NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 — Perhatian Kecil yang Berbeda

Suara alarm dari ponsel membangunkan Alisha Amanda dari tidurnya. Ia meraih benda itu di atas meja, mematikan alarm, lalu duduk perlahan di tepi tempat tidur.

Cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai. Hari baru telah dimulai, dan seperti biasanya, ada beberapa hal yang harus ia selesaikan.

Alisha membuka catatan di ponselnya. Ia memeriksa jadwal kerja di Sweet Morning Bakery, kemudian memastikan tanggal pemeriksaan ibunya, Ratih Amanda, tidak terlewat.

Setelah semuanya diperiksa, ia bangkit dan bersiap untuk mandi.

Malam sebelumnya memang cukup melelahkan karena menghadiri acara perusahaan bersama Adrian Mahendra. Namun, ia tidak menyesal telah datang. Setidaknya, sekarang ia tahu bahwa menghadiri acara resmi tidak selalu sesulit yang dibayangkannya.

Selesai bersiap, Alisha mengenakan pakaian sederhana untuk bekerja. Ia merapikan rambutnya, mengambil tas, lalu keluar dari kamar.

Saat tiba di ruang makan, ia mendapati Adrian sudah duduk di meja dengan secangkir kopi dan tablet di tangannya.

"Selamat pagi," sapa Alisha.

Adrian mengangkat wajah.

"Selamat pagi."

Alisha duduk di kursi seberangnya. Di atas meja sudah tersedia roti panggang, telur, dan beberapa potong buah.

Ia mengambil sepotong roti, lalu mulai sarapan.

"Kamu berangkat pukul berapa hari ini?" tanya Adrian.

"Seperti biasa. Aku harus tiba sebelum toko mulai ramai."

Adrian mengangguk.

"Acara tadi malam tidak membuatmu terlalu lelah?"

Alisha menatapnya sebentar. Pertanyaan itu sedikit mengejutkannya karena Adrian jarang menanyakan hal seperti itu tanpa alasan tertentu.

"Tidak terlalu. Aku masih bisa bekerja seperti biasa."

"Baiklah."

Percakapan kembali berhenti.

Alisha tidak mempermasalahkannya. Ia sudah terbiasa dengan kebiasaan Adrian yang lebih sering berbicara seperlunya.

Setelah selesai sarapan, Alisha mengambil tasnya dan berdiri.

"Aku berangkat dulu."

Adrian meletakkan tabletnya.

"Kamu tidak membawa mobil?"

"Tidak. Aku bisa menggunakan kendaraan yang biasa kupakai."

"Aku bisa mengantarmu jika arah perjalananku memungkinkan."

Alisha menggeleng pelan.

"Tidak perlu. Kamu pasti punya banyak pekerjaan."

Adrian tidak memaksa.

"Kalau begitu, hati-hati."

"Iya. Terima kasih."

Alisha meninggalkan ruang makan, sementara Adrian memperhatikannya sebentar sebelum kembali mengambil tablet.

Ia sendiri tidak tahu mengapa tadi menawarkan diri untuk mengantar Alisha.

Mungkin karena mereka baru saja menghadiri acara perusahaan bersama. Mungkin juga karena ia merasa perlu memastikan istrinya menjalani hari dengan baik.

Adrian menganggapnya sebagai perhatian biasa.

Tidak ada alasan untuk memikirkan hal itu lebih jauh.

---

Sesampainya di Sweet Morning Bakery, Alisha langsung membantu Mira menyiapkan pesanan yang harus dikirim pada pagi hari.

"Lis, tolong periksa jumlah roti di kotak ini, ya. Aku mau memastikan semuanya sesuai daftar," kata Mira.

"Baik."

Alisha mengambil daftar pesanan dan mulai menghitung satu per satu.

Pekerjaan pagi itu cukup sibuk. Beberapa pelanggan datang bersamaan, sementara pesanan dari dua kantor harus segera diselesaikan.

Rani bertugas melayani pelanggan di bagian depan, sedangkan Mira mengawasi persiapan pesanan. Alisha membantu keduanya secara bergantian.

Meski lelah, ia menikmati rutinitas tersebut.

Baginya, bekerja bukan hanya tentang mendapatkan penghasilan. Pekerjaan itu memberinya kesempatan untuk belajar, sekaligus membantu memenuhi kebutuhan dirinya dan ibunya.

"Alisha, bisa bantu aku sebentar?" panggil Rani dari depan.

Alisha segera menghampiri.

"Ada apa?"

"Sepertinya pelanggan ini ingin memesan kue untuk ulang tahun minggu depan. Bisa kamu bantu mencatat permintaannya? Aku harus menyelesaikan pesanan yang lain."

"Tentu."

