Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.
Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sementara itu Yan Kai berdiri terpaku di depan gerbang utama Sekte Bulan Darah. Tatapannya bergantian memandang ratusan murid yang masih berlutut, para tetua yang membungkukkan badan dengan penuh hormat, lalu kembali kepada sosok Su Lian yang berdiri dengan tenang di hadapannya.
Baru saat itulah ia benar-benar menyadari siapa gurunya. Dalam hati ia bergumam pelan. "Jadi... Guru adalah Ketua Sekte Bulan Darah..."
Selama ini ia memang pernah mendengar nama sekte tersebut. Bahkan reputasinya sangat terkenal di seluruh Kerajaan Awan Suci. Yan Kai hanya mengetahui bahwa Sekte Bulan Darah adalah sekte aliran sesat paling terkenal di kerajaan.
Namun ia tidak pernah tahu alasan sebenarnya. Kini, setelah melihat sendiri bagaimana seluruh anggota sekte menyambut Su Lian, ia mulai mengerti.
Bukan Sekte Bulan Darah yang membuat Su Lian terkenal. Justru keberadaan Su Lian-lah yang membuat Sekte Bulan Darah berdiri di puncak seluruh sekte aliran sesat di Kerajaan Awan Suci.
Su Lian melangkah beberapa langkah ke depan. Suasana yang semula ramai kembali menjadi hening. Semua mata tertuju kepadanya. Tatapannya kemudian beralih kepada Yan Kai.
"Mulai hari ini, dia akan tinggal di Sekte Bulan Darah."
Yan Kai sedikit terkejut ketika Su Lian memberi isyarat agar ia maju. Ia pun melangkah hingga berdiri di samping gurunya.
Su Lian berkata dengan suara yang terdengar jelas di seluruh halaman. "Namanya Yan Kai. Dan ia adalah murid langsungku."
Seolah sebuah batu besar dijatuhkan ke tengah danau yang tenang, seluruh murid langsung gempar.
"Apa? Murid langsung Ketua Sekte?"
"Bagaimana mungkin? Bukankah selama ini Ketua Sekte tidak pernah menerima murid?"
"Jangankan murid biasa, bahkan para murid inti terbaik pun belum pernah mendapat bimbingan langsung dari beliau."
Bisik-bisik terdengar dari berbagai arah. Tatapan mereka kepada Yan Kai berubah menjadi campuran antara keterkejutan, iri hati, dan rasa penasaran.
Beberapa murid inti bahkan mengernyit. Mereka telah mengabdi kepada Sekte Bulan Darah selama bertahun-tahun. Mereka bekerja keras, mempertaruhkan nyawa dalam berbagai misi, berharap suatu hari dapat memperoleh perhatian Su Lian.
Namun tak seorang pun pernah diterima sebagai muridnya. Kini, seorang pemuda asing yang bahkan belum pernah mereka lihat sebelumnya justru berdiri di samping Ketua Sekte sebagai murid langsung. Tentu saja hal itu sulit diterima.
Salah seorang murid inti akhirnya memberanikan diri bertanya. "Ketua Sekte. Maafkan kelancangan murid. Tetapi apa keistimewaan yang dimiliki Tuan Muda Yan hingga Ketua Sekte bersedia menerimanya sebagai murid?"
Suasana kembali hening. Semua orang menunggu jawaban Su Lian.
Wanita itu tersenyum tipis. Tatapannya beralih kepada Yan Kai sejenak sebelum kembali memandang seluruh murid. "Karena dia memiliki sesuatu yang selama ini kucari."
Hanya itu jawaban yang ia berikan. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Ucapan singkat tersebut justru membuat rasa penasaran seluruh anggota sekte semakin besar.
Sementara itu, Yan Kai sendiri sedikit menundukkan kepala. Di dalam hatinya, ia mulai memahami maksud gurunya. "Yang Guru maksud, pasti energi kegelapan di dalam tubuhku." Energi yang diwariskan oleh Naga Kegelapan itu memang berbeda dari energi kegelapan milik kultivator lain.
