NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30 — Seluruh Rumah Sakit Tahu

Foto lamaran itu masuk grup IGD pukul enam lewat dua menit.

Pukul enam lewat empat, perawat lantai tiga mengetahuinya.

Pukul enam lewat tujuh, petugas parkir memberi salam kepada Surya dengan sebutan calon pengantin.

Pukul enam lewat sepuluh, Pak Hendra mengubah nama grup menjadi Tim Dokumentasi Klinis Pernikahan Kepala IGD.

"Kerahasiaan medis rumah sakit ini luar biasa," kata Surya.

Anindya menyeruput kopi. "Kita melamar di depan setengah IGD. Pertunjukan publik itu sudah mustahil disembunyikan."

Rizki datang membawa kotak sumbangan pesta. Bayu menulis Jangan Beri Rizki Uang Tunai pada tutupnya.

Tawa belum selesai ketika sebuah Audi A4 hitam berhenti di depan pintu staf.

Kuncinya diserahkan kepada Surya.

"Alphard untuk keluarga dan perjalanan jauh," kata Anindya. "Ini untuk kamu pulang-pergi. Registrasi atas namamu. Pajak dan sumber dana jelas. Jangan hibahkan ke rumah sakit sebelum memakainya satu minggu."

Surya mengangkat kunci. "Saya resmi dipelihara pacar kaya."

Seluruh meja perawat meledak tertawa.

"Tunangan," koreksi Anindya.

"Naik jabatan lagi."

Bu Ratna memeriksa mobil itu seperti menilai troli resusitasi. Dia menanyakan airbag, jadwal servis, dan apakah Surya akan mengemudi setelah shift tiga belas jam.

"Tidak," jawab Anindya lebih dulu.

"Saya yang ditanya."

"Jawabanmu sering salah kalau kurang tidur."

Pak Hendra menempelkan pita merah kecil pada kaca spion. "Untuk menolak bala dan residen yang suka pinjam mobil."

Bayu membaca kartu ucapan di kursi. "Romantis sekali. Isinya jadwal servis dan nomor derek."

"Itu bentuk cinta paling realistis," kata Anindya.

Anindya menunjukkan seluruh dokumen, polis, dan alasan pembelian hadiah itu. Dia ingin Surya berhenti mengendarai mobil besar sendirian setelah shift panjang. Surya menerima tanpa memainkan kemiskinan sebagai kebanggaan atau mencurigainya sebagai persiapan perpisahan.

Siangnya, dr. Gunawan datang bersama Prof. Gong, ahli bedah saraf yang memimpin jaringan rumah sakit pendidikan internasional di Jakarta. Gunawan terlihat terlalu puas membawa map kontrak.

"Kesempatan ini cocok untuk dokter dengan ambisi sebesar Anda," katanya. "Gaji pokok Rp4.000.000.000 per tahun, laboratorium pribadi, dan hak membentuk tim."

Maksudnya jelas. Jika Surya pergi, kursi Kepala IGD kembali terbuka.

Prof. Gong tidak ikut permainan itu. "Saya benar-benar menginginkan Anda. Fasilitas kami lebih besar, riset kami lebih cepat, dan jaringan internasional kami kuat. Pikirkan secara profesional."

Surya membaca kontraknya. Tidak ada jebakan kasar. Tawaran itu memang bagus.

"Saya menghargainya, Prof."

Gunawan tersenyum lebih lebar.

"Tapi akar saya di sini."

Senyum itu mati.

Surya menjelaskan bahwa RSUD Dr. Soetomo memberinya ruang saat namanya masih dianggap pembunuh, tim saat dia belum punya gelar besar, dan pasien yang mengajarinya memimpin. Dia bersedia bekerja sama dalam riset dan pelatihan, tetapi tidak pindah.

Dia juga tidak memakai Anindya sebagai alasan. Pilihan itu miliknya sendiri. Jika suatu hari Anindya ingin berobat atau bekerja di kota lain, mereka akan membicarakannya tanpa menjadikan akar sebagai rantai.

Prof. Gong menanyakan fasilitas apa yang paling dibutuhkan Surya agar kerja sama setara. Surya meminta akses sekuensing cepat, pertukaran ahli patologi, dan kuota pelatihan untuk dokter daerah. Ruang kantor mewah tidak masuk daftar.

"Anda menawar setelah menolak kontrak," kata Prof. Gong.

"Saya menolak pindah. Saya tidak menolak belajar."

"Orang berbakat biasanya mengejar tempat terbaik," kata Gunawan.

