NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11.

"Kenapa White lama sekali?"

Lucas Emerson tidak bisa lagi menyembunyikan kegundahan yang bergejolak di dalam dadanya.

Pria paruh baya itu berjalan mondar-mandir di samping kereta kuda tuanya yang terparkir di pinggir jalan setapak ladang. Sepasang matanya menatap cemas ke arah ufuk barat, di mana semburat warna jingga yang hangat perlahan-lahan meredup, ditelan oleh kegelapan malam yang mulai merayap naik.

Rasa tidak tenang kian mencekik lehernya. Karena tak lagi sanggup bertahan dalam penantian yang menyiksa, Lucas memutuskan untuk turun dari area ladang. Ia melangkah lebar, memotong semak-semak menuju tepian sungai tempat putrinya pamit untuk membersihkan diri beberapa saat lalu.

Namun, begitu sepasang matanya menangkap panorama di tepi sungai, jantung Lucas seakan berhenti berdetak seketika. Ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan putrinya di sana. Pandangannya justru jatuh pada tumpukan pakaian kotor berlumpur yang berserakan begitu saja di atas rumput liar, tanpa pemiliknya.

"White... di mana kamu, Nak?!" teriak Lucas parau. Suaranya pecah, disergap kepanikan instan yang luar biasa.

Suara teriakannya bergema memantul di antara batang-batang pohon ek purba yang menjulang tinggi, namun tidak ada jawaban. Hanya kesunyian hutan malam yang dingin yang membalas seruannya.

Dengan napas memburu, Lucas mendekati bibir sungai dan menatap aliran air di bawahnya; permukaannya tampak tenang, jernih, dan dangkal. Mustahil White tenggelam terseret arus, terlebih gadis itu adalah seorang perenang yang sangat andal sejak usianya masih sangat kecil.

Pikiran-pikiran buruk tentang penculikan atau serangan binatang buas mulai berputar liar di kepala Lucas, membuat keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

Sementara itu, di balik rimbunnya semak belukar berduri yang berjarak beberapa puluh meter dari posisi Lucas, White akhirnya berhasil mengamankan kembali barang berharganya. Namun sia-sia karena rambut itu sudah robek parah karena ulah si kera. Penampilannya saat ini benar-benar kacau dan jauh dari kata rapi.

Untaian rambut putih aslinya mencuat berantakan ke segala arah, dan pakaian ganti bersih yang baru saja ia kenakan kini telah ternoda oleh tanah hitam akibat insiden jatuh tersungkur tadi.

"Kalau sampai aku bertemu dengan monyet sialan itu lagi, akan kupastikan kau tidak akan memiliki bulu tersisa dan tidak akan bisa berayun di dahan lagi selamanya, huh!" gerutu White dengan nada ketus yang sarat akan kesal.

Sebelum berbalik, ia bahkan sempat mengepalkan tinjunya dengan gemas ke arah dahan pohon yang tinggi di kegelapan, tempat di mana primata nakal itu tadi menghilang membawa rasa ingin tahu yang besar.

Dengan gerakan yang cepat namun sedikit gemetar akibat sisa kepanikan, White segera memasang kembali wig hitam tiruan itu ke kepalanya. Ia menatanya dengan tergesa-gesa di tengah remang malam, menolak mengambil risiko membiarkan rambut putih saljunya terlihat oleh siapa pun di sekitar tempat itu. Ya, meski wig itu sudah hancur ia sangat terpaksa karena tak mau membuat Lucas kecewa.

Tiba-tiba, White menepuk keningnya sendiri dengan keras. "Astaga! Aku hampir lupa. Ayah pasti sedang sangat mengkhawatirkanku sekarang!"

Mengabaikan rasa nyeri yang menusuk dan berdentum hebat di pergelangan kaki kanannya yang terkilir, White memaksakan seluruh sendi tubuhnya untuk bergerak. Ia berlari dengan langkah terpincang-pincang, berusaha secepat mungkin kembali ke titik awal di tepi sungai sebelum ayahnya nekat mencari ke dalam hutan.

Di tengah jalan setapak yang kian remang dan tertutup bayangan pohon, White akhirnya berpapasan dengan Lucas. Pria itu tampak sangat terpukul dan napasnya memburu kacau.

"Kamu dari mana saja, White? Ayah benar-benar sangat mengkhawatirkanmu, Nak," ujar Lucas dengan suara terengah-engah. Paru-parunya seolah terbakar hebat, bukan hanya karena lelah berjalan cepat, melainkan karena rasa panik yang sempat melumpuhkan logikanya.

Namun, kalimat pria paruh baya itu terhenti seketika saat sorot matanya tak sengaja terkunci pada kaki kanan White. Di balik tali sandal kulitnya yang tipis, pergelangan kaki gadis itu tampak membengkak kemerahan dengan ukuran yang cukup besar.

