Pernikahan yang berdasarkan untuk menghindari kesalahpahaman, hingga membuatku terpaksa harus menerima pernikahan yang sama sekali tidak kuinginkan.
Pernikahan yang ku fikir akan menyelamatkan ku dari fitnah ternyata justru membuatku hidup dalam kesengsaraan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11. Tinggal di Rumah sakit
Mobil Aldi kini sudah sampai di rumah tempat Meisa bekerja. Meisa turun dari mobil dan menghentikan langkahnya saat mendengar Aldi berteriak turun mengejarnya.
"Meisa."
"Ada apa, Mas?" tanya Meisa.
"Kamu kapan bisa keluar? biar Mas jemput." ucap Aldi.
"Saya tidak tahu, Mas." ucap Meisa.
"Mei, besok pagi Mas akan datang jenguk kamu yah." tutur Aldi.
"Iya, Mas." ucap Meisa dan segera masuk ke dalam rumah Bu Rosa.
Aldi melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Bu Rosa.
Sementara Meisa yang baru masuk ke dalam rumah segera menemui Bu Rosa di ruang tengah.
"Kamu sudah pulang ternyata?" ucap Bu Rosa.
"Iya Bu Rosa, maafkan saya lama karena saya harus mengantar Ayah ke pemakaman." terang Meisa.
"Memangnya siapa yang meninggal, Mei?" tanya Bu Rosa.
"Ayah saya, Bu." ucap Meisa.
"Innalilahi..." Bu Rosa turut berdua atas musibah yang Meisa rasakan saat itu.
"Kamu yang kuat yah." tutur Bu Rosa.
Meisa mengangguk dan segera berlalu menuju ke kamarnya. Ia membersihkan diri dan kembali menuju kamar Naina.
"Astaga Naina, kamu kenapa sayang?" tanya Meisa panik melihat anak kecil itu sudah ketakutan di pojok kamarnya.
Meisa segera memeluk tubuh Naina dan berusaha menenangkannya. "Kasihan sekali dia." gumam Meisa.
***
Selama satu bulan Meisa bekerja di tempat itu, keadaan Naina masih saja seperti itu. Sama sekali tidak ada perkembangan sedikit pun.
"Apa sebaiknya aku membicarakan ini dengan Bu Rosa saja?" ucap Meisa dalam hati sembari menatap Naina yang berbaring di kasur dengan tatapan kosongnya.
Segera ia bergegas ke luar kamar dan menuju tempat Bu Rosa duduk di halaman belakang dekat kolam renang seperti biasanya.
"Meisa, ada apa?" tanya Bu Rosa.
"Bu, apa tidak sebaiknya kita membawa Naina periksa saja?" tanya Meisa dengan suara ragunya.
"Kenapa kamu keberatan yah merawat cucu saya?"
"Bukan begitu, Bu. Saya kasihan melihat Naina seperti itu terus. Harusnya dia sudah bermain dengan temannya di luar sana." tutur Meisa lagi.
"Sekarang kamu bersiap, kita akan pergi ke suatu tempat." pintah Bu Rosa.
"Baik, Bu Rosa."
Meisa pun pergi ke kamarnya mengambil tas dan membawa Naina. Bu Rosa sudah menunggu mereka di mobil.
Semua sudah masuk di mobil, lalu supir pun melaju ke arah rumah sakit. Selama perjalanan, Naina tampak tenang tidak seperti saat di rumah ia selalu tampak ketakutan.
***
"Bu, Aldi tinggal Ibu di sini tidak apa-apa yah? Aldi harus keluar Kota beberapa minggu." ucapnya pada Bu Nirmala.
"Apa sebaiknya Ibu tinggal di rumah Ibu saja?" tanyanya dengan raut wajah yang bingung.
"Bu, Meisa sudah menitipkan Ibu dengan Aldi. Aldi tidak lama kok." ucapnya lagi.
"Baiklah kalau begitu. Apa kamu sudah bicara dengan Meisa?" tanya Bu Nirmala.
"Aldi sudah bertemu Meisa kemaren pagi, Bu. Setiap pagi Aldi mengunjungi nya di rumah Bu Rosa." terang Aldi.
Bu Nirmala menganggukkan kepalanya paham dan segera mengantar Aldi untuk ke depan rumah.
Kali ini Bu Nirmala sudah tidak bekerja lagi, seperti permintaan Aldi. Ia tidak ingin mertuanya sengsara lagi sebagai pertanda permintaan maafnya pada Meisa, meski sebenarnya Meisa tidak menginginkan hal itu.
Mobil Aldi melaju cepat, sampai ia tak sadar jika ada sebuah mobil yang hampir ia tabrak.
"Aaaaaa." teriaknya segera menghentikan mobil dengan cepat.
Aldi keluar dari mobil, sementara Meisa dan Bu Rosa juga keluar dari mobil.
"Mas?" ucap Meisa terkejut melihat Aldi yang berada di luar saat jam kerja seperti ini.
"Meisa, kamu mau kemana?" tanyanya kebingungan.
