Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Nasib Derita Istri Kuli Bangunan
Sore harinya, Burhan pulang dengan langkah terseret. Baju kaosnya basah kuyup oleh keringat dan penuh noda bekas semen.
Wajahnya pucat pasi. Saat melangkah masuk ke ambang pintu rumah karena sudah bekerja 3 hari 2 malam lututnya mendadak lemas dan ia hampir tersungkur jika Anisa tidak sigap berlari menopang tubuhnya.
"Kang Burhan! Ya Allah, Akang kenapa?" teriak Anisa panik sambil memeluk pinggang suaminya, menahan bobot tubuh Burhan.
Ibu Asnah yang mendengar teriakan itu langsung keluar dari kamar. "Ada apa ini?! Kenapa dengan anakku?!"
"Kang Burhan badannya panas sekali, Bu! Sepertinya Akang sakit," kata Anisa panik, membimbing Burhan duduk di bale-bale kayu serta mengambilkan handuk dan air hangat untuk Burhan.
Ibu Asnah mendatangi mereka dan meraba dahi Burhan. "Aduh, panas sekali! Ini pasti gara-gara kamu, Nisa! Kamu tidak becus mengurus suami! Dia kelelahan kerja keras mencari uang buat makan kamu, sampai fisiknya ambruk begini!"
Anisa tidak menjawab tuduhan itu. Ia lebih mengkhawatirkan kondisi suaminya. "Nisa ambilkan air hangat dan kompresan dulu, Bu."
Anisa berlari cepat ke dapur, menyiapkan air hangat dan kain bersih. Dengan telaten, ia mengusap dahi, leher, dan tangan Burhan. Rika yang baru pulang dari pasar melongok ke dalam dan berdecak kagum menyindir.
"Wah, parah itu. Kalau sakit begitu kan tidak bisa kerja besok. Lalu besok makan apa? Uang tabungan Kang Burhan kan sudah habis buat beli beras minggu lalu," ujar Rika sengaja memanasi suasana.
Ibu Asnah makin meradang. "Dengar itu! Suamimu sakit, tidak bisa cari uang! Kamu mau makan apa besok, hah?! Mau terus menggerogoti simpanan Ibu?!"
Dengan sigap Burhan berkata " sudah ibu dan Rika jangan mengejek Anisa terus , besok ibu pulang saja makin jadi beban rumah tangga kami " ucap Burhan dengan nada membela istrinya.
Burhan memegang tangan Anisa dengan gemetar. Matanya yang sayu menatap istrinya penuh penyesalan. "Nisa... maafkan Akang... Akang malah sakit..."
Anisa mengecup punggung tangan suaminya yang kasar. Air matanya menetes di tangan Burhan, namun ia menyunggingkan senyuman paling hangat yang ia miliki.
"Jangan bicara begitu, Kang. Akang sakit karena sudah bekerja terlalu keras untuk keluarga ini," bisik Anisa lembut. "Soal makanan dan uang besok, Akang jangan khawatir. Serahkan semuanya pada Nisa. Tugas Akang sekarang cuma istirahat dan sembuh."
"Tapi, Nisa..."
"Ssstt... Nisa ini istri Akang. Susah dan senang kita tanggung bersama. Nisa tidak akan pernah meninggalkan Akang hanya karena keadaan kita sedang di bawah," potong Anisa dengan nada mantap dan penuh ketegasan.
Ibu Asnah yang berdiri di samping mereka hanya melipat tangan sambil mencibir. "Bicara manis memang gampang! Kita lihat saja besok, apa mulut manismu itu bisa berubah jadi beras!"
Malam itu, ketika seluruh isi rumah sudah tertidur pulas, Anisa tetap berjaga di samping Burhan. Ia mengganti kain kompresan suaminya setiap satu jam sekali, memijat kaki suaminya yang pegal, dan memanjatkan doa-doa khusyuk di sepertiga malam.
Ia menatap wajah suaminya yang tertidur pulas dalam demam. Meskipun seluruh dunia menyalahkan dan mengolok-oloknya, meskipun mertua dan iparnya terus menabur duri di jalannya, Anisa telah membulatkan tekad dalam hati.
Cinta dan kesetiaannya pada Burhan bukan sekadar janji di atas kertas akad, melainkan janji suci yang akan terus ia jaga hingga akhir hayatnya.