NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:383
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 ketakutan setiap wanita

Veronica berjalan mengikuti pelayan itu menyusuri lorong demi lorong menuju bagian dalam istana, hingga akhirnya mereka tiba di kediaman permaisuri. Di baliknya terbentang sebuah taman bunga yang begitu indah, jauh lebih luas daripada yang pernah ia bayangkan dari luar tembok istana. Berbagai bunga mekar berdampingan, dari mawar yang merekah hingga untaian bunga kecil yang merambat di lengkung besi, dan semerbak harumnya membuat langkah Veronica melambat tanpa ia sadari. Perasaannya sedikit membaik setelah menghirup udara taman itu, walau pikirannya masih tertinggal di ruang singgasana. Ia masih terkejut dengan salah satu alasan pernikahannya dengan Altres. Pernikahan itu ternyata bukan hanya untuk menyatukan aliansi, tetapi juga untuk memastikan bahwa bila ia melakukan sesuatu yang buruk, Altres akan membunuhnya. Ia sama sekali tidak menyangka ada alasan lain di balik pernikahan yang belakangan ini justru mulai ia inginkan, dan kenyataan itu membuat dadanya terasa nyeri setiap kali ia mengingatnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengepalkan jemarinya di balik lengan gaun, mencoba menyimpan semua pikiran itu di sudut hatinya, karena bagaimanapun ia tidak boleh datang menemui seorang permaisuri dengan wajah muram.

Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah meja bundar yang sudah ditata dengan berbagai hidangan dan teh terbaik. Seorang wanita cantik duduk dengan anggun di sana, dikelilingi beberapa pelayan, dan menatap Veronica dengan senyum lembut yang langsung membuat suasana terasa lebih ringan. Veronica segera menunduk memberi salam kepada permaisuri Kekaisaran Uddine. "Saya Veronica, istri Duke Vanguard. Terima kasih telah mengundang saya, Yang Mulia," ucapnya dengan suara yang sengaja ia buat setenang mungkin.

Wanita itu tersenyum dan mengisyaratkan kursi di hadapannya. "Silakan duduk, Duchess. Tidak perlu terlalu kaku di tempat ini. Mari kita nikmati teh dan camilan bersama."

Para pelayan segera bergerak dengan cekatan meracik teh dan menghidangkannya di depan Veronica dengan gerakan yang halus. Veronica menatap permaisuri yang duduk begitu anggun di hadapannya, dengan rambut yang tersanggul rapi dan gaun yang jatuh lembut di sandaran kursi, dan tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. "Anda begitu cantik, Yang Mulia."

"Anda juga terlihat cantik dengan gaun dan aksesori itu," balas sang permaisuri sambil tersenyum hangat. Ia lalu menegakkan punggung dan memperkenalkan diri dengan sopan. "Aku Diana de Liagger. Aku merasa terhormat bertemu dengan salah satu putri Raja Naga Roten, apalagi yang kudengar telah menjadi bagian dari keluarga Vanguard."

"Justru sayalah yang sangat terhormat bertemu dengan permaisuri Kekaisaran Uddine," ucap Veronica sambil menunduk sedikit. Diana tersenyum puas, tampak menyukai kerendahan hati tamunya, lalu mengangkat cangkirnya sendiri dengan gerakan yang begitu halus. "Bagaimana tehnya, apakah cocok untukmu?"

Veronica menyesap tehnya perlahan, membiarkan hangatnya mengalir di tenggorokan, lalu mengangguk dengan mata berbinar. "Teh ini sangat enak. Aroma mawarnya begitu harum dan membuat saya tenang," ujarnya sambil menghirup uap tipis yang naik dari cangkir, merasakan bahunya yang tadi tegang perlahan mengendur.

Wajah Diana langsung berseri seperti anak kecil yang menemukan teman bermain baru, dan ia menaruh cangkirnya dengan bersemangat. "Kau bisa mencium aroma mawar yang dikeringkan itu? Hanya sedikit sekali orang yang menyadarinya."

"Saya memiliki penciuman yang tajam, Yang Mulia, dan agak sensitif terhadap aroma yang menyengat," jawab Veronica sambil tersenyum malu. "Karena itu saya tidak suka parfum yang beraroma terlalu kuat."

Diana mencondongkan tubuhnya dengan mata berbinar penuh rasa penasaran. "Kalau begitu, apa aroma parfum yang kupakai?"

Veronica memejamkan mata sejenak. "Mawar, dengan sedikit aroma buah anggur yang manis dan segar," jawabnya mantap.

Diana menahan tawa, matanya membulat takjub, dan menepukkan tangannya pelan. Dengan wajah penuh kenakalan, ia menoleh pada para pelayan yang berdiri di sekeliling meja dan menanyakan aroma yang dipakai oleh masing-masing dari mereka. Veronica menjawab satu per satu tanpa ragu, hanya dengan mengendus pelan udara di sekitar mereka. Ia menyebut sabun bunga lavender dari pelayan yang berdiri di kiri dan minyak jeruk dari pelayan yang berdiri di kanan, dan semuanya tepat. Para pelayan saling melirik dengan wajah terkejut dan pipi yang sedikit memerah, sementara Diana tertawa ringan tanpa berusaha menutupi kegembiraannya. Sudah lama sekali, pikir sang permaisuri, ia tidak tertawa selepas itu di tengah kakunya aturan istana.

