Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Langkah kaki Alya terasa sangat berat saat ia berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju kelas 11 IPA 1. Lorong sekolah yang riuh oleh canda tawa murid-murid lain di jam istirahat terasa begitu asing dan hampa bagi Alya. Mata cantiknya yang biasa memancarkan keteguhan kini tampak sembap dan kemerahan. Kecewa, lelah, dan rasa sesak akibat ketidakadilan yang baru saja menimpanya berkumpul menjadi satu gumpalan besar di dalam dadanya.
Saat pintu kelas digeser perlahan, suasana IPA 1 yang tadinya cukup bising mendadak menenang. Pandangan semua orang tertuju pada Alya yang berjalan menunduk. Adel dan Jesica yang sejak tadi menunggunya dengan cemas di meja belakang langsung melompat dari kursi mereka dan berlari menghampiri Alya.
"Al! Ya ampun, Alya..." bisik Jesica cemas, langsung merangkul pundak sahabatnya yang terasa bergetar pelan.
Adel menarik tangan Alya untuk duduk di kursinya, lalu menutup pintu kelas sedikit agar percakapan mereka tidak menjadi tontonan. Begitu melihat jejak air mata di pipi Alya dan binar matanya yang meredup, dada Adel dan Jesica seketika mencelos. Mereka tahu betul betapa kuatnya Alya; jika gadis itu sampai meneteskan air mata, artinya masalah yang dihadapi benar-benar menghantamnya sangat keras.
"Al, bisikin ke kita, Pak Joko ngomong apa aja di ruang guru?" tanya Adel dengan suara bergetar, menahan amarah yang mulai membakar dadanya. "Kenapa lo bisa terlambat sampai kena bolos gitu? Terus... siapa penipu yang tega bikin pesanan fiktif dua ratus kue itu?"
Alya menarik napas panjang, mencoba mengatur napasnya yang masih tertahan oleh sisa isakan. Dengan suara lirih dan gemetar, ia menceritakan semuanya. Mulai dari penantian sia-sianya selama lebih dari setengah jam di taman belakang sekolah yang sepi, pesan-pesan yang tidak pernah dibalas dan panggilan yang diabaikan oleh akun @angeline.bakery_order, hingga keputusasaan saat ia berlari membawa empat kotak kue berat ke kelas. Alya juga menyampaikan keputusan mutlak Pak Joko yang melarangnya berjualan di lingkungan sekolah dalam bentuk apa pun demi menjaga beasiswanya.
"Pak Joko... Pak Joko takut fokus belajarku terganggu dan beasiswaku dicabut," bisik Alya sembari mengusap sudut matanya dengan jemari yang gemetar. "Aku gak marah sama Pak Joko, tapi... aku bingung. Kuenya banyak banget, modal ibuku terpaksa habis buat beli bahan semalam, dan sekarang aku bahkan gak boleh jualan lagi di sini."
Adel menggebrak meja dengan kencang, matanya berkilat marah. "Keputusan macam apa itu?! Pak Joko gak tahu seberapa keras perjuangan lo! Dan akun penipu itu... sumpah, jahat banget! Manusia iblis mana yang tega ngerjain lo sampai kayak gini?!"
Jesica menggenggam erat tangan Alya, mencoba menyalurkan kekuatan. "Al, lo gak boleh nyerah. Kita bakal cari cara buat bantuin lo jual kue-kue ini keluar dari sekolah. Tapi yang pasti, orang yang udah ngerjain lo ini sengaja mau ngerusak mental dan reputasi lo di sekolah."
Sementara itu, berita tentang Alya yang dihukum bolos oleh Pak Joko dan dipanggil ke ruang guru menyebar secepat kilat ke seluruh penjuru SMA Nusa Bangsa.
Di sudut kantin IPS, Clara sedang duduk santai bersama Siska dan gengnya. Begitu Siska membisikkan kabar terbaru tentang Alya dari grup percakapan sekolah, Clara langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang cangkir es kopi. Matanya membelalak gembira, dan detik berikutnya, tawa puas yang sarat akan kelicikan meledak dari bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala.
"Beneran?! Hahaha! Ya ampun, berita paling bagus minggu ini!" seru Clara heboh, tertawa lepas tanpa peduli tatapan murid-murid di sekitarnya.
"Iya, Cla! Katanya dia berdiri kayak orang bloon di taman belakang sendirian sampai jam pelajaran mulai," timpal Siska ikut tertawa jahat. "Terus pas lari ke kelas bawa kotak gede-gede, langsung disemprot sama Pak Joko dan dilarang jualan lagi selamanya!"
