NovelToon NovelToon
Sinar Aluna & Dua Pelindung Hati

Sinar Aluna & Dua Pelindung Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

✨ Sinopsis

Aluna adalah gadis cantik dan agak nakal yang tumbuh dalam kemewahan, namun yang paling berharga baginya bukan harta, melainkan dua sahabat yang selalu ada di sisinya sejak kecil: Orion — tampan, tenang, bijaksana, & pintar; serta Rexy — ganteng, tegas, sedikit tengil, namun berhati emas & menjadi pelindung setia keduanya. Ketiganya anak dari keluarga terpandang, tumbuh bersama, berjanji tak akan pernah terpisahkan.

Namun seiring berjalannya waktu, rasa persahabatan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Baik Orion maupun Rexy sama-sama menyayangi Aluna lebih dari sekadar sahabat. Ketika hati Aluna akhirnya harus membuat pilihan sulit, ia menyadari bahwa memilih satu berarti menyakiti yang lain.
Di antara cinta & persahabatan, di antara kebersamaan & pengorbanan, ketiganya belajar: cinta sejati tidak harus memiliki, & persahabatan tulus adalah harta yang abadi selamanya. Sebuah kisah hangat tentang perjalanan hati, keikhlasan, & kebersamaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Berhujan dan Cerita Tanpa Akhir

Langit sore itu tiba-tiba berubah gelap banget, seolah lupa cara jadi cerah. Angin berhembus kencang, menggoyangkan dedaunan di halaman depan rumah Aluna. Belum lama, hujan pun turun — bukan hujan gerimis, tapi hujan deras yang bikin dunia di luar sana seolah tertutup tirai air putih.

Aluna berdiri di balik jendela kaca ruang tengah, menatap jalanan yang basah dan kosong. Tiba-tiba dia merasa sepi banget. Padahal di dalam rumah hangat, ada Mama yang sedang menyiapkan camilan di dapur, ada aroma teh hangat yang tercium sampai ke ruang tamu. Tapi entah kenapa, hatinya terasa kosong kalau nggak ada suara tawa mereka berdua.

Dia mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat ke grup obrolan mereka bertiga:

"Hujan deras banget di sini. Tiba-tiba kangen ngobrol tanpa henti sampai lupa waktu. Kalian nggak apa-apa di sana?"

Belum lima menit berlalu, ponselnya bergetar.

Rexy:

"Aman di rumah, lagi duduk di teras sambil denger suara hujan. Terima kasih udah ingat aku, padahal biasanya kamu cuma cari aku kalau butuh bantuan 😏"

Aluna tersenyum membacanya, mengetik balasan cepat:

"Iya iya maaf ya Tuan Rexy yang terhormat. Besok aku traktir kamu es krim, puas kan?"

Baru dikirim, muncul pesan dari Orion:

"Hujan di sini juga deras. Kalau kamu kangen cerita, aku di sini. Selalu. Nggak perlu alasan khusus buat sekadar mengobrol, ya."

Hati Aluna terasa hangat banget. Dia menatap layar ponselnya lama sekali. Kata-kata Orion itu sederhana, tapi selalu berhasil menenangkan hatinya yang gelisah.

Tanpa dia duga, pintu depan rumahnya berbunyi tak lama kemudian. Aluna melirik jam di dinding — pukul tujuh malam, hujan masih turun deras banget. Siapa yang datang jam segini?

Dia berjalan membukakan pintu, dan matanya terbelalak kaget.

Di depan pagar, berdiri dua sosok yang dia kenal baik. Mereka basah kuyup, rambut mereka meneteskan air, tapi senyum mereka tetap terlihat jelas meski di tengah gelap dan hujan.

"Kalian… apa-apaan sih ini?! Hujan deras gini kalian ke sini?!" seru Aluna panik, langsung membuka pintu lebar-lebar dan menyuruh mereka masuk.

Rexy tertawa sambil mengibaskan air dari rambutnya, membuat percikan air ke sana kemari. "Kamu tadi bilang kangen kan? Ya kita datang. Gitu aja kok teriak-teriak."

"Kamu gila ya?! Sakit nanti kalau kena hujan begini!" Aluna meraih handuk yang ada di dekat pintu, lalu menyodorkannya ke mereka dengan wajah cemas.

Orion tersenyum sedikit malu sambil menerima handuk. "Jangan marah dulu ya. Tadi pas kamu bilang kangen, aku lihat Rexy berdiri di jendela rumahnya yang kebetulan menghadap ke arah sini. Dia bilang 'kita ke sana aja'. Jadi… ya, kita datang."

Aluna menggeleng tak percaya, tapi tangannya dengan lembut menyeka tetesan air di dahi Rexy yang terasa dingin. "Kalian ini memang nggak pernah bisa dibilangin. Tapi… terima kasih. Banget."

