Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.
Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.
Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.
Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.
Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Tempe Goreng Murah
Valeska melangkah ragu mengekor di belakang Nek Izah menuju rumah kayu sederhana di depan kontrakannya. Bau harum tempe goreng dan tumis kangkung langsung menyengat indra penciumannya saat pintu rumah dibelakan.
Nek Izah mengambilkan secentong nasi hangat dari bakul bambu, menaruh sepotong tempe goreng yang masih mengepul, dan menyodorkannya ke arah Valeska yang duduk kaku di atas tikar pandan.
Valeska menatap piring seng di depannya dengan dahi berkerut. Seumur hidupnya, piringnya selalu diisi steak impor, salmon, atau pasta buatan koki restoran ternama. Melihat potongan tempe dengan minyak yang masih membekas di pinggir piring membuat perutnya mendadak mual—bukan karena kenyang, tapi karena gengsi tingginya yang kembali memberontak.
"Kenapa, Nduk? Kok cuma dilihatin aja?" tanya Nek Izah ramah sambil duduk selonjoran di seberangnya.
Valeska menggeser piring seng itu pelan dengan ujung jarinya. Rasa gengsinya mengalahkan rasa perih di perutnya.
"Maaf ya, Nek... tapi saya enggak biasa makan makanan kayak gini," kata Valeska terus terang dengan suara pelan tapi kentara sekali nada keangkuhannya. "Lidah saya enggak cocok. Di rumah saya dulu... saya enggak pernah makan tempe goreng murah begini."
Bukannya marah atau tersinggung, Nek Izah justru terkekeh pelan. Garis-garis keriput di wajah rentanya tampak makin jelas saat beliau tersenyum maklum. Beliau paham betul anak di depannya ini sedang kaget culture shock karena mendadak jatuh dari puncak kenyamanan.
"Ya ndak apa-apa, Nduk," sahut Nek Izah tenang tanpa ada nada kesal sedikit pun. "Nenek paham. Wong kamu dari kecil hidupnya serba enak."
Nek Izah mendorong pelan piring seng itu mendekati jemari Valeska lagi.
"Tapi gini aja... coba dicicipi dulu sedikit. Satu gigit aja," ujar Nek Izah lembut. "Kalau sesudah dicicipi lidahmu tetep ndak mau dan rasanya aneh, ya ndak usah dimakan, ndak apa-apa. Nanti Nenek ndak bakal maksa. Tapi kalau ternyata suka, ya dihabiskan biar perutmu ndak sakit."
Valeska mematung, menatap raut wajah Nek Izah yang begitu sabar dan hangat. Tidak ada cemoohan seperti Giselle, tidak ada nada dingin seperti Elang, hanya ada kepedulian tulus dari seorang nenek tua.
Dengan jemari yang gemetaran dan hati yang serba salah, Valeska perlahan mencuil sedikit bagian tempe goreng hangat itu lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Kriuk renyah dari gurihnya tepung dan kelembutan tempe hangat itu meledak di dalam mulutnya. Untuk beberapa detik, Valeska membeku. Lidahnya yang biasa dimanjakan makanan restoran mahal terpaksa mengakui kalau rasa gurih asinnya beneran pas dan jauh dari kata aneh.
"Gimana, Nduk?" tanya Nek Izah sambil tersenyum tipis, matanya yang keriput menatap Valeska dengan kehangatan seorang nenek.
Valeska mengunyah perlahan, menelan suapan pertamanya lalu menundukkan kepala dalam-dalam. Wajahnya memerah padam—campuran antara malu karena omongan angkuhnya tadi dan rasa lapar yang tak bisa ditahan lagi.
"E-enak ternyata, Nek..." cicit Valeska pelan, hampir tak terdengar.
Nek Izah terkekeh renyah, mendorong cangkir berisi teh hangat ke dekat piring Valeska. "Nah, kan? Makanan sederhana itu ndak selamanya buruk, Nduk. Yang penting bersih, halal, dan bikin perut kenyang. Udah, dihabiskan nasinya, jangan malu-malu."
