Siapa sangka, Sindi Permata gadis cantik anak miliarder yang penampilannya selalu anggun dan kelihatan lemah lembut ternyata punya sisi gelap yang bikin bulu kuduk merinding. Sindi adalah Ratu Mafia yang memimpin dunia hitam dengan tangan besi. Nggak ada yang berani macam-macam sama dia.
Tapi, sehebat-hebatnya Sindi menaklukan dunia luar, dia akhirnya takluk juga pasrah waktu disuruh nikah paksa sama papanya.
Suaminya adalah Mike Sanjaya, dokter muda jenius yang terkenal dingin, kaku, dan judesnya minta ampun. Masalahnya bukan cuma sifat Mike yang kayak es batu, tapi cowok itu udah punya pacar kesayangan: Putri Adisti, seorang perawat manis yang selama ini jadi ratu di hati Mike, begitu resmi jadi suami-istri, Mike langsung pasang tembok tinggi. Dia terang-terangan nunjukkin kalau pernikahan mereka cuma formalitas dan nggak ada tempat buat Sindi di hatinya. Mike bahkan masih sering nemenin dan merhatiin Putri adisti.
akankah pernikahan mereka bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34 Ratu mafia istri dokter dingin
Seluruh ruangan mendadak gelap gulita. Musik berhenti total, disusul oleh jeritan kencang dari para tamu sosialita yang dilanda kepanikan massal di dalam ruangan tertutup.
Mike yang masih berdiri terpaku di dekat pilar langsung menegang kaku, sementara Sindi di seberang ruangan langsung menyipitkan mata tajamnya di dalam kegelapan.
Kepanikan massal sempat melanda seisi ballroom hotel mewah itu tatkala lampu utama mendadak padam total, menyisakan kegelapan pekat yang dibarengi jeritan histeris dari para sosialita dan tamu undangan.
Namun, kekacauan itu tidak berlangsung lama. Hanya dalam hitungan detik, sistem generator cadangan hotel langsung mengambil alih, membuat lampu-lampu kristal kembali menyala terang benderang menerangi ruangan.
Para tamu mulai menghela napas lega, saling berbisik heran atas insiden pemadaman listrik yang tiba-tiba tersebut.
Di sudut ruangan tempat Mike tadi meninggalkan Putri, wanita itu tampak berdiri termenung dengan wajah kesal dan air mata frustrasi yang tertahan.
Namun, Mike sudah tidak mempedulikannya lagi. Begitu lampu menyala kembali, pandangan mata Mike langsung mencari-cari sosok istrinya.
Dengan langkah cepat, Mike menerobos kerumunan tamu yang masih berkerumun, berjalan lurus menuju meja lounge tempat Sindi berdiri tenang.
"Sindi," panggil Mike dengan napas agak terengah, berdiri tepat di hadapan istrinya.
"Kejadian tadi pasti ulah orang-orang iseng. Pesta ini sudah tidak aman. Ayo kita pulang sekarang."
Sindi, yang tadinya menatap lurus ke arah pintu keluar utama dengan sorot mata yang luar biasa waspada, perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Mike. Ia merapikan sedikit lipatan gaun merah delimanya, lalu mengangguk kecil.
"Baiklah, Mas. Mari kita pulang," jawab Sindi tenang, tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun.
Mike mengulurkan tangannya secara refleks, merangkul pelan lengan Sindi untuk membimbing wanita itu berjalan keluar dari aula menuju area lobi hotel.
Di belakang mereka, Putri yang melihat Mike justru merangkul dan membawa Sindi pergi meninggalkannya seorang diri makin mengeratkan giginya, mengepalkan tangan menahan amarah yang hampir meledak.
Namun, baru saja langkah kaki Mike dan Sindi melewati pintu kaca besar utama lobi hotel dan menginjakkan kaki di area pelataran drop-off...
DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan beruntun yang sangat memekakkan telinga mendadak memecah keheningan malam!
Peluru-peluru panas melesat memecah kaca mobil-mobil mewah yang terparkir di depan lobi, menciptakan percikan api dan serpihan kaca yang berserakan di mana-mana.
Para pengawal hotel dan tamu undangan langsung berteriak histeris, tiarap, dan berlarian menyelamatkan diri kembali ke dalam gedung.
