Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Menuju Kampus
Sinar matahari pagi menembus celah-celah tirai tipis kamar utama, membiaskan pendar keemasan yang hangat di atas permukaan ranjang. Kirana menggeliat pelan, perlahan mengumpulkan kesadarannya yang baru terbangun dari tidur paling nyenyak yang pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.
Namun, saat hendak menggerakkan badannya, Kirana merasakan ada sesuatu yang hangat dan kokoh di bawah jemarinya. Begitu matanya terbuka sempurna, napasnya seketika tercekat.
Tangan kanannya ternyata melingkar sempurna di atas dada bidang Rian!
Kirana membelalakkan mata, mendongak perlahan. Di sampingnya, Rian sedang terlelap tenang. Pria itu ternyata sudah berpindah dari sofa dan kini berbaring tepat di sebelahnya di atas kasur king size yang empuk. Wajah tampan Rian terlihat begitu rileks dalam lelapnya, tanpa kacamata atau raut kaku yang biasa menyelimuti kesehariannya.
Rupanya, tubuh jangkung dan kekar Rian terasa amat kram dan tidak nyaman setelah semalaman dipaksakan meringkuk di atas sofa yang ukurannya jauh lebih kecil dari proporsi tubuhnya. Alhasil, di tengah malam yang dingin, Rian terpaksa pindah ke sisi ranjang yang masih sangat luas.
Jantung Kirana berdegup kencang bak genderang perang. Wajahnya merona merah padam hingga ke ujung telinga. Dengan sangat hati-hati dan tanpa menimbukan gerakan berlebih, Kirana mencoba menarik jemarinya dari dada Rian.
Namun, baru saja jemarinya bergerak beberapa milimeter, kelopak mata Rian perlahan terbuka. Tatapan mata hitam yang tajam namun masih dibalut rasa kantuk itu langsung terkunci tepat pada manik mata Kirana.
"Ma... Mas Rian..." bisik Kirana terbata-bata, buru-buru menarik tangannya dan mundur hingga ke tepi ranjang. "Maaf, aku... aku tidak sengaja!"
Rian terkekeh pelan—sebuah suara bariton serak khas bangun tidur yang terdengar sangat seksi dan maskulin. Ia meregangkan kedua tangannya yang kekar, lalu mendudukkan tubuhnya dengan santai di atas kasur.
"Sofa di sudut sana terlalu pendek untuk kakiku," ujar Rian santai seraya mengusap rambutnya yang agak berantakan, menatap Kirana yang masih mematung dengan wajah memerah. "Lagipula, kasur ini cukup luas untuk kita berdua, bukan?"
Kirana hanya bisa menggigit bibir bawahnya, kehabisan kata-kata. Melihat kepolosan dan tingkah menggemaskan istri barunya yang salah tingkah, sudut bibir Rian terangkat, membentuk senyuman hangat yang jarang sekali ia perlihatkan kepada siapa pun.
"Mandi dan bersiap-siaplah," kata Rian seraya berdiri tegap melangkah menuju kamar mandi, kembali memperlihatkan tubuh tegapnya yang sempurna. "Hari ini Doni akan mengantarmu ke kampus untuk mengurus seluruh pendaftaranmu."
Melihat Rian menghilang di balik pintu kamar mandi dengan langkah tegapnya, Kirana menghembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di dadanya. Detak jantungnya masih bergemuruh hebat, sisa dari keterkejutan mendapati dirinya tidur begitu dekat dengan sang suami pagi ini. Rona merah di pipinya perlahan memudar, digantikan oleh senyum tipis yang tak sengaja terukir di bibirnya.
Kirana segera beranjak dari tempat tidur king size tersebut. Ia merapikan selimut yang tadi mereka gunakan, lalu mengambil handuk serta pakaian bersih yang telah disiapkan di dalam lemari khusus.
Setelah pintu kamar mandi kembali kosong, Kirana melangkah masuk. Ruangan bernuansa marmer putih itu terasa hangat dan segar, dipenuhi aroma wewangian lavender yang menenangkan. Kirana langsung membasuh wajahnya dengan air dingin, berusaha menetralisir rasa salah tingkah yang masih menggelayut di kepalanya. Ia kemudian menikmati pancuran air hangat yang mengguyur tubuhnya, menghapus sisa-sisa lelah dan mengembalikan kesegarannya untuk menyambut hari baru yang sangat penting ini.
Kurang lebih dua puluh menit kemudian, Kirana keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian terbaiknya untuk hari ini: sebuah blouse putih berkerah rapi, dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam yang elegan, serta rambut panjangnya yang kini diikat setengah rapi menampilkan kesan profesional namun tetap manis.
Ia melangkah ke depan meja rias untuk merapikan sedikit penampilannya. Tak lama berselang, suara pintu kamar mandi terbuka, dan Rian keluar dengan mengenakan kemeja kerja berwarna abu-abu terang yang digulung rapi sampai siku. Penampilan pria itu tampak sangat memukau dan berwibawa.
Rian melirik sekilas ke arah Kirana melalui pantulan cermin, lalu tersenyum tipis.
"Kamu terlihat siap," puji Rian dengan suara baritonnya yang tenang. "Sudah sarapan di bawah?"
Kirana menggeleng pelan. "Belum, Mas. Aku menunggu selesai bersiap dulu."
"Bagus. Bi Asih pasti sudah menyiapkan sarapan di ruang makan," ujar Rian seraya berjalan mendekati kursi rodanya. Sebelum mendudukinya, ia sempat merapikan bantal di sofa tempat ia tidur semalam. "Mari kita sarapan bersama sebelum Doni menjemputmu untuk ke kampus."
Kirana mengangguk patuh. Dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibanding kemarin, ia berjalan berdampingan dengan Rian keluar dari kamar utama menuju lift pribadi yang akan membawa mereka turun ke lantai bawah. Hari ini, lembaran baru dalam hidup Kirana sebagai mahasiswi perguruan tinggi negeri impiannya akan resmi dimulai.