Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mari Bercerai
Edward keluar dari kamar dengan langkah tertatih dan pikiran yang kacau. Begitu menyadari Edward telah pergi, Yoselin langsung bergegas turun dari tempat tidur dengan sisa tenaganya, merayap menuju pintu, dan menguncinya rapat-rapat dari dalam.
Ctek.
Suara kait kunci yang berputar nyaring membuat Edward yang masih berdiri di depan pintu tersentak kaget. Pria itu menyandarkan punggungnya di dinding dingin luar kamar, menatap kedua tangannya sendiri dengan napas memburu. Penyesalan yang luar biasa dahsyat mendadak menghantam dadanya. Ia baru saja melakukan kekerasan fisik pada Yoselin, wanita yang selama dua tahun ini selalu bersikap lembut, perhatian, penurut, dan sabar menghadapinya.
"Brengsek! Bodoh kamu, Edward!" maki Edward pada dirinya sendiri, mengusap wajahnya yang pucat dengan gusar.
Sementara di dalam kamar, Yoselin terduduk bersandar pada pintu kayu yang terkunci. Hatinya tidak hanya retak, tetapi telah hancur menjadi serpihan tak berbentuk. Di tengah kesendirian dan napasnya yang masih sesak, tekad Yoselin kini bulat sempurna. Besok, ia akan mengurus surat perceraian. Hidup bersama Edward hanya memberinya penderitaan yang nyaris merenggut nyawanya, mulai dari pengabaian, tuduhan keji, penghinaan, hingga kekerasan fisik.
Keesokan harinya, Yoselin melangkah keluar kamar dengan raut wajah yang tampak biasa saja, seolah tragedi mengerikan semalam tidak pernah terjadi. Namun nyatanya, jiwa dan raganya telah remuk redam.
Pagi ini, Yoselin sudah tampil rapi dengan pakaian kerjanya. Ia sengaja memilih atasan bernuansa butter yellow berkerah tinggi (turtleneck) guna menyamarkan bekas cekikan lebam yang melingkar di leher mulusnya, dipadukan dengan rok putih sepanjang lutut. Pipi dan matanya yang bengkak akibat tamparan keras Edward telah disamarkan dengan makeup tebal, meski luka di sudut bibirnya masih menyisakan rasa perih yang nyata.
Di ruang tamu lantai satu, Edward yang tidak tidur semalaman terduduk di sofa. Begitu mendengar ketukan sepatu hak tinggi Yoselin menuruni anak tangga, Edward refleks bangkit berdiri.
"Yoselin..." panggil Edward lirih, melangkah mendekat.
Mendengar suara itu, langkah Yoselin seketika terhenti. Secara refleks, tubuhnya mundur beberapa langkah dengan pancaran raut wajah ketakutan yang teramat sangat.
Melihat reaksi trauma wanita itu, langkah Edward mendadak terkunci di tempat. Dadanya makin berdenyut nyeri.
"Yoselin, tolong... dengarkan aku dulu," mohon Edward dengan suara bergetar yang amat serak.
"Aku minta maaf... Aku benar-benar minta maaf atas kejadian semalam. Aku kalap, aku tidak sadar telah melakukan hal sejauh itu padamu..."
Yoselin menatap tajam pria di hadapannya. Rasa takut yang sempat muncul kini berganti menjadi nyala emosi yang tak tertahankan lagi.
"Tidak sadar?" potong Yoselin dengan nada sinis dan suara yang bergetar menahan amarah.
"Kamu sadar sepenuhnya saat memaki, menampar, dan mencekikku semalam, Edward! Sebenarnya apa salahku padamu?! Apa dosa besar yang kubuat sampai kamu tega memperlakukanku seperti binatang?!"
Edward mengusap tengkuknya yang kaku. "Aku marah karena kamu tidak pulang! Pria di telepon itu bilang kamu—"
"Lalu kalau aku bersama pria lain, kenapa kamu harus semarah itu?!" teriak Yoselin, meluapkan seluruh gumpalan kekecewaan yang dipendamnya selama dua tahun.
"Atas dasar apa kamu berhak marah padaku?! Apa aku pernah menuntut kasih sayang darimu? Apa aku pernah memaki atau mengamuk saat melihatmu berduaan dan berciuman mesra dengan Angela?! Tidak pernah, Edward!"
Edward terpaku mendengarnya, lidahnya mendadak kelu.