"Tiaraaaap!" teriak Mike panik, matanya membelalak lebar melihat situasi yang mendadak berubah menjadi medan perang.
Tanpa sempat berpikir panjang demi keselamatannya sendiri, Sindi menunjukkan refleks tubuh tingkat tinggi yang jauh melampaui kemampuan wanita biasa.
Sebelum peluru musuh sempat mengarah ke tubuh mereka, Sindi melompat menerjang Mike mendorong tubuh suaminya itu kuat-kuat hingga tersungkur jatuh ke balik pilar beton pelataran lobi yang kokoh.
Bugh!
"Ugh!" ringis Mike saat tubuhnya menghantam lantai beton, mendekap erat Sindi yang kini berada di atas tubuhnya untuk melindunginya.
"Sindi! Kamu gila ya?! Kenapa malah mendorong aku?!" teriak Mike panik, mengira istrinya bertindak bodoh akibat ketakutan.
Sindi sama sekali tidak menjawab bentakan Mike. Wajah cantiknya berubah menjadi luar biasa dingin dan menakutkan, matanya menyalang tajam menembus kegelapan malam ke arah deretan semak-semak dan atap gedung seberang jalan tempat kilatan moncong senjata api musuh berasal.
Ternyata tikus-tikus Red Dragon itu nekat menyerangku di tempat umum, batin Sindi geram.
"Danu!" panggil Sindi dengan suara lantang yang tegas di tengah suara tembakan.
"Siap, Nona!" sahut sebuah suara berat dari balik pilar di sisi seberang lobi.
Danu, yang sejak tadi berdiri siaga menyamar sebagai salah satu pengawal tamu, langsung bergerak secepat kilat.
Ia merogoh balik jasnya, menarik keluar dua pucuk pistol semi-otomatis berperedam, lalu melesat keluar dari perlindungan menuju area terbuka tanpa ragu sedikit pun.
Aksi Danu malam itu benar-benar membabi buta dan mengerikan. Dengan gerakan akrobatik yang presisi, Danu melompat menghindari terjangan peluru, lalu membalas menembak ke arah titik-titik persembunyian para penembak jitu musuh di atap seberang.
DOR! DOR! DOR!
Dua orang penembak jitu Red Dragon yang bersembunyi di atas gedung langsung jatuh terpental jatuh ke tanah akibat terjangan timah panas yang tepat sasaran.
Sisa anak buah musuh yang melihat keganasan Danu mulai kocar-kacir, menyadari bahwa target yang mereka hadapi bukanlah orang sembarangan.
"Keluar kalian pengecut! Beraninya menyerang dari tempat gelap!" murka Danu sambil terus memberondongkan tembakan ke arah mobil jip musuh yang mulai tancap gas kabur terbirit-birit meninggalkan lokasi.
Suasana di pelataran lobi hotel perlahan kembali sunyi, menyisakan bau belerang mesiu dan isak tangis ketakutan dari beberapa tamu yang masih tiarap di lantai.
Mike yang masih mendekap Sindi di balik pilar beton merasakan seluruh darahnya berdesir hebat.
Jantungnya berdegup kencang bukan hanya karena terkejut oleh serangan penembakan misterius tadi, melainkan karena pemandangan nyata yang baru saja ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.
Ia melihat bagaimana istrinya—Sindi—memiliki refleks pertahanan diri yang sangat sempurna, dan bagaimana pengawal pribadi sindi (Danu) bertarung menghadapi selusin penembak jitu dengan keahlian militer tingkat tinggi layaknya seorang pembunuh bayaran profesional.
Mike menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering.
Pria itu menatap wajah Sindi yang kini berada sangat dekat di atasnya, mendapati sorot mata dingin tanpa rasa takut sedikit pun terpancar dari manik mata indah wanita itu.
Bersambung...
hmmm ad kemungkinan klo putri anggota klan red dragon gx sih ,, yg nyamar buat deketin mike🤔🤔🤔🤭🤭🤭😁😁
makin seruu cerita ny ,,
bibir ny minta di kepang dua ,, 😒😒😒
gx Mike gx musuh ny ,, ad aj yg cari gara2 ,,
duuuh sindii ,, segera berantas semua musuh mu ,,