Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Di ruang rapat utama beberapa lantai di bawah...
Lucas baru saja menyelesaikan rapatnya.
Saat keluar, pandangannya langsung mencari satu orang.
"Alyssa?"
Namun wanita itu...
Tidak ada di ruang kerjanya.
Ruang rapat utama di lantai empat puluh dua akhirnya kembali lengang.
Pintu otomatis terbuka perlahan.
Satu per satu jajaran direksi keluar sambil membawa tablet dan berkas rapat.
"Terima kasih, Tuan Direktur."
"Presentasi hari ini sangat jelas."
"Kami akan segera menindaklanjuti keputusan tadi."
Lucas hanya mengangguk singkat.
"Pastikan seluruh divisi menjalankannya sesuai jadwal."
"Baik, Tuan."
Setelah semua orang pergi, Lucas mengangkat pergelangan tangannya.
Jarum jam menunjukkan pukul 17.18.
Hari kerja hampir selesai.
Ia mengembuskan napas pelan.
Tanpa sadar sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Sudah hampir dua jam."
"Alyssa pasti bosan menungguku."
Saat itulah...
Sebuah ingatan melintas.
"Tuan, tolong temani Alyssa berkeliling perusahaan."
"Baik, Lucas."
Lucas berhenti melangkah.
Alisnya perlahan berkerut.
"Ariana..."
Ia baru teringat bahwa sebelum memasuki ruang rapat, Alyssa tidak berada di ruangannya.
Wanita itu ikut Ariana berkeliling perusahaan.
Lucas segera menoleh kepada Adrian yang berjalan di belakangnya.
"Adrian."
"Ya, Tuan?"
"Di mana Alyssa?"
Adrian menjawab spontan.
"Bersama Bu Ariana."
Lucas kembali melihat jam.
"Hampir jam pulang."
"Kenapa mereka belum kembali?"
Adrian ikut mengernyit.
"Benar juga..."
"Harusnya sejak satu jam lalu sudah selesai."
Lucas mulai merasakan sesuatu yang mengganjal.
Perasaannya tiba-tiba tidak tenang.
"Hubungi pengawal yang mengawal mereka."
"Baik."
Adrian segera menekan alat komunikasi di telinganya.
"Tim Alfa."
"Lapor."
Tak lama kemudian suara salah satu pengawal terdengar.
"Tim Alfa siap."
"Posisi Nona Alyssa?"
"Ada bersama Manajer Ariana, Pak."
"Kapan laporan terakhir?"
"Hampir tiga jam lalu."
Adrian langsung menoleh ke Lucas.
Ekspresi Lucas berubah.
"Tiga jam?"
Pengawal di seberang menjawab,
"Benar."
"Kami diperintahkan menunggu di depan lift gudang arsip."
"Kami mengira Nona Alyssa sedang diperlihatkan fasilitas internal."
Lucas melangkah cepat.
"Kenapa tidak melapor?"
"Kami..."
"...karena Bu Ariana memiliki akses penuh sebagai Manajer Umum."
Lucas mengepalkan tangannya.
"Di mana kalian sekarang?"
"Masih di lantai atas."
Lucas langsung berkata tegas.
"Jangan bergerak."
"Aku ke sana."
"Baik, Tuan."
Namun baru beberapa langkah...
Lucas berhenti.
"Tidak."
Ia menggeleng pelan.
"Aneh."
Adrian memperhatikan wajah atasannya.
"Tuan?"
Lucas berbicara pelan.
"Kalau Alyssa memang masih bersama Ariana..."
"...harusnya sekarang mereka sudah turun."
Adrian mengangguk.
"Benar."
Lucas langsung berkata,
"Hubungi Ariana."
Adrian segera mencari nomor itu.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu...
Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi.
Adrian mencoba lagi.
Hasilnya sama.
Lucas mengambil ponselnya sendiri.
Ia menelepon langsung.
Tetap gagal.
Nomor Ariana mati.
Tatapan Lucas berubah semakin dingin.
"Kenapa dia mematikan ponselnya..."
Saat itu pula seorang staf administrasi yang baru keluar dari lift melihat Lucas.
Ia langsung membungkuk.
"Selamat sore, Tuan."
Lucas menghentikannya.
"Tunggu."
Staf itu tampak gugup.
"Iya, Tuan?"
"Kau melihat Bu Ariana?"
"Melihat, Tuan."
"Kapan?"
"Kurang lebih..."
"...sekitar satu jam yang lalu."
Lucas langsung bertanya,
"Dia bersama siapa?"
Staf itu tampak berpikir.
"Seingat saya..."
"...sendirian."
Lucas dan Adrian saling berpandangan.
"Sendirian?"
"Iya."
"Saya sempat bertanya apakah perlu kendaraan perusahaan."
"Beliau menjawab..."
Staf itu menirukan ucapan Ariana.
"Tidak usah. Ada urusan penting."
Lucas langsung membeku.
"Sendirian..."
"Lalu Alyssa?"
Staf itu tampak bingung.
"Saya tidak melihat ada wanita lain."
Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.
Adrian langsung memandang Lucas.
"Tuan..."
Lucas tidak menjawab.
Pikirannya mulai bekerja sangat cepat.
Ariana keluar sendirian.
Ponselnya mati.
Alyssa menghilang.
