Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prahara opor gosong
BRUGH....
Seorang pria dipenghujung usia 40 tahunan, terlihat bersimpuh di depan remaja laki-laki. Hujan cukup deras membasahi tubuh keduanya, tapi tak satupun dari mereka berniat untuk berteduh.
Pembicaraan kali ini, terkesan lain dari biasanya ketika keduanya bertemu dan berbincang tentang seseorang yang sama-sama mereka sayangi. Kali ini lebih serius, lebih pribadi dan lebih menguras emosi.
" Saya tahu, memohon ampunan mu tidak cukup, tidak juga bisa menghidupkan kedua orang tuamu, tapi.... Saya rasa hal ini seharusnya sudah saya lakukan sejak bertahun-tahun lalu... " ucap pria tua itu sembari menangis penuh sesal.
" Bukan maksud saya menjadi penyebab kematian kedua orang tuamu, saya juga tidak berniat menyembunyikan apapun dari mu agar terlihat sebagai seorang tanpa dosa..... "
" Hanya pinta saya, ampunilah putri saya. Jangan kau jadikan dia tempat mu untuk membalas dendam, biarkan saya yang menanggung semuanya. Biarkan dendam ini berakhir cukup sampai saya, jangan putri ku.. Aku mohon. " pria tua yang tadinya membungkuk, kini menengadah, menatap remaja laki-laki itu dengan kedua tangan di depan dada.
" Jadi... jadi anda yang menyebabkan kecelakaan itu? Anda yang membuat saya..... ANDA YANG MEMBUAT SAYA JADI YATIM PIATU??? " Sentai remaja itu meluapkan emosinya. Tangisnya sudah beranak sungai, dadanya dipenuhi amarah yang menghimpit sampai rasanya begitu sesak.
Inginnya dia lampiaskan semua penderitaannya selama bertahun-tahun hidup sebatang kara, dihina orang, diremehkan orang, pada pria tua yang begitu egois demi sebuah tender sampai menyebabkan kedua orang tuanya meninggal. Hanya saja hatinya tak sampai membalas semua dendamnya. Itu bagian paling menyakitkan untuknya.
Saat dia sudah menemukan pembunuh orang tuanya, saat dia sudah bisa membalaskan semua dendamnya, semua itu terpaksa harus dia redam, karena pria tua yang berlutut didepannya saat ini adalah papa dari perempuan yang paling dia cintai.
Ironis bukan...
Papanya yang menyebabkan hidupnya hancur, tapi anak perempuannya lah yang menghidupkan kembali hidupnya. Kalau kalian jadi Santana, Kira-kira apa yang akan kalian lakukan...
" Dan gob***nya lo milih pergi kan? " komen Welly saat dia mendengar cerita lengkap tentang keputusan gila Santana, menghancurkan hatinya dengan pergi meninggalkan Senjananya.
" Waktu itu aku.... "
" Apa?? Lo mau bilang apa?? "
" Lo tahu nggak, karena keputusan gila lo itu, bukan cuma lo yang hancur. Senja pun juga mengalami hal yang sama, atau bahkan dia lebih hancur tanpa kita tahu. " Welly sudah berdiri, tak lagi duduk saking gemesnya dengan tingkah sok pahlawan dari sahabat baiknya ini.
" Lo pikir deh gimana perasaan Senja, sampai dia pun milih kabur daripada ngadepin lo. "
" Trus lihat kekacauan yang lo buat dengan sok-sokan nerima permintaan gila nggak tahu malu si Yara cuma demi balas budi. Lo lihat gimana hancurnya Senjana pas lihat lo dengan sok gantengnya masuk dan memperkenalkan diri sebagai tunangan Yara.. Gila lo, San.. LO GILAAAAA!!! "
Santana tertunduk lebih dalam. Memang benar kata orang, jangan mengambil keputusan disaat sedang dalam kondisi emosi. Santana kini benar merasakan akibat dari semua itu. Hanya melihat Senjananya memalingkan muka enggan melihatnya, hati Santana benar rasa sakit dan hancur seketika.
" Aku cerita cuma pengen dapat solusi.. Bukan dengerin kamu marah-marah, Wel. " ujar Santana benar frustasi.
" Bodo.. Lo pikir aja sendiri, dibilangin bebal sih.. " Welly pun pergi meninggalkan Santana, tanpa memberi satu solusi pun.
Santana melongo ditinggal pergi, hidupnya sedang tandus butuh siraman rohani, malah ditinggalkan begitu saja. Santana kan jadi tambah mumet ini.
