NovelToon NovelToon
Dimadu Di Hari Pernikahan

Dimadu Di Hari Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Single Mom / Bad Boy
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: bunda Qamariah

Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.

Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.


Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.


Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.


Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.


Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sengaja Ingin Memancing Kemarahan Anggara

Anggara terbatuk-batuk saat baru tahu, ternyata wanita yang sudah dua kali dia temui kemarin. Adalah mantan calon istrinya, yang dinikahi oleh Cakra karena dia dinyatakan menolak wanita itu.

Anggara menoleh ke Naura di sebelahnya. Akan tetapi, gadis itu tetap diam, tidak memperlihatkan reaksi.

Tapi tentu saja Anggara yang seorang anggota militer tidak mudah dibohongi. Anggara mengalihkan melihat tangan Naura, yang benar saja sedikit bergetar. Dia tahu kalau wanita itu berusaha mengontrol diri.

"Sekarang kamu bisa jelaskan sama Mama, Anggara. Kenapa kamu tiba-tiba tidak mau menikahi Naura? Padahal sebelumnya kau sendiri yang menerima perjodohan kalian?" tanya Mama Safira, kepada putranya sulungnya.

Sengaja kembali membuka pembahasan kemarin yang sempat tertunda.

Anggara melihat sekilas ke arah sang mama. Lalu, seperti tak terjadi apa-apa, dia menjawab dengan tenang.

"Sudah aku bilang, Ma. Aku tidak pernah membatalkan pernikahan itu dan aku tidak pernah kirim pesan ke Mama," jawab Anggara jujur.

Mendengar jawaban dari mantan calon suaminya, Naura yang sedang mengunyah tiba-tiba menghentikan gerakannya.

Berpikir, apa bagi pria itu sebuah pernikahan hanya main-main? Dan dengan santai memberi alasan konyol yang tidak masuk akal? Memang siapa yang mau membatalkan pernikahan kalau bukan dia?

Cakra tersenyum penuh arti ke arah kakaknya.

"Kakak lagi berdrama? Oh, iya. Aku lupa. Kak Anggara kan memang suka berdrama. Iya, enggak?" Tutur Cakra.

"Cakra! Nggak baik ngomong kayak gitu ke Kakakmu!" tegur Safira, menatap tajam putra bungsunya itu.

Karena semakin dibiarkan, Safira merasa putranya itu semakin tidak terkontrol.

"Lah, emang apa yang salah? Cakra kan bilang yang sebenarnya. Bener nggak, Kak?" tanya Cakra lagi, menoleh dan melempar pertanyaan pada Anggara.

Anggara tetap tenang kembali mengambil cangkir kopinya. Dan siap untuk menyeruput. Tapi sebelumnya, dia mengeluarkan kalimat terbaik untuk sang adik.

"Kalau kau tidak mau diam dan menutup mulutmu, jangan salahkan aku jika cangkir ini akan melayang ke wajahmu," ujar Anggara tanpa menoleh ke arah adiknya.

Cakra langsung terdiam oleh kalimat itu dengan wajah mengeras. Terlihat jelas di wajahnya kalau dia marah mendengar ucapan Anggara.

Tapi ia sudah tidak berani lagi melawan jika kakaknya sudah berkata demikian, karena ia tahu Anggara tidak akan segan-segan melakukan apa yang dia ancamkan itu.

Cakra langsung berdiri. "Aku sudah selesai, Ma," ujarnya tiba-tiba.

Suaranya berubah dingin dan ia tidak berminat lagi untuk memancing emosi kakaknya.

Meja makan itu tiba-tiba berubah jadi tegang.

"Duduk dulu, Cakra, ada yang ingin Mama bicarakan," ujar wanita paruh baya itu, memerintahkan putranya agar kembali duduk.

Cakra kembali menundukkan dirinya, menahan perasaan.

"Dengarkan baik-baik, Anggara, Cakra, Mama akan ke luar kota. Dan mungkin sedikit mengambil waktu yang lumayan lama. Mama harap kalian di belakang bisa akur, terutama kamu, Cakra. Jangan terus berusaha memancing emosi kakakmu." Diam sejenak memperhatikan putranya itu.

