NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Putri Mahkota

Transmigrasi Ke Tubuh Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Time Travel / Fantasi
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐

Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.

Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 4: Aku, calon Putri Mahkota

Rasa sesak yang menghantam dada Shen Yue modern terasa begitu nyata. Napasnya terengah-engah, memburu dan dangkal.

Sensasi dingin porselen lantai memeluk pipinya, sementara bau dupa kayu cendana yang tajam menggantikan aroma keringat dan minyak pelumas pedang dari arena latihannya di dunia modern.

"Di mana ini? Ini bukan gym tempatku latihan..." batin Shen Yue kilat. Insting petarung yang sudah terlatih bertahun-tahun langsung membuat otaknya bekerja dalam mode siaga penuh.

Jemari lentiknya yang terbalut kain sutra tebal mencengkeram lantai kayu yang keras. Dengan gerakan yang begitu cepat, luwes, dan efisien, dan sama sekali tidak mencerminkan fisik seorang gadis yang baru saja pingsan, Shen Yue mendorong tubuhnya untuk bangkit secara mendadak.

Sreet!

Gaun mewahnya yang berlapis-lapis mengembang dan berkibar seiring tubuhnya berdiri tegak.

Ia menarik napas dalam-dalam, dan mengabaikan rasa perih pada rusuknya akibat korset ketat yang membelenggu tubuh ini. Matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan dalam hitungan detik.

Lentera emas. Pilar kayu mahoni raksasa. Orang-orang berseragam jubah kuno. Dan bau persaingan yang pekat di udara.

Memori asing mendadak menyengat otaknya bagai ribuan jarum yang halus. Dalam kilatan detik, seluruh kenangan pemilik tubuh asli membanjiri benaknya: nama yang sama, Shen Yue, usia 20 tahun, putri sulung Jenderal Shen Longwei yang ditindas, diabaikan, dan disiksa secara halus oleh ibu tirinya, Jiang Xiuwei. Serta pria berjubah naga emas di depan sana, Zhao Xiao, Putra Mahkota yang menganggapnya tak lebih dari barang dagangan politik.

"Transmigrasi? Ke dalam tubuh gadis lemah yang dijadikan umpan istana?" Shen Yue menyeringai tipis di dalam hati. Menarik. Sangat menarik.

Semua orang di Balai Utama membeku.

Jenderal Shen Longwei yang tadi baru saja melangkah hendak memeriksa keadaan putrinya langsung menghentikan langkah kakinya. Tangan mewahnya yang memegang gagang pedang di pinggang menegang.

Jiang Xiuwei yang tadinya masih berpura-pura mengusap air mata dengan sapu tangan sutra langsung menganga kecil. Matanya membelalak tak percaya. Gadis di depannya ini... bukan lagi Shen Yue yang penakut dan selalu menundukkan kepala.

"Yue-er..." gumam Shen Longwei bingung. "Kau... kau sudah sadar?"

Shen Yue tidak langsung menjawab. Ia memperbaiki posisi berdirinya. Bahunya tegap, dagunya terangkat sedikit, dan postur tubuhnya memancarkan keseimbangan sempurna khas seorang praktisi bela diri profesional.

Tidak ada lagi sisa-sisa sikap bungkuk dan gemetar yang selama ini melingkupi sosok putri sulung jenderal tersebut.

Pandangannya perlahan bergulir, dan berhenti tepat pada sosok pria yang duduk di meja kehormatan.

Zhao Xiao masih memegang cangkir gioknya, namun gerakannya terhenti pertengahan jalan menuju bibir. Untuk pertama kalinya sejak ia melangkah masuk ke Kediaman Shen malam ini, alisnya bertaut.

Mata hitam kelam sang Putra Mahkota beradu secara langsung dengan sepasang mata Shen Yue.

Dulu, mata Shen Yue adalah danau tenang yang mati, pasrah dan penuh ketakutan. Namun kini, di balik riasan tebal dan perona merah itu, mata Shen Yue tampak bagaikan sebilah pedang yang baru saja dihunus dari sarungnya: berkilau, dingin, tajam, dan penuh ancaman yang tak terucapkan.

