Bagaimana bila seseorang yang selama ini kamu cinta, pergi begitu saja?
Meninggalkanmu sendiri, tanpa kau mengerti dimana letak kesalahan?
Saat semua telah tersusun indah dalam sebuah harapan, dengan mudahnya dia menghancurkan susunan harapan dan anganmu bersama dirinya?
Setiap manusia pasti pernah berada di posisi tersebut, namun mereka semua memiliki cara yang berbeda untuk melewatinya.
Namun, jika semua itu terjadi pada hidupku... Aku belum tau harus memilih jalan yang seperti apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zubi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 "Meeting"
"Gila, keren Juga ya si Awan anak part time itu suaranya." ucap Ogi atau sering di panggil Botak, kagum dengan penampilan Awan.
"Asli bro, aset itu bro." timpal Akim.
Sedangkan Maman dan kuncen bertepuk tangan sambil menggelengkan kepala.
"Menurut gue sepupu lo yang artis itu, ga ada apa-apanya di bandingin Awan cungkring." ucap Maman.
"Oh si Nico? Ahh, dia mah modal ganteng sama Lebel punya bapaknya aja. Suara sama feelnya masih jauhdari si Awan. Ya karena udah terkenal aja dia." jawab Arka.
"Wah parah lo. Kalo ciwi-ciwi fans nya Nico, 100% balik bajulu ga utuh alias compang-camping, hahahaha..." ucap Maman sambil menarik-narik baju Arka.
"Apaan sih lu, minggir ah." ucap Arka kesal.
"Lo semua dari mana aja si? Katanya kumpul jam siang, udah mau sore baru dateng." Arka menggerutu.
"Ini nih si Mr.Akim yang sebentar lagi akan menjadi seorang suami, ditelpon camer (calon mertua) buat mampir dulu kesana. Katanya ada yang mau di bicarain. Pasal kitaudah OTW. Tau gitu kita ga akan tidur di rumah dia. Mana mobil cuma atu. Ribet lah." jelas Ogi
"terus Hp lo pada dijual? Ga ada yang ngabarin." tanya Arka.
"Lupa abis pada mabar semaleman, pada mati Hp, pada ngecas di mobil Akim, pas turun ga kita bawa hehehe" jawab Kuncen.
"Hampir balik tadi gue, untung ada si Awan." ucap Arka kemudian menyalakan sebatang rokok.
"Eh, Ka, lo bisa ga isi acra di nikahan gue bulan depan? Kalo emang bisa ajak lah si Awan buat ngisi bareng lo." ucap Akim.
"Gue si bisa-bisa aja, tapi ga tau dah kalo si Awan bisa apa engga. Nanti kalo lewat tawarin aja." jawab Arka.
"Dari pada gue bayar artis, yang ada heboh dan mahal ga jelas. Mending duitnya buat lo sama Awan.lumaya bantu-bantu dia. Oh ia, bokap gue juga banyak ngundang artis sahabat dia, katanya bapaknya Nico juga di undang. Nah sapa tau Lo sama Awan bisa jadi Artis nanti." jelas Akim
"Oh ia gue baru inget, bokap lo banyak temen artis ya. Tapi gue ga mau jadi artis bro. Gue mau ngalir aja jadi orang biasa." ucap Arka.
"Cover gue di belakang ege, man lo jangan maju-maju ngapain lo ah elah..." ucap Ogi yang sedang serius bermain game bersama Kuncen dan Maman
"Mampus lo man, sotoy si maju-maju. Balik tak balik jaga turent aja." sahut Kuncen.
"Ah elah lo tega banget pada." ucap Maman.
"Si kunyuk pada sibuk sendiri malah, katanya mau meeting masalah acara Akim. Gelo pada" ucap Arka kesal.
"Udah gue ikut aja lah, lagi tanggung ni." jawab Ogi tanpa menoleh.
"Udah lah pesen makan dulu. Belom makan bener gue, cemal cemil doang dari pagi." ucap Akim.
"Ya udah, panggil noh si Awan. Sekalian tawarin mau apa kaga dia ngisi acara wedding lo." saran Arka.
