, badai itu datang ke kantor Garuda Shield.
Mobil sport warna abu-abu berhenti di depan gedung kecil yang menjadi markas perusahaan. Di belakangnya ada SUV hitam dengan dua pria besar. Kevin Halim turun dari mobil sport sambil memasang kacamata hitam, meski matahari tidak terlalu tajam. Jasnya mahal, sepatunya mengilap, dan wajahnya membawa ekspresi orang yang merasa semua pintu seharusnya terbuka sebelum ia menyentuh gagang.
Resepsionis Garuda Shield berdiri. "Selamat siang, Pak. Ada janji?"
Kevin membuka kacamata, menatap papan nama di dinding, lalu tertawa kecil. "Lucu juga. Perusahaan sekecil ini pakai resepsionis."
Agus muncul dari koridor. Dua anggota lain berhenti di posisi yang tidak menghalangi, tetapi cukup terlihat.
"Ada keperluan?" tanya Agus.
"Panggil bosmu."
"Nama dan janji?"
Kevin menatap Agus seperti melihat kursi rusak. "Bilang saja Kevin Halim datang."
Raka keluar dari ruang rapat sebelum suasana menegang. Ia sudah melihat mobil Kevin dari kamera depan. Adi berada di belakangnya, membawa tablet. Semua rekaman kantor aktif, pemberitahuan CCTV ditempel jelas di area tamu.
"Pak Kevin," kata Raka.
Kevin tersenyum. "Jadi kamu Raka."
"Benar."
"Mantan suami Ratna."
Ruangan itu menjadi sunyi.
Adi melirik Raka. Agus tidak bergerak. Raka hanya menatap Kevin tanpa perubahan wajah.
"Kalau urusan Anda tentang klien kami, silakan duduk," kata Raka. "Kalau urusan pribadi Ratna, tempatnya bukan di sini."
Kevin tertawa lebih keras. "Wah, formal sekali. Security kecil, kantor kecil, tapi gaya bicara seperti direktur perusahaan multinasional."
"Lebih baik kantor kecil dengan izin jelas daripada jaringan besar yang harus memakai orang seperti Roni."
Senyum Kevin menipis.
"Hati-hati kalau bicara."
"Saya hati-hati. Karena itu saya bicara berdasarkan rekaman."
Adi menekan tablet. Di layar kecil, potongan wajah Roni muncul, tepat saat ia berkata bahwa Tuan Muda Kevin yang menyuruh mereka. Suara itu tidak diputar keras, hanya cukup untuk Kevin mendengar.
Kevin menatap layar itu. Untuk pertama kali sejak masuk, wajahnya tidak sepenuhnya santai.
"Preman mabuk bisa bicara apa saja," katanya.
"Mungkin," jawab Raka. "Itu sebabnya kami tidak menuduh. Kami menyerahkan bukti kepada pihak berwenang dan menyimpan kronologi. Jika tidak ada hubungan dengan Anda, tentu Anda tidak perlu khawatir."
Kalimat itu sopan. Justru karena sopan, Kevin sulit menghantamnya.
Pria di belakang Kevin bergerak maju setengah langkah. Agus langsung menoleh. Tidak perlu berkata apa-apa. Pria itu berhenti.
Kevin memperhatikan dinamika kecil itu dan mendengus. "Kamu pikir punya beberapa mantan tentara dan kamera murah sudah cukup untuk main di Surabaya?"
"Saya tidak main," kata Raka. "Saya menjalankan usaha legal."
"Legal?" Kevin mendekat. "Legal itu kata yang dipakai orang kecil supaya merasa aman. Di kota ini, yang penting bukan kertas. Yang penting siapa yang berdiri di belakangmu."
Raka menatapnya dari jarak satu meter.
"Kalau seseorang harus selalu menyebut siapa yang berdiri di belakangnya, mungkin dia sendiri tidak cukup kuat untuk berdiri."
Adi hampir batuk menahan tawa.
Wajah Kevin mengeras.
"Ratna benar," katanya dingin. "Kamu memang tidak tahu diri. Dulu dibuang istri, sekarang baru punya sedikit uang sudah merasa bisa menantang keluarga Halim."
Nama Ratna jatuh di ruangan itu seperti koin murahan.
Raka tidak tersinggung. Ia sudah melewati fase ketika nama Ratna bisa menarik emosinya.
"Saya tidak menantang keluarga Anda," kata Raka. "Saya melindungi klien saya dari pemerasan. Jika keluarga Anda tidak terlibat, mestinya Anda mendukung penegakan hukum."
Kevin menatapnya lama.
"Kamu pintar memutar kata."
"Saya hanya menjaga batas."
"Kalau begitu dengar batas dari saya." Kevin menunjuk lantai kantor Garuda Shield. "Jangan masuk ke area saya. Jangan lindungi orang yang sudah saya tandai. Jangan pikir uang barumu bisa membeli tempat di meja yang sama dengan kami."
Raka membuka telapak tangan, menunjuk ruang tamu kantor.
"Pak Kevin, Anda datang ke kantor saya, tanpa janji, membawa dua orang, lalu menyuruh saya tidak masuk area Anda. Menarik."
Beberapa staf yang pura-pura sibuk di meja samping menunduk lebih dalam agar tidak terlihat tersenyum.
Kevin menyadari itu.
Orang seperti Kevin bisa tahan kritik dari ayahnya, mungkin. Bisa tahan kerugian kecil, mungkin. Tetapi ditertawakan oleh orang yang ia anggap lebih rendah? Itu lain soal.
"Aku bisa bikin perusahaanmu tutup," katanya.
"Silakan coba dengan cara legal."
"Vendor bisa mundur. Klien bisa takut. Izin bisa dipertanyakan. Media bisa menulis macam-macam."
"Maka kami akan menjawab dengan dokumen, kontrak, pajak, rekaman, dan pengacara."
Kevin memandang Raka seperti ingin menamparnya, tetapi kamera di sudut ruangan, Agus di samping, dan sikap Raka yang terlalu tenang membuat tangannya tetap diam.
"Kamu akan menyesal," katanya.
"Antrian orang yang berkata begitu cukup panjang," jawab Raka. "Sejauh ini, mereka lebih dulu menyesal."
Kevin tertawa tanpa humor. Ia memakai kembali kacamata hitamnya.
"Kita lihat."
Ia berbalik dan berjalan keluar. Dua pengawalnya mengikuti. Mobil sport itu meraung berlebihan saat meninggalkan halaman kantor, seperti anak kecil membanting pintu dengan mesin mahal.
Di dalam kantor, Adi menghembuskan napas panjang.
"Bos, itu tadi antara berani dan cari penyakit."
"Bedanya?" tanya Yuli dari pintu samping. Rupanya ia baru datang dan sempat melihat bagian akhir.
Adi menunjuk Raka. "Kalau dia, biasanya sudah punya obat sebelum penyakitnya datang."
Raka menatap layar CCTV yang memperlihatkan mobil Kevin menjauh.
Di dalam mobil sport itu, Kevin membuka ponsel dan menekan sebuah nomor.
Saat panggilan tersambung, suaranya rendah dan tajam.
"Cari tahu semua kelemahan si Raka itu. Aku mau dia hancur."
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....