"Yang Mulia Putra Mahkota," suara Shen Yue mengudara. Suaranya tidak lagi bergetar melengking seperti bisikan anak kecil yang ketakutan.

Nada bicaranya tenang, jernih, dan mengandung ketegasan yang tak bisa dibantah. "Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang disebabkan oleh fisik tubuh ini."

Jiang Xiuwei langsung tersadar dari syoknya. Wajah wanita itu mengeras saat melihat betapa tidak sopannya Shen Yue yang berdiri tegak tanpa meminta izin terlebih dahulu, apalagi berbicara langsung pada Putra Mahkota tanpa menundukkan kepala.

"Shen Yue! Berani-beraninya kau!" bentak Jiang Xiuwei dengan nada tertahan namun penuh racun. "Di hadapan Yang Mulia Putra Mahkota dan Ayahmu, kau tidak langsung berlutut meminta maaf atas kelakuanmu yang merusak sesi penjamuan ini? Manakala tata kramamu sebagai putri klan Shen?!"

Shen Yue menoleh lambat ke arah Jiang Xiuwei. Tatapan matanya membuat wanita paruh baya itu mendadak merinding, sebuah tatapan pemangsa yang sedang menilai kelemahan mangsanya.

"Tata krama, Ibu Tiri?" ulang Shen Yue dengan penekanan dingin pada kata Ibu Tiri.

Ia lalu melangkah satu tindak ke depan. Gerakannya begitu tenang dan anggun, namun setiap langkahnya memancarkan aura tekanan fisik yang kuat.

"Jika kita bicara soal tata krama," lanjut Shen Yue sambil memiringkan kepalanya sedikit, "apakah pantas seorang ibu rumah tangga membiarkan putri sulung kediaman ini mengenakan korset yang diikat terlalu kencang hingga menghambat sirkulasi udara dan menyebabkan pingsan di depan tamu kehormatan? Apakah ini bentuk kepatuhanmu pada Ayah... atau bentuk sabotase terselubung untuk mempermalukan Kediaman Shen di mata Yang Mulia?"

Peng!

Cangkir di tangan Jiang Xiuwei hampir saja terlepas. Wajah wanita itu berubah dari merah padam menjadi pucat pasi.

Ia tidak pernah menyangka gadis penurut yang biasa disiksanya tanpa perlawanan ini bisa membalikkan tuduhan secara terang-terangan dan tajam di depan Jenderal Shen dan Putra Mahkota!

"Kau... kau bicara omong kosong apa?!" suara Jiang Xiuwei meninggi, dan panik. "Aku menyiapkan pakaian terbaik untukmu demi kehormatan keluarga!"

"Pakaian terbaik yang menyiksa?" Shen Yue meraih pinggiran gaun sutranya, lalu dengan gerakan jemari yang cepat dan efisien, ia menyentuh simpul korset di pinggang belakangnya.

Tanpa ragu sedikit pun, ia menarik tali pengekang itu hingga terlepas dengan satu hentakan tajam.

Sret!

Tali korset itu putus. Shen Yue menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan paru-parunya terisi udara segar secara penuh. Dadanya kini berembus lancar, dan binar matanya semakin tajam.

Tindakan itu sangat tidak lazim bagi seorang wanita bangsawan di era ini, memutus tali pakaian di depan publik!

Namun cara Shen Yue melakukannya begitu percaya diri dan tanpa rasa malu sedikit pun, hingga tindakan itu tidak terlihat murah, melainkan sebuah pernyataan dominasi.

Jenderal Shen Longwei tertegun. Matanya yang berpengalaman dalam pertempuran langsung menangkap perubahan mikro pada diri putrinya.

Gerakan tangan Shen Yue saat memutus tali tadi... itu bukan gerakan wanita biasa. Itu adalah ketangkasan jemari seorang petarung yang terbiasa memegang senjata dan mengeksekusi gerakan dalam hitungan detik.

"Yue-er..." Shen Longwei melangkah mendekat, matanya memicing curiga sekaligus heran. "Kau... dari mana kau belajar bersikap seperti ini?"