"Oh ia, bener juga lo." ucap Akim, dan kemudian melambaikan tangan pada Awan.
Awan melihat Akim telah mengangkat tangan kearahnya, yang bertujuan untuk memanggil dirinya. Segera Awan mendekat dan tidak melupakan pena dan secarik kertas menu.
"Siap bang Akim." ucap Awan.
"Bro pesen makan dong."
"Boleh bang, mau pesen makan apa?"
"Nasi goreng kambing pedes ya, minumnya jus sirsak"
"OK bang, siap. Yang lain ad..." ucap Awan terpotong
"samain!!" ucap Maman, Kuncen, dan Ogi bersamaan.
"OK mantap, kompak. Di tunggu ya bang." ucap Awan dan segera pergi menyiapkan pesanan mereka.
"Om Bimo, order masuk." ucap Awan menyerahkan catatan menu yang di pesan.
"Oke siap." jawab pak Bimo.
Menunggu pesanan yang di buatkan pak Bimo, Awan pun kembali ketempatnya berdiri sebelumnya, yaitu di samping meja kasir. Melihat Awan yang sedang tidak sibuk, Akim pun kembali memanggil Awan.
Awan pun kembali mendekat menuju meja Akin dan teman-temannya.
"Siap bang, ada lgi yang di pesan?" tanya Awan.
"Engga, lo ambil kursi kosong tuh... Duduk bentar sini gue mau ngomong." ucap Akim dan meminta Awan untuk duduk semeja dengan mereka.
"Oh, OK bang. Bentar ambil kursi dulu." ucap Awan yang kemudian mengambil kursi kosong dan segera duduk semeja dengan Akim dan teman-temannya.
"lo lagi ga sibuk kan?" tanya Akim
"Oh, kebetulan engga bang."
"Gini Wan, tadi gue liat lo nyanyi keren banget. Nah gue kan bulan depan mau married, mau ga lo sama Arka ngisi acaranya. Nyanyi beberapa lagu aja, acaranya ga sampe malem kok. Gimana? Oh ia, soal bayaran jangan khawatir, gue bakal bayar secara profesional tenang aja." ucap akim menawarkan sebuah pekerjaan untuk Awan.
Awan pun menoleh ke arah Arka.
"Ambil bro, lumayan kan?" Ucap Arka mengangkat kedua alisnya.
"Gue si mau banget bang, seneng malah. Cuma emang lo yakin mau make gue bang? Jujur emang gue sering ngamen, tapi buat acara formal gue belom pernah bang. Takut ngerudak acara lo." jelas Awan dengan rasa kurang percaya diri.
"Saudara Awan, di sono ente disuruh nyanyi, bukan pidato. Santai aja mas bro." sahut Ogi tanpa menoleh dan tetap bermain game di ponselnya.
"Udah lah bro, lo nyanyi aja sebagus mungkin, sisanya gue yang urus." ucap Akim menepuk pundak Awan.
"Oo... Oke bang. Atur aja deh, gue ngikut giman kalian aja. Kalo kalo boleh tau bulan depannya tanggal berapa? Soalnya gue ada ujian akhir bang."
"Akhir bulan, kayanya udah kelar deh ujiannya. Soalnya mertua gue kan guru SMA." jawab Akim.
Kemudian Awan mendapat kode dari pak Yadi, yang menunjukan pesanan yang dibuat oleh pak Bimo telah siap.
"Bentar ya bang, oesenan kalian kayaknya udah siap." ucap Awan
"OK sip..." jawab Arka dan Akim bersamaan.
Tak selang beberapa lama, Awan pun telah kembali dan membawakanmenu yang mereka pesan, ya itu nasi goreng kambing dan jus sirsak.
"Pesanannya udah semua ya bang. Bang Arka ga mau pesen makan?" Ucap Awan.
"Engga, udah cukup gue. Wan, minta nomer Hp lo, biar nanti gue wasap buat prepare acara."
"Oh, Hp ya? Emmm... Ga punya Hp bang hehehe."
Ogi yang sedang meminum jus sirsak pun tersedak mendengar pernyataan dari Awan.
