Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pagi itu, dapur rumah Arkatama dipenuhi aroma gurih tinta cumi dan rempah yang menggugah selera.
Relia dengan telaten mengaduk masakannya, memastikan rasanya persis seperti yang sering mereka nikmati dulu.
Ada rasa kepuasan tersendiri saat ia mengemas cumi hitam itu ke dalam wadah bekal yang rapi.
Ariel masuk ke dapur dengan setelan jas rapi, siap untuk keberangkatannya.
Ia menghampiri Relia dan mencium puncak kepalanya.
"Harum sekali baunya. Kak Sarah pasti senang," puji Ariel lembut. Namun, raut wajahnya sedikit berubah menjadi rasa tidak tega.
"Sayang, maaf ya, hari ini aku tidak bisa menemanimu ke rumah sakit. Ada seminar kedokteran yang harus aku hadiri."
Relia menoleh sambil tersenyum pengertian.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti."
"Nanti kamu diantar Satrio ya. Dia akan menjagamu di depan kamar ICU," lanjut Ariel memastikan keamanan istrinya.
Relia mengangguk, lalu menatap koper kecil yang diletakkan Ariel di dekat meja makan.
"Mas menginap?"
"Iya sayang, seminarnya berlangsung sampai malam. Besok sore aku langsung pulang," jawab Ariel sambil memeluk pinggang Relia.
"Kamu baik-baik di rumah ya. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku atau Satrio."
Relia membalas pelukan itu dengan erat. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya."
Setelah Ariel berangkat, Relia segera bersiap. Dengan wadah bekal di tangannya, ia melangkah menuju mobil di mana Satrio sudah menunggu.
Perjalanan menuju rumah sakit kali ini terasa berbeda—bukan lagi dengan ketakutan, melainkan dengan sebuah misi perdamaian yang tulus.
Relia melangkah pelan memasuki ruang perawatan.
Suasana di sini tidak sedingin ruang ICU, namun pemandangan di depannya memberikan hantaman realitas yang keras.
Di balik selimut rumah sakit, salah satu pergelangan tangan Sarah tampak terikat borgol besi yang dikaitkan ke sisi ranjang dimana sebuah pengingat bahwa meski ia adalah seorang pasien yang sakit, ia tetaplah seorang tersangka di mata hukum.
Sarah menoleh saat mendengar suara pintu terbuka.
Wajahnya yang pucat tampak sedikit lebih hidup dibanding kemarin.
Melihat Relia datang membawa tas bekal, bibir Sarah yang kering membentuk sebuah senyum tipis—senyum yang tulus, tanpa ada lagi kepalsuan atau niat jahat.
"Kamu benar-benar datang," suara Sarah serak, matanya melirik sekilas ke arah borgolnya dengan rasa malu.
"Maaf, pemandangan ini pasti tidak enak dilihat."
Relia menelan ludah, dadanya sesak melihat kakaknya diperlakukan seperti kriminal, namun ia tahu itu adalah konsekuensi yang harus dijalani.
Ia menarik kursi ke samping ranjang dan meletakkan tas bekalnya di meja nakas.
"Aku sudah janji akan datang, Kak," jawab Relia lembut. Ia mulai membuka wadah bekal itu, dan seketika aroma cumi hitam yang khas memenuhi ruangan.
"Aku masak ini tadi pagi-pagi sekali. Masih hangat."
Relia menyendokkan sedikit nasi dan cumi, lalu mengarahkannya ke mulut Sarah.
Sarah menerimanya dengan air mata yang kembali menggenang.
Kunyahan pertama itu seolah membawa mereka kembali ke belasan tahun yang lalu, ke meja makan kayu di rumah lama mereka sebelum badai Markus menghancurkan segalanya.
"Rasanya masih sama. Persis seperti masakan Ibu," bisik Sarah setelah menelan makanannya.
Relia hanya mengangguk, ia terus menyuapi kakaknya dengan telaten.
Di sela-sela suapan itu, Sarah menatap adiknya dengan dalam.
"Relia, terima kasih tetap memperlakukan aku sebagai manusia, padahal aku sudah memperlakukanmu seperti benda di tangan Markus."
"Jangan bahas itu dulu, Kak. Makan yang banyak supaya Kakak cepat pulih. Proses hukum Kakak masih panjang, dan Kakak butuh kekuatan," ucap Relia mencoba menguatkan.