Alisha menyambut pelanggan tersebut dengan ramah. Ia mencatat jenis kue, ukuran, dan tanggal pengambilan yang diinginkan.

Setelah memastikan semua informasi benar, ia menyerahkan catatan itu kepada Mira.

"Pesanannya sudah dicatat."

Mira memeriksanya.

"Bagus. Kamu sekarang sudah semakin terbiasa menangani pesanan."

Alisha tersenyum kecil.

"Aku masih harus banyak belajar."

"Semua orang juga begitu. Yang penting kamu mau mencoba."

Ucapan Mira membuat Alisha merasa lebih bersemangat.

Ia kembali bekerja tanpa menyadari bahwa ponselnya yang berada di dalam tas telah menerima sebuah pesan.

Pesan itu berasal dari Adrian.

Adrian: Bagaimana pekerjaanmu hari ini?

Ketika waktu istirahat tiba, Alisha baru memeriksa ponselnya.

Ia sedikit heran melihat pesan tersebut. Adrian memang terkadang menghubunginya, tetapi biasanya untuk membicarakan sesuatu yang perlu mereka atur bersama.

Alisha segera membalas.

Alisha: Baik. Hari ini cukup sibuk, tetapi semuanya masih terkendali.

Beberapa menit kemudian, balasan masuk.

Adrian: Jangan lupa makan siang.

Alisha membaca pesan itu dua kali.

Kemudian, ia membalas singkat.

Alisha: Iya. Kamu juga jangan lupa makan.

Setelah mengirim pesan, Alisha meletakkan ponselnya dan membuka bekal makan siang yang dibawanya dari rumah.

Ia tidak menganggap pesan Adrian sebagai sesuatu yang istimewa. Mungkin pria itu hanya mengingatkannya karena mereka tinggal bersama.

Sementara itu, di kantor Mahendra Group, Adrian menatap layar ponselnya selama beberapa detik setelah menerima balasan Alisha.

Ia tidak berniat mengganggu pekerjaan perempuan itu. Ia hanya teringat bahwa Alisha sering sibuk hingga lupa memperhatikan kebutuhannya sendiri.

Setelah beberapa saat, ia mengunci layar ponsel dan kembali bekerja.

Namun, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mengirim pesan sederhana kepada Alisha terasa cukup mudah baginya.

---

Menjelang siang, Alisha menerima telepon dari rumah sakit.

Ia segera menjauh dari area pelayanan agar bisa mendengar dengan jelas.

"Selamat siang. Benar, ini Alisha Amanda," katanya setelah mengangkat telepon.

Petugas rumah sakit mengonfirmasi jadwal pemeriksaan Ratih dan menjelaskan beberapa hal yang perlu dipersiapkan.

Alisha mendengarkan dengan saksama. Ia mencatat informasi penting di ponselnya, kemudian mengucapkan terima kasih sebelum mengakhiri panggilan.

Setelah itu, ia membuka catatan pengeluarannya.

Biaya pengobatan ibunya masih menjadi hal yang paling banyak memenuhi pikirannya. Meskipun kondisi Ratih perlahan membaik, pemeriksaan dan perawatan tetap membutuhkan biaya.

Alisha menghitung uang yang dimilikinya, lalu mencocokkannya dengan perkiraan pengeluaran minggu depan.

Ia menghela napas pelan.

Jumlahnya masih cukup, tetapi ia harus mengatur pengeluaran dengan hati-hati.

"Lis?"

Suara Rani membuatnya mendongak.

"Kamu sedang menghitung apa?"

"Pengeluaran untuk pemeriksaan Ibu."

Rani duduk di kursi sebelahnya.

"Bagaimana kondisi ibumu sekarang?"

"Syukurlah, lebih baik. Tapi masih harus menjalani pemeriksaan secara rutin."

"Semoga cepat pulih, ya."

"Amin. Terima kasih."

Rani memperhatikan wajah Alisha.

"Kalau kamu butuh bantuan di toko untuk menukar jadwal kerja, bilang saja. Kita bisa membicarakannya dengan pemilik toko."

Alisha tersenyum tulus.

"Aku menghargainya. Untuk sekarang, jadwalku masih bisa kuatur."

"Baiklah. Jangan menanggung semuanya sendirian kalau suatu saat kamu benar-benar kewalahan."

Alisha mengangguk.

Ia bersyukur memiliki teman kerja yang peduli. Meski tidak semua masalah bisa ia ceritakan, setidaknya ia tidak merasa benar-benar sendirian.

Setelah istirahat selesai, ia kembali melanjutkan pekerjaan.

---

Di kantor, Adrian sedang mengikuti rapat bersama beberapa kepala divisi.

Pembahasan berpusat pada perkembangan proyek baru dan evaluasi keuangan perusahaan. Adrian mendengarkan laporan setiap divisi, mengajukan pertanyaan, lalu memberikan keputusan pada beberapa hal yang membutuhkan persetujuannya.

