NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 SWMU

Langit di atas pemakaman umum itu seolah kehilangan warnanya. Awan abu-abu menggantung rendah, tebal dan berat, sebelum akhirnya tumpah menjadi butiran air yang dingin dan tajam. Suara guruh terdengar samar di kejauhan, menyelingi isak tangis yang tertahan di balik payung-payung hitam yang berjajar rapi seperti barisan duka yang tak berujung.

Nadia Clarissa berdiri mematung di tengah gempuran gerimis. Kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan renda hitam gemetar hebat, memeluk sekumpulan bunga krisan putih yang mulai layu dan kecokelatan akibat terkena air hujan. Di depannya, dua liang lahat yang masih basah baru saja selesai dibangun. Dua gundukan tanah merah itu kini dipenuhi bunga mawar tabur yang aromanya bercampur dengan bau tanah basah—sebuah aroma yang Nadia tahu akan menghantuinya seumur hidup.

Di bawah sana, terbaring dua orang paling berharga dalam hidupnya. Ayahnya, sang pelindung, dan ibunya, sang pelipur lara.

"Nadia... kau harus kuat, Sayang. Ini sudah kehendak Yang Maha Kuasa," bisik seorang wanita paruh baya, kerabat jauh yang bahkan Nadia sudah lupa namanya.

Nadia tidak menjawab. Ia tidak bisa. Lidahnya terasa kelu, dan tenggorokannya seperti tersumbat bongkahan es besar yang membuatnya sulit bernapas. Bagaimana seseorang bisa diminta untuk "kuat" ketika dunianya baru saja runtuh berkeping-keping dalam satu malam? Kecelakaan rem blong itu tidak hanya menghancurkan mobil sedan milik ayahnya, tetapi juga menghancurkan seluruh masa depan yang pernah Nadia bayangkan dalam benaknya.

Satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Hujan yang semakin deras memaksa mereka untuk segera mencari perlindungan. Mereka memberikan tepukan ringan di bahu Nadia, kata-kata belasungkawa yang terdengar seperti rekaman rusak yang diulang-ulang, lalu menghilang ke balik kemewahan mobil masing-masing yang terparkir di kejauhan.

Hingga akhirnya, Nadia berdiri sendirian. Benar-benar sendirian di antara ribuan nisan yang bisu.

"Ibu... Ayah... jangan tinggalkan aku sendirian di sini," bisik Nadia lirih. Suaranya pecah, hilang ditelan deru hujan yang semakin riuh.

Nadia jatuh berlutut di atas tanah yang mulai berubah menjadi lumpur. Ia tidak peduli lagi pada gaun hitam mahalnya yang kini kotor dan basah kuyup. Ia menyentuh nisan kayu yang masih baru itu dengan ujung jari yang membiru karena kedinginan. Rasa sakit di dadanya begitu nyata, seolah-olah jantungnya sedang diremas oleh tangan raksasa tak kasat mata.

Tiba-tiba, rintik hujan yang menghujam punggungnya berhenti. Bukan karena langit tiba-tiba terang, melainkan karena seseorang sedang berdiri di belakangnya, memayunginya dari amukan badai.

Nadia tertegun dalam isaknya. Ia mencium aroma yang asing namun sangat dominan. Aroma kayu cendana, tembakau mahal, dan kesegaran hujan yang dingin. Sebuah kehadiran yang begitu kuat sehingga mampu menembus kabut duka yang menyelimuti indranya.

"Berdirilah, Nadia Clarissa. Tanah ini bukan tempat untuk perempuan sepertimu meratap selamanya."

Suara itu berat, dalam, dan membawa wibawa yang sangat mengintimidasi. Nadia perlahan mendongak, menyeka air mata yang bercampur air hujan dari pipinya. Di balik tirai air, ia melihat sesosok pria tinggi tegap berdiri tepat di sampingnya. Pria itu mengenakan setelan jas hitam custom-made yang tampak sangat kontras dengan lingkungan pemakaman yang muram. Wajahnya tegas, dengan garis rahang yang keras dan mata hitam tajam yang seolah-olah bisa menembus langsung ke dalam jiwanya.

Nadia mengerjapkan matanya yang sembap. "Siapa...?"

Pria itu tidak segera menjawab. Ia menatap dua nisan di depan Nadia dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sedikit kilatan amarah yang tertahan di sana, namun juga ada duka yang sangat dalam yang dibalut dengan keangkuhan.

"Namaku Bramantya Mahendra," ucapnya kemudian. "Aku adalah adik bungsu ayahmu. Pamanmu."

Nadia terpaku. Nama itu. Ia pernah mendengar nama itu disebut dalam pertengkaran-pertengkaran berbisik antara ayah dan ibunya bertahun-tahun yang lalu. Bramantya. Nama yang selalu dianggap tabu di rumahnya. Nama yang dikaitkan dengan kekuasaan, kekayaan yang penuh misteri, dan orang yang dingin tak tersentuh. Ayahnya selalu melarang Nadia bertanya tentang sang paman, seolah pria ini adalah bayangan yang berbahaya.

"Paman... Bram?" suara Nadia nyaris tak terdengar.

