NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:406.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 06

Dimas datang ke kantor pengacara Maya pukul sembilan pagi.

Ia datang bersama Rendi, bukan bersama ibunya. Pilihan itu sudah membuat Naira tahu satu hal: Dimas masih ingin terlihat tenang dan rasional. Ia tidak ingin Bu Ratna meledak di ruang hukum, tidak ingin keluarga Mahendra tampak panik.

Sayangnya, kepanikan tetap terlihat.

Di bawah mata Dimas ada bayangan gelap. Rambutnya rapi, kemejanya mahal, tetapi wajahnya kehilangan ketenangan yang biasa ia pakai di ruang rapat.

Naira sudah duduk di sisi lain meja.

Maya di sampingnya. Bagas berdiri di dekat pintu. Tidak ada Surya. Naira memang meminta ayahnya tidak datang.

Kalau Surya hadir, ruangan ini tidak lagi menjadi ruang mediasi. Ini akan menjadi ruang penghakiman.

Dimas menatap Naira begitu masuk.

"Kak," bisik Rendi, "duduk dulu."

Dimas duduk.

Maya membuka berkas. "Terima kasih sudah hadir. Agenda hari ini sederhana. Kami menyampaikan draf kesepakatan sementara sambil menunggu gugatan resmi masuk ke Pengadilan Agama."

Dimas langsung berkata, "Saya belum setuju bercerai."

Naira menatapnya. "Aku tidak meminta izinmu untuk berhenti terluka."

Rendi mengernyit. "Bu Naira, Pak Dimas hanya ingin rumah tangga ini..."

"Saya bicara dengan Dimas."

Rendi terdiam.

Dimas mengusap wajah. "Naira, aku tahu kamu marah. Tapi perceraian bukan hal kecil. Kita bisa konseling. Aku bisa bicara dengan Mama."

"Lima tahun kamu punya waktu bicara dengan Mama."

"Aku salah."

"Iya."

Dimas tampak terhantam oleh jawaban pendek itu.

Biasanya ketika ia berkata salah, Naira akan melembut. Ia akan memberi ruang. Ia akan berkata, "Tidak apa-apa, Mas." Kalimat itu dulu selalu menutup masalah mereka.

Hari ini tidak ada kalimat itu.

Maya mendorong draf ke tengah meja. "Ibu Naira tidak menuntut harta gono-gini dari aset pribadi Bapak Dimas. Namun semua aset milik Ibu Naira yang selama ini dipakai keluarga Mahendra harus dikembalikan atau diatur ulang secara hukum."

Dimas membaca halaman pertama.

Rendi ikut melirik, lalu wajahnya berubah.

"Ini terlalu banyak."

Naira menatapnya. "Yang mana terlalu banyak? Rumah saya? Paten saya? Saham saya? Atau akses laboratorium ibu saya yang kalian pakai tanpa izin?"

Rendi menelan ludah.

Dimas meletakkan kertas. "Kamu sengaja menyembunyikan semua ini dariku."

"Aku menyembunyikannya karena dulu kamu benci terlihat dibantu."

"Jangan balikkan seolah aku yang salah karena tidak tahu!"

"Kamu tidak tahu karena tidak pernah bertanya."

Ruangan diam.

Maya menurunkan pandangan ke berkas, memberi ruang agar kalimat itu bekerja sendiri.

Dimas menatap Naira lama.

"Kamu menganggap aku serendah itu?"

"Aku dulu menganggap kamu pria yang bisa kujaga martabatnya." Naira menghela napas pelan. "Ternyata aku salah. Martabatmu tumbuh dari membiarkan aku direndahkan."

Dimas mengepalkan tangan.

"Aku tidak pernah ingin kamu direndahkan."

"Tapi kamu menikmatinya ketika keluargamu merasa lebih tinggi."

Rendi memotong, "Bu, ini sudah menyerang pribadi."

Bagas mengangkat wajah sedikit.

Rendi langsung diam lagi.

Dimas melihat reaksi itu, lalu menatap Bagas dengan kesal. "Aku tidak butuh pengawal untuk bicara dengan istriku."

"Mantan calon istri secara hukum," kata Naira. "Dan sampai putusan keluar, kamu tetap tidak boleh menekan saya."

"Menekan?" Dimas tertawa pendek. "Sekarang aku bahkan tidak boleh bicara?"

