Caroline Watson mengorbankan seluruh masa mudanya demi pria yang ia cintai. Ia setia berdiri di sisi suaminya, menyingkirkan impian pribadinya sendiri. Namun pada akhirnya, pria itu justru menceraikannya dengan alasan yang kejam—Caroline tidak mampu memberinya seorang pewaris. Keputusan itu meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Dengan hati hancur, Caroline memilih menghilang dari hidupnya.
Lima tahun kemudian, ia kembali menginjakkan kaki di negeri itu, ditemani seorang bocah laki-laki kecil dengan wajah polos yang menawan.
Kehidupan barunya yang selama ini tenang mulai terguncang ketika mantan suaminya mengetahui kebenaran—bahwa Caroline telah melahirkan seorang putra. Seorang anak yang memiliki darahnya.
Namun kali ini, Caroline bukan lagi perempuan lemah yang dulu pernah ia tinggalkan. Ia telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih kuat dan tak mudah disentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Bertemu
Setelah penerbangan panjang, Caroline akhirnya tiba di Hustonia.
Namun, alih-alih singgah di Teracity, mereka justru menuju terminal domestik dan terbang sekitar 30 menit untuk mengunjungi kampung halamannya, Sky City.
Caroline berencana mengunjungi kakeknya terlebih dahulu sebelum menetap di ibu kota, Fort.
...
Sesampainya di bandara Sky City, Leo tertidur pulas — ia kelelahan dan mengalami jet lag. Caroline tidak punya pilihan selain menggendong putranya.
Menggendong Leo keluar dari bandara menuju area parkir bukanlah masalah bagi Caroline, tetapi Milla justru terlihat cemas saat melihatnya.
“Nyonya Muda, biar aku saja yang menggendongnya,” kata Milla dengan nada iba melihat Caroline membawa Leo. Ia khawatir Caroline akan kelelahan karena ia tahu berat badan Leo akhir-akhir ini bertambah.
“Tidak apa-apa, Bibi... mobil kita tidak jauh,” ujar Caroline sambil terus berjalan menuju area parkir. Ia sengaja tidak memberitahu siapapun tentang kepulangannya hari ini.
Caroline menyewa mobil dan menginap di hotel — ia tidak berniat tinggal di rumah orang tuanya.
“Tapi, Nyonya, kau pasti lelah. Biar aku saja yang menggendongnya...” ujar Milla sambil mendorong troli koper dengan langkah tergesa agar bisa menyamai langkah Caroline.
Caroline tertawa pelan mendengar kekhawatiran Milla. “Bibi, apa kau lupa bagaimana selama tiga tahun terakhir aku bisa kembali ke tubuh idealku?”
Milla tersenyum lembut sebelum berkata, “Maaf, Nyonya... aku lupa.” Ia tahu betapa kerasnya Caroline berlatih fisik dan bela diri setelah melahirkan demi menjaga kebugaran dan penampilannya. Meski tubuh Caroline tampak kecil, kekuatan dan kelincahannya mungkin lebih baik darinya.
Caroline tidak berkata apa-apa, ia hanya mempercepat langkahnya sambil mencari mobil.
Suhu udara terasa lebih dingin saat mereka tiba di area parkir — tidak ada pemanas di tempat ini — Caroline mulai khawatir putranya akan kedinginan.
Namun, Caroline semakin gelisah karena ia tidak menemukan mobil sewaan yang seharusnya ada di sana.
“Bibi, tolong periksa sekali lagi apakah lokasi parkirnya sudah benar?” tanya Caroline. Ia tetap mencari mobil sewaan mereka sambil menggendong Leo di bahunya.
Saat Milla sibuk membaca kertas di tangannya, Caroline terkejut melihat sebuah Audi Q7 putih melaju perlahan ke arah mereka dan berhenti hanya beberapa langkah darinya.
“Ya Tuhan, kenapa dia muncul di sini?” gumam Caroline pelan sambil berkedip beberapa kali untuk memastikan ia tidak salah lihat.
Pada saat yang sama, Milla yang baru selesai memeriksa bukti sewa mobil juga terkejut melihat pria yang mengendarai mobil putih itu. Ia mendekati Caroline. “N-Nyonya Muda, apakah kau memberitahu dia kalau kita tiba hari ini!?”
Caroline menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku sama sekali tidak memberitahunya—” Ia masih terkejut dengan kehadiran pria itu di tempat ini. Ia tidak bergerak, tetapi matanya terpaku padanya.
Ia melihat pria itu keluar dari mobil dan berjalan cepat ke arahnya. Melihatnya lagi setelah enam bulan, pria itu tampak semakin tampan, terlebih saat mengenakan mantel hitam panjang.