Bahkan Su Lian yang telah bertahun-tahun mendalami elemen tersebut mengaku belum pernah melihat energi seperti itu. Karena itulah Yan Kai yakin alasan terbesar dirinya diterima sebagai murid bukanlah karena bakatnya semata, melainkan karena energi misterius yang kini telah menyatu dengan akar spiritualnya.
Su Lian kemudian berbalik. "Cukup. Aku masih memiliki urusan." Ia mulai berjalan menuju bagian dalam sekte. "Yan Kai. Ikut denganku."
"Baik, Guru." Yan Kai segera mengikuti dari belakang.
Di saat yang sama, empat orang tetua Sekte Bulan Darah saling berpandangan sebelum ikut melangkah menyusul Su Lian. Mereka semua memahami bahwa jika Ketua Sekte mengajak mereka menuju aula utama, berarti ada sesuatu yang penting untuk dibahas.
Di bawah tatapan ratusan murid yang masih dipenuhi rasa penasaran, Su Lian berjalan memasuki kompleks utama Sekte Bulan Darah, diikuti Yan Kai dan keempat tetua di belakangnya.
...
Aula utama Sekte Bulan Darah.
Ruangan yang luas itu dipenuhi aura khidmat. Di kursi paling depan, Su Lian duduk dengan tenang di singgasana ketua sekte. Di sisi kanan dan kirinya berdiri empat orang tetua utama Sekte Bulan Darah, sementara Yan Kai memilih berdiri beberapa langkah di belakang gurunya. Sebagai murid baru, ia hanya mendengarkan tanpa berani menyela pembicaraan.
Su Lian perlahan meletakkan cangkir tehnya di atas meja. Tatapannya menyapu seluruh ruangan. "Aku memanggil kalian karena ada satu hal penting yang harus segera kita putuskan."
Keempat tetua langsung memasang ekspresi serius.
Su Lian melanjutkan, "Beberapa waktu lalu aku memperoleh sebuah informasi. Keberadaan makam seorang kultivator kuno akhirnya telah ditemukan."
Salah seorang tetua langsung bertanya. "Kultivator siapa, Ketua Sekte?"
Su Lian menjawab tanpa ragu. "Huang Tiandi."
Nama itu seketika membuat keempat tetua saling berpandangan. Ekspresi mereka berubah drastis. "Huang Tiandi? Kultivator legendaris itu?"
Su Lian menganggukkan kepala. "Benar. Dahulu ia adalah seorang kultivator yang telah mencapai Ranah Penguasa Tahap Puncak. Hanya tinggal selangkah lagi sebelum memasuki Ranah Setengah Dewa. Sayangnya, ia gagal menerobos batas itu. Akibat serangan balik langit dan kehancuran fondasi kultivasinya, Huang Tiandi akhirnya meninggal."
Suasana aula menjadi sunyi. Nama Huang Tiandi bukanlah nama asing. Meski telah berlalu ratusan tahun, kisahnya masih sering diceritakan di dunia kultivasi.
Su Lian kembali melanjutkan. "Menurut berbagai catatan kuno, Huang Tiandi dimakamkan bersama seluruh peninggalannya. Teknik kultivasi, pil, pusaka, herbal langka, hingga berbagai harta yang ia kumpulkan sepanjang hidupnya. Seluruhnya dikabarkan ikut terkubur bersama dirinya."
Keempat tetua mulai menarik napas berat. Mereka tentu memahami arti dari semua itu. Jika makam tersebut benar-benar berhasil ditemukan, maka siapa pun yang mendapatkannya akan memperoleh keberuntungan yang mampu mengubah nasib sebuah sekte.
Su Lian kemudian berkata, "Dan saat ini, peta menuju makam itu telah berada di tangan Paviliun Teratai Putih."
Yan Kai yang berdiri di belakang hanya diam. Ia tahu betul bahwa peta itu berada di tangan gadis bercadar yang waktu itu mengejarnya karena menganggap ia kultivator jalan iblis. Karena dialah yang menyaksikan sendiri kejadian tersebut.
Salah seorang tetua mengusap janggutnya. "Ketua Sekte. Kalau begitu bukankah kita tinggal merebutnya?"
Su Lian menggeleng pelan. "Tidak semudah itu."