"Sebenarnya Mama tidak tahu ada urusan apa di antara kalian berdua ini, sampai tidak pernah akur. Padahal dulu bukannya hubungan kalian baik-baik saja? Tapi sudah 7 tahun kalian renggang dan Mama tidak tahu puncanya apa.Tapi Mama mohon, kali ini saat Mama pergi, jangan ada pertengkaran lagi di antara kalian."

"Dan kamu, Cakra, kamu sudah berusia 32 tahun. Kamu seharusnya sudah bisa bersikap dewasa. Usiamu itu, kalau dipikir-pikir, sudah punya anak usia remaja. Jadi jangan terus-terusan berlaku kekanakan!"

Wanita paruh baya itu memperingati kedua putranya, lebih tepatnya pada anak bungsunya.

"Mama juga ingin minta sesuatu padamu Anggara, kalau boleh selama Mama pergi, tinggallah di rumah ini. Siapa tahu dengan begitu, hubungan kalian bisa kembali membaik. Dan kamu juga, Cakra, perlakukan Naura dengan baik. Biar bagaimanapun Naura juga istrimu!"

Ujar wanita itu panjang lebar. Memberitahukan kepada kedua putranya dan juga memperingati kalau dia akan segera keluar kota.

"Baiklah, terserah Mama saja," ujar

Cakra kembali berdiri.

"Aku mau pergi ke kantor. Aku lupa bawa jam tadi. Kamu naik ke atas, ambil jam tanganku," lanjut pria itu dengan pandangan terarah pada istri pertamanya, yakni Naura.

Naura yang mengerti kalau pria itu sedang mengajaknya bicara, segera menjawab.

"Tapi aku tidak tahu di mana kamu meletakkan jam tanganmu."

"Ya di kamar, di mana lagi kalau bukan di kamar?" Bentak Cakra.

"Cakra, apa kamu bisa bicara lebih lembut sedikit pada Naura?" tegur Safira karena Cakra membentak Naura di depannya.

"Aku tidak pernah ke kamarmu, jadi aku tidak tahu," tutur Naura lagi.

"Kamu punya mata, kan? Kalau punya mata, ya naik ke atas, cari sendiri di sana." Cakra sama sekali tidak peduli pada teguran mamanya.

Tapi dia tetap menurunkan sedikit nada bicaranya, memerintahkan Naura.

Nada yang melihat itu, tersenyum puas melihat.

Sebenarnya Cakra marah pada Anggara. Tapi karena dia tidak bisa melampiaskannya pada sang kakak, Cakra sengaja melampiaskan semuanya justru ke Naura.

Naura mendorong kursinya lalu berdiri. "Baiklah," jawab gadis itu kemudian menoleh ke arah mertuanya.

"Naura sudah selesai, Ma. Naura ke atas dulu."

"Iya, Nak." Tersenyum hangat.

Sementara Anggara hanya diam mengamati

"Lihatlah, Mama bisa bicara baik-baik dengan menantu kesayangan Mama itu, tapi dengan Nada, enggak, kan?" Cakra tanpa segan memprotes sikap ibunya.

"Kok kamu bisa ngomong kayak gitu? Emang Mama pernah bicara kasar dengan Nada? Kamu saja yang terlalu berlebihan, Cakra," jawab Safira.

Cakra mendengus, menarik Nada keluar dari meja makan.

Anggara yang juga sudah selesai sarapan, ikut berpamitan pada ibunya.

"Ma, Anggara juga mau berangkat,"

"Iya. Tolong ya Anggara, kalau Mama keluar kota. Tolong kalau bisa kamu tinggal di sini ya, soalnya Mama khawatir dengan Naura. Adikmu itu kayaknya nggak segan-segan bertindak kasar dengan Naura," tutur wanita paruh baya itu mengutarakan kekhawatirannya.

Anggara hanya mengangguk ringan.

