Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengadopsi Anak
Malam itu, Laras dan Robby masih bercengkerama di atas ranjang. Keduanya bersandar pada kepala ranjang, menikmati suasana tenang setelah melewati hari yang panjang.
Laras tersenyum kecil saat Robby sesekali melontarkan candaan yang berhasil membuatnya tertawa. Tapi, di tengah obrolan ringan itu, Robby tiba-tiba terdiam.
"Laras," panggilnya pelan.
"Hmm?" Laras menoleh, menatap suaminya dengan tatapan penasaran.
"Aku punya kabar baik."
"Kabar baik apa?" Laras langsung terlihat antusias.
Robby meraih tangan Laras, menggenggamnya erat sebelum akhirnya berkata, "Aku bilang, kalau aku akan menerimamu apa adanya, kan?"
Laras mengangguk pelan.
"Tapi, aku tahu kamu sangat mendambakan seorang anak. Jadi, aku mencoba mencari informasi dan akhirnya, aku menemukan bayi yang akan kita adopsi."
Laras terdiam beberapa detik. Matanya membulat, seolah memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.
"Benarkah?"
Robby mengangguk. "Iya."
Seketika, senyum Laras mengembang lebar. Ada binar kebahagiaan yang terpancar jelas dari matanya.
"Ya Tuhan," bisiknya, lalu memeluk Robby erat. "Aku senang sekali."
Robby terkekeh pelan sambil mengusap punggung istrinya.
"Aku tahu kamu pasti senang."
"Kapan aku bisa bertemu dengannya?" Laras segera melepaskan pelukannya. Wajahnya tampak begitu bersemangat. "Aku ingin melihat bayi kita."
Robby tersenyum melihat antusiasme itu. "Tunggu sebentar, Sayang."
"Tapi, aku sudah tidak sabar."
"Aku tahu." Robby mengusap lembut rambut Laras. "Tapi, aku masih harus mengurus beberapa hal. Ada prosedur yang harus kita lakukan sebelum semuanya resmi."
Laras mengangguk, meskipun wajahnya masih menunjukkan rasa tidak sabar.
"Kalau begitu, kamu urus semuanya. Aku akan menunggu."
"Baiklah. Aku akan mengurusnya," jawab Robby yakin. "Tapi, aku ingin memastikan semuanya dilakukan dengan benar dan sesuai prosedur."
Robby kembali menggenggam tangan Laras. "Berikan aku sedikit waktu. Begitu semua prosesnya selesai dan kita sudah bisa membawa bayi itu pulang, aku akan memberitahumu."
Laras tersenyum lembut. "Baiklah. Aku percaya padamu."
Ia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Robby dengan senyum yang tidak kunjung menghilang.
Malam itu, Laras merasakan kebahagiaan yang begitu utuh karena sebentar lagi, akan ada tangisan kecil, tawa mungil, dan seorang bayi yang akan memanggil mereka dengan sebutan ayah dan ibu.
Dengan hanya membayangkannya saja sudah membuat hati Laras dipenuhi kebahagiaan.
***
Keesokan paginya, suasana di ruang makan terasa hangat dan tenang. Cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela-jendela besar, menyinari meja makan yang sudah dipenuhi berbagai hidangan sarapan.
Laras duduk di samping Robby, sementara Soraya berada di seberang mereka.
Ketiganya menikmati sarapan bersama dalam suasana yang jauh lebih santai dari biasanya.
Sesekali terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring, diselingi percakapan ringan.
Tapi, sejak tadi Laras tampak menyimpan sesuatu. Senyum di wajahnya bahkan tidak bisa ia sembunyikan.
Soraya yang menyadarinya akhirnya mengangkat wajah. "Kenapa dari tadi kamu tersenyum terus, sayang?"
Laras meletakkan sendoknya, lalu menatap sang ibu dengan mata berbinar.
"Ma, aku punya kabar baik."
Soraya mengangkat alis. "Kabar baik apa?"
Laras melirik Robby sekilas sebelum kembali menatap ibunya.
"Aku dan Mas Robby akan segera mengadopsi seorang anak."
Soraya terdiam sejenak. Lalu, sebuah senyuman terukir di wajah wanita itu.
"Benarkah?"
Laras mengangguk cepat. "Iya, Ma. Mas Robby sudah menemukan bayinya. Tinggal menyelesaikan semua prosedurnya."
Mendengar itu, Soraya ikut merasa bahagia. Ia tahu betapa besar keinginan putrinya untuk memiliki seorang anak.
Meski bayi itu bukan darah dagingnya, Soraya sama sekali tidak mempermasalahkannya. Baginya, kebahagiaan Laras jauh lebih penting dari segalanya.
"Kalau itu bisa membuatmu bahagia, Mama tidak keberatan," ucap Soraya lembut. "Bagaimanapun juga, anak itu akan menjadi bagian dari keluarga kita."
Mata Laras berkaca-kaca. Ia tersenyum haru mendengar ucapan ibunya.
"Terima kasih, Ma."
Soraya mengangguk, lalu melirik Robby. "Dan kamu, Robby..."
Robby segera mengangkat wajah. "Iya, Ma?"
