NovelToon NovelToon
Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Perjodohan / Duda / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 5
Nama Author: Mimi lita

Kakak beradik, menikah?

Apakah bisa?
tentu bisa, hal ini terjadi dan menimpa dua saudara yang ternyata mereka sama sekali tak memiliki ikatan darah.

" Siapa yang melepas hijabku?" Gumam Dinda kebingungan setelah nyawanya terkumpul dari tidur lelapnya.

" Pasti ini ulahnya, Pasti. Tidak ada yang lain." Dinda mendengus yakin.

Dinda mendatangi Andra tersangka utama sambil bersungut-sungut menahan amarahnya. Hijabnya sudah kembali terpasang dengan rapi, tapi tidak dengan wajahnya yang kusut dan awut-awutan.

" Kak, bangun!" Dinda mengguncangkan tubuh Andra tanpa perasaan.

" Ada apa sih? masih malam juga. Argh....!" Andra menggeliat dan mengerang mengumpulkan kesadarannya.

" Kamu membuka hijabku kan?" Dinda memicing mencari kejujuran.

" Iya." Jawaban Andra sangat enteng tanpa beban dan dosa.

" Aku tidak suka ya Kakak membuka hijabku seperti itu. Kakak itu bukan suamiku, tidak boleh melihat auratku!!" Seru Dinda yang mulai meninggi nada bicaranya. Ketidak sukaannya benar-benar kentara.

" Ish, ish, ish!" Andra menggeleng dan terkekeh. Lucu saja baginya melihat Dinda mengamuk dengan hal sepele seperti itu.

" Ibu ustazah, Pagi-pagi sudah marah-marah. Dosa loh Bu." Andra terkekeh geli mengamati raut wajah Dinda yang kaku.

" Apa ibu lupa, jika bukan hanya suami yang bisa melihat aurat wanita? Mahram juga. Ayah, Kakak laki-laki, adik laki-laki, dan paman dari Ayah. Nah aku ini kakakmu Dinda! Apa kamu lupa?" Andra menggeleng-gelengkan kepalanya.

" Memangnya kamu pikir aku ini orang lain? Jangankan rambut, udelmu saja aku paham bagaimana bentuk dan juga tahi lalatnya. Dasar aneh!!"
" Sudah, Kakak mau ke masjid dulu." Andra berdiri dan mengusap pucuk kepala Dinda.

Dan Dinda?
Dinda hanya melongo merasa menjadi mahluk paling bodoh di muka bumi ini. Bagaimana dia bisa lupa jika Andra tidak pernah tau bahwa dia adalah anak pungut? Jelas saja Andra berpikiran jika tidak ada yang salah dalam tindakannya.

Apa yang bisa Dinda lakukan?
Tidak ada. Dinda hanya bisa mengalihkan topik pembicaraan dan berpura-pura bodoh di hadapan Andra.

" Hehehehe! maaf ya Kak, otak ku sedikit error'." Ucap Dinda yang mengekor di belakang Andra seolah bukan masalah besar yang baru saja terjadi.

Andai saja Dinda tau jika semalam Andra juga sempat mencium keningnya, Apakah yang akan terjadi??
Bisa jadi sekarang sudah terjadi baku hantam dengan Arumi yang berperan sebagai wasit.

" Makanya, jangan apa-apa langsung marah." Kata Andra menasehati.

Flashback off.

" Terimakasih ya Kak, sudah mau membantuku." Kata Dinda yang sekarang sudah siap untuk membesuk Mama pita.

Papa Dimas mengabari jika Mama pita sudah siuman. Dan merindukan cucunya. Andra dan Dinda tentu saja antusias menyambut kabar baik itu dan segera bersiap menuju ke rumah sakit.

🌷🌷🌷

" Wah, cucu nenek!" Sambut Mama pita bahagia melihat kedatangan Arumi.

" Iya Nek, nenek sudah sembuh ya?" Dinda menyahuti dengan suara yang di buat-buat seperti anak kecil.

" Aku senang Mama sudah siuman." Ucap Andra yang kemudian mencium kening Nama pita.

Papa Dimas melihatnya dan hanya bisa menghela nafasnya. Entah apa artian helaan nafasnya, tapi seolah ada sesuatu yang terpendam.

" Kamu tidak ingin mencium Mama Din?" Mama pita menunggu ciuman hangat dari putrinya.

" Apa boleh ma?" Tanya Dinda yang seakan menusuk hati Mama pita.