Merenung sejak pulang dari kantor Angkara tetap tidak menemukan solusi apapun. Hatinya malah tambah ngenes mendengar semua cerita tenang Senjana dari mulut Angkara. Itupun hanya gambaran besarnya saja sudah membuat Santana rasanya seperti ditikam jantungnya. Apalagi kalau tahu semua cerita tenang Senjana dari dia pergi sampai saat ini.
*******
Rasanya sepi juga tidak kerja, tidak mendengar suara-suara yang membuat telinganya berdengung sakit, tidak ini itu menuruti semua mau dari pak bos yang aneh bin ajaib itu. Akhirnya daripada bosan, Sanjana mencoba terjun ke dapur.
Semua bahan di dalam lemari pendingin dikeluarkan, niat hati bikin opor ayam, malah jadi bikin opor gosong. Dasar memang tidak pandai di dapur, cuma bisa ceplok telur sama goreng ayam. Itupun main nyala matikan kompor biar minyaknya tidak meletup.
" Lagian ngapain sih, Sen sok-sokan masak di dapur. Mana stock makan seminggu kamu habisin cuma buat bikin opor gosong begini. " repet Miduri yang heran saja melihat tingkah ajaib Senjana.
" Bosen, mbak.. Ntar ke sawah nggak dibolehin sama si mbok. " sahut Senjana mencari pembelaan.
" Ck.. tapi kan nggak sampai bikin dapur jadi kek gini, Sen. Jam berapa lah ini? Pasar masih rame yang jualan kagak ya.. " gumam Miduri.
Akhirnya ditemani Mas Jamal tercinta, Miduri dan Senjana pergi ke pasar di waktu pagi yang mendekati siang ini. Mau gimana lagi, tidak ada bahan makanan lagi, kan kasian si Fatih nanti tidak bisa makan.
" Masak opor ayam aja, mbak Mi.. " pinta Senjana yang memang pengen makan opor.
" Nggak.. Mbak trauma lihat opor ayam mu, Sen. " bibir Senjana mengerucut. Jamal yang mendengar dua orang ini sejak tadi sahut-sahutan hanya bisa terkekeh saja.
" Masak sayur lodeh aja wes.. Sama goreng ayam. Wes enak, merakyat. Ya to, mas.. "
" Manut, dek.. Yang penting makan, mas soale wes kaliren. "
" Denger tuh, Sen.. Mas Jamal sampe ngempet laper itu gara-gara kamu invasi dapur. " omel Miduri yang terus berjilid, tak habis-habis.
Senjana mencibir, " Apaan mbak, invasi segala dibawa? Kayak yang tahu artinya aja. " keduanya pun jadi ngakak bersama.
Bersama Miduri, Senjana barulah tahu rasanya memiliki saudara. Terlahir sebagai anak tunggal, rasanya disayang kakak, dibelain kakak, Senjana belum pernah merasakan. Ya baru sejak kenal Miduri, waktu dia dibawa mamanya ke desa ini untuk menepi dari berbagai masalah di kota.
Baiknya Miduri, dia sangat menyayangi Senjana, bahkan tak segan memarahi dikala Senjana membuat kesalahan, atau pun membela Senjana dikala dia dirundung orang. Miduri, selalu jadi garda terdepan untuk Senjana.
Meski sudah menikah pun, Miduri selalu menyempatkan diri menanyakan kabar Senjana. Kalau dia dapat bookingan di kota pun, Miduri selalu mampir ke apartemen Senjana meskipun hanya untuk mengomentari betapa berantakannya apartemen itu.
" Eh mbak Mi.. Ayo beli buah-buahan, aku pengen bikin es buah. Enak mbak, seger gitu lo panas-panas minum es buah. " pinta Senjana yang mirip anak kecil minta dibelikan permen.
" Blanjaane wes akeh iki lho, Sen.. " Senjana pun melihat kalau semua tangan mereka bertiga sudah penuh kresek belanjaan.
" Kamu ke sana dulu aja, Sen. Biar mas sama mbak mu ke mobil dulu buat naruh belanjaan. Ntar kita susul. " ujar Mas Jamal memberikan solusi.
" Uduh.. Uduh.. Mas Jamal memang the best. "
Senjana main pergi setelah menyodorkan kresek belanjaan ke tangan Jamal dan Miduri. Melihat Senjana bisa sesenang itu, hati Miduri dan Jamal pun ikut senang.
Senjana pun juga senang melihat banyaknya buah-buahan di depan mata. Tangannya asal pilih buah-buahan tanpa tahu itu matang atau tidak sampai akhirnya seseorang menegurnya..
" Pilih ini aja, mbak Senja.. Yang itu belum matang, rasanya masam itu nanti. "
Senjana langsung menoleh ke samping, " Bu.... Mi.... " wajah Senjana langsung terlihat pucat.