"Mama akan menepati janji Mama."
Robby terdiam.
Soraya meletakkan sendoknya dan menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Kamu sudah melakukan apa yang Mama minta. Kamu sudah menepati janjimu untuk membuat Laras bahagia." Soraya tersenyum tipis. "Karena itu, Mama akan menaikkan jabatanmu."
Robby tampak sedikit terkejut, meskipun ia berusaha menyembunyikannya.
"Benaran, Ma?"
"Untuk sementara, kamu akan dipromosikan menjadi manajer terlebih dahulu."
Robby tersenyum. "Tidak masalah, Ma. Terima kasih atas kepercayaan Mama."
Soraya mengangguk. "Anggap saja ini langkah awal. Kalau kinerjamu semakin baik, bukan tidak mungkin posisi yang lebih tinggi akan segera menantimu."
"Terima kasih, Ma. Aku akan bekerja lebih keras."
Laras tersenyum bangga melihat suaminya.
Sementara itu, Robby menundukkan wajahnya sejenak, berpura-pura kembali menikmati sarapan. Tapi, di balik ekspresi tenangnya, ada kepuasan yang ia sembunyikan.
Selangkah demi selangkah. Itulah yang ada dalam pikirannya.
Hari ini ia mendapatkan posisi manajer. Besok, mungkin jabatan yang lebih tinggi. Dan, jika semuanya berjalan sesuai rencana, suatu hari nanti ia akan berada di puncak.
Robby tidak ingin terburu-buru. Ia hanya perlu terus memainkan perannya dengan baik.
Menjadi suami yang penyayang di depan Laras. Menjadi menantu yang dapat diandalkan di mata Soraya. Dan, menjadi seorang pria yang perlahan-lahan sedang mendekati apa yang selama ini ia inginkan.
***
Setelah melalui proses adopsi yang cukup panjang, Laras dan Robby akhirnya datang ke panti asuhan dengan perasaan campur aduk. Terutama Laras.
Dia benar-benar tidak sabar menjalankan peran sebagai ibu. Ia ingin segera menggendong bayi mereka, merawatnya, mendengar tangisannya, semua hal yang di lakukan seorang ibu pada umumnya.
Tapi, saat mereka sampai di panti asuhan, Laras sempat tertegun beberapa saat. Panti itu terlihat sangat sepi.
"Mas, kamu yakin ini tempatnya?" tanya Laras memastikan.
"Tentu saja, sayang," jawab Robby.
"Tapi, kenapa di sini sepi sekali?" Laras melihat sekeliling. Tidak ada tanda-tanda ada anak-anak yang tinggal di sana.
Robby tersenyum, lalu menggenggam tangan Laras. "Pemilik panti mengatakan padaku kalau hari ini anak-anak ada kegiatan di luar. Makanya tempat ini sepi," jawab Robby. "Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya pada pemilik panti atau mengeceknya sendiri."
Laras menggeleng. "Tidak perlu. Kita fokus saja pada tujuan kita."
Robby mengangguk. Ia lalu mengajak Laras menemui pemilik panti.
Dan, setelah menyelesaikan proses administrasi terakhir, seorang pengasuh membawa bayi mungil ke hadapan mereka.
Laras langsung terdiam. Matanya berkaca-kaca saat melihat bayi itu menggeliat kecil dalam balutan selimut.
"Ini anak kita, Mas?" bisiknya.
Robby tersenyum dan mengangguk. "Iya, Sayang. Mulai hari ini, dia akan menjadi bagian dari keluarga kita."
Dengan tangan gemetar, Laras menerima bayi itu ke dalam pelukannya. Air matanya jatuh begitu saja saat jemari mungil bayi itu menggenggam jarinya.
"Selamat datang di keluarga kami, Sayang," bisiknya penuh haru.
Setelahnya, Laras dan Robby pamit dan meninggalkan panti asuhan dengan perasaan bahagia.
Sepanjang perjalanan, Laras sibuk mengajak bayi mereka bermain di kursi belakang, sesekali ia tertawa melihat tingkah mungil sang anak.
Tapi, kebahagiaan itu tidak sepenuhnya Robby rasakan.
Saat mobil berhenti di lampu merah, Robby merogoh ponsel di saku jasnya. Dia menatap dalam diam nama yang tertera di layar.
Ia melirik Laras sekilas dari kaca spion sebelum akhirnya menjawab telepon tersebut.
"Bagaimana?" tanya seseorang dari seberang.
"Kau tenang saja. Kerjasama kali ini berjalan lancar," jawab Robby.
Laras sempat mengangkat pandangannya, menatap Robby. Tapi, ia hanya tersenyum dan kembali bercanda dengan anaknya.
"Jadi, kapan aku bisa masuk ke rumah itu?"
Robby melirik Laras melalui kaca spion. Wanita itu masih asyik bermain dengan anak mereka dan sama sekali tidak menyadari percakapan tersebut.
"Bersabarlah sebentar lagi," jawab Robby. Kali ini dengan suara rendah. "Aku akan segera mengaturnya."
Tanpa menunggu jawaban, Robby memutuskan panggilan. Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu memasang wajah seolah tidak terjadi apa-apa.
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti