NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kapten Basket Vs Kapten Futsal 11.

Kantin sekolah siang itu sepadat biasanya, dipenuhi aroma soto ayam dan dengung obrolan ratusan murid.

Di meja pojok dekat stan es jeruk, Dafa sedang tertawa bersama anak-anak tim basketnya. Suasana hatinya sedang sangat bagus sejak obrolannya dengan Kinar kemarin.

Namun, tawa Dafa terputus saat sebuah bayangan tinggi mendadak menutupi cahaya lampu di atas mejanya.

Azril berdiri di sana. Jaket flanel hitamnya dibiarkan terbuka, menampilkan kaus OSIS yang melekat pas di tubuh tegapnya.

Kapten tim futsal itu tidak membawa mangkuk atau gelas. Dia hanya membawa sepasang mata yang menyalang dingin.

Meja yang tadinya bising mendadak senyap. Anak-anak basket yang duduk di sekitar Dafa mulai saling lirik, merasakan aura konfrontasi yang pekat.

"Dafa. Ikut gue bentar," suara Azril berat, rendah, dan penuh penekanan.

Dafa menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi plastik. Dia mendongak, menatap Azril dengan alis terangkat sebelah. Gestur santainya justru terlihat sangat memprovokasi. "Gue lagi makan, Zril. Kalau mau ngomongin jadwal pemakaian lapangan bersama, entar sore aja pas latihan."

"Ini bukan soal lapangan," Azril maju satu langkah. Tangannya bertumpu di ujung meja, sedikit mencondongkan badannya ke arah Dafa. "Ini soal sikap lo kemarin di lapangan."

Dafa menghentikan kunyahannya. Dia tahu persis arah pembicaraan ini.

Dafa meletakkan sendoknya dengan denting yang agak keras di atas mangkuk. "Oh. Soal Lilis?" Dafa terkekeh pelan, menggelengkan kepala. "Zril, kalau wanita kesayangan lo itu baperan karena masalah salah tembak kemarin, mending lo kasih tahu dia buat nggak usah drama. Gue udah beresin salah pahamnya sama Kinar."

Brak!

Azril menggebrak meja. Gelas es teh manis milik Dafa berguncang, airnya menciprat ke permukaan meja kayu.

"Mulut lo dijaga, brengsek," desis Azril, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya mencuat jelas. "Gue nggak peduli urusan lo sama Kinar. Tapi cara lo natap Lilis kemarin, seolah dia itu cewek murahan yang ngemis perhatian lo? Itu yang bikin gue muak."

Dafa langsung berdiri. Tinggi mereka setara, membuat ketegangan di antara kapten basket dan kapten futsal ini langsung menjadi pusat perhatian seisi kantin. Beberapa murid di meja lain mulai berbisik, bahkan ada yang sengaja berdiri untuk menonton.

"Gue nggak pernah bilang dia murahan," kata Dafa, suaranya tajam menantang. "Tapi kalau dia sengaja gandeng lo di depan gue cuma buat manas-manasin, itu namanya kekanak-kanakan, Zril. Dan gue nggak punya waktu buat ngeladenin taktik murahan kayak gitu."

"Dia nggak manas-manasin lo! Dia cuma bingung karena rumor sialan yang teman lo sebar!" Azril mencengkeram kerah seragam Dafa. Buku-buku jarinya memutih.

Anak-anak tim basket Dafa langsung berdiri, bersiap maju. Dari sudut lain kantin, anak-anak futsal yang melihat kapten mereka beraksi juga mulai merangsek mendekat. Situasi siap meledak kapan saja.

Tepat sebelum pukulan pertama Azril melayang, sebuah siluet bertubuh lebih kecil menerobos kerumunan murid.

Lilis muncul dengan napas terengah-engah. Wajahnya pias. Dia baru saja mendapat kabar dari temannya bahwa Azril mendatangi Dafa di kantin. Melihat tangan Azril yang sudah siap menghantam wajah Dafa, adrenalin Lilis berpacu maksimal.

Bukannya menahan Azril, Lilis justru melakukan hal yang tak terduga.

Gadis itu merangsek maju, merenggut kerah baju Dafa dari sisi lain dengan kedua tangan kecilnya, memaksa Dafa sedikit menunduk ke arahnya, sekaligus memutus jarak intim konfrontasi antara Dafa dan Azril.

"Zril, lepasin dia! Biar gue yang ngomong!" bentak Lilis pada Azril tanpa menoleh. Suaranya bergetar, tapi penuh otoritas yang membuat Azril tertegun dan perlahan melepaskan cengkeramannya dari Dafa.

Kini, fokus sepenuhnya beralih ke Lilis yang masih mencengkeram kerah baju Dafa.