“Biar aku yang menggendong Leo...” katanya sambil mengambil Leo dari pelukan Caroline.
“Kenapa kau ada di sini? Bagaimana kau tahu kami tiba hari ini!?” tanya Caroline dengan bingung.
“Apa kau tidak senang melihatku?” tanya pria itu sambil tersenyum kecut pada Caroline.
“Tidak,” jawab Caroline cepat saat melihat wajahnya menjadi muram. “Marcus, maksudku... aku sangat senang kau datang. Tapi aku hanya bingung, bagaimana kau tahu kami ada disini? Aku tidak memberitahumu bahwa aku akan mendarat di sini hari ini...”
Marcus tidak langsung menjawab. Ia memberi isyarat pada Caroline dan Milla untuk mengikutinya ke mobil. Setelah meletakkan Leo di kursi belakang, ia menoleh ke Milla. “Bibi Milla, bisakah kau memangku Leo...”
Milla tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum pada Marcus Luttrell dan masuk ke mobil sambil meletakkan kepala Leo di pangkuannya.
Caroline terdiam, menatap Marcus yang seolah mengabaikannya. Ia tetap berdiri di tempatnya, menunggu ia mengatakan sesuatu.
Namun Marcus benar-benar mengabaikannya. Caroline bahkan tidak langsung masuk saat Marcus membuka pintu mobil untuknya.
“Carol, apa kau ingin aku menggendongmu masuk ke mobil seperti Leo?” kata Marcus santai sambil menikmati wajah cantik Caroline dengan matanya.
Wajah Caroline langsung memerah. Ia cepat-cepat masuk ke mobil, berharap bisa menyembunyikan rasa malunya.
Senyum geli terukir di wajah Marcus saat melihat Caroline tersipu. Ia menutup pintu mobil untuknya. Setelah meletakkan koper mereka di bagasi, ia segera menuju kursi pengemudi.
“Apakah kau, mungkin, yang membatalkan sewa mobilku?” tanya Caroline saat melihat Marcus duduk di balik kemudi.
Marcus tersenyum tipis sambil menyalakan mesin mobil. “Hm. Kau benar, aku meminta mereka membatalkan pemesananmu.”
“K-Kau...” Caroline tidak lagi terkejut. Pria ini bisa mendapatkan informasi apa pun jika ia mau, termasuk detail penerbangannya — sama seperti lima tahun lalu, saat ia mampu menyembunyikan keberadaannya.
Meski begitu, Caroline tetap penasaran. Ia tidak bisa menahan diri untuk bertanya. “Jadi kau melacakku melalui perangkatku?”
Marcus melirik Caroline sekilas lalu menggeleng.
“Tidak. Aku tahu kau tiba di negara ini saat petugas imigrasi memindai paspormu. Dan aku cukup beruntung mengetahui bahwa kau menyewa mobil, jadi—” Ia tidak melanjutkan ucapannya, hanya memberikan senyum bermakna padanya sebelum kembali menatap ke depan.
Mobil itu pun mulai melaju perlahan.
“Pantas saja aku tidak menemukan mobil sewaanku,” Caroline tersenyum samar sambil menatap ke depan. Namun kemudian sesuatu terlintas di pikirannya. Ia kembali menatap Marcus. “Tolong jangan batalkan hotelku, Marcus!”
“Aku tidak akan melakukannya. Apa kau lupa siapa pemilik hotel itu?” kata Marcus tanpa menoleh, tetapi Caroline bisa melihat senyum di wajahnya.
Sorot keterkejutan melintas di mata Caroline, tetapi akhirnya ia ikut tersenyum. Bagaimana ia bisa lupa Hotel Loka!? Hotel itu milik L Group, perusahaan keluarga Marcus.
Saat Marcus tidak mendengar Caroline mengatakan apa pun, ia meliriknya sambil berkata, “Carol, jangan khawatir, aku akan meminta mereka memberimu diskon...”
Caroline, “...”
“Apakah kau sedang bercanda, atau kau serius mengatakan itu?”
Marcus berbicara pelan namun jelas. “Kau bisa memilih yang mana saja, Carol...”
“Ya ampun! Kenapa pria ini jadi semakin tidak tahu malu setelah pertemuan terakhir kami?” Caroline benar-benar kehabisan kata-kata saat berbicara dengannya.
tapi juga kasian Caroline dibohongin 😢
keluarga ini ribet banget
ditampar → bangkit → balas semuanya
ini baru definisi wanita kuat 😭
Benjamin kelihatan panik tapi masih sok kuasa
Caroline kuat banget, ditampar tapi masih bisa berdiri dan melawan
keluarga Watson ini toxic parah