"Kenapa kakimu bisa terluka dan bengkak seperti ini, White?" tanya Lucas, kecemasannya kini berganti menjadi rasa khawatir yang teramat sangat.

"Maafkan aku, Ayah. Tadi aku sempat terjatuh dan tersandung saat mengejar seekor monyet hutan yang nekat mencuri wig pemberian Ayah," jawab White pelan. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, dilingkupi rasa bersalah karena telah membuat ayahnya cemas.

"Monyet? Apa Ayah tidak salah dengar?"

Lucas mengerutkan keningnya dalam-dalam. Baginya, alasan yang diutarakan putrinya terdengar terlalu tidak masuk akal untuk membayar risiko cedera fisik di tengah hutan yang sepi seperti ini.

Namun, setelah White menceritakan detail kronologinya dengan raut wajah yang sungguh-sungguh tanpa kebohongan, Lucas hanya bisa menghela napas panjang dan memijit pelipisnya yang berdentum.

"Padahal jika wig itu hilang, Ayah bisa bekerja sedikit lebih keras lagi untuk membelikanmu yang baru di kota, White. Bagaimana jika monyet liar itu menyerang dan mencakar wajahmu? Lihatlah sekarang, kakimu sampai membengkak seperti ini," ucap Lucas dengan nada mengomeli namun sarat akan kasih sayang.

Pria itu kemudian berjongkok di atas tanah basah, memeriksa pergelangan kaki putrinya dengan jemari tangannya yang kasar namun dipenuhi oleh kelembutan seorang ayah.

"Aku hanya tidak mau menyia-niakan benda berharga yang Ayah beli dengan susah payah dari hasil keringat Ayah. Aku tidak apa-apa, Ayah. Maafkan aku... wignya sudah rusak Ayah... dan percayalah, luka terkilir ini pasti akan sembuh dengan sendirinya sebentar lagi," ucap White disertai seulas senyuman manis yang menenangkan.

Di balik kalimatnya, White tidak sepenuhnya berbohong untuk menenangkan ayahnya. Ia tahu betul sebuah rahasia fisik lain tentang dirinya: sel-sel di dalam tubuhnya memiliki kemampuan regenerasi jaringan yang tidak lazim dan jauh lebih cepat dibandingkan manusia normal. Luka memar atau terkilir seperti ini biasanya akan lenyap tanpa bekas hanya dalam waktu semalam, seolah-olah tubuhnya memiliki mekanisme penyembuhan magis.

Lucas hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, menyerah pada sifat keras kepala putrinya. Ia kemudian sedikit merendahkan tubuhnya, menawarkan punggungnya yang kokoh untuk menggendong White kembali ke kereta kuda. Namun, gadis itu justru menahan kedua bahu ayahnya dengan lembut, menolak dengan halus.

"Tidak usah digendong, Ayah. Aku masih cukup kuat untuk berjalan sendiri. Dan... sebenarnya ada hal lain yang jauh lebih penting yang ingin kuberitahukan pada Ayah. Di dalam hutan sana, aku menemukan sesosok jasad manusia yang membeku. Aku terjatuh tadi karena kakiku tersandung oleh bongkahan es raksasa yang mengurung jasad itu," ujar White dengan nada suara yang berubah drastis menjadi sangat serius.

Lucas berdiri tegak kembali, lalu tiba-tiba terkekeh geli. Ia menganggap ucapan putrinya hanyalah sebagai lelucon penenang atau imajinasi liar seorang remaja.

"Jasad manusia yang membeku di dalam es? Apa kamu tidak sedang berhalusinasi atau terlalu lelah, White? Perlu kamu ingat, kita sekarang sedang berada di puncak musim panas yang sangat terik. Mana mungkin ada es di tengah hutan desa kita?"

White mencebikkan bibirnya cemberut. Ia merasa

tidak terima penemuan besarnya dianggap sebagai angin lalu atau sekadar khayalan siang bolong.

"Aku serius, Ayah! Jasad itu nyata dan bukan delusi! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri di sebelah sana! Pria itu terjebak di dalam es raksasa!"

Jari telunjuk White menunjuk lurus ke arah vegetasi semak-semak yang gelap dan lebat di dekat pangkal akar pohon ek raksasa, tempat ia tersandung tadi.

Melihat pancaran kesungguhan dan binar kecemasan yang murni di sepasang manik mata ungunya, sisa tawa di wajah Lucas perlahan-lahan memudar. Ekspresi pria itu mendadak mengeras, dan atmosfer di sekitar mereka berdua entah mengapa terasa berubah menjadi lebih berat dan mencekam. Ada sesuatu dalam tatapan Lucas yang mengisyaratkan bahwa ketakutan terburuknya mungkin saja telah menjadi kenyataan.

"Kalau begitu, tunjukkan pada Ayah sekarang juga. Mari kita lihat apa yang sebenarnya kamu temukan di dalam sana,"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!