Mereka bertiga duduk di ruang tengah, mengenakan pakaian kering milik ayah Aluna yang dipinjamkan sementara. Di meja sudah tersedia teh hangat dan pisang goreng buatan Tante Mira yang baru saja keluar dari dapur sambil tersenyum bijak, lalu membiarkan mereka bertiga mengobrol tanpa gangguan.

Suara hujan di luar terdengar seperti musik latar yang menenangkan. Lampu ruangan yang agak redup membuat suasana terasa intim dan hangat.

"Jadi… mau cerita apa?" tanya Rexy sambil menyesap teh hangatnya, matanya berbinar lebih terang dari biasanya.

Aluna memutar cangkir tehnya perlahan. "Aku cuma lagi mikir. Kita sudah kenal berapa lama ya? Rasanya sejak aku bisa mengingat sesuatu, kalian sudah ada di sana."

"Sejak kamu jatuh dari ayunan dan aku yang angkat kamu berdiri, sambil kamu nangis dan pegang bajuku sampai kusut," kata Rexy tiba-tiba.

Aluna tersipu. "Kamu masih ingat aja?"

"Mana mungkin aku lupa. Itu pertama kali aku merasa kalau aku harus selalu jagain kamu. Bahkan saat kamu sendiri nggak sadar kamu butuh dijaga," jawab Rexy pelan, tatapannya tulus banget.

Orion menatap ke luar jendela, ke arah butiran air yang menuruni kaca. "Aku ingat saat kita masih kecil, pernah main petak umpet di taman. Kamu sembunyi di semak-semak dan tertidur di sana. Kita mencarimu sampai panik. Saat ketemu, kamu cuma tersenyum sambil menguap dan bilang 'tadi aku nunggu kalian ketemu aku'. Saat itu aku sadar — kebahagiaanmu itu sederhana banget. Dan aku ingin selalu menjaga kesederhanaan itu tetap ada di dirimu."

Aluna menatap mereka berdua bergantian. Matanya terasa hangat. "Kalian ingat semua hal kecil itu? Padahal aku sendiri hampir lupa."

"Karena hal-hal kecil itu yang paling penting, Lun. Bukan pesta mewah, bukan hadiah mahal. Tapi momen saat kita merasa aman bersama," ucap Orion lembut.

Malam itu, mereka bercerita tanpa henti. Cerita tentang masa kecil yang lucu, tentang ketakutan yang pernah disembunyikan sendirian, tentang mimpi yang kadang terasa terlalu jauh untuk dijangkau. Mereka bicara tentang segalanya — kecuali satu hal yang ada di hati masing-masing. Rasa itu masih tersimpan rapi, seperti buku yang halamannya belum siap dibuka sepenuhnya.

Hujan di luar perlahan mereda, tapi obrolan mereka seolah tak punya akhir. Seolah waktu senggang sengaja berhenti berdetak agar mereka bisa menikmati momen itu lebih lama lagi.

Saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, mereka tahu harus pulang. Di depan pagar yang sudah basah kembali oleh sisa hujan, Rexy berhenti sejenak sebelum melangkah pergi. Dia menatap Aluna dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

"Kalau suatu hari hujan turun lagi dan kamu merasa sepi… telepon aku. Aku datang. Sekalipun aku sedang tidur, sekalipun aku sedang sibuk. Aku datang," ucapnya tegas, lalu berbalik pergi sebelum Aluna sempat menjawab.

Orion berdiri sebentar lebih lama. Dia menatap Aluna dengan senyum yang meneduhkan. "Rexy benar. Tapi ingat, kamu nggak perlu menunggu hujan turun buat menelepon salah satu dari kami. Cerita kita belum selesai, Lun. Masih banyak hal yang belum kita ceritakan. Sampai kapan pun."

Aluna mengangguk pelan, jantungnya berdetak pelan tapi pasti. "Terima kasih sudah datang. Kalian membuat malam hujan ini jadi malam yang paling aku ingat."

Mereka berpisah di bawah langit yang mulai terang kembali oleh remang bulan, membawa perasaan hangat di hati masing-masing — perasaan bahwa di dunia ini, ada seseorang yang selalu siap mendengarkan cerita kita, kapan pun dan di mana pun.

 

Pertanyaan untuk kamu:

Beberapa hari kemudian, saat Aluna sedang merapikan buku hariannya, dia menemukan secarik kertas kecil yang terselip di halaman buku catatannya — kertas itu bukan miliknya, dan tulisannya berbeda dari tulisan Orion maupun Rexy. Di atasnya tertulis: "Cerita terbaik belum ditulis. Itu yang akan kita tulis bersama-sama."

Menurutmu, siapa yang menyelipkan kertas itu ke dalam buku Aluna? Apakah Orion yang diam-diam melakukannya saat meminjam bukunya kemarin? Atau Rexy yang menyelipkannya saat Aluna sedang asyik mengobrol dengan temannya? Dan apa reaksi Aluna saat akhirnya dia tahu siapa penulisnya? Ceritakan ya! 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!