Shen Yue membalikkan badan dan menghadap ayahnya. Ia memberikan penghormatan militer singkat, sebuah tekukan lutut yang kokoh dengan punggung lurus dan tangan mengepal di samping dada, bukannya pembungkukan pasrah khas wanita istana.

"Ayah," ujar Shen Yue. "Selama ini aku diam karena menghormati posisi Ayah dan menjaga kedamaian rumah ini. Tapi jika kelemahanku hanya dijadikan alat untuk dijual kepada pihak lain demi ambisi orang-orang tertentu... maka mulai malam ini, aku tidak akan diam lagi."

Kata-kata itu bagaikan petir di siang bolong yang menyambar Balai Utama.

Jiang Xiuwei gemetar hebat karena marah dan takut, sementara para pelayan di belakangnya tunduk ketakutan, dan tak berani mendongak sedikit pun.

Sementara itu di meja utama, Zhao Xiao perlahan meletakkan cangkir gioknya kembali ke meja. Kali ini, tatapan matanya tidak lagi dingin dan acuh tak acuh. Binar ketertarikan yang gelap berkedip di balik kelopak matanya.

Putra Mahkota itu kemudian berdiri dari duduknya. Jubah naga mewahnya menyapu lantai saat ia melangkah perlahan mendekati Shen Yue.

Setiap langkah Zhao Xiao membawa tekanan aura seorang penguasa tertinggi, namun Shen Yue tidak bergeming sedikit pun. Ia hanya berdiri tegap, dan menatap lurus ke dalam mata sang Putra Mahkota yang berdiri hanya berjarak dua langkah di depannya.

Zhao Xiao menatap wajah cantik di depannya. Riasan tebal itu kini terlihat berantakan akibat peluh dan kebiasaan Shen Yue yang menyapu wajahnya dengan kasar, namun keindahan alaminya justru makin terpancar.

Yang paling menyita perhatian Zhao Xiao bukanlah parasnya... melainkan api keberanian yang berkobar di balik mata itu.

"Menarik," suara Zhao Xiao rendah namun terdengar halus. "Seingatku, laporan yang diterimaku menyebutkan bahwa putri sulung Jenderal Shen adalah gadis yang penakut, tidak berdaya, dan selalu menangis di pojok kamar."

Zhao Xiao memiringkan kepalanya, seraya menyipitkan mata bagai elang yang sedang mengamati mangsa baru yang tiba-tiba menumbuhkan taring.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Zhao Xiao pelan, sebuah pertanyaan penuh intrik yang langsung menusuk ke inti perubahan Shen Yue.

Shen Yue menyunggingkan senyuman tipis, sebuah senyuman yang penuh percaya diri, tajam, dan penuh tantangan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di kediaman ini sebelumnya.

"Aku adalah calon Putri Mahkota yang tidak akan pernah bisa kau jadikan sekadar barang jual beli, Yang Mulia," jawab Shen Yue tanpa kedipan mata.

Bersambung...

1
Dewi Habibah
😍😍😍
Dewi Habibah
bagus ceritanya
Dewi Habibah
lagi donk😍
Aurora: Siap... othor up besok ya... 🤗
total 1 replies
merry
gpp si lkimu agk pengecut dan buta gk tau mn tipu muslihat,, asal ceraikan selir jgn ambil selir ckp satu istri sah ajjj🤭🤭🤭🤭
Aurora: di jamannya punya istri banyak itu sudah biasa, apalagi keluarga kerajaan 😅🤭
total 1 replies
merry
jgn smpai kmu ksh kesucian kmu putri gk ikls wlpun hak mslhnya lkimu pyn bini muda,,, 🤭🤭🤭🤭licik lggg
merry
moga cerai lh sm suami mu yg pengecut bodoh itu 🤭🤭🤭🤭
merry
penghianat ap cb bos kau ajj nikh istri mu sexgus nkhin kekasih gelapmu,, mls dech sm kmu atrnn she Yue nkh sm kakak mu itu
merry
tumis rebung enk bgtt ap lg yg ada ruas ya itu 🤭🤭🤣🤣
Aurora: bener, renyah n lembut...🤗
total 1 replies
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
aku lanjut baca lagi nanti . Kren k👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!