Bramantya tidak tersenyum. Ia tidak memberikan pelukan hangat atau kata-kata manis seperti paman pada umumnya yang sedang menghibur keponakan yang berduka. Ia justru mengulurkan tangannya yang besar dan kokoh ke arah Nadia.

"Dengar baik-baik, Nadia. Rumah keluargamu sudah disita bank pagi ini. Semua rekening ayahmu telah dibekukan karena utang perusahaan yang menumpuk. Kau tidak punya tempat untuk pulang, dan kau tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain aku."

Kenyataan pahit itu menghantam Nadia lebih keras daripada kecelakaan itu sendiri. Ia baru menyadari bahwa selain kehilangan orang tuanya, ia juga kehilangan seluruh jaring pengamannya. Ia adalah seorang yatim piatu yang bangkrut dalam hitungan jam.

"Ikutlah denganku," lanjut Bramantya. Suaranya bukan lagi sebuah tawaran, melainkan sebuah perintah mutlak yang tidak mengenal kata 'tidak'. "Mulai detik ini, kau adalah tanggung jawabku. Aku akan menjagamu dengan caraku sendiri."

Nadia menatap tangan besar yang terjulur di depannya. Ia merasa ragu. Ada sesuatu pada diri Bramantya yang membuat nalurinya berteriak untuk menjauh—sebuah aura dominasi yang terasa mencekik. Namun, saat ia melihat ke sekeliling, ke arah makam yang sunyi dan masa depan yang gelap gulita, ia menyadari bahwa ia tidak punya pilihan. Ia seperti burung kecil dengan sayap patah yang tidak punya tempat hinggap selain dahan yang penuh duri.

Dengan tangan yang masih gemetar, Nadia menyambut uluran tangan Bramantya. Telapak tangan pria itu terasa sangat hangat dan keras, memberikan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuh Nadia. Bramantya menariknya berdiri dengan satu gerakan mudah, seolah tubuh Nadia tidak lebih berat dari sehelai bulu.

"Jangan menoleh lagi ke belakang," bisik Bramantya tepat di telinga Nadia saat pria itu merangkul bahunya untuk menuntunnya menuju sebuah mobil sedan hitam mewah yang sudah menunggu di gerbang pemakaman. "Masa lalumu sudah berakhir di sini. Di bawah asuhanku, kau akan memulai hidup yang baru."

Nadia membiarkan dirinya dituntun. Kepalanya terasa pening, dan hatinya terasa hampa. Di dalam mobil, suhu udara diatur dengan sangat nyaman, sangat kontras dengan badai di luar yang masih mengamuk. Namun, saat pintu mobil ditutup dan mesin dinyalakan, Nadia merasakan firasat aneh yang membuat bulu kuduknya meremang.

Nadia kehilangan segalanya hari ini. Rumahnya, hartanya, dan orang tuanya. Dan saat pintu mobil terkunci secara otomatis dengan bunyi klik yang tajam, Nadia merasa seolah ia baru saja menyerahkan seluruh hidup dan jiwanya ke tangan pria ini.

"Paman..." panggil Nadia pelan. Suaranya parau.

Bramantya yang sedang menatap ke luar jendela hanya menoleh sedikit, memberikan lirikan tajam dari sudut matanya. "Ya, Nadia?"

"Kenapa Paman baru muncul sekarang? Kenapa baru setelah mereka... tidak ada?"

Bramantya terdiam cukup lama. Keheningan di dalam mobil itu terasa sangat berat, hanya diiringi suara detak jam di dasbor dan deru mesin yang halus. Pria itu kemudian memperbaiki posisi duduknya, menatap Nadia dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Karena sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghalangiku untuk memilikimu," jawab Bramantya dingin.

Kalimat itu membuat jantung Nadia berdegup kencang karena ketakutan yang tak beralasan. Ia ingin bertanya lebih jauh, namun kelelahan emosional yang luar biasa tiba-tiba menyerangnya seperti ombak besar. Matanya terasa sangat berat.

"Tidurlah, Nadia," perintah Bramantya. Kali ini suaranya terdengar sedikit lebih lembut, namun tetap mengandung nada memaksa yang mutlak. "Perjalanan menuju mansion pribadiku cukup jauh. Kau butuh istirahat untuk melupakan semua mimpi buruk ini."

Nadia menyandarkan kepalanya pada jok kulit mobil yang empuk dan harum. Perlahan, kesadarannya mulai memudar. Hal terakhir yang ia ingat sebelum kegelapan total menjemputnya adalah tangan besar Bramantya yang menarik kepala Nadia agar bersandar di bahunya yang bidang, serta bisikan lirih yang seolah merayap di pikirannya:

"Tidurlah yang nyenyak, Nadia... karena saat kau bangun nanti, duniamu hanya akan berisi tentang aku."

Nadia pun jatuh ke dalam tidur yang dipenuhi mimpi-mimpi kabur, membawa sisa air mata yang masih basah di pipinya. Ia tidak menyadari bahwa di bawah rintik hujan yang tak kunjung usai, mobil hitam itu melaju kencang meninggalkan peradaban, membawanya menuju sebuah mansion megah yang akan menjadi saksi bisu dari drama romansa dan air mata yang akan mengubah hidupnya selamanya.

1
itsmeiblova
semangatt thor 🔥 yukk update lagi
Han*_sal
jadi kepo aku
Han*_sal
lanjut
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!