Tanpa perlu disuruh dua kali, keangkuhan Valeska runtuh total di hadapan rasa laparnya. Dia mulai menyuap nasi hangat dan tempe goreng itu dengan lahap. Air matanya tiba-tiba menetes lagi, jatuh tepat ke atas piring sengnya. Kali ini bukan karena marah atau benci, tapi karena rasa haru. Di tengah penderitaan dan penolakan dari semua teman-temannya, seorang nenek pemilik kontrakan yang baru dikenalnya justru memberinya kehangatan yang amat dia butuhkan.
***
Keesokan harinya, Valeska terbangun lebih awal. Suasana kontrakan masih dingin dan sepi. Setelah merapikan kasur kapuknya sendiri, dia memakai seragam sekolah yang kemarin sempat dia cuci dan setrika seadanya menggunakan setrikaan tua pinjaman Nek Izah.
Saat melangkah keluar dari Gang Mawar menuju jalan raya, Valeska menggenggam erat tali tasnya. Kakinya masih terasa sedikit pegal bekas berjalan puluhan kilometer kemarin, tapi kali ini raut wajahnya tampak berbeda. Tidak ada lagi sisa tangisan histeris, melainkan tatapan mata yang penuh keteguhan. Dia tahu, mulai hari ini dia harus berdiri di atas kakinya sendiri.
Di gerbang SMA Nusantara, bisik-bisik dan tatapan miring dari murid-murid lain masih menyambutnya seperti biasa. Tapi Valeska terus berjalan lurus tanpa memalingkan wajah, mengabaikan tatapan sinis Jena dan geng barunya yang berdiri di dekat mading sekolah.
Namun, baru saja Valeska hendak menaiki tangga menuju kelas XI-1, Pak Bambang memanggil namanya dari arah koridor utama.
"Valeska! Ikut Bapak ke ruang Tata Usaha sekarang!" seru Pak Bambang tegas.
Valeska menghentikan langkahnya, dadanya mendadak berdebar kencang. Dengan ragu, dia menyusul langkah Pak Bambang masuk ke ruangan TU yang dingin.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Valeska pelan.
Petugas TU menyodorkan sebuah dokumen laporan keuangan sekolah ke atas meja. Pak Bambang menatap Valeska dengan raut wajah serba salah.
"Valeska, pihak sekolah baru saja menerima surat pemberitahuan bahwa seluruh aset dan rekening milik orang tuamu telah dibekukan total oleh kejaksaan," ujar Pak Bambang pelan. "Uang SPP kamu untuk tiga bulan ke depan belum dilunasi. Jika dalam minggu ini belum ada pembayaran, pihak sekolah terpaksa mempertimbangkan status keaktifan kamu di SMA Nusantara."
Deg.
Dunia Valeska rasanya berhenti berputar seketika. Ancaman dikeluarkan dari sekolah... itu adalah hal terakhir yang paling dia takutkan. Tanpa sekolah ini, dia benar-benar tidak punya masa depan lagi.
"Pak... tolong berikan saya waktu," bisik Valeska, suaranya gemetar menahan tangis yang memuncak di tenggorokan. "Mama saya sedang kerja di luar negeri. Begitu Mama pegang uang, pasti langsung dikirim buat bayar SPP saya, Pak."
Pak Bambang menghela napas panjang, menatap Valeska dengan raut prihatin. "Bapak paham situasi kamu, Valeska. Tapi ini aturan dari pihak yayasan. Kamu punya waktu sampai hari Jumat minggu depan. Kalau belum ada kejelasan, dengan berat hati kamu harus dipindahkan ke sekolah negeri atau menunda sekolah dulu."
Valeska keluar dari ruang TU dengan langkah gontai dan kepala menunduk dalam. Setiap pijakan kakinya terasa makin berat. Angka nominal SPP SMA Nusantara yang sangat fantastis itu terus berputar-putar di kepalanya. Jangankan untuk bayar SPP jutaan rupiah, untuk makan sehari-hari saja dia bergantung pada kebaikan Nek Izah.
Saat menyusuri koridor lantai dua, Valeska tidak sadar kalau jalannya terlalu oleng sampai tubuhnya menyenggol bahu seseorang dari arah berlawanan.
Brak!
Buku-buku yang dipegang orang itu jatuh berserakan di atas lantai granit.