"Boleh. Tapi tidak semua ucapanmu harus aku patuhi."

Dimas bersandar, seolah kehabisan napas.

Maya menunjuk halaman kedua. "Ada juga permintaan agar keluarga Mahendra berhenti memakai nama Ibu Naira, Dr. Sari Anggraini, maupun riset yang berhubungan dengan keluarga Anggraini dalam materi perusahaan."

Dimas langsung menatap Naira. "Kamu tahu kalau itu akan membuat investor bertanya."

"Mereka memang harus bertanya."

"Perusahaan bisa jatuh."

"Perusahaanmu berdiri di atas sesuatu yang bukan milikmu."

"Aku membangunnya!"

"Dengan fondasi yang kuberikan."

Kali ini Dimas tidak bisa langsung membantah.

Ia ingat masa awal perusahaan. Investor pertama yang tiba-tiba tertarik. Surel anonim berisi formula dan kajian awal. Kontak pemasok yang muncul ketika ia putus asa. Ia dulu menyebut itu keberuntungan, berkat, jalan Tuhan.

Tidak pernah ia pikirkan Naira.

Karena waktu itu Naira hanya istri yang menyiapkan kopi.

Ponsel Dimas bergetar di meja.

Nama Clara muncul.

Naira melihatnya.

Dimas cepat membalik ponsel.

Naira tersenyum. "Angkat saja."

"Tidak perlu."

"Takut aku salah paham?"

"Naira."

"Aku sudah selesai salah paham, Dimas. Sekarang aku paham sekali."

Ponsel itu berhenti bergetar, lalu bergetar lagi. Kali ini pesan masuk.

Rendi melirik tanpa sengaja.

Clara: Mas, Bu Ratna datang ke rumah sakit. Dia marah-marah cari Mbak Naira.

Dimas berdiri.

Naira juga berdiri, tapi bukan karena panik. "Kalau ibumu membuat keributan di rumah sakit, itu urusan hukum."

"Dia ibuku."

"Dan aku bukan peredam amarahnya lagi."

Dimas memandangnya. "Kamu benar-benar berubah."

"Tidak." Naira mengambil tasnya. "Aku kembali."

"Kembali jadi siapa?"

"Diriku sebelum menikah denganmu."

Ia berjalan ke pintu. Dimas bergerak seperti ingin mengejar, tetapi Bagas sudah membuka pintu untuk Naira dan berdiri di jalur yang sama.

Dimas menahan langkah.

"Naira," panggilnya.

Ia berhenti, tetapi tidak menoleh.

"Kalau aku minta maaf kepada ibumu?"

Naira diam beberapa detik.

"Ibuku tidak butuh maaf dari orang yang masih takut mengakui dia pernah salah menilai."

Pintu tertutup setelah Naira keluar.

Dimas kembali duduk perlahan.

Rendi menatapnya cemas. "Pak?"

Dimas tidak menjawab.

Ia menatap berkas perceraian di atas meja. Di halaman terakhir ada tanda tangan Naira. Tanda tangannya tegas, miring sedikit, tanpa ragu.

Selama lima tahun ia mengira Naira tidak punya tempat pergi.

Ternyata selama ini, ia sendiri yang tinggal di tempat milik Naira.

Ponselnya bergetar lagi.

Kali ini dari Bu Ratna.

"Dimas! Perempuan itu harus kamu tarik pulang sekarang. Dokter di rumah sakit berani sekali bilang obat Mama selama ini bukan dari spesialis biasa. Mereka bilang racikan itu tidak ada di pasaran. Apa maksudnya? Naira main dukun?"

Dimas memejamkan mata.

Migrainnya menusuk lagi.

Dan untuk pertama kali dalam bertahun-tahun, tidak ada Naira yang menyiapkan obat di sampingnya.

Ia membuka laci meja tamu, mencari air mineral yang tadi disediakan staf kantor Maya. Gerakannya berhenti ketika sadar betapa otomatis tubuhnya mencari sesuatu yang biasanya sudah ada sebelum ia meminta.

Rendi berdiri di dekat pintu. "Pak, saya ambilkan obat dari mobil?"

"Obatnya habis."

"Mungkin Bu Naira masih punya..."

Dimas menatapnya.

Rendi langsung diam.