Dafa membeku, menatap Lilis yang jaraknya hanya beberapa puluh sentimeter di depannya. Dia bisa melihat mata Lilis yang berkaca-kaca, bukan karena cengeng, melainkan karena gabungan rasa malu, panik, dan bersalah yang luar biasa.

"Daf, dengerin gue," kata Lilis. Suaranya melunak, tidak ada lagi nada ketus atau galak yang biasanya dia gunakan sehari-hari saat berpapasan dengan Dafa. "Gue minta maaf. Sumpah, gue minta maaf atas semua kejadian kemarin."

Dafa masih terlalu terkejut untuk merespons. Kerah bajunya terasa agak ketat karena tarikan Lilis, tapi dia tidak mencoba melepaskannya.

"Semua ini murni ulah gue yang bego," lanjut Lilis, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Dafa, menolak untuk terlihat lemah meskipun suaranya bergetar. "Kemarin di koridor... gue sengaja gandeng Azril karena gue kesel. Gue kesel karena lo bikin nama gue keseret-seret di gosip satu sekolah gara-gara insiden salah tembak itu. Gue ngerasa harga diri gue diinjek-injek karena semua orang mikir gue kecentilan sama lo. Jadi gue pengen lo ngerasa risih juga. Gue pengen balas dendam secara kekanak-kanakan."

Lilis sengaja menelan fakta bahwa di balik rasa kesalnya, ada rasa cemburu yang teramat dalam saat tahu Dafa sebenarnya ingin menembak Kinar. Dia mengubur perasaan itu dalam-dalam di dasar hatinya.

Pikirannya tahu, mengakui kecemburuan di sini hanya akan membuat dirinya terlihat semakin menyedihkan.

"Azril nggak tahu apa-apa. Dia cuma cowok baik yang kebetulan ada di sana dan mau gue manfaatin. Dia belain gue sekarang karena dia pikir gue disakitin," Lilis menarik napas dalam, meredakan gemuruh di dadanya. Perlahan, cengkeramannya di kerah baju Dafa melonggar, lalu tangannya jatuh lemas di sisi tubuhnya. "Jadi, jangan berantem. Ini salah gue. Gue yang minta maaf."

Kantin mendadak sunyi senyap.

Penjelasan Lilis yang jujur, blak-blakan, dan tanpa pembelaan diri itu meruntuhkan seluruh ketegangan makro di ruangan tersebut.

Azril yang berdiri di belakang Lilis hanya bisa terdiam.

Rahangnya yang tadi mengeras perlahan melunak. Ada rasa kecewa yang samar di matanya karena menyadari dia hanyalah 'alat', namun ada juga rasa hormat melihat bagaimana Lilis berani pasang badan untuk menghentikan kekacauan yang dia mulai.

Sementara itu, Dafa terpaku di tempatnya berdiri.

Dia menatap Lilis dengan pandangan yang sama sekali baru. Selama ini, di mata Dafa, Lilis hanyalah cewek galak kelas sebelah yang hobi sewot, bermulut tajam, dan selalu mencari gara-gara dengannya.

Namun sekarang, melihat Lilis yang berdiri di depannya dengan bahu yang agak turun, meminta maaf dengan tulus tanpa menyembunyikan kesalahannya, Dafa merasakan sesuatu yang aneh berdesir di dadanya.

Raut wajah Lilis yang biasanya penuh pertahanan kini terlihat begitu rapuh, namun di saat yang sama, sangat berani.

Sisi galak yang biasa menyelimuti cewek itu seolah menguap, menyisakan kelembutan tulus yang belum pernah Dafa lihat sebelumnya.

Tindakan Lilis menarik kerah bajunya tadi—bukan untuk memukul, melainkan untuk menghentikan baku hantam—terasa begitu nyata dan dewasa di mata Dafa.

"Lis..." Dafa bergumam pelan, suaranya kehilangan seluruh keangkuhan kapten basket yang biasanya melekat.

Lilis tidak menunggu jawaban Dafa. Dia berbalik, meraih pergelangan tangan Azril. "Yuk, Zril. Kita balik ke perpus. Udah selesai."

Azril sempat melirik Dafa sekali lagi—kali ini tanpa amarah, hanya sebuah tatapan peringatan antar lelaki—sebelum akhirnya ia membiarkan dirinya dituntun oleh Lilis membelah kerumunan murid yang perlahan membubarkan diri.

Dafa tetap bergeming di posisinya, menatap punggung Lilis yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu kantin.

Tangannya perlahan meraba kerah seragamnya yang sedikit kusut bekas tarikan tangan Lilis.

Entah kenapa, Dafa merasa ada sesuatu yang bergeser dalam caranya memandang cewek itu, dan itu membuatnya mendadak merasa tidak tenang.

......................

...****************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!