Ketika rapat selesai, Daniel masuk ke ruangannya membawa sejumlah dokumen.

"Pak, ini laporan yang perlu Anda periksa sebelum sore."

Adrian menerima dokumen itu.

"Letakkan di meja."

"Baik, Pak."

Daniel hendak keluar ketika Adrian tiba-tiba bertanya, "Daniel, apakah ada jadwal perusahaan untuk minggu depan yang mengharuskan saya menghadiri acara di luar kantor?"

Daniel berhenti.

"Sejauh ini belum ada acara tambahan, Pak. Hanya beberapa pertemuan dengan mitra bisnis."

"Baik."

Daniel mengangguk, tetapi sebelum pergi, ia sempat melirik kalender di meja Adrian.

"Apakah ada sesuatu yang perlu saya atur?"

"Tidak. Saya hanya memastikan jadwal."

"Baik, Pak."

Setelah Daniel keluar, Adrian membuka kalendernya.

Ia teringat bahwa Alisha mungkin perlu mengantar ibunya ke rumah sakit pada minggu berikutnya. Perempuan itu belum menyampaikan apakah ia membutuhkan bantuan atau tidak.

Adrian mempertimbangkan untuk menanyakan jadwalnya nanti.

Namun, ia segera menyadari bahwa Alisha belum meminta bantuan apa pun.

Ia tidak ingin membuat perempuan itu merasa bahwa setiap urusan pribadinya harus melibatkan Adrian.

Akhirnya, ia kembali memeriksa dokumen.

Pekerjaan tetap menjadi prioritasnya.

Meski demikian, pikiran mengenai Alisha sesekali muncul di sela-sela kesibukannya.

---

Sore harinya, Alisha menyelesaikan pekerjaan lebih lambat daripada biasanya karena ada pesanan tambahan.

Setelah memastikan meja dan peralatan sudah dirapikan, ia berpamitan kepada Mira dan Rani.

"Aku pulang dulu, ya."

"Hati-hati, Lis," jawab Mira.

Rani mengangkat tangan kecil sebagai tanda perpisahan.

"Jangan lupa kabari kalau jadwal pemeriksaan ibumu berubah. Siapa tahu kita bisa membantu menukar jadwal kerja."

"Iya. Terima kasih, kalian."

Alisha meninggalkan bakery dan melanjutkan perjalanan pulang.

Sesampainya di rumah, ia meletakkan tas di kamar, mengganti pakaian, lalu menuju dapur untuk mengambil air minum.

Ia baru saja selesai minum ketika mendengar suara pintu depan terbuka.

Adrian pulang.

Pria itu meletakkan tas kerjanya di ruang tengah dan melonggarkan dasinya.

"Kamu sudah pulang?" tanyanya ketika melihat Alisha.

"Iya. Baru saja."

Adrian mengangguk.

"Bagaimana pekerjaanmu?"

"Baik. Tadi ada beberapa pesanan tambahan, jadi aku pulang sedikit terlambat."

"Kamu sudah makan?"

"Belum. Aku baru mau menyiapkannya."

Adrian melihat jam tangannya.

"Kalau begitu, aku akan berganti pakaian dulu."

Alisha mengangguk.

Ia mulai menyiapkan makanan sederhana untuk dirinya sendiri. Tidak lama kemudian, Adrian kembali dan melihat Alisha sedang mengeluarkan beberapa bahan dari lemari dapur.

"Kamu memasak sendiri?"

"Iya. Aku hanya akan membuat makanan sederhana."

Adrian terdiam sebentar sebelum berkata, "Aku juga belum makan. Kalau tidak merepotkan, aku akan makan di sini."

Alisha menoleh.

"Tentu. Aku bisa menyiapkan lebih banyak."

Ia tidak merasa keberatan. Mereka memang tinggal di rumah yang sama, dan menyiapkan makanan tambahan bukanlah masalah besar.

Beberapa menit kemudian, mereka duduk berhadapan di meja makan.

Makanan yang tersedia sederhana, tetapi cukup untuk mengisi perut setelah menjalani hari yang panjang.

Adrian mencicipi lauk yang disiapkan Alisha.

"Rasanya enak."

Alisha mengangkat wajah.

"Terima kasih. Ini hanya masakan biasa."

"Tetap saja enak."

Alisha tersenyum kecil, lalu kembali makan.

Bagi Adrian, percakapan itu mungkin tidak berarti banyak. Namun, ia baru menyadari bahwa selama ini mereka jarang berbagi waktu seperti ini tanpa membicarakan pekerjaan, jadwal, atau kebutuhan rumah tangga.

Mereka hanya duduk, makan, dan berbicara seperlunya.

