“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
Arunika menggandeng tangan kecil Nakula yang terasa dingin hingga mereka tiba di depan pintu kamar utama.
"Mulai malam ini, kau tidur di sini bersama Mama, ya," ucap Arunika lembut.
Nakula tidak menjawab sepatah kata pun. Bocah itu hanya menundukkan kepalanya sedalam mungkin, seolah masih takut jika semua kehangatan ini hanyalah mimpi sesaat yang akan sirna begitu ia membuka mata.
Arunika membuka lebar pintu kamar, lalu mempersilakan Nakula masuk terlebih dahulu. "Silakan masuk, Sayang."
Nakula melangkah sangat pelan. Sepasang matanya menyapu seluruh sudut ruangan luas yang terasa begitu baginya. Selama ini, jangankan masuk, mendekati kamar ayahnya tanpa izin saja adalah sebuah pelanggaran berat berbuah hukuman.
Arunika menutup pintu, lalu berjongkok perlahan agar tinggi tubuhnya sejajar dengan Nakula. "Masih takut?"
Nakula menggeleng pelan. Namun, jemari kecilnya yang saling meremas erat di depan dada justru mengkhianati rasa takut yang masih membungkus jiwanya.
Arunika tersenyum tulus, mencoba mencairkan suasana. "Kalau nanti lapar, haus atau ingin apa pun, bilang sama Mama, ya?"
Tetap tidak ada jawaban. Nakula hanya mengangguk sekilas.
Arunika tidak kehabisan akal. Ia mencoba merayu dengan nada ceria. "Besok, Mama punya hadiah khusus buat anak paling hebat di rumah ini."
Kali ini, Nakula sedikit mengangkat dagunya, manik matanya melirik penasaran. "Hadiah?"
"Iya."
"Apa itu?"
"Rahasia dong." Arunika mengedipkan sebelah matanya.
Untuk sesaat, Arunika sempat menduga rasa penasaran itu akan membuka pintu komunikasi Nakula. Tapi dugaannya meleset. Bocah itu kembali memasang raut dingin, membungkam mulutnya rapat-rapat. Ia berjalan kaku ke sisi ranjang king size, lalu duduk terdiam di tepi kasur.
Arunika mengembuskan napas pelan. Anak ini benar-benar mengunci hatinya dari dunia luar. Ia tahu Nakula bersikap begitu bukan karena tidak sopan, melainkan karena trauma. Bocah itu takut berharap, takut kecewa, dan takut kembali disakiti.
"Kalau begitu, kita tidur sekarang, ya," kata Arunika menenangkan. Ia mengambil selimut tambahan dari dalam lemari. "Kau tidur di atas ranjang, Mama di sofa saja."
Mendengar itu, Nakula langsung mendongak dan menggeleng kuat-kuat. "Tidak mau."
"Loh, kenapa tidak mau di ranjang? Kan empuk."
"Ini kamar papa," jawab Nakula lirih dengan suara bergetar. "Nanti papa marah kalau tahu aku tidur di sini."
Bahkan di tengah situasi traumatis seperti ini, pikiran Nakula masih dipenuhi ketakutan pada ayahnya.
"Tenang saja, Nakula. Papamu sendiri yang menyuruh Mama tinggal di kamar ini," bujuk Arunika sabar, lalu mengusap puncak kepala bocah itu penuh kasih. "Dan mulai hari ini, kamar ini juga tempat perlindunganmu kalau kau merasa takut."
Nakula kembali terdiam, mencerna ucapan itu. Perlahan, ia merayap naik ke atas ranjang. Alih-alih menghadap ke arah Arunika, bocah itu justru berbaring membelakangi wanita tersebut sambil mendekap bantal guling erat-erat.
Tembok pertahanan itu masih berdiri kokoh.
Arunika tidak berniat memaksa. Ia berjalan mematikan lampu utama hingga ruangan hanya diterangi pendar kekuningan dari lampu tidur yang redup. Ia menarik selimut tebal perlahan untuk menutupi tubuh kecil Nakula.
"Selamat tidur, jagoan."
Tidak ada jawaban. Arunika tersenyum tipis dalam remang malam.
"Yah, mungkin memang butuh waktu merebut hati putramu Alana."
Arunika duduk di tepi ranjang beberapa saat. Melihat helaian rambut Nakula yang berantakan dan basah oleh sisa air mata, tanpa sadar Arunika merapikannya dengan jemari yang teramat lembut.
"Mulai sekarang, tidak akan ada lagi orang yang berani menyeretmu ke gudang kotor itu. Mama janji," bisik Arunika tulus di dekat telinga bocah itu.
Arunika lalu bangkit dan berjalan menuju sofa. Baru dua langkah ia meninggalkan ranjang...
"Terima kasih."
Langkah Arunika terhenti seketika. Ia menoleh cepat ke belakang. Nakula masih berbaring membelakanginya, bahunya sedikit menegang, seolah malu atas apa yang baru saja ia ucapkan.
"Sama-sama, Nakula." senyum Arunika terkembang lebar.
*
*
Di sisi lain, suasana di kamar Ratna jauh dari kata tenang.
Wina mondar-mandir di atas sambil mengomel.
"Ma! Aku benar-benar sudah tidak tahan dengan perempuan gendut itu!"
Ratna yang sedang duduk di depan meja rias sambil mengoleskan krim malam hanya melirik lewat pantulan cermin.
"Apa lagi yang sudah dia perbuat malam ini?"
"Dia membentakku lagi di lorong! Di depan Damar pula!" Wina mengepalkan tangan geram. "Sekarang anakku sampai bertanya-tanya kenapa aku hanya diam saja saat dipermalukan oleh perempuan asing itu."
Ratna menghela napas malas. "Kau terlalu mudah terpancing emosi, Wina."
"Bagaimana aku tidak emosi?! Dia bahkan berani membawa Nakula masuk ke kamar utama Arjuna!"
Mendengar itu, Ratna menghentikan gerakannya. Wajah tua wanita itu langsung berubah serius.
"Wanita itu benar-benar memang di luar dugaan kita!"
"Makanya!" geram Wina.
"Kalau dibiarkan, lama-lama perempuan itu akan merasa paling berkuasa di rumah ini!" Ia menghentakkan kakinya kesal.
"Sebenarnya berapa lama sih Arjuna bertugas di perbatasan?" tanya Ratna.
"Entahlah. Tapi kalau dia pulang nanti, aku akan mengadukan semua kelakuan kurang ajarnya."
"Tenang saja, Wina. Mama sangat yakin Arjuna akan lebih mempercayai kita daripada wanita baru itu. Sejak kecil, Arjuna tidak pernah membantah sepatah kata pun dari Mama."
Senyum licik perlahan merekah di bibir Ratna.
"Kalau perlu... kita buat Arjuna sendiri yang mengusir Arunika dari rumah ini dengan tangannya."
Wina ikut menyeringai puas. "Ide bagus, Ma."
Keduanya sama sekali tidak menyadari, bahwa ketulusan yang ditunjukkan Arunika malam ini perlahan mulai meruntuhkan tembok es yang selama bertahun-tahun mengurung hati kecil Nakula.
udh pindah aj ke dapur itung2 latihan nanti kalo makan di penjara ,, 🤭🤭🤣🤣🤣 ,, biar gx kaget