Tetua lainnya ikut berbicara. "Jika kita menyerang Paviliun Teratai Putih secara langsung, itu sama saja memulai perang besar. Paviliun Teratai Putih adalah lambang aliran lurus di Kerajaan Awan Suci. Di belakang mereka berdiri banyak sekte dan berbagai faksi besar. Walaupun kekuatan Sekte Bulan Darah tidak kalah, perang semacam itu tetap akan menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi kedua belah pihak."
Semua orang mengangguk. Mereka memahami kenyataan tersebut.
Beberapa saat kemudian, tetua lain kembali berbicara. "Namun masih ada satu kekuatan yang dapat mengubah keseimbangan."
Su Lian menatapnya. "Sekte Naga Phoenix."
Tetua itu mengangguk. "Benar. Sekte Naga Phoenix adalah salah satu kekuatan terbesar di Kerajaan Awan Suci. Jika mereka memihak salah satu pihak, pertempuran hampir pasti akan berakhir berat sebelah. Tetapi ia memiliki satu masalah."
Semua orang menunggu kelanjutannya.
Tetua itu menarik napas pelan. "Ketua Sekte mereka, Chen Nan, bukan orang yang mudah digerakkan. Tanpa sesuatu yang benar-benar menarik minatnya, tidak mungkin ia mau ikut campur. Lagipula, walaupun makam Huang Tiandi terdengar sangat menggiurkan, sampai sekarang belum ada yang benar-benar mengetahui harta apa yang tersimpan di dalamnya. Risikonya terlalu besar."
Ruangan kembali hening. Su Lian tampak tenggelam dalam pikirannya. Beberapa saat kemudian, ia perlahan berdiri.
"Aku sudah memikirkan hal itu."
Keempat tetua langsung menoleh.
Su Lian berkata dengan tenang, "Aku akan menemui Chen Nan secara langsung. Aku akan mengajukan kerja sama."
Salah seorang tetua segera bertanya. "Imbalan apa yang ingin Ketua Sekte tawarkan?"
Tatapan Su Lian tetap tenang. "Seluruh hak pengelolaan Tambang Batu Spiritual Pegunungan Taring Naga."
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong.
"Apa?! Ketua Sekte! Itu tidak mungkin!"
"Itu aset terbesar sekte kita!"
"Tambang itu memasok sebagian besar batu spiritual yang digunakan seluruh anggota sekte!"
"Kalau tambang itu jatuh ke tangan Sekte Naga Phoenix, kekuatan kita akan menurun drastis!"
Semua tetua langsung berdiri. Wajah mereka dipenuhi keterkejutan.
Namun Su Lian tetap tenang. "Aku tahu. Karena itulah ini disebut taruhan." Ia memandang satu per satu tetua di hadapannya. "Jika kita berhasil memperoleh seluruh peninggalan Huang Tiandi, Sekte Bulan Darah akan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar daripada kehilangan satu tambang batu spiritual. Lagipula... " senyum tipis muncul di wajahnya, "...siapa bilang tambang itu akan selamanya menjadi milik mereka?"
Keempat tetua sedikit terdiam.
Su Lian melanjutkan dengan suara dingin. "Begitu aku berhasil memperoleh semua yang ada di makam Huang Tiandi, aku akan mengambil kembali tambang itu." Nada bicaranya terdengar begitu yakin, seolah hal tersebut hanyalah persoalan waktu.
Keempat tetua saling berpandangan. Mereka tahu keputusan itu terlalu berisiko. Namun mereka juga mengenal sifat Su Lian. Begitu wanita itu mengambil keputusan, tidak ada seorang pun yang mampu mengubah pikirannya.
Setelah hening cukup lama, tetua pertama akhirnya menghela napas panjang. "Baiklah. Karena Ketua Sekte telah memutuskan, kami akan mendukung keputusan tersebut."
Tetua lainnya pun menganggukkan kepala meski wajah mereka masih dipenuhi kekhawatiran. Mereka semua sadar, taruhan kali ini bukan hanya menentukan keberhasilan mendapatkan makam Huang Tiandi. Melainkan juga masa depan seluruh Sekte Bulan Darah.
balas dendam.