"Selama dua tahun ini aku selalu diam!" lanjut Yoselin dengan napas memburu, air mata kemarahan tergenang di pelupuk matanya.
"Aku menahan semua rasa sakit itu sendirian di rumah ini! Tapi kamu... kamu justru menuduhku sebagai wanita murahan hanya karena aku mencoba melanjutkan hidupku!"
"Yoselin, bukan begitu maksudku—"
"Cukup, Edward. Kita bercerai saja!" potong Yoselin tegas dan dingin, menyuarakan keputusan akhirnya tanpa keraguan.
Bagai dihantam petir, raut wajah Edward seketika berubah pasi. "Apa?! Cerai?! No! Aku tidak akan pernah menyetujui perceraian ini!"
"Aku tidak minta persetujuan mu," balas Yoselin datar.
"Aku yang akan mengurus seluruh berkasnya ke pengadilan. Kamu hanya perlu duduk manis dan menunggu surat panggilannya datang. Bukankah ini yang kamu mau? Kamu bisa bebas sepenuhnya dan bahagia bersama Angela tanpa perlu berpura-pura menganggap ku ada."
Yoselin melangkah hendak melewati Edward, namun Edward dengan cepat bergeser memblokir jalannya.
"Aku tidak mau cerai, Yoselin!" cegah Edward dengan nada panik dan menuntut.
"Aku tahu aku salah semalam, tapi kita bisa bicarakan ini baik-baik! Jangan mengambil keputusan emosional seperti ini!"
Yoselin menyunggingkan senyum masam yang penuh kepahitan. "Keputusan emosional? Ini adalah keputusan paling rasional yang pernah kuambil sepanjang hidupku. Untuk apa bertahan dalam pernikahan fiktif ini? Aku tidak akan menuntut harta gono-gini atau kompensasi apa pun darimu. Lagipula, selama dua tahun menikah, aku memang tidak pernah mendapatkan hak finansial atau nafkah batin dari seorang suami."
Dahi Edward bertaut rapat, keningnya berkerut penuh kebingungan mendengar kalimat terakhir Yoselin.
"Apa maksudmu tidak pernah mendapatkan hak finansial? Aku menanggung semua kebutuhan rumah ini!"
"Kebutuhan rumah, bukan kebutuhan pribadiku!" tekan Yoselin dengan tatapan menusuk.
"Kamu tidak pernah memberiku uang bulanan atau sepeser pun untuk diriku sendiri. Selama ini aku hidup dan membeli pakaianku dari gajiku sendiri sebagai pekerja! Kamu hanya menganggap ku penumpang gratis di rumahmu!"
Edward membeku di tempatnya. Logikanya yang selama ini acuh tak acuh mendadak dihantam kenyataan kelam yang baru ia sadari.
"Kamu pikir kamu bisa menolak perceraian ini?" tanya Yoselin sinis, melihat keheningan Edward.
"Semua bukti sudah sangat jelas. Pengabaian selama dua tahun, tidak memberikan nafkah lahir batin, tuduhan tidak berdasar, dan bukti KDRT semalam... Pihak pengadilan tidak akan berpikir dua kali untuk langsung mengabulkan gugatan ku."
"Yoselin, aku mohon..." Edward merendahkan suaranya, memegang kedua bahu Yoselin dengan jemari yang gemetar, menatap istrinya dengan pandangan memohon yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Beri aku satu kesempatan lagi. Tolong... jangan pergi."
Yoselin menepis kedua tangan Edward dengan dingin dan tanpa ragu. Ditatapnya wajah suami yang pernah menjadi pusat dunianya itu dengan pandangan yang kini benar-benar hampa.
"Kesempatanku untukmu sudah habis sejak semalam, Edward," ucap Yoselin halus namun teramat telak.
"Selamat tinggal."
Tanpa memedulikan Edward yang memanggil namanya berulang kali, Yoselin melangkah lebar keluar dari rumah besar itu. Ia memasuki mobilnya dan menancap gas, meninggalkan Edward yang berdiri terpaku sendirian di ambang pintu dalam cengkeraman penyesalan yang terlambat.
Bersambung...
Bagaimana kelanjutan kisah Yoselin dan Edward? Apakah Edward akan mencoba menahan gugatan cerai tersebut atau justru Javier yang akan makin gencar mendekati Yoselin? Menurut kalian gimana guys?.