Jangankan mencium, dulunya Mama pita paling tidak suka jika Dinda mendekat dengannya. Selalu menjauhkannya dan mengacuhkannya. Dinda terbiasa bermanja-manja dengan Papa Dimas yang selalu merentangkan tangannya menunggu Dinda menghambur ke dalam pelukannya.

" Boleh Sayang, Mama juga sangat merindukanmu." Kata Mama pita dengan sendu dan penuh penyesalan akan kesalahannya di masa lalu.

" Cepat!" bisik Andra mendorong bahu Dinda untuk segera mencium kening Mamanya.

Bekal yang Dinda bawa kini mereka nikmati bersama. Hanya lauk sederhana tapi cukup membuat mereka banyak-banyak bersyukur atas kesehatan yang Mama pita dapatkan.
Tibalah waktu Andra mulai membahas tentang uang hasil penjualan rumah mereka. Papa Dimas setuju-setuju saja akan keputusan kedua anaknya.
sampai,

" Pa, Andra tadi pagi bertengkar dengan Mak lampir." Andra mengadu akan apa yang terjadi pagi tadi, berharap banyolannya akan membuat kedua orangtuanya bisa tertawa.

" Bertengkar masalah apa lagi kalian ini?" Lirih Mama pita masih dengan posisi bersandar di ranjang.

" Tadi, Pagi-pagi buta. Dinda terkena amnesia. Dia lupa jika aku ini kakak kandungnya. Dia memarahiku habis-habisan hanya karena aku melepas hijabnya sewaktu dia tertidur. Padahal aku hanya tidak mau tubuh adikku mengempis karena tertusuk jarum pentul." Ucap Andra berharap perkataannya bisa mengundang tawa.

Tapi justru sebaliknya, hawa dingin kian kental terasa terlontar dari tatapan mata ketiga orang selain Andra.
Andra terdiam membaca raut muka ketiganya yang seolah saling bicara dalam diamnya.

" Ada apa? apa aku salah bicara?" Raut muka Andra berubah menjadi tegang.

" Bisa kalian keluar dulu? Mama ingin bicara berdua dengan Papa." Lirih Mama pita dengan suaranya yang pelan.

Hanya menuruti, lantaran menolak pun sia-sia. Dinda sudah menarik tangan Andra sampai keluar ruangan.
" Ada apa?" Desis Andra yang benar-benar tidak tau menau.

Di dalam kamar rawat inap.

" Pa, ini saatnya. Kita harus membicarakan hal ini."

" Tapi Ma, keadaan Mama belum sepenuhnya pulih."

" Pa, mau sampai kapan kita menyimpan rahasia ini. Mama mendengar Andra bercerita seperti itu jadi takut. Bagiamana pun mereka tidak memiliki hubungan darah. Secara agama saja kita sudah salah karena menyembunyikan kebenaran ini."

" Tapi Ma, setelah pengorbanan Andra untuk keluarga kita, Papa tidak sanggup jika harus menyakitinya."

" Pa, sakit atau tidak kita harus mengungkapkan kenyataannya. Mama juga tidak tau sampai kapan Mama bisa bertahan. Mama rasa Mama sudah tidak akan lama lagi bisa berkumpul bersama kalian."

" Ma, Sayang. Jangan bilang seperti itu." Papa Dimas menitikan air matanya. Sedih bila sang belahan jiwa memiliki sisa usia yang tak lagi lama. Hancur remuk hatinya.

" Baiklah, jika itu maumu Ma. Tapi bagaimana bila Andra marah dan meninggalkan kita?"

Mama pita terdiam sesaat memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.

" Apapun itu, Mama sudah siap. Panggilkan mereka Pa. Mama ingin bicara." Pinta Mama pita dengan sendu.

Papa Dimas mengiyakan kemauan Mama pita lalu memanggil keduanya untuk masuk.

" Ndra, Mama ingin bicara hal serius kepadamu Nak." Lirih Mama pita dengan tenaga yang semakin melemah.

" Ada apa ma?" Andra larut dalam suasana sedih yang tiba-tiba.

" Berjanji pada Mama, Apapun yang Mama katakan setelah ini, kamu akan tetap menjadi bagian keluarga ini. Mama hanya ingin menyaksikan keluarga ini rukun dan utuh."

" Ma, jika pertengkaran antara aku dan Dinda menjadikan beban di hati Mama, Andra minta maaf Ma. Andra berjanji akan menjaga keluarga ini sampai kapanpun." Ucap Andra dengan suara yang bergetar. Pikirannya bertumpu pada sumber masalah yang dia kira adalah pertengkaran antara dirinya dan Dinda.