Setelahnya, pria 35 tahun itu keluar dari ruang makan. Dia juga bersiap untuk berangkat kerja, tapi setibanya di luar dia melihat Cakra yang sedang menunggu Naura di depan ambang pintu.

Cakra tersenyum sinis saat melihat kakaknya.

Tak lama kemudian, Naura yang dari mengambil jam tangan Cakra. Sudah tiba.

"Ini," ujar Naura, memberikan jam tangan mewah ditangannya itu pada Cakra.

"Kamu telat sekali. Lihat! Telat 10 menit!" tutur Cakra, bukannya berterima kasih justru memarahi wanita itu.

"Maaf, aku tidak tahu di mana letaknya. Jadi tadi aku cari dulu," jawab Naura membela diri.

Karena memang, itu adalah pertama kali dia masuk ke dalam kamar Cakra. Tentu saja dia tidak tahu di mana letak barang-barang pria itu.

"Makanya, jadi istri itu harus becus ngurus suami!" Tutur Cakra sembari mendorong pelan kepala Naura yang tertutup hijab.

Anggara yang melihat itu merasa geram, tapi dia tetap menahan diri untuk tidak bereaksi terhadap sikap Cakra yang kasar pada Naura. Dia tahu adiknya sedang berusaha memancing emosinya melalui Naura.

"Naik lagi! Tukar! Aku nggak mau yang ini," titah pria itu lagi.

Naura terdiam menatap Cakra.

"Berani ya kamu menatapku kayak gitu?" Bentak Cakra.

"Maaf." Naura kembali naik ke lantai atas dan mengganti jam tangan suaminya.

Tak lama kemudian, ia kembali lagi dan menyerahkan yang bermerek lain.

"Ini."

"Aku nggak mau yang itu! Ganti!"

Naura berusaha mengontrol diri.

"Tapi aku harus segera ke rumah sakit. Jam masuk kerjaku sebentar lagi," ujarnya pada Cakra.

"Siapa peduli dengan itu? Pergi sana!" Dengan kasar, Cakra mendorong bahu Naura, guna memenuhi perintahnya.

Pemandangan itu sama sekali tak luput dari perhatian Anggara.

Sepertinya Cakra memang sengaja mempermainkan Naura didepan Anggara. Kembali ingin melihat reaksi sang kakak. Karena sedikit saja Anggara bereaksi, maka Cakra akan semakin menjadi-jadi dan melakukan hal yang lebih ekstrem pada Naura guna membalas dendamnya.

Apalagi, Cakra tahu kalau Anggara tidak bisa berbuat apa-apa. Mengingat Naura itu istrinya, dan Anggara tidak punya hak untuk melarangnya.

Naura yang bolak-balik di rumah besar itu, tentu saja membuatnya kelelahan di pagi hari. Apalagi harus melalui tangga yang lumayan tinggi.

Gadis itu kembali terlihat membawa jam tangan yang lain. "Ini," Memberikan jam tangan Cakra.

"Aku tidak mau itu. Ganti!" ujar Cakra lagi.

"Maaf, tapi aku harus segera ke rumah saki---"

"Kalau aku bilang ganti, ya ganti!" Ternyata Cakra belum puas, karena dia masih belum mendapatkan apa yang dia inginkan. Iya itu, reaksi kakaknya.

Naura yang sudah kehabisan sabar langsung menarik tangan Cakra, membuat pria itu kaget.

Naura meletakkan jam tangan tersebut dengan kasar di telapak tangan suaminya.

"Kalau Anda mau, pakai, ya pakai saja! Kalau tidak! Iya tidak usah! Saya harus ke segera ke rumah sakit!" Geram Naura.

"Kau berani membantahku, hah!" Cakra mendorong keras bahu Naura.

Anggara menggertakkan giginya, dia ingin menghentikan kegilaan Cakra. Namun sebelum sempat dia melakukannya, Naura sudah bergerak duluan.

Naura yang sudah terpancing emosi, beralih melihat Nada yang berdiri di dekat Cakra dengan senyuman mengejek.

