Bulan gadis 18 tahun terpaksa menikah dengan Bharata, majikan ibunya karena dijebak.
Karena tidak ingin ibunya dipenjara, Bulan terpaksa menjadi istri ke 3 Bharata yang sudah berusia 39 tahun.
Tetapi setelah menikah, Bharata justru kecewa karena dibalik wajah innocent Bulan, dia menyimpan rahasia besar.
Bulan ternyata adalah sugar baby sahabatnya sendiri yang bernama Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PIZZA
Seperti hari hari sebelumnya, Bulan selalu menghabiskan waktunya ditaman bunga. Bulan memotong beberapa kuntum mawar untuk diletakkan didalam rumah.
"Ini." Aryo memberikan sekuntum mawar merah kepada Bulan.
"Terimakasih." Bulan mengambil mawar tersebut sambil tersenyum ke arah Aryo.
"Astaga, manis sekali senyumnya. Kalau saja dia bukan istri Tuan Bhara, aku pasti sudah mengejarnya," batin Aryo.
Aryo menemani Bulan memetik mawar sambil mengobrol ringan. Dari tempat lain seseorang memperhatikan mereka dengan ekspresi kesal. Ya, dia adalah Rianti. Gadis itu panas melihat Aryo bersama Bulan.
"Kurang ajar gadis itu, dia sudah menikah dengan Tuan Bhara tapi masih saja menggoda Aryo." Gumam Rianti dengan penuh amarah.
Setelah lelah berjalan jalan ditaman. Aryo mengajak Bulan duduk di gazebo dekat taman.
"Bolehkan aku meminta bantuanmu?" tanya Bulan kepada Aryo.
"Jangan minta bantuan untuk keluar, aku tidak akan bisa membantu."
"Tenang saja kali ini aku tidak akan menyulitkanmu. Aku hanya ingin kau menghubungi Tuan Bhara. Aku ingin bicara dengannya."
"Ish kau ini, dia itu suamimu, kenapa aku yang harus menghubunginya? Harusnya kau minta ponsel pada suamimu. Dia itu kaya raya, takkan tak ada uang untuk membelikanmu ponsel."
Bulan tersenyum mendengar kata kata Aryo. "Bukankah dia bilang jika aku hanya pembantu disini. Apa mungkin seorang pembantu meminta ponsel pada majikannya?"
Aryo dibuat penasaran dengan hubungan Bulan dan Bhara. Entah rumah tangga seperti apa yang mereka jalani sekarang.
"Aku bingung dengan rumah tanggamu, sebenarnya kau ini istrinya atau pembantunya? Aku bingung harus menganggapmu atasanku atau bahawanku?"
"Aku sendiri juga bingung." Jawab Bulan sambil memandang sekuntum mawar merah ditangannya.
Bulan tidak pernah menyangkan akan menjalani rumah tangga seperti ini. Semua ini benar benar lucu. Pernikahan yang begitu mendadak dan perubahan status yang mendadak pula dari nyonya menjadi pembantu.
"Aww." pekik Bulan. Tanpa sengaja tangannya terkena duri mawar. Aryo dengan reflek menarik tangan Bulan lalu menghisap jarinya yang berdarah.
Rianti dibuat terbelalak melihatnya. Dia mengepalkan tangannya menahan marah.
Bulan cepat cepat menarik tangannya. Dia takut ada yang melihat dan mengira yang macam macam.
"Hati hati, tanganmu bisa terluka," kata Aryo.
"Kau bisakan menghubungi Tuan Bhara?" tanya Bulan lagi.
Aryo mengangguk lalu mengambil ponsel dari sakunya.
Tut tut tut. Aryo menyerahkan ponsel tersebut pada Bulan.
"Ada apa?" terdengar suara tegas Bhara saat membawa telepon.
"Ini Bulan." Jawab Bulan dengan ragu ragu.
"Ada apa?"
"Bisakah nanti malam anda datang kesini, saya ingin membicarakan sesuatu."
"Tidak bisa, nanti malam jadwalku menginap dirumah Bia." Jawab Bhara dengan ketus.
Tut tut tut. Bhara langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Apakah nanti malam Tuan Bhara akan datang?" tanya Aryo.
Bulan menggelengkan kepalanya sambil mengembalikan ponsel pada Aryo.
"Aku masuk dulu." Bulan beranjak meninggalkan Aryo. Sebenarnya besok adalah peringatan kematian ayahnya. Biasanya Bulan dan ibunya akan berdoa bersama di makan ayahnya. Dia ingin meminta ijin kepada Bhara untuk keluar besok.
Aryo melihat Bulan yang berlalu dengan wajah sedih. "Dia pasti sedih karena tidak dianggap oleh suaminya, kasihan sekali." Batin Aryo.
Saat jam makan malam Aryo membawakan 2 box pizza untuk dibagikan kepada teman temannya. Tujuan sebenarnya adalah untuk menghibur Bulan. Dia kasihan melihat gadis itu. Ya tadi siang Bulan bercerita jika dia sangat menyukai pizza.