" Kamu janji?"

" Iya Andra berjanji." Jawab Andra dengan menahan tangisannya.

" Mama minta kepadamu, Nikahilah Dinda." Mama Pita terbilang nekat untuk hal ini. Dia langsung memutuskan keinginannya sepihak tanpa berunding.

Papa Dimas sangat terkejut dan hanya bisa merangkul Dinda yang bingung mencerna keinginan Mamanya. Sementara Andra langsung berdiri dan melepaskan genggaman tangannya. Tatapannya kosong dan air matanya lolos begitu saja.

" Ma, aku dan Dinda itu saudara kandung! Pa, ada apa dengan Mama apa ini pengaruh obat?" Andra berseru menyalurkan emosinya.

"...." Papa Dimas menggeleng pelan tak berani menatap wajah Andra.

" Tidak Nak, Mamamu benar. Papa juga mendukung keinginannya." Papa Dimas melepaskan rangkulannya dan berlutut di hadapan Andra dengan air mata yang bercucuran dia meminta Maaf.

" Maafkanlah Papa Nak. Kami selama ini menutupi kebenaran ini darimu. Kamu sebenarnya bukan anak kandung kami." Papa Dimas berlutut.

" Maafkan Dinda juga Kak, Dinda juga sudah tau akan hal ini." Dinda ikut berlutut di hadapan Andra.

Tindakan Papa Dimas dan Dinda bukanya membuat Andra semakin luluh, tetapi Andra justru semakin menolak kebenaran ini. Dia merasa disakiti dan di khianati oleh orang-orang terdekatnya.

" Kalian semua bersekongkol menyembunyikan ini dariku? Tidak! Tidak!" Andra menggeleng.

" Kalian hanya bercanda kan? Ini bukan hari ulang tahunku. Ulang tahunku masih lama. Bangunlah Papa." Andra menggiring Papa Dimas untuk bangun dari posisinya.

" Dek, Dinda, jangan bikin lelucon seperti ini. Tidak lucu!" Andra juga meraih Dinda untuk bangun.

" A... aku anak kalian kan? kalian hanya mengerjaiku kan?" Tanya Andra sambil menangis tak kuasa menahan kenyataan yang menyakitkan.

Semuanya menggeleng dan tak berani menatap Andra.
Andra pergi dengan membawa kekecewaannya dan juga kekesalannya. Amarahnya membuncah mengisi setiap relung kalbunya. Dia berlari meninggalkan mereka semua. Entah kemana perginya tetapi tidak ada yang berani menyusulnya.

Bersamaan dengan itu.

Nit.....!

Nit.....!

Nit ...!

Suara pantauan ritme jantung terdengar berdeda. Kepanikan terjadi, Papa Dimas berlari mencari dokter.

" Ma, Mama.....!!!" Teriak Dinda terdengar histeris.

Apakah yang terjadi setelah ini?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi lita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 12. Nasib yang sama

Tiada terasa bulan silih berganti dan hari ini adalah malam yang menegangkan bagi Andra, dimana Natasya sedang berjuang untuk melahirkan putri mereka. Satu tahun telah berlalu dan kini Natasya berada di dalam ruang bersalin tanpa ditemani Andra. Andra sedang memimpin jalannya rapat. Pasalnya persalinan maju dari tanggal perkiraan.

Di dalam ruang bersalin ada Derina yang setia menemani Natasya. Tiada kecurigaan dalam pikiran Mama pita. Semuanya tampak normal dan baik-baik saja. Dinda yang mendapatkan kabar berita dari Mama pita segera bergegas menuju ke rumah sakit. Bagaimanapun juga, baginya anak Andra adalah keponakannya. Dinda juga terlihat bahagia dan antusias.

"Ayo Din, sama Bibi." Bibi Nur juga bersiap untuk berangkat menyambut anggota baru dalam keluarga besarnya.

"Iya Bi, ayo." Ucap Dinda dengan sumringah.

"Abi, Nanti anak anak jangan lupa ya. Uang pecahannya sudah umi siapkan di lipatan buku umi," ucap Bibi Nur berpesan mengenai uang saku si kembar.

"Iya Mi. Abi sudah hapal tempatnya. Tenang saja." Paman Sam mengangguk yakin.

Rencananya mereka akan menginap tiga hari di kediaman keluarga Pramudya. Bayi mungil itu kini sudah berada di rumah Pramudya. Belum bernama tapi sudah sangat terlihat cantik dan menawan hati setiap orang yang melihatnya.