"Kepala yang baik membantu tempatnya menjadi lebih baik."

Prof. Gong menutup map, lalu mengulurkan tangan.

"Jawaban yang merugikan saya, tetapi sulit saya hina. Kirim proposal kerja sama."

Gunawan pulang tanpa kursi kosong.

Di kantor direktur, Pak Bambang mengingatkan Surya agar penolakannya tidak membuat rumah sakit menutup diri dari dunia. Mereka menyepakati program pertukaran residen, telaah kasus bersama, dan penelitian multisenter. Loyalitas tidak boleh berubah menjadi ketakutan pada standar yang lebih tinggi.

Sore hari, Surya menemukan Anindya menunggu di ruang penyimpanan berkas lama. Dia memegang sekotak permen yang sama dengan malam kepulangan Reza.

"Empat miliar setahun kamu tolak," katanya. "Menyesal?"

"Sedikit."

"Jujur juga."

"Tapi kalau pindah, saya harus mencari tempat parkir baru."

Anindya mendorongnya pelan ke dinding. "Alasan yang sangat sederhana."

"Kamu suka Surya yang sederhana."

"Kadang-kadang."

Dia menawarkan permen impor dengan cara lama. Ciuman kali ini tidak terasa seperti awal atau ancaman kehilangan. Cincin di jarinya menyentuh pipi Surya, dingin dan nyata.

Pintu terbuka.

Rizki berdiri dengan dua residen di belakangnya.

"Kami bisa kembali lima menit lagi. Atau sepuluh. Kepala IGD biasanya efisien."

Surya melempar kotak tisu. Rizki menutup pintu sambil tertawa.

Kebahagiaan itu bertahan sampai rapat radiologi malam.

Pasien rujukan tiba dalam kondisi sadar. Surya meminta persetujuan sebelum kasus dibahas lintas institusi. Nama dan wajahnya dihapus dari materi rapat. Riwayatnya mencakup demam ringan berulang, penurunan berat badan, perjalanan ke daerah endemis, dan penggunaan imunosupresan yang baru terungkap.

Anindya menuliskan empat kelompok besar di papan: neoplasma, infeksi, inflamasi, dan vaskular. Dua puluh delapan lesi tidak boleh langsung disebut tumor hanya karena bentuknya menakutkan.

Pemeriksaan mata menemukan perubahan kecil. Analisis cairan serebrospinal belum aman karena tekanan intrakranial. Tim memilih tes darah dan pencitraan tambahan terlebih dahulu.

Prof. Gong belum pulang ketika satu berkas rujukan nasional muncul di layar. Pasien perempuan berusia tiga puluh dua tahun mengalami kejang, gangguan bahasa, dan kelemahan tangan. MRI menunjukkan dua puluh delapan bayangan tersebar di kedua hemisfer.

Ruangan langsung membandingkannya dengan kasus dua puluh sembilan tumor yang pernah ditangani Surya.

Surya tidak ikut menyimpulkan.

"Bayangan banyak bukan berarti diagnosisnya sama," katanya. "Kita mulai dari riwayat, infeksi, imunologi, perfusi, spektroskopi, dan patologi. Jangan jatuh cinta pada kasus lama."

Prof. Gong memperbesar satu lesi dekat batang otak.

"Kalau semuanya tumor, satu operasi tidak cukup. Kalau bukan tumor, satu sayatan saja sudah terlalu banyak."

Telepon laboratorium berbunyi.

Sampel darah awal pasien menunjukkan sesuatu yang tidak cocok dengan glioma.

Antigen jamur tertentu terdeteksi, tetapi satu hasil tidak cukup. Kultur, tes molekuler, status imun, dan kemungkinan reaksi silang masih harus diperiksa. Operasi besar ditunda selama jalan napas dan tekanan intrakranial dapat dikendalikan.

Pasien menerima terapi empiris hanya setelah sampel penting diambil dan tim penyakit infeksi menilai manfaat serta risikonya. Steroid yang diminumnya diturunkan secara bertahap dan aman. Setiap perubahan neurologis dipantau per jam.

Prof. Gong menatap Surya. "Banyak operator akan tergoda membuka kepala karena pernah menang melawan dua puluh sembilan tumor."

"Kasus lama memberi pengalaman," jawab Surya. "Bukan izin untuk malas berpikir."

Surya menatap dua puluh delapan titik di layar.

Kali ini, tiga detik tidak akan cukup.

Mereka membutuhkan diagnosis yang benar.

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!