"Luar biasa! Aku harus memberimu hadiah untuk ini, Duchess. Perhiasan, kain, atau buku, katakan apa pun yang kau suka."

"Tidak perlu, Yang Mulia." Veronica menggeleng pelan dan tersenyum. "Bisa duduk di taman seindah ini bersama Anda sudah lebih dari cukup. Saya hanya ingin menikmati waktu bersama Anda."

Diana tampak sama sekali tidak kecewa, bahkan matanya melembut penuh rasa sayang pada tamunya yang tulus itu. Senyumnya justru melebar seolah ia merasa mendapat sesuatu yang jauh lebih berharga daripada hadiah mana pun. Veronica lalu menoleh ke arah taman di sekeliling mereka, memandangi kelopak-kelopak yang bergoyang pelan tertiup angin, dan memuji dengan tulus. "Taman di istana Anda begitu indah, dan penuh dengan bunga dari berbagai jenis."

"Itu hadiah dari Kaisar," jawab Diana lembut sambil menyentuh kelopak mawar yang menjulur ke tepi meja, dengan senyum yang tampak begitu bahagia dan penuh kenangan. "Aku sangat menyukai bunga, jadi Kaisar berpesan kepada para pedagang untuk membawakan berbagai benih bunga untukku. Itu sebabnya taman ini penuh bunga dari berbagai wilayah. Aku merasa sangat beruntung menjadi pasangan seorang Kaisar yang begitu mencintaiku. Bahkan ketika Kaisar menolak mengambil selir, hatiku terasa tenang. Kalau tidak, aku pasti akan terus gelisah."

Veronica mengerjapkan matanya dan keningnya berkerut dalam. Kata itu terdengar asing di telinganya, dan ia merasa ada sesuatu yang tidak menyenangkan tersembunyi di baliknya. "Selir? Apa itu selir, Yang Mulia?"

Seorang wanita yang berdiri di belakang kursi permaisuri, Margaret, dayang pribadi Diana, melangkah maju dengan hormat. "Dengan izin Yang Mulia, saya akan menjelaskannya, Nyonya." Setelah Diana mengangguk, Margaret melanjutkan dengan tenang. "Selir adalah wanita yang bertugas melahirkan putra Kaisar. Namun berbeda dengan permaisuri, selir tidak memiliki kekuasaan dan hanya menerima harta sebagai imbalan karena memberikan keturunan bagi Kaisar."

Veronica menatap Margaret dengan mata membulat dan bibir sedikit terbuka. Ia tidak pernah menyangka ada posisi seperti itu di dunia manusia, posisi yang bagi para wanitanya hanya berarti harta dan tugas melahirkan, tanpa suara dan tanpa kuasa. Cangkir di tangannya berhenti di udara beberapa saat sebelum ia perlahan meletakkannya kembali di atas tatakan. "Di dunia naga, kami hanya memiliki satu pasangan seumur hidup," ujarnya pelan. "Karena keterikatan itu, seekor naga tidak mungkin berpaling pada yang lain. Kami bahkan menandai pasangan kami dengan menggigit ekornya."

Diana terperangah dan menutup mulutnya dengan telapak tangan, sementara Margaret di belakangnya tampak sama terkejutnya. "Aku tidak pernah menyangka naga ternyata makhluk yang begitu setia."

"Memang begitulah kami." Veronica tersenyum tipis dan menyentuh tepi cangkirnya dengan ujung jari, tetapi tatapannya perlahan bergeser ke kejauhan, ke arah kelopak yang berguguran di atas rumput. "Tapi apakah manusia berbeda?"

"Sejak dulu para penguasa memang memiliki lebih dari satu pasangan," jawab Diana dengan nada yang terdengar sedikit hati-hati, seakan baru menyadari bahwa topik ini tidak sepenuhnya menyenangkan bagi tamunya. "Bagi para bangsawan, itu dianggap hal yang wajar. Dan pasangan itu akan diberi kekuasaan bila berhasil memberikan penerus."

Keduanya pun larut dalam percakapan panjang tentang perbedaan manusia dan naga dalam hal pasangan, saling bertukar cerita dan sesekali tertawa kecil, ditemani teh yang perlahan mendingin di dalam cangkir. Namun di tengah tawa dan cerita itu, sebuah pikiran dingin menyelinap di dalam hati Veronica, perlahan tetapi pasti, seperti bayangan yang memanjang saat senja tiba. Ia akhirnya sadar bahwa Altres pun bisa saja memiliki wanita lain, bila pria itu menginginkannya. Cangkir teh di tangannya terasa tiba-tiba lebih dingin, dan senyum yang ia pasang di wajahnya mendadak terasa seberat batu.

1
EMPIRE RAJA
/Frown/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!