Beberapa menit kemudian mereka keluar dari kantor Maya. Di lobi gedung, Dimas melihat Naira masuk ke mobil hitam. Maya membukakan pintu untuknya. Bagas berdiri di belakang. Sopir menunggu. Semua orang bergerak sesuai kebutuhan Naira.

Dimas baru sadar, selama ini di rumah Mahendra, Naira yang bergerak sesuai kebutuhan semua orang.

"Pak?" Rendi memanggil pelan.

Dimas menatap mobil itu pergi sampai hilang dari tikungan. "Cari dokter saraf yang bisa menerima hari ini."

Namun di mobil menuju rumah sakit, ia tetap membuka ruang chat Naira.

Ia mengetik: Aku sakit.

Lalu menghapusnya.

Untuk pertama kali, kalimat itu terdengar seperti perintah, bukan kabar.

Di rumah sakit, dokter saraf memintanya menjelaskan riwayat obat yang ia minum selama ini.

Dimas duduk di kursi pasien dan terdiam terlalu lama.

"Pak Dimas tidak tahu nama obatnya?" tanya dokter.

"Istri saya yang menyiapkan."

"Dosisnya?"

"Dia yang mengatur."

"Reaksi alergi?"

Dimas menatap lantai. Dokter itu tidak menegur, tetapi diamnya cukup tajam.

"Kalau begitu, saya sarankan Bapak meminta catatan tertulis. Untuk keselamatan Bapak sendiri."

Di luar ruang periksa, Dimas akhirnya mengirim pesan kepada Maya, bukan Naira. Ia meminta catatan medis dengan kalimat formal. Balasan Maya juga formal.

Baik. Permintaan dicatat. Dokumen dikirim setelah persetujuan tertulis.

Dimas membaca pesan itu lama. Ternyata itulah bentuk hubungan yang tersisa.

Ia menyimpan ponsel, lalu tertawa pendek tanpa suara. Selama ini Naira selalu berada satu pintu darinya. Dapur, kamar, ruang kerja, rumah sakit. Ia tinggal memanggil dan Naira datang.

Sekarang bahkan riwayat obatnya harus melewati persetujuan tertulis.

Dan yang paling menyakitkan, ia tahu aturan itu benar.

Sangat benar. Dan sangat terlambat.

1
say't
busyet nih clara sdh tdr sm siapa ja y 🤪 kok berani skl
Sumiyatun Martoyo
iya. ini sudah dilewati
say't
kalo aq jd naira aq racun ni 3 org menjijikkn 🤪
Tuti irfan
seru cerita nya , ak suka ceritanya TDK melulu tentang romansa Ceo penuh intrik dan misteri 😍😍👍👍👍
Katherina Ajawaila
mending pakai topeng langsung aja Dimas, cabut 5 hurup
Katherina Ajawaila
makin seru aja thour, cara dan ibunya sama ja penjahat berkedok mana ada ibu mau membunuh anak nya sendiri. dasar pelakor ngk mutu
Debbie Teguh
seru banget!
Katherina Ajawaila
Clara kamu itu ibarat anak ayam yg BB aru netes jgn sombong di pites juga modar. Dimas mau di andalan, Domas aja parasit yg ngumpet di kaki rok Naira 🫣
Katherina Ajawaila
maka nya jd Suami harus bisa adil kalau sdh brani melangkah kedepan, dasar nya aja kere, mau sombong kacang lupa kulit nya, kalau smua di tarik sm Naira, jadi apa parasit
Katherina Ajawaila
kere tapi belagu, biasa parasit
Ken L
kenapa cerita diulang2 ya...supaya kelihatan isi bab ceritanya penuh?
Abie Mas
raka love naira
Heni Setiyaningsih
heran ya,pemili perusahaan kok gk mau beli rumah sendiri,gk malu apa numpang dirumah calon mantan istri 🤭
Wahyu Kasep
jalan ceritanya bagus menarik tegang tapi sepi pembaca gak ada yang komentar
Nengs
bagus cerita wlpun harus benar2 paham
yuqana
bagus banget novelnya 😍😍😍🥰🥰🥰
Dewa Nara
astagaaaaa... pengulangan lagiiiii
Dewa Nara
kok ada pengulangan lagi 🤭
Dewa Nara
ada pengulangan alinea Thor
Dewa Nara
wah ceritanya bukan hanya masalah rumah tangga nih 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!