Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1
“Aku hamil, Zoey.”
Dua kata itu menghantam Zoey lebih keras daripada petir yang membelah langit. Gaun pengantin putih bertabur kristal swarovski yang melekat anggun di tubuh Zoey mendadak terasa begitu berat, seolah menariknya jatuh ke dasar jurang.
Jemarinya yang semula menggenggam erat buket bunga mawar putih mulai bergetar. Seluruh isi ballroom megah yang dipenuhi ratusan tamu VVIP mulai dari pejabat, relasi bisnis, hingga sosialita berubah sunyi senyap.
Di hadapannya, tepat di bawah altar, berdiri Alana. Sahabat yang telah menemaninya sejak bangku sekolah menengah.
Air mata membasahi pipi Alana, tetapi yang paling menyakitkan bagi Zoey bukanlah tangisan palsu itu. Melainkan pria yang kini menunduk di sampingnya.
“Maaf, Zoey,” ucap Arga.
Terlalu pelan untuk menghancurkan hidup seseorang, namun cukup keras untuk meremukkan hati Zoey berkeping-keping.
”Apa maksud kalian berdua?” suara Zoey bergetar, matanya menatap Arga dan Alana bergantian. “Arga, katakan padaku kalau ini hanya lelucon konyol.”
Alana terisak, mengusap perutnya yang masih rata dengan dramatis.
“Aku mengandung anak Arga, Zoey. Usianya sudah delapan minggu.”
Ruangan yang tadinya hening mendadak riuh rendah. Suara bisik-bisik para tamu berdengung bagai kawanan lebah.
“Ya Tuhan, skandal macam apa ini?”
“Pantas saja wanita itu berani menerobos altar.”
“Kasihan sekali Nona Zoey, dipermalukan di hari pernikahannya sendiri.”
Wajah kedua orang tua Zoey di barisan terdepan memucat pasi. Ibunda Zoey, nyonya Malika, mencengkeram dadanya dengan napas tersengal, nyaris jatuh pingsan jika tidak ditahan oleh suaminya.
Alexander, ayah Zoey, berdiri dengan rahang mengeras. Urat di leher dan pelipisnya menegang menahan amarah yang meledak.
“Keamanan! Seret wanita gila ini keluar dari sini sekarang juga!” bentak Alexander dengan suara menggelegar sembari menunjuk Alana.
Tiga pria berseragam hitam langsung berlari mendekat. Namun, sebelum tangan mereka menyentuh Alana, Arga merentangkan tangannya, melindungi wanita itu.
“Jangan sentuh dia!” bentak Arga berbalik menatap ayah Zoey.
Lalu, pria itu beralih menatap Zoey dengan sorot penuh rasa bersalah yang memuakkan.
“Tolong, Zoey, jangan sakiti Alana. Aku mencintainya.”
Kalimat itu membuat napas Zoey tercekat di tenggorokan.
Delapan tahun. Delapan tahun mereka bersama. Delapan tahun ia merajut mimpi, membuang egonya dan percaya bahwa Arga adalah lelaki yang akan menjadi pelindung hidupnya.
Ternyata selama itu pula ia hanya memeluk ilusi.
“Sejak kapan?” tanya Zoey. Suaranya kini tidak lagi bergetar. “Sejak kapan kalian mulai bermain gila di belakangku?”
Arga memejamkan mata, seolah tak sanggup menatap wajah Zoey.
“Sudah hampir satu tahun.”
Satu tahun?
Artinya, ketika mereka berkeliling kota memilih gedung pernikahan, ketika Zoey tersenyum bahagia mencoba gaun ini, hingga menyusun daftar tamu pria itu sudah mengkhianatinya.
Arga tidur dengan sahabatnya sendiri.
Air mata Zoey menggenang, membakar pelupuk matanya, tetapi ia mendongak. Tak satu tetes pun ia biarkan jatuh. Ia menolak menangis di depan orang-orang yang sedang menikmati kehancurannya.
Melihat Zoey hanya terdiam kaku, Alana justru melangkah maju, memasang wajah memelas paling menyedihkan.
“Maafkan kami, Zoey. Sungguh, kami tidak bermaksud menyakitimu. Tapi kami tidak bisa membohongimu lebih lama. Bayi ini butuh seorang ayah.”