...🌷🌷🌷...

"MasyhaAllah, cantiknya keponakan Tante." Dinda memuji kecantikan paras bayi yang digendongnya. Wajah Dinda tak lepas dari aura cerah dan binar kebahagiaan. Senyumnya pun sama sekali tidak menyusut, malah terus mengembang dan memancarkan aura positif.

"Iyalah, cantik jelas. Siapa dulu Ayahnya." Andra mendekati Dinda dan menyombongkan dirinya.

"Iya iya." Dinda hanya mengiyakan saja dan terkesan malas berbalas kata dengan Andra.

"Hust, kalian jangan berisik! Natasya baru bisa tidur, semalaman dia terjaga menjaga bayi kalian," desis ibu mertua Andra menegur nada suara yang menganggu pendengarannya.

"Iya Bu," sahut Andra lalu menarik tangan Dinda perlahan dan mengajaknya keluar dari kamarnya.

"Kamu kapan bikin Dek?" tanya Andra dengan basa-basi dan menggerakkan kedua alisnya dan bibirnya menunjuk pada si bayi.

"Ya, besoklah. Ya sayang ya? Besok kalau Tante udah dapat Om yang tampan," sahut Dinda dengan suara khas menirukan suara bayi yang lucu.

"Dengan Keanu?" tebak Andra dan mereka terus berjalan menuju ke teras belakang rumah. Waktu masih menunjukkan pukul 4 sore. Bayi mungil itu memang baru saja selesai mandi. Tak di pungkiri lagi jika segar aroma bayi sungguh membuat Dinda ingin berlama-lama menggendongnya.

"Tidak Kak. Aku juga tidak tau siapa jodohku. Keanu mungkin sudah mendapat tambatan hati yang baru. Aku melepaskannya Kak," sahut Dinda dengan entengnya.

"Sayang sekali, padahal jika dengan Keanu, aku sangat setuju. Tentunya setelah kalian selesai kuliah," ucapan Andra langsung membuat Dinda menoleh kearahnya.

"Kak,. siapapun jodohku nanti jika Allah sudah menentukan, mau tidak mau kamu harus setuju," balas Dinda yang nyelonong pergi dan duduk di ruang bersantai.

"Dewasa sekali pikirannya?" gumam Andra sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.

...🌷🌷🌷...

Semuanya baik-baik saja dan nampak harmonis, hingga suatu malam Dinda mendapati gelagat aneh Natasya. Seharian bayi Andra rewel hingga malam harinya. Dinda dan semua yang membantu mengasuh si bayi mulai bingung melihat perangai Natasya yang berubah menyeramkan dan sadis.

"Diam!!! Kamu bisa diam tidak?" Natasha berteriak kencang menghadap bayi yang sedang digendongnya.

Andra sontak terlonjak dari tempat duduknya dan merebut Arumi, Ya bayi mungil itu bernama Arumi Pramudya. Andra sungguh takut jika bayinya menjadi korban kemarahan Natasya. "Natasya!!!" bentak Andra.

"Apa kamu gila?" Andra menyerobot dan menggendong Arumi sambil terus menepuknya memberikan kenyamanan.

"Kemarikan anak itu! Dasar anak pembawa sial!" teriak Natasya dengan mata yang memerah menunjukkan amarah yang tak terkendali.

"Dinda!" teriak Andra memanggil Dinda.

Dinda yang hendak tidur bersama bibi Nur langsung terlonjak kaget dan berlarian menuju ke kamar Andra. Mama pita dan Papa Dimas hari ini tidak berada di rumah. Mereka sedang pergi untuk cuci darah dan menginap di rumah sakit. Sementara ibu dari Natasya langsung kembali pulang.

"A... ada apa kak?" Dinda menjadi linglung melihat pertengkaran Andra dan Natasya yang tidak jelas sumbernya.

Masih saja Arumi menangis keras membuat Natasya terus meremas dan menjambak- Jambak rambutnya seperti sedang kesetanan. Dinda menggendongnya dan memindahkan tubuh mungil perlahan dari gendongan Andra, dan malangnya hal tidak terduga terjadi.

"Dinda!" pekik Bibi Nur melihat darah segar mengucur dari bahu Dinda.

Sebuah gunting menancap di punggung Dinda. Natasya yang berlaku di luar kewarasan yang telah melakukannya. Andra dengan spontan menampar keras wajah Natasya dan membuat Natasya jatuh tersungkur dengan sudut bibirnya yang berdarah.