Clara menyandarkan punggungnya di kursi, menyilangkan tangan di dada dengan senyum kemenangan yang memuakkan. Rencananya tidak hanya berjalan lancar, tetapi *sempurna*. Ia berhasil membuat Alya rugi besar secara finansial, kelelahan fisik karena begadang semalaman, dipermalukan di depan kelas, dan yang paling memuaskan bagi Clara: menghentikan usaha Dapur Saras di sekolah untuk selamanya.
"Gak afdal rasanya kalau gue gak ngeliat langsung muka melas si cewek miskin itu," ujar Clara dengan tatapan beracun. Ia langsung berdiri dari kursinya. "Yuk, kita kasih ucapan selamat ke kelas IPA 1."
Tak butuh waktu lama, pintu kelas 11 IPA 1 kembali didorong kasar. Clara melangkah masuk dengan gaya anggun yang dibuat-buat, diikuti oleh tiga temannya yang memasang raut wajah mengejek. Kehadiran geng Clara seketika menghentikan pembicaraan di dalam kelas, menciptakan atmosfer dingin yang mencekam.
Clara berjalan perlahan menuju meja Alya, mengetuk-ngetukkan kuku-kuku jarinya ke atas meja Alya dengan irama yang menyebalkan.
"Aduh, aduh... ada yang lagi berduka nih rupanya," panggil Clara dengan nada suara yang sengaja dipanjang-panjangkan, sarat akan sindiran yang menohok. "Gimana rasanya jadi juragan kue gagal, Alya? Katanya tadi pagi ada yang sibuk nungguin *buyer* katering kembang kempis di taman belakang ya?"
Adel langsung berdiri pasang badan, matanya menatap Clara dengan benci. "Clara! Mending lo keluar dari kelas ini sebelum gue tarik rambut lo!"
"Dih, santai dong, Del! Gue ke sini cuma mau menunjukkan empati," kekeh Clara sinis, mengabaikan ancaman Adel. Pandangan mata tajamnya beralih mengunci wajah Alya yang masih pucat. "Lagian, dari awal kan gue udah bilang... sekolah ini itu tempat buat belajar anak-anak terhormat, bukan tempat buat cewek miskin ngemis-ngemis perhatian lewat jualan kue pasar. Sekarang liat kan batunya? Udah rugi modal, kena hukum Pak Joko, dilarang jualan pula!"
Siska dan teman-temannya di belakang Clara tertawa geli, menikmati pemandangan Alya yang terpojok.
Clara mencondongkan tubuhnya ke depan, berbisik dengan nada yang sangat pedas dan merendahkan tepat di depan wajah Alya. "Lo itu gak selevel sama kita, Alya. Mau lo jungkir balik bikin kue seratus biji, seribu biji, lo bakal tetep jadi cewek miskin yang penuh masalah. Dan soal Devan... lo pikir setelah liat lo diomelin guru dan kelihatan patetis begini, Devan bakal tetep ngelirik lo? *In your dreams*, Alya. Mending lo bawa pulang tuh kue-kue basi lo, makan sendiri sama keluarga lo di rumah!"
Cacian dan hinaan pedas itu meluncur bebas tanpa henti dari mulut Clara, berusaha meruntuhkan sisa-sisa pertahanan harga diri Alya. Seluruh murid IPA 1 yang berada di dalam kelas mengepalkan tangan menahan geram, namun tidak ada yang berani melawan karena pengaruh keluarga Clara di yayasan sekolah.
Alya perlahan mendongakkan kepalanya. Meskipun kelopak matanya masih sembap dan sisa air mata masih berbekas di pipinya, pancaran di dalam manik matanya sama sekali tidak menyiratkan kekalahan. Ia menatap Clara lurus-lurus, mempertahankan ketenangan dingin yang selalu menjadi senjata terbesarnya. Namun, sebelum Alya sempat mengeluarkan satu patah kata pun untuk membalas hinaan tersebut, sebuah suara berat yang familiar tiba-tiba menggema keras dari ambang pintu kelas.
"Puas lo nge hina orang, Clara?"
Suara dingin dan penuh intonasi berbahaya itu seketika memotong tawa geng Clara. Seluruh pasang mata di ruangan itu refleks menoleh ke arah pintu. Di sana, Devan Narendra berdiri tegap dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, menatap Clara dengan tatapan mata yang sangat tajam dan mematikan.