"Pizza, aku sudah lama tidak makan pizza." Wajah Bulan langsung sumringah melihat pizza. Dia langsung mengambil sepotong lalu melahapnya.
Aryo senang melihat wajah Bulan yang ceria kembali. Sepertinya usahanya untuk membuat Bulan tersenyum lagi berhasil.
Mereka semua makan bersama sambil sesekali bercanda. Hidup dirumah sebagai pembantu tapi tanpa majikan sungguh menyenangkan bagi mereka. Rumah ini serasa rumah mereka sendiri.
Bulan tiba tiba teringat Satria. Dulu dia sering sekali memesan pizza saat bersama Satria. Bulan selalu menyuapinya saat Satria masih sibuk dengan pekerjaanya.
"Apa kabar dengan Om Satria, aku sangat merindukannya. Apa dia mencariku? Ah sudahlah, aku sudah menikah sekarang. Aku tak boleh memikirkan pria lain." Gumam Bulan sambil memegangi liontin kalungnya.
"Kenapa kau?" Tanya Aryo saat melihat raut wajah Bulan yang kembali murung.
"Tidak apa apa," jawab Bulan dengan senyum terpaksa.
"Apa kau tidak suka?"
"Aku suka, bahkan aku kurang kalau hanya makan sepotong."
"Cih, dasar rakus," maki Rianti yang dari tadi sangat kesal melihat perhatian Aryo pada Bulan.
Aryo melotot pada Rianti. Dia tidak suka mendengar Rianti berkata kasar kepada Bulan.
"Ambilah bagianku." Aryo menyodorkan potongan terakhir pizza kepada Bulan.
"Benarkah, terimakasih." Bulan dengan senang hati mengambil potongan terakhir itu.
"Ehem Ehem." Terdengar suara deheman yang sangat familiar.
"Tuan Bhara." Sapa Aryo sambil membungkukkan badannya.
"Bukankah tadi dia bilang tidak bisa kesini." Gumam Bulan dalam hati sambil cepat cepat menghabiskan pizza.
"Kenapa kau buru buru sekali memakannya, tenang saja aku tidak akan minta." Ejek Bhara saat melihat mulut Bulan penuh dengan pizza.
"Kemari."
Bulan mengangguk lalu berjalan ke arah Bhara. Bhara melihat ada sisa saos di sudut bibir Bulan.
"Dasar anak kecil, makan saja masih belepotan." Kata Bhara sambil mengelap sisa saus dengan ibu jarinya.
Bulan memegangi liontin kalungnya. Lagi lagi dia teringat Satria. Biasanya dia yang membersihkan sisa saus dibibir Bulan menggunakan bibirnya.
"Tuan, apakah Tuan ingin saya siapkan makanan?" tanya Bu Fatma.
"Tidak perlu, aku hanya sebentar."
Bhara mengajak Bulan ke dalam kamar. Dia tak ingin pembicaraannya dengan Bulan sampai terdengar oleh para pembantu.
"Sepertinya kau sangat dekat dengan Aryo?" Tanya Bhara sesampainya mereka didalam kamar. Tadi Bhara sempat melihat saat Aryo memberikan bagian pizza nya untuk Bulan.
"Tidak, Kami hanya berteman biasa. Aryo memang baik kepada semua orang."
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku? aku tak punya bayak waktu, cepat katakan."
"Besok adalah hari peringatan kematian alm. ayah saya. Saya ..."
Belum sempat Bulan menyelesaikan kata katanya, dia mendengar ponsel Bhara berbunyi. Bhara melihatnya dan langsung menekan tombol hijau.
"Iya sayang, sebentar lagi aku kesana." Jawab Bhara lalu mematikan teleponnya.
"*Pa*sti telepon dari istrinya yang lain. Kasihan sekali nasibku sebagai istri yang tak dianggap." Guman Bulan dalam hati.
Bulan melanjutkan kata katanya setelah Bhara menutup telepon. Dia menceritakan jika besok dia ingin pulang untuk kemakam alm. ayahnya.
"Baiklah, besok Mario yang akan mengantarkanmu."
"Apa anda tidak ingin ikut? Ibu pasti senang jika anda bisa ikut."
"Kau pikir aku ada waktu untuk hal semacam itu. Aku sibuk, pergi saja dengan Mario."
Tanpa basa basi lagi Bhara langsung meninggalkan Bulan yang masih terdiam.
"Tuan mau kemana?" tanya Bulan saat Bhara akan membuka pintu kamar.
"Aku harus pergi, Bia sudah menungguku."
Air mata Bulan menetes perlahan. Walaupun dia tidak mencintai Bhara, tapi diperlakukan seperti ini sangat menyakitkan. Dia hanya diberi status istri tanpa pernah diperlakukan sebagai istri.