"Natasya!! Kamu sudah gila? Kamu hendak membunuh Dinda?" bentak Andra yang mengguncangkan tubuh Natasya dengan kuat.

"Tidak" Natasya menggeleng.

"Dia terlalu cantik untuk mati." jawab Natasya yang terdengar menyeramkan.

"Aku ingin membunuh mahluk kecil yang menyebalkan itu. Dia berisik! Dia membuatku menjadi jelek dan tak menarik. Dia menyusahkan hidupku!!" Teriak Natasya dengan histeris meluapkan emosinya.

"Apa?" Andra melepaskan cengkeramannya dan mundur beberapa langkah.

"Din, ayo kita ke rumah sakit." Bibi Nur sangat takut juga cemas. Gunting itu masih menancap, tapi Dinda tak menggubrisnya dia sesekali meringis kesakitan tetapi tetap menggendong Arumi.

"Sini, biar aku gendong. Ndra, antarkan kami ke rumah sakit!!" Bibi Nur memohon dengan pipinya yang sudah basah dengan air mata.

"Dinda?" Andra segera berlari menghampiri Dinda dan memapahnya keluar rumah.

...🌷🌷🌷...

"Tidak apa-apa, lukanya cukup dalam tapi nona ini cukup kuat. Mungkin dia akan demam beberapa hari ke depan," ucap dokter.

"Lebih baik menginap di sini saja sampai lukanya cukup membaik. Supaya kami lebih mudah mengontrol kondisi nona Dinda juga," imbuh sang dokter yang menangani luka Dinda.

Tatapan iba dan khawatir selalu bibi Nur berikan kepada Dinda. Andra hanya bisa terdiam memikirkan semuanya yang terjadi begitu saja dan tanpa sebab yang mampu di duga-duga. Semuanya begitu cepat dan mengejutkan.

"Iya Dok, kami akan menginap saja," ucap bibi Nur tanpa meminta persetujuan dari Andra.

Dokter pergi setelah cukup banyak berpesan. Dan, kini tinggallah Andra dan Bibi Nur yang masih menggendong Arumi. Mereka berbincang di ruang tunggu. Kamar VIP yang Andra minta cukup untuk menampung mereka semua malam ini. Andra pusing dan bingung hendak berbuat apa.

"Ndra, sebaiknya kamu temui mertuamu dan ceritakan semuanya," ujar Bibi Nur memberikan usulan.

"Bi, mereka tidak menyukai kehadiran Arumi. Mereka ingin cucu laki-laki," ungkap Andra mencoba untuk jujur.

"Apa? ini jaman apa Ndra? mengapa masih saja ada orang dengan pemikiran jaman batu seperti itu?" Bibi Nur geram.

"Iya, tapi itu kenyataannya Bi, aku harus bagaimana? Meninggalkan Natasya di rumah sendiri juga bukan pilihan yang tepat." Andra cemas dan menggigit bibir bawahnya. Berpikir semoga keputusan yang baik yang akan diambilnya.

"Ya sudah, kamu pulang. Urus istrimu. Biar Bibi yang disini untuk mengurus Dinda dan Arumi," ucap Bibi Nur.

"Iya, belikan susu formula juga untuk Arumi. Sepertinya dia sudah mulai kehausan," kata Bibi Nur yang melihat bayi Arumi sudah mulai menggeliat di dalam gendongannya.

...🌷🌷🌷...

Pengaruh obat membuat Dinda terlelap dengan posisi miring. Andra dengan air mata yang menetes dari sudut matanya mengusap lembut kening Dinda dengan sayangnya. "Kenapa ini menimpamu lagi dek? Dulu Mama juga sangat membencimu karena kamu cengeng. Sekarang, Arumi juga memiliki nasib yang sama denganmu. Maafkan aku Dek," lirih Andra setengah berbisik di dekat Dinda.

Jantung Dinda berdegup kencang tak beraturan. Dia berpura-pura masih terlelap padahal setiap ucapan Andra terdengar jelas di telinganya. Rasa sakit di hatinya kembali terkelupas saat Andra membuka kisah masa lalunya perlahan di mana Mama pita yang terkena sindrom baby blues ingin membekap mulutnya dengan bantal dan saat itu juga Andra yang menjadi penyelamat.

Andra kecil segera menggendong Dinda dan memberikannya kepada Bibi Nur. Jika saja saat itu Andra tidak muncul, mungkin Dinda sekarang hanya tinggal nama dan tertanam di dalam tanah.