"Aduh! Kalau jalan pakai mata dong—"
Kalimat Jena terhenti begitu melihat siapa yang menyenggolnya. Di samping Jena, Giselle dan Clarissa langsung tertawa mengejek.
"Eh, cewek sampah," cibir Jena sambil mengibaskan roknya seolah-olah baru saja terkena kotoran. "Habis dari mana lo? Muka lo kok tambah melas gitu? Ditegur pihak sekolah gara-gara enggak bisa bayar SPP ya?"
Clarissa menutupi mulutnya sambil tertawa sinis. "Duh, kasihan banget. Makanya sadar diri, Val. Sekolah elit kayak gini tuh cuma buat anak-orang kaya, bukan buat gembel kayak lo. Mending lo putus sekolah aja terus nyapu jalanan!"
"Haha, bener tuh!" timpal Giselle. "Dulu aja belagu banget, sekarang bayar SPP aja kagak sanggup."
Valeska mematung, dadanya naik turun menahan emosi yang membakar. Dulu dia pasti sudah memaki atau menyerang mereka habis-habisan. Tapi sekarang, ancaman dikeluarkan dari sekolah membuat hatinya terlalu hancur untuk sekadar membalas ejekan itu. Valeska menunduk, melewati mereka begitu saja tanpa sepatah kata pun.
"Dih, kacang! Berani-beraninya lo nyelonong gitu aja?!" bentak Jena kesal karena tidak mendapat respon.
Dari jauh, Elang yang baru saja keluar dari kelas melihat seluruh kejadian itu. Matanya menatap punggung Valeska yang berjalan cepat menuju tempat tersembunyi di belakang lapangan basket. Elang menghela napas panjang, mengepalkan tangannya di balik saku celana.
Di balik tembok belakang lapangan basket yang sepi, Valeska terduduk di atas tanah. Dia meremas rok seragamnya kuat-kuat, meluapkan tangisnya yang dari tadi ditahan.
"Mama... aku harus gimana..." bisik Valeska terisak-isak, memukuli dadanya yang terasa sangat sesak. "Aku enggak mau keluar dari sekolah... aku enggak mau..."
"Nangis terus enggak bakal ngasilin uang buat bayar SPP lo."
Suara berat yang sangat dihafalnya mendadak terdengar dari atas. Valeska buru-buru mengusap air matanya kasar, lalu mendongak dengan tatapan galak.
Elang berdiri di sana sambil bersandar di tembok kayu, menatap Valeska dengan raut wajah datar seperti biasa.
"Lo ngapain sih ngintipin gue terus?!" bentak Valeska dengan suara serak. "Pergi lo! Gue enggak butuh kasihan dari lo!"
Elang melangkah mendekat, lalu melemparkan sebuah brosur kertas ke atas pangkuan Valeska.
"Di kafe tempat gue kerja butuh tenaga tambahan buat bagian cuci piring sama bersih-bersih tiap sore habis pulang sekolah," kata Elang santai, tanpa memedulikan tatapan tajam Valeska. "Gajinya memang enggak seberapa, tapi lumayan buat nambah-nambah uang makan lo atau dicicil buat SPP."
Valeska menatap brosur kafe di pangkuannya, lalu menatap Elang dengan raut tidak percaya.
"Gue? Cuci piring?!" pekik Valeska, gengsi lamanya mendadak mencuat lagi. "Lo gila ya?! Gue ini Valeska! Gue kagak sudi kerja kasar kayak gitu!"
Elang terkekeh sinis, menyilangkan tangan di dada. "Valeska yang mana? Valeska putri pengusaha kaya yang udah bangkrut? Atau Valeska yang kemarin hampir ngebakar rumah kontrakan gara-gara kagak bisa nyalain kompor gas?"
Muka Valeska seketika merah padam mendengar sindiran telak itu.
"Sadar, Valeska," pangkas Elang dingin namun menohok. "Gengsi lo itu enggak bakal bisa dibayarin ke Pak Bambang buat bayar SPP. Pilihannya cuma dua: lo singkirin gengsi sampah lo itu dan mulai kerja, atau lo angkat kaki dari sekolah ini minggu depan."