Anehnya, ia tidak merasa terganggu oleh keheningan di antara mereka.

"Jadwal pemeriksaan ibumu sudah ditentukan?" tanya Adrian kemudian.

Alisha mengangguk.

"Sudah. Minggu depan."

"Apakah kamu perlu izin kerja?"

"Aku masih harus memastikan jadwalnya dengan tempat kerjaku. Kalau bisa, aku akan meminta penyesuaian jam kerja."

Adrian meletakkan sendoknya.

"Kalau jadwalnya sulit diatur, beri tahu aku."

Alisha menatapnya.

"Aku bisa mengurusnya sendiri."

"Aku tahu. Aku hanya mengatakan kalau kamu membutuhkan bantuan."

Alisha terdiam sejenak, kemudian mengangguk.

"Baik. Terima kasih."

Adrian kembali makan tanpa memperpanjang pembicaraan.

Alisha pun tidak membahasnya lagi.

Ia menghargai tawaran Adrian, tetapi belum merasa perlu bergantung pada pria itu untuk mengurus setiap masalahnya. Selama masih mampu, ia ingin menyelesaikan kewajibannya sendiri.

Setelah makan, Alisha membereskan peralatan di meja.

Adrian sempat menawarkan bantuan, tetapi Alisha menolak dengan halus.

"Kamu bisa beristirahat. Biar aku yang membereskannya."

Adrian tidak memaksa.

Ia mengambil gelasnya dan membawanya ke wastafel sebelum pergi menuju ruang kerja.

Alisha memperhatikan tindakan kecil itu sebentar, kemudian kembali mencuci piring.

Baginya, itu hanya hal sederhana yang dilakukan seseorang setelah makan.

Ia tidak menyadari bahwa Adrian mulai lebih sering memperhatikan kebiasaan-kebiasaan kecilnya.

---

Malam semakin larut.

Alisha sudah berada di kamar ketika ponselnya berbunyi. Ia membuka pesan dari rumah sakit yang berisi pengingat tambahan untuk jadwal pemeriksaan Ratih.

Ia segera mencatatnya, kemudian menutup ponsel.

Sebelum tidur, ia memeriksa kembali uang yang disiapkan untuk kebutuhan minggu depan. Setelah memastikan semuanya sesuai, ia menyimpan catatan tersebut di laci.

Di kamar lain, Adrian masih menyelesaikan pekerjaannya.

Namun, setelah menutup laptop, ia tidak langsung beranjak dari kursi.

Pikirannya kembali mengingat percakapan makan malam tadi.

Alisha selalu berusaha menyelesaikan urusannya sendiri. Bahkan ketika ia menawarkan bantuan, perempuan itu menerima dengan sopan tanpa langsung bergantung kepadanya.

Adrian tidak tahu apakah ia seharusnya merasa lega atau justru heran.

Selama ini, ia menginginkan pernikahan mereka berjalan tanpa tuntutan yang berlebihan. Ia tidak ingin Alisha mengharapkan sesuatu yang tidak pernah ia janjikan.

Namun, sekarang ia mulai menyadari bahwa ia sendiri yang sesekali mencari kesempatan untuk berbicara dengan perempuan itu.

Ia yang menanyakan pekerjaan Alisha.

Ia yang mengingatkannya untuk makan.

Dan ia pula yang menawarkan bantuan untuk mengurus jadwal pemeriksaan ibunya.

Semua itu memang terlihat sederhana.

Akan tetapi, Adrian tidak terbiasa memberikan perhatian semacam itu kepada seseorang tanpa alasan yang jelas.

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menghela napas.

"Mungkin aku hanya sedang berusaha menjalankan tanggung jawab dengan baik," gumamnya.

Penjelasan itu terdengar masuk akal.

Alisha adalah istrinya. Selama mereka masih terikat pernikahan, wajar jika ia memastikan perempuan itu baik-baik saja.

Adrian memutuskan untuk berhenti memikirkan hal tersebut.

Ia mematikan lampu ruang kerja dan menuju kamarnya.

Sementara itu, Alisha telah terlelap, tanpa mengetahui bahwa suaminya mulai mempertanyakan perhatian yang tumbuh secara perlahan.

Bagi Alisha, kehidupan mereka masih berjalan sesuai kesepakatan.

Ia akan terus bekerja, merawat ibunya, dan menjalani pernikahan ini selama masa kontrak yang telah ditentukan.

Ia belum memiliki alasan untuk mengubah pandangannya terhadap Adrian.

Namun, tanpa disadari keduanya, jarak yang mereka pertahankan perlahan mulai berubah.

Bukan karena pengakuan cinta.

Bukan pula karena janji yang besar.

Melainkan karena perhatian kecil yang terus muncul, bahkan ketika tidak ada satu pun dari mereka yang memintanya.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!