Plak!
Sebuah tamparan keras menggema nyaring.
Tubuh Alana terhuyung ke belakang hingga menabrak pilar bunga, meninggalkan cap lima jari berwarna merah pekat di pipinya.
Semua tamu tersentak kaget. Beberapa tamu wanita menjerit tertahan.
“Itu untuk delapan tahun persahabatan yang kamu hancurkan dengan tubuh murahanmu,” ucap Zoey dingin, mengibaskan tangannya yang terasa kebas.
“Zoey! Apa yang kau lakukan?!” Arga panik, buru-buru memeluk Alana yang kini menangis semakin keras. Pria itu menatap Zoey dengan sorot menyalahkan. “Kau tidak perlu main tangan! Dia sedang hamil!”
Zoey tertawa lirih. Tawa hampa yang terdengar jauh lebih menyakitkan dan mengerikan daripada tangisan.
“Lucu sekali.” Zoey menatap pria yang hampir menjadi suaminya itu dengan tatapan jijik.
“Baru beberapa detik yang lalu kau berdiri di sampingku mengucap janji setia. Tapi sekarang kau sudah menjadi pahlawan kesiangan untuk selingkuhanmu.”
Arga menggertakkan gigi, wajahnya memerah karena malu disaksikan ratusan pasang mata.
“Aku memang salah! Aku brengsek! Tapi sampai kapanpun aku tidak bisa menikahi mu, Zoey!”
“Karena dia?”
“Karena aku harus bertanggung jawab atas darah dagingku!”
Para wartawan dan paparazzi yang sedari tadi ditahan di area luar mulai masuk, menyalakan blitz kamera bertubi-tubi bak rentetan tembakan senapan.
“Nona Zoey! Bagaimana tanggapan anda?!”
“Tuan Arga, benarkah anda berselingkuh dengan sahabat calon istri anda?!”
“Tuan Alexander, apakah pernikahan ini resmi dibatalkan?!”
“Tahan para wartawan itu! Jangan biarkan mereka mengambil foto!” teriak kepala keamanan.
Terjadi aksi saling dorong yang brutal antara petugas dan wartawan hingga beberapa vas bunga jatuh pecah berantakan di lantai marmer.
Berita tentang batalnya pernikahan putri tunggal keluarga konglomerat Alexander di depan altar jelas akan menjadi santapan empuk media massa.
Tatapan Zoey perlahan menyapu seluruh ballroom yang kacau balau. Semua orang memandangnya dengan rasa iba, cemoohan dan kasihan.
Tidak. Ia tidak membutuhkan belas kasihan siapa pun. Ia tidak akan membiarkan Arga dan Alana keluar dari gedung ini sebagai pemenang.
Lalu, di antara kerumunan tamu yang panik, mata Zoey terkunci pada satu sosok.
Di barisan kursi VVIP yang mulai berantakan, seorang pria berdiri sangat tenang. Ia mengenakan setelan jas hitam pekat yang dijahit sempurna, membalut postur tubuhnya yang tinggi tegap.
Rahangnya tegas dan sorot matanya tajam mematikan, seolah badai kekacauan di ruangan itu hanyalah sirkus murahan yang sama sekali tidak menarik baginya.
Tanpa berpikir panjang, Zoey melangkah turun dari altar. Semua mata, termasuk kamera wartawan, otomatis mengikuti arah langkahnya.
Damian mengernyit tipis saat wanita bergaun pengantin yang tampak berantakan itu berhenti tepat di depannya.
“Kau mau apa?”tanya Damian datar.
Zoey menatap lurus ke dalam mata pria itu, menantang aura bahaya yang menguar darinya. Lalu, tanpa meminta izin, ia meraih dan menggenggam erat lengan Damian.
“Apa yang mau kau lakukan?” bisik Damian, menatap jemari Zoey yang mencengkeram jasnya.
Zoey menarik napas panjang, menstabilkan detak jantungnya yang bergemuruh gila.
Lalu, ia membalikkan tubuh, menghadap Arga, Alana, para wartawan, dan seluruh tamu undangan.
“Kalau calon suamiku memilih memungut wanita murahan di hari pernikahanku, maka aku akan menikahi pria ini!” ucap Zoey lantang.