"Mau ikut dengan Bu Rosa membawa Naina, Mas." jawab Meisa. "Mas mau kemana? apa tidak bekerja?" tanyanya balik.
"Mas ada pekerjaan di luar, yasudah kalau begitu Mas pergi dulu yah karena buru-buru."
Aldi pergi meninggalkan Meisa dan Bu Rosa. "Mei, mengapa suamimu seperti aneh begitu saat bertemu denganmu?" tanya Bu Rosa.
"Oh Mas Aldi memang seperti itu, Bu Rosa." jawab Meisa acuh.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan dan kini tibalah mobil di salah satu rumah sakit tempat di mana anak Bu Rosa di rawat.
"Daddy." teriak Naina begitu girang saat mengetahui keberadaan dirinya saat ini di rumah sakit yang merawat Aditya.
Meisa sangat kaget mengetahui tingkah Naina yang sangat terlihat sehat.
"Naina." ucap Meisa lirih.
"Iya, Mei. Ini jawabannya mengapa saya tidak membawanya periksa, karena hanya Aditya obatnya." terang Bu Rosa.
Mereka masuk ke ruang rawat, di sana terlihat pria tampan yang tidak terurus masih terbaring tak sadarkan diri.
"Daddy, Naina datang. Ayo kita pulang, di rumah sepi, Naina cuman di temani Tante Mei." ucap Naina sembari memeluk tubuh Aditya dan terus menangis.
Meisa yang merasakan sakit Naina tanpa bisa menahan juga ikut meneteskan air matanya.
"Daddy, bangun yah. Temani Naina bobo, ayo kita pulang Daddy."
"Naina sayang, Daddy Naina masih sakit jadi belum boleh di bawa pulang." ucap Meisa memeluk erat tubuh anak kecil itu.
"Nggak mau, pokoknya Daddy harus pulang. Daddy ayo pulang." Naina terus menangis tanpa mau melepaskan pelukan itu.
Akhirnya Naina menemukan jalan. "Bu Rosa, sepertinya Naina bisa nyaman tiap berada di samping Pak Aditya, apa sebaiknya kita berada di sini saja menemani Pak Aditya?" tanya Meisa.
"Ucapan kamu ada benarnya juga, Mei. Tapi sebaiknya kamu dan Naina saja yang di sini karena saya masih harus tetap kerja di kantor selama menunggu Aditya sembuh." tutur Bu Rosa.
"Tidak masalah, Bu Rosa. Saya akan mengurus Pak Aditya dan Naina di sini." terang Meisa.
"Yasudah kalau begitu nanti setelah saya pulang supir akan membawakan barang kalian yah."
"Tante Mei, kita tidur bareng Daddy?" tanya Naina antusias.
Meisa tersenyum melihat wajah ceria anak itu. "Iya sayang, kita tidur di sini temani Daddy Naina kan?" ucapnya.
Naina begitu senang mendengar ucapan Meisa hingga ia memeluk tubuh Meisa begitu erat dan mendaratkan beberapa kali ciuman di wajah Meisa.
"Mei, kalau begitu saya pulang ke rumah sekarang yah. Jaga cucu saya." pintah Bu Rosa dan segera keluar dari ruangan rawat Aditya.
Meisa kini duduk di sofa memperhatikan Naina yang sudah terlelap di atas tempat tidur pasien sembari memeluk tubuh Aditya.
"Kasihan sekali kamu, Nak." ucap Meisa begitu prihatin melihat Naina yang menampakkan wajah polosnya.
Tiba-tiba Meisa meremas keras perutnya dan segera berlalu ke kamar mandi. Di dalam ia sudah beberapa kali memuntahkan isi perutnya tanpa henti.
"Tante Mei." ucap Naina terbangun mendengar suara di kamar mandi.
Anak itu turun dari tempat tidurnya dan mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.
"Tante...Tante." panggilnya.
"Naina." ucap Meisa lirih dan segera membersihkan wajahnya kemudian ia keluar.
"Naina, kamu sudah bangun?" tanya Meisa.
"Tante Mei kenapa? sakit?" tanyanya penasaran.
"Oh tidak, Tante sepertinya masuk angin." terangnya.
Naina menggandeng tangan Meisa untuk duduk di sofa dan memintanya berbaring.
"Tante Mei bobo, biar Naina yang jagain Daddy." ucapnya seraya membawakan selimut yang terlipat di ujung sofa itu lalu menutupi seluruh tubuh Meisa.
Meisa tersenyum senang melihat keadaan Naina sangat baik dari yang ia lihat selama berada di rumah.
"Berarti kunci utamanya adalah Pak Aditya harus sembuh." gumam Meisa paham akan jalan keluar.
"Tapi kalau aku sudah tidak bekerja pasti aku akan sangat merindukan Naina." gumam Meisa lagi.
Namun selain memikirkan keadaan Naina, ada Bu Nirmala yang harus Meisa pikirkan di luar sana.
lanjut baca lagi lah
semangat thor 💪