Sarah berhenti mengunyah sejenak, tatapannya beralih ke arah jendela yang menampilkan langit Jakarta.
Ia menarik napas berat, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan sesuatu yang sudah lama mengganjal di hatinya.
"Relia," panggil Sarah lirih, tangannya yang tidak diborgol mencoba menyentuh jemari adiknya.
"Rumah lama kita, rumah peninggalan Ayah dan Ibu. Aku ingin kamu menjualnya."
"Tapi Kak, itu satu-satunya kenangan yang kita punya." ujar Relia.
"Justru karena itu," sela Sarah dengan suara bergetar.
"Rumah itu sudah ternoda karena aku mengizinkan Markus masuk ke sana. Aku tidak ingin memilikinya lagi. Aku ingin kamu menjualnya, dan seluruh uangnya untuk kamu dan sebagainya tolong berikan ke panti asuhan. Aku ingin itu menjadi bentuk penebusan dosaku yang kecil atas semua penderitaan yang aku berikan padamu."
Sarah kemudian menatap Relia dengan sangat serius.
"Surat-surat rumah itu aku sembunyikan di kamarku, di bawah lantai kayu yang longgar dekat lemari pakaian. Kamu ambil sendiri di sana ya."
Namun, melihat raut wajah Relia yang tiba-tiba berubah pucat karena teringat memori pahit di rumah itu, Sarah segera menambahkan dengan nada menyesal.
"Kalau kamu masih trauma untuk menginjakkan kaki di sana, jangan paksa dirimu. Minta tolong suamimu saja, Ariel. Dia pria yang baik, dia pasti mau membantumu mengambilnya."
Relia terdiam, bayangan lorong rumah lama mereka yang gelap dan dingin sempat melintas di benaknya. Namun, melihat sorot mata kakaknya yang penuh permohonan, Relia mencoba menguatkan hatinya.
"Aku akan bicara dengan Mas Ariel nanti, Kak. Aku akan pastikan keinginan Kakak terlaksana," jawab Relia sambil menggenggam tangan Sarah.
Sarah mengangguk lega.
"Terima kasih, Relia. Setidaknya jika aku harus di penjara dalam waktu lama, aku tahu aku sudah melakukan satu hal yang benar."
Relia bangkit dari kursinya, merapikan tas bekal
yang kini telah kosong.
Ia menatap wajah kakaknya dengan perasaan yang jauh lebih tenang, meski ada sedikit getaran kecemasan saat memikirkan harus kembali ke rumah lama itu.
"Aku pulang dulu ya, Kak. Siang ini aku mau langsung ke rumah lama ambil surat itu sebelum hujan turun. Satrio akan menjagaku," ucap Relia lembut.
Sarah mengangguk, matanya menunjukkan rasa syukur yang tak terhingga.
"Hati-hati, Relia. Terima kasih."
"Besok atau lusa aku ke sini lagi, Kak. Aku akan bawakan camilan lain untuk Kakak," lanjut Relia sambil mengusap pundak Sarah sekali lagi
sebelum melangkah keluar dari ruang perawatan.
Di lorong rumah sakit, Satrio sudah berdiri siaga. Relia menatap pengawal kepercayaannya itu dengan raut wajah serius.
"Satrio, kita tidak pulang ke rumah Mas Ariel sekarang. Kita ke rumah lama keluarga saya. Ada dokumen penting yang harus saya ambil di sana," instruksi Relia.
Satrio sempat terdiam, ia tahu rumah itu adalah tempat yang menyimpan banyak trauma bagi Relia.
"Apakah Nyonya yakin? Tuan Ariel mungkin lebih tenang jika kita menunggu beliau pulang esok hari."
"Tidak, Satrio. Kak Sarah ingin rumah itu segera dijual untuk amal. Aku ingin menyelesaikan ini secepat mungkin agar beban di pikiranku juga berkurang. Kita pergi sekarang sebelum langit semakin gelap," jawab Relia tegas.
Mereka pun berjalan menuju parkiran. Sepanjang perjalanan, Relia terus menggenggam iPad-nya, mencoba mengalihkan rasa takutnya dengan merangkai kata-kata di pikirannya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa memasuki rumah lama itu akan menjadi ujian keberanian terbesar baginya sejak ia meninggalkan Markus.
mudah"an relia selamat