Seorang Ratu yang dikenal bengis dan jahat mengalami kekalahan dimana suaminya sang Kaisar memutuskan untuk menceraikannya dan memengal kepalanya dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap wanita lain milik sang Kaisar
Apalagi sang Kaisar sudah memiliki wanita lain dan memutuskan untuk menikahinya.
Membuat hati Ratu sangat hancur dan di hari eksekusinya dia memohon kepada Tuhan untuk mengubah nasibnya.
Dia tidak bisa meninggalkan putri kecilnya yang besar tanpa seorang ibu...
Apa Tuhan bisa mengabulkan doa dari sang Ratu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reiza Muthoharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Teman
Deg...
Jantung Annelise berdetak sangat kuat bukannya seharusnya Kaisar tidak pernah terluka. Selain itu ia ingat bahwa Kaisar baru terluka dari perburuhan adalah setelah pernikahan mereka berjalan dua tahun. Di sana dia di rawat oleh Tania Klinshki.
Memikirkan wanita itu Annelise mengepalkan tangannya dengan kuat di balik gaunnya.
" Mengapa kakak yang tidak melakukannya?" tanya Anne dengan polos berusaha menolak merawat Kaisar.
Tentu saja Annete memukul kepala Annelise mendengar jawabannya.
" Tentu saja itu harus kau bukannya kau lupa bahwa saat ini aku sedang hamil. Bukannya itu bagus bisa saja Kaisar nanti akan tertarik kepadamu semua wanita di kekaisaran sedang berusaha mengambil hatinya setelah kematian Mendiang Ratu. Apalagi Mendiang Ratu meninggal tanpa memberikan pewaris laki-laki kepada Kaisar. Ini kesempatan besar." ucap Annete.
Perkataan Annete memang tidak ada salahnya mengingat bahwa cuma pewaris laki-laki yang bisa menjadi Kaisar. Membuat semua wanita terutama di kalangan bangsawan berusaha menarik perhatian untuk mendapatkan hatinya dan mendapatkan gelar Ratu permaisuri. Memang dulu Annelise tidak akan melewatkan kesempatan ini mengingat bertapa ia sangat memuja Kaisar dulu. Tapi sekarang keinginannya hanya menjauh darinya dan tidak mengulang kebodohannya lagi.
Sayangnya itu tidak mungkin kali ini mengingat dia tidak bisa melawan perintah ayahnya atau sesuatu buruk akan terjadi jika dia menolak.
Jadi ketika Annelise memasuki kamar Kaisar Abraxas hatinya merasa tersayat melihat keadaan yang berbaring lemah di atas ranjang. Ketika ia berjalan mendekat melihat bahwa Puteri Maria duduk di sampingnya dan terus menggenggam tangannya.
Tentu saja melihatnya begitu khawatir membuat Annelise tersenyum lirih bertapa jahatnya dirinya membuat gadis kecil itu jauh dari ayahnya hanya karena ia tidak disambut baik oleh sang Puteri.
" Kaisar akan baik-baik saja Puteri." ucap Anne sambil memegang bahu kecil Puteri Maria.
Mendengar suara seseorang Puteri Maria meliriknya sekilas sebelum pandangannya kembali fokus kepada sang ayah.
" Tapi saya takut jika sesuatu terjadi kepada ayah. Bagaimana jika dia tidak bangun lagi saya takut di tinggalkan lagi. Saya tidak sanggup untuk kehilangan untuk kedua kalinya seperti Ibunda meninggalkan saya." ucap Puteri Maria sambil menundukkan kepalanya meneteskan air mata.
Mendengar itu Annelise tidak bisa menahannya lagi mengingat Sofia kecilnya yang di tinggalkan olehnya. Ia bisa membayangkan Puteri Maria tampak sangat kesepian sejak kematian Ratu Catherine.
" Oh Puteri anda tidak perlu takut sendirian Kaisar akan baik-baik saja, dan jika anda perlu teman saya bisa menjadi teman anda." ucap Anne sambil memeluk Puteri Maria.
Puteri Maria yang mendengarnya terkejut bertapa tulusnya wanita itu kepadanya setelah apa yang mereka lalui di kota tadi. Bertapa buruknya dia bersikap kepada Lady Annelise.
" Terima kasih telah menjadikan saya teman anda Lady." ucap Puteri Maria membalas pelukan Annelise.
Annelise mendapatkan reaksi seperti itu cukup terkejut tapi tidak lama senyum terbit di wajahnya.
" Sama-sama Puteri. Kalau begitu anda harus kembali ke kamar dan beristirahat. Untuk urusan kaisar saya akan merawat nya. Jadi anda tidak perlu khawatir." ucap Anne menyuruh Puteri Maria ke kamar.
Puteri Maria cukup ragu untuk meninggalkan Kaisar Abraxas tapi tidak lama ia menggangguk kepalanya menyetujui nya. Setelah itu Puteri Maria keluar dari kamar.
Annelise berjalan mendekati pria yang dulu di cintai nya bahkan mungkin sekarang ia masih memiliki perasaan tersebut. Ketika ia ingin menyentuh wajahnya tiba-tiba saja....
Countine...