"Lukamu ini karena aku yang tidak mampu menjagamu," lirih Andra lagi.

"Sudah Ndra," Bibi Nur tiba-tiba berada di belakang Andra dan menepuk bahu Andra perlahan.

"Iya Bi." Andra menyeka air matanya dia tidak ingin ada yang tau akan kelemahannya ini.

"Kemarilah." Bibi Nur menggiring Andra untuk duduk di sofa.

"Bagaimana keadaan istrimu?" tanya Bibi Nur dengan raut wajah yang tak bisa disembunyikan lagi kecemasannya.

"Aku meminta mertuaku untuk merawatnya. Mereka marah karena aku lebih memilih Arumi. Aku tidak memilih siapa-siapa Bi. Tapi jika diharuskan, aku lebih mencintai Arumi. Aku tidak habis pikir mengapa Natasya begitu membenci darah dagingnya sendiri." Tangis Andra pecah saat menceritakan tentang masalahnya.

"Kamu tidak salah Ndra, pilihanmu tepat. Hanya saja, di sini masa depan anakmu yang dipertaruhkan," kata Bibi Nur. Di balik selimutnya, Dinda mendengarkan semua nasihat juga perundingan atas masalah yang menyeretnya itu.

Arumi, kasihan sekali kamu sayang. Harus mengalami nasib yang sama seperti Tante.

1
Adiva Amalia
Thor aku tunggu novel yang berjudul siswa bandel itu suamiku kalau bisa di novel toon aja karena aku tidak punya aplikasi di fizo
Utamy Utamyy
mewek😭😭😭
Dekqyanties
hadeeeeeuhhh,,,baca kisah ini dari awal mbrebes Mili trus ini air mataaaa😭😭😭,,,othor mah luar biasa❤️❤️
Sagitarius
🤍🤍🤍
Nurjanah Abdullah
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Enung Samsiah
😭😭😭
Enung Samsiah
😭😭😭
Enung Samsiah
ya benar sekali kamu bodoh+min
Renita 85
aku bingung perasaan sering beli rumah,dulu pas keanu meninggal tak ada rumah lah rumah yg didiaminya punya siapa
elf
terimakasih thor krn kau telah menyatukan dinda dg Keanu.. tp aq jg smakin takut membaca smpe hbis.. tkut dinda kmbali brsama Andra.....apa aq berhenti dsni saja y thor agar aq t kecewa...
elf
bawa pergi jauh dinda paaa... jgn beri kesempatan Andra lagi stlah nanti Andra dcampakan nata de coco
elf
aku ingin Keanu menikah dg dinda.. tapi aq sadar novel ini sdh END.. dan aq tkut membaca endingx kalau² dinda kmbali dg Andra...
hati sesak... sangaattt sesak...
elf
y Allah Anda,,, jika ada d hadapanku... ingin ku mutilasi tubuhmu tuk pakan lele...
astagfirullah hal adziim... brkali² ku sebut nama-Mu agar aq t kena hipertensi...
Mimi lita: Hahaha pakan lele. sabar kak, jangan lupa mampir juga cerita satunya TERNYATA AKU PELAKORNYA
total 1 replies
elf
si nanas gila berani²x membandingkan dinda ama derine.. jgn bilang ente mw merayu dinda jg.. dasar belok...
Arum
trima kasih y mimi jln ceritanya bagus,,sampai jumpa lgi d cerita selanjutnya oke👍👍👍👍
Mimi lita: iya Kak, silahkan mampir juga di karya aku yg terbaru. Ternyata aku Pelakornya
total 1 replies
Ndi Lastry Ummu Nidya-Nilam
nyesek banget 😢😢😢😭 asli mewekkkk 🤧🤧
Ndi Lastry Ummu Nidya-Nilam
sedihhh bangettt.... perpisahan ituu menyakitkn ☹😢😭
aisyahara_ㅏㅣ샤 하라
Keanu
ketika pernovelan jahat sama hidup mu,, sini aku peluk online
aisyahara_ㅏㅣ샤 하라
sokor.. gini baru karma is real...
aisyahara_ㅏㅣ샤 하라
pergi aj Dinda.. males banget suami kyk Andra .. sendiri tanpa laki2 juga gak bakalan melarat selama masih mau usaha.. dari pada hidup sama laki2 yg masih terbayang masa lalu nya..moga aj othor nya ngungkapin klo Andra masih suka ma Natasya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!