NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Romansa pedesaan / Cewek Gendut / Cerai / Tamat
Popularitas:169k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.

Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.

Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.

Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.

Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.

Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.

"Kita menikah!"

Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.

Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Menyulut Api

Pada malam setelah bertemu Mireya dan keluarga barunya, Syahzan duduk sendirian di dalam mobil. Tangannya masih menggenggam kemudi, tetapi pikirannya tidak lagi berada di jalan.

Bayangan Mireya terus muncul di kepalanya. Cara perempuan itu merangkul lengan Arven. Cara Mireya memanggil pria itu dengan panggilan mesra.

Dan yang paling membuat dadanya terasa sesak adalah senyum Mireya. Senyum yang dulu hanya untuknya, kini diberikan kepada orang lain.

“Kenapa kau bisa melupakanku secepat itu?” gumamnya.

Syahzan mengepalkan tangan. Ia tahu Mireya sudah menjadi istri orang lain.

Namun, ia belum bisa menerima kenyataan bahwa pria itu seorang Arven Zarretti. Pemilik lahan yang selama ini memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan tempatnya bekerja.

Pria yang memiliki kuasa, dan ia berada di bawah kuasa itu. Syahzan mengembuskan napas panjang.

“Kalau aku tidak bisa membuatmu kembali…”

Tatapannya berubah.

“…setidaknya aku akan membuat dia meninggalkanmu."

.

.

Arven akhirnya kembali ke rumah menjelang siang.

Begitu mobilnya memasuki halaman, ia langsung melihat dua sosok yang seharusnya sudah berada di dalam rumah.

Mireya dan Elden. Namun keduanya justru masih berada di lahan perkebunan yang sedang mereka olah. Di bawah terik matahari.

Arven mengernyitkan kening. Jam makan siang bahkan sudah lewat.

“Pak Can.”

“Ya, Tuan?”

“Mereka udah makan siang?”

Pak Can menggeleng.

“Sepertinya kalau belum pulang, tandanya belum, Tuan.”

“Kenapa?”

Pak Can menunjuk ke arah perkebunan. “Nyonya dan Tuan Muda masih di sana.”

Arven menatap ke sana.

Mireya sedang berjongkok sambil memindahkan bibit. Bajunya sudah penuh noda tanah. Rambutnya sedikit berantakan karena angin dan keringat.

Di sampingnya, Elden tampak sama kotornya. Anak itu bahkan masih tersenyum lebar.

Arven menghela napas. “Sudah berapa lama mereka di sana?”

“Sejak pagi kepergian kita.”

“Dan belum makan?”

“Sepertinya begitu.”

Arven terdiam. Perempuan itu benar-benar tidak mengenal waktu.

Ia berjalan mendekat. “Elden.”

Anak itu menoleh. “Ayah!”

Elden langsung berdiri dan berlari menghampirinya.

Arven menunduk melihat putranya yang penuh tanah. “Kalian belum kembali?”

Elden menggeleng. “Kami mau menyelesaikan ini dulu.”

Arven menatap Mireya. “Dan kau?”

Mireya yang masih memegang bibit menoleh.

“Oh, masih ingat pulang, ya?” tanya Mireya dengan suara sumbang.

Arven diam beberapa detik. "Apa kamu bisa langsung menjawab pertanyaanku, tanpa perlu bertanya balik?"

Mireya hanya mendengus, lalu kembali fokus pada bibit di tangannya.

Melihat Mireya yang tak acuh membuat pelipis Arven berkedut. “Sudah siang.”

Mireya melihat matahari. Kemudian melihat lahan. Kemudian kembali melihat Arven.

“Oh…” Tapi, ia masih mencoba melanjutkan pekerjaan. “Tinggal dikit lagi.”

Arven menghela napas. “Kalian itu belum makan.”

Elden langsung mengangkat tangan. “Aku udah lapar!”

Mireya tertawa kecil. “Kalau begitu, kamu ikut ayahmu. Ibu mau melanjutkan ini sedikit lagi.”

Arven langsung mengernyit.

“Tidak.”

Mireya berhenti bergerak.

“Apa?”

“Kau juga ikut makan.”

“Kenapa kamu ngatur-ngatur aku?" Mireya menyipitkan matanya.

"Karena aku suami kamu."

Mireya bangkit dan menepuk kedua tangannya yang penuh dengan tanah, sehingga debu bertebangan membuat Arven refleks mundur satu langkah.

"Sekarang kamu mau repot-repot Mengingatkanku? Tadi saat pergi, apa kamu membicarakan sesuatu padaku? Kamu sudah janji, kan, sama aku dan Elden?”

“Apa kamu lupa kita akan berkebun bersama? Kenapa kamu pergi tanpa pamit dan menghilang begitu saja?”

Arven tersentak kehilangan kata-kata.

Mireya melipat kedua tangannya di depan dada. “Kenapa diam?”

Arven menatap perempuan itu beberapa detik. Kemudian menghela napas. “Aku pergi karena ada masalah soal pekerjaan.”

Mireya sedikit mengernyit. "Jadi ini sifatnya rahasia apa engga? Aku boleh bertanya?"

Arven menggeleng cepat. "Kamu boleh bertanya."