"Uhuk.. Uhuk... Ah, yang bener lo ga punya Hp. Gile, anak muda ga punya Hp. Emang lo ga pernah wasapan ama cewek gitu, chatingan atau telponan gitu?" tanya Ogi yang terkejut dengan pernyataan Awan.
"Ga pernah bang." ucap Awan dengan wajah polos.
"Saki nih anak." timpal Maman.
"Ya udah, kalo gitu latihan sama ketemuan di sini aja. Nanti coba gue ijin sama pa manager lo deh, buat make live music. Lumayan kali aja disini jadi rame. Apa lagi yang nyanyi adalah seorang Awan kinton. Beeehhhh, mantap lah." ucap Arka.
"hahaha, bisa aja bang Arka.Atur ajalah bang, makasi udah ngasih gue kesempatan buat main musik lagi." ucap Arka sambil membungkukan sedikit badannya.
****************
Hidup memang penuh dengan kejutan, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di depan sana.
Waktu berputar secara sederhana, yang terjadi saat ini, manis ataupun pahit, pasti akan menjadi sebuah kenangan yang tertinggal. Dan di masa depan kita akan mengingat itu semua sebagai sebuah pelajaran.
Aku tidak bisa menentukan takdirku untuk jadi seperti apa. Tapi aku akan berjuang sebaik mungkin untuk masa depanku, untuk menjadi yang ku mau.
****************
Di hari minggu ini rupanya cafe tutup lebih malam. Dikarenakan pengunjung yang masih ramai. Awan pulang bersama pak Yadi untuk tidur di rumah pak Yadi malam ini.
Namun, diperjalanan mereka bertemu dengan gerombolan berandalan yang terdiri dari Boni dan kawan-kawannya.
"Weiiits... Ada yang baru pulang gawe nih, udah lamaaaa banget kita ga ketemu si cungkring ini." Ucap Boni dengan mulut yang berbau alkohol.
Awan tidak memeperdulikan Boni dan tetap berjalan lurus. Merasa tidak di pedulikan, Boni pun marah kemudian menarik pundak Awan dengan kasar hingga Awan terjatuh dengan posisi duduk. Pak Yadi yang melihat hal itu tidak tinggal diam.
"Hey!!! Jangan kurang ajar kau." ucap pak Yadi dan mendorong Boni agar menjauh dari Awan yang tengah terduduk dilantai.
"Ga usah ikut campur lo orang tua. Woi! hajar nih orang, ambil dompetnya" seru Boni kemudian memanggil teman-temannya untuk memukuli pak Yadi.
Tanpa pikir panjang, semua teman-teman Boni pun memukuli pak Yadi. Tak banyak perlawanan dari pak Yadi, beliau akhirnya terjatuh dan membungkuk menahan sakit. Awan mengepalkan tangannya dengan kuat. Bergerak menerobos teman-teman Boni yang masih memukuli pak Yadi.
"MINGGIR LO SEMUA BANGSAT!!!" seru Awan demudian memborong satu persatu orang yang tengah memukuli pak Yadi.
"Jangan sok jagoan lo bencong." ucap Boni kesal.
Awan sudah sangat muak dengan perlakuan Boni dan semua teman-temannya. Ia memutuskan untuk melawan kali ini. Sadar bila dia tidak akan menang melawan lima orang sekaligus. Awapun menyerang kearah Boni, ia melemparkan jaket yang ia kenakan ke arah Boni, untuk menghalangi pandangan Boni. Saat Boni menepis jaket milik Awan. Awan sudah bersiap memukul wajah Boni dengan sekuat tenaga.
Pukulan Awan mendarat tepat pada rahang Boni. Tanpa memberi kesempatan pada Boni, Awan terus menyerang wajah Boni, walaupun saat ini Boni telah hilang kesadaran. Darah segar pun mulai keluar dari wajah Boni yang sobek akibat pukulan Awan yang terus dilancarkan Tampa henti.
Bersambung...
tebakanku kalau pak yadi meninggal awan suruh jagain mayang deh
perasaan nico ngintil mulu deh