Pengawal kehilangan kontak selama tiga jam.
Semuanya...
Terlalu kebetulan.
Lucas menatap Adrian.
"Naik."
"Kita ke lantai gudang."
Lift khusus bergerak naik dengan kecepatan tinggi.
Tidak seorang pun berbicara.
Lucas berdiri dengan kedua tangan mengepal.
Entah mengapa...
Dadanya terasa semakin sesak.
Perasaan yang sama seperti saat mengetahui Patrick mengirim ancaman pertama.
Sebuah firasat buruk.
Sangat buruk.
Pintu lift terbuka.
Empat pengawal segera berdiri tegak.
"Tuan!"
Lucas langsung bertanya.
"Di mana Nona Alyssa?"
Salah seorang menjawab dengan wajah pucat.
"Terakhir masuk bersama Bu Ariana."
"Kalian melihat mereka keluar?"
"Tidak."
Lucas menatap pintu gudang besar di ujung koridor.
"Kalian tidak memeriksa?"
Pengawal itu menundukkan kepala.
"Kami mengira..."
"...Bu Ariana masih mendampingi beliau."
Lucas mengembuskan napas panjang.
Nada suaranya tetap tenang.
Namun justru itulah yang membuat semua orang semakin takut.
"Geser."
Empat pengawal langsung memberi jalan.
Lucas berjalan menuju pintu gudang.
Tangannya memutar gagang.
Klik.
Tidak terbuka.
Lucas mengangkat alis.
"Terkunci."
Adrian langsung mencoba kartu akses miliknya.
Lampu berubah merah.
Akses ditolak.
"Mustahil..."
Lucas berkata pendek.
"Bobol."
Salah seorang pengawal maju.
"Dengan senang hati."
Ia mengeluarkan alat pembuka darurat.
Namun sebelum sempat digunakan...
Lucas tiba-tiba membeku.
Matanya sedikit melebar.
Seolah mengingat sesuatu.
"Adrian."
"Ya?"
"Beberapa jam yang lalu..."
"...di mobil."
Adrian menoleh.
Lucas perlahan memasukkan tangan ke saku jasnya.
Lalu mengeluarkan ponsel pribadinya.
"Aku..."
"...memberikan sebuah ponsel kepada Alyssa."
Adrian langsung teringat.
Benar.
Sebelum turun dari mobil.
Lucas menyerahkan sebuah ponsel baru kepada Alyssa.
Saat itu Alyssa sempat bertanya heran.
"Bukankah aku sudah punya ponsel?"
Lucas menjawab singkat.
"Yang ini berbeda."
"Nomorku sudah tersimpan di sana."
"Kalau terjadi apa pun..."
"Tekan satu tombol ini."
"Panggil aku."
"Siang atau malam."
"Aku akan datang."
Ingatan itu membuat jantung Adrian ikut berdebar.
Lucas langsung membuka aplikasi pelacak.
Karena ponsel itu...
Terhubung langsung dengan sistem keamanan perusahaan Laurent.
Lucas menekan beberapa tombol.
Layar memuat peta digital gedung.
Lingkaran biru muncul.
Lalu...
Satu titik hijau berkedip.
Masih berada...
Di lantai paling atas.
Tepat di dalam area gudang.
Tatapan Lucas berubah tajam.
"Dia masih di sini."
Adrian menatap layar.
"Syukurlah..."
Namun Lucas justru menggeleng.
"Tidak."
"Ini bukan kabar baik."
Adrian bingung.
"Kenapa?"
"Kalau tiga jam dia tidak bergerak..."
"...berarti memang ada sesuatu."
Lucas mengangkat wajahnya.
Suaranya berubah dingin.
"Bobol pintu."
"Sekarang."
"Dengan cara apa pun."
"Baik!"
Dua pengawal segera maju membawa alat pembuka hidrolik.
Sementara yang lain mengamankan koridor.
Lucas terus menatap titik hijau di layar.
Titik itu...
Tidak bergerak sedikit pun.
Sejak tiga jam lalu.
Jantungnya berdegup semakin keras.
Di dalam hati ia hanya berharap satu hal.
"Alyssa..."
"Tolong tetap baik-baik saja."
Di balik pintu besi yang tebal...
Dalam gudang yang mulai gelap karena lampu otomatis banyak yang telah padam...
Alyssa masih terduduk bersandar di dekat pintu.
Suara ketukannya sejak tadi mulai melemah.
Tangannya menggenggam ponsel yang diberikan Lucas.
Baterainya masih penuh.
Namun karena sinyal yang sangat lemah, panggilan sebelumnya tidak pernah tersambung.
Dengan sisa harapan yang ada...
Ia menatap tombol cepat bertuliskan satu nama.
Lucas.
Dengan jari yang sedikit gemetar...
Ia kembali menekannya.
Dan di luar...
Di tangan Lucas...
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Layar menampilkan satu panggilan masuk.
Alyssa.
Untuk sesaat...
Wajah Lucas yang sejak tadi dipenuhi ketegangan akhirnya berubah.
"Alyssa..."
Ia langsung mengangkat panggilan.
"Halo! Alyssa! Apa kau bisa mendengarku?"
Tak ada jawaban yang jelas.
Hanya suara napas pelan...
Disusul ketukan samar dari balik pintu besi.
Tok...
Tok...
Tok...