Tanpa aba-aba, Naura membalas Cakra dengan mendorong bahu Nada, membuat Cakra melototinya.

"Berani kau!" Cakra menunjuk ke arah Naura.

"Dia juga istrimu, kan? Kenapa cuma aku yang kau suruh-suruh!" Naura menatap mata Cakra.

Melihat Naura yang melawan, dan barusan mendorongnya. Dia juga ikut terpanjang emosi.

"Kurang ajar kamu ya, jalang!" Mengangkat tangannya ingin menampar Naura.

Tak!

Naura menahan tangan Nada, dan.....

Bruk!

Naura mendorong kasar Nada, membuat wanita itu terjatuh.

"NAURA!!!"

1
Nar Sih
👍👍anggara ,kecurigaan mu bnr dalila yg tlh mencelakai putri mu ,terus cari tau jga putri mu juga naura dari niat jht si perempuan gila dalalila
airhy_10
akhirnya anggara tau kalau kiki putrinya..gmn nanti klo ibunya tau dia punya anak di luar nikah
bunda Qamariah: 🤣topcer dia🤣
total 3 replies
airhy_10
jangan tinggalkn anakmu naura..bahaya mengintip
airhy_10
anggara suruh anak buahmu aja selidiki..dan selesaikan karir jendral itu😁
Nar Sih
alhamdulilah hsil tes dna bnr klau kiki ank mu ya anggara ,sekarang jujur sja ya anggara kiki dlm bahaya lho
airhy_10
sebenarnya jujur pada kakek gpp..tp semua itu pilihanmu pasti yg terbaik
airhy_10
gmn anggara??apa yg akan km lakukan🤭
Nar Sih
moga org suruhan dalila gk berhasil membunuh kiki
bunda Qamariah: iya, say....
total 1 replies
airhy_10
udh mulai ada rasa yaa naura sama anggara,,tenang naura cintamu berbalas😁
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
bunda Qamariah: kenapa say🤭 di dunia nyata tiada kah🤣🤣🤣
total 1 replies
airhy_10
semoga cepet sembuh kiki💪
airhy_10
dalia ini knp sih dia kn anaknya anggota militer ya tp kok hatinya busuk..main2 dengan nyawa
Nar Sih
jdi gk sbr nunggu hsil tes dna kiki
airhy_10
cakra akhirnya km punya lawan yg sepadan..mungkin nada memang jdohmu cakra🤭
bunda Qamariah: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
airhy_10
walah..walah...ketauan gk yaa klo wanita itu naura🤨
airhy_10
semoga saja nanti klo tau kiki anak anggara,,cakra tidak jatuh cinta dg naura..
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
airhy_10: 🤭🤭🤭siapa tau thorr cakra kn gitu,yg di suka kecantol kakaknya 🤭
total 2 replies
airhy_10
semoga tidak kecolongan lagi...nanti pas hasilnya keluar,,tp nnti gmn jdnya klo anggara tau kiki anaknya..
airhy_10
kog tumben pinterr anggara langsung tes DNA🤭
bunda Qamariah: waduhh 🤦 sungguh terlalu 🤣
total 1 replies
Nar Sih
waah siip 👍anggara ,bnr kmiu


wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls
Nar Sih
pdhl sbntr lgi ketahuan kiki ank kadung mu ya anggara ,grgr pencuri gk tsu diri ,bunda trus kpn ssmua terungkap jdi gemess
bunda Qamariah: Sabar sayangku... tenang 🤭
total 1 replies
Rahmawati Amma
sayang sekali kenapa anaknya bukan laki2 malah perempuan seandainya novel ini ceritanya sampai anaknya dewasa dan nikah sayang sekali ngak bisa diwakilin ayahnya sayang sekali walaupun sudah tau ayah biologisnya author sih kenapa bukan laki2 aja anaknya😮‍💨
bunda Qamariah: iya🤧 kayaknya itu kesalahan fatal🤧 karena tidak bisa jadi wali 🤦
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!