Mireya menatap bola mata Arven dengan lekat. “Sebenarnya aku tak tertarik mencampuri urusanmu. Hanya saja, saat kamu pergi, sempatkan lah untuk memberitahu kami."

"Kan tadi malam kamu sendiri yang mengatakan kita ini adalah keluarga?"

Arven mencoba merangkai jawaban di dalam kepalanya. Akan tetapi tatapan Mireya masih tertuju kepadanya.

“Kalau memang keluarga ... setidaknya beri tahu kalau ada sesuatu. Aku tidak akan ikut campur kalau memang tidak perlu.”

Arven mengangguk perlahan. “Baik.”

Mireya tampak sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Arven akan langsung mengalah.

“Dan satu lagi.”

“Apa?”

“Jangan pergi tanpa pamit lagi.”

Arven menatapnya. “Baik.”

“Janji?”

“Janji.”

Mireya akhirnya tersenyum tipis. “Kalau begitu, selesai.”

Elden yang sejak tadi memperhatikan mereka langsung mengangkat tangannya. “Sekarang kita bisa makan?”

Mireya tertawa kecil. “Iya. Sekarang makan.”

Arven menghela napas lega. Namun baru saja hendak berjalan, ia kembali teringat sesuatu.

“Kau juga jangan lupa makan hanya karena sedang bekerja.”

Mireya mengerutkan kening. “Masih soal makan?”

“Karena sejak tadi kita membicarakan makan.”

“Aku belum lapar.” Perut Mireya tiba-tiba berbunyi.

Hening. Elden langsung menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.

Pak Can yang berdiri tidak jauh dari mereka buru-buru memalingkan wajah.

Arven menatap Mireya.

Mireya menatap tanah. “Itu suara angin,” katanya cepat.

Arven mengangkat alis. “Angin dari mana bisa berbunyi begitu?”

Elden akhirnya tertawa. “Ibu juga lapar!”

“Elden!” Mireya mencoel pipi anak itu.

Arven akhirnya tersenyum tipis. “Ayo.”

Ia berjalan lebih dahulu.

Elden segera menggenggam tangan ayahnya, lalu mengulurkan tangan satunya kepada Mireya. “Ibu juga.”

Mireya memandang tangan kecil itu. Kemudian menggenggamnya. Mereka bertiga berjalan menuju rumah.

Baru beberapa langkah, Arven tiba-tiba berhenti.

Mireya ikut berhenti. “Ada apa?”

“Cuci tangan dulu.”

Mireya melihat kedua tangannya yang penuh tanah. “Oh.”

Ia menatap seluruh tubuhnya berganti dengan Elden. “Elden, ayo kita mandi dulu.” Tangan Mireya terulur di hadapan Elden.

"Tapi, Bu ... Aku lapar ..."

*bersambung*

1
Erna Masliana
tamat... bagus ceritanya
Erna Masliana
ya tujuanmu apa .. awalnya kan anak.. kenapa tiba-tiba serakah.. balik lagi cuman anak aja jangan ganggu rumah tangga orang gak baik
Erna Masliana
Pendem terus sampe bisulan
Erna Masliana
kamu pernah menikah juga bedanya kamu beneran putus hubungan dg mantan.. yang ini mantan serakah ingin merebut posisimu.. jadi kamu harus lebih pintar
Erna Masliana
baguslah Mireya mulai pinter
Erna Masliana
s serakahnya
Erna Masliana
Nindy pengangguran apa lagi cuti
Erna Masliana
kamu jebak Arven biar sampe hamil punya anak berharap jadi nyonya tapi hasilnya tak sesuai ekspektasi mu gitu... kenapa tidak move on..
Erna Masliana
dari sekian banyak murid..aneh banget bisa semuanya terpengaruh.. padahal anak anak tuh biasanya ngeyel loh
Erna Masliana
mamvus... kalo mau bertemu anak ..ya baik baik bertamu dg benar.. ini mah niatnya udah bukan anak lagi tapi keserakahan
Erna Masliana
maksa.. inti na mah..teu bogoh..teu hayang..bogohna ka Mireya
Erna Masliana
ganggu bae s Mireya
Erna Masliana
heh..jauh y
Erna Masliana
Pak Can bijak 👍
Erna Masliana
salahkan dirimu sendiri tidak mau jujur
Erna Masliana
tinggal bilang apa susahnya.. palingan jadi majikan lagi.. jangan buat orang yang menampung dan membela mu kelihatan bego di mata mantan keluarga bejatmu
Erna Masliana
jujur aku gak ngerti..masa Iddah itu di hitung setelah ketok palu atau kata talak?? terus yang namanya sidang perceraian setauku tidak ada yang sehari beres..sepupuku aja perlu 6bulan 3 kali sidang sampe ketok palu..kalo dalam Islam ya dihitung dari kata talaknya suami bukan dari ketok palu deh kayaknya
SoVay: boleh dbaca sampai selesai y kak, ceritanya udah tamat 🙏🍅
total 1 replies
Erna Masliana
ih hayang nga geplak s Mireya.. bertele tele..aku orangnya gak sabaran 😛
Erna Masliana
ya banyak.. karena kamu gak cari tau..gak nanya dg benar..kamu juga punya rahasia... jangan marah
Erna Masliana
greget ih...Mireya terlalu lemah.. sampe harus di bela anak kecil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!