🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Lampu di data room lantai dua puluh delapan lebih putih daripada lampu lorong. Kerai sudah diturunkan rapat. Di meja panjang, map akuisisi PT Pesisir Garuda Logistik disusun menurut warna punggungnya: biru untuk gudang dan rute, abu-abu untuk angka, merah untuk hal yang bisa membatalkan tanda tangan. Alina Prameswari berdiri di ujung meja yang terjauh dari pintu. Halaman di depannya bukan ringkasan yang biasa diletakkan di kursi direktur.
Ia masuk gedung sebagai A. Pramesthi. Di lobi, resepsionis hanya bertanya rapat mana yang dituju, lalu memberi kode untuk lantai dua puluh delapan karena jadwal pagi itu dipenuhi nama yang hampir sama. Kode itu tidak membuka data room. Yang membukanya, pagi ini, adalah kelalaian. Seseorang dari tim hukum meninggalkan pintu tidak terkunci di antara dua sesi. Kartu akses masih menggantung di kait bagian dalam. Daftar nama tertindih map yang belum diparaf. Alina tidak menyalin kartu siapa pun. Ia masuk sebelum pintu sempat rapat, lalu menghitung menit, bukan keberanian.
Jadwal yang terjepit di papan dalam pintu bertuliskan Senin, 5 Oktober 2026. Sesi berikut pukul sepuluh.
Ponselnya sudah menyimpan tujuh foto. Empat di antaranya tidak akan menolong siapa pun: denah depo, tanggal sewa forklift, halaman tanda tangan yang masih kosong, dan daftar hadir sesi sebelumnya yang tintanya belum kering. Yang membuat jarinya berhenti adalah selembar lampiran di belakang map abu-abu, dijepit klip tersendiri supaya tidak tercampur dengan ringkasan. Judulnya pendek. Kode vendor yang masih tercatat pada berkas target.
Sebagian nama di tabel itu wajar untuk perusahaan logistik. Depo di Marunda. Bengkel ban. Sewa truk yang alamatnya di Cilincing. Pada baris keempat hurufnya sedikit lebih rapat, seolah ditambahkan setelah tabel selebihnya selesai: PT Lazuardi Mitra Logistik. Kolom keterangan tidak berisi kata ditutup. Seseorang mengetik, masih muncul pada rekonsiliasi.
Alina tidak tahu perusahaan itu milik siapa. Ia juga tidak tahu apa yang diangkutnya, atau apakah perusahaan itu masih punya gudang. Ia hanya tahu baris itu terasa salah di antara baris yang rapi. Ayahnya dulu berurusan dengan uang proyek, bukan dengan daftar vendor akuisisi yang baru dibuka tahun ini. Nama di kertas ini belum ia hubungkan dengan apa pun yang bisa ia buktikan. Ia memotretnya karena halaman yang salah sering kali lebih berguna daripada halaman yang sudah diberi judul bagus.
Layar ponsel sempat gelap. Baterai tinggal empat belas persen, dan sinyal di ruangan ini hampir tidak ada. Alina mengeluarkan kamera saku dari saku dalam tas. Benda itu murah, tidak meminta jaringan, dan cukup kecil untuk disangka power bank jika seseorang hanya melirik. Ia memotret lampiran yang sama sekali lagi. Bunyinya pelan. Kamera masuk kembali ke tas sebelum ia sempat memeriksa hasilnya.
Di luar, lift berdenting.
Alina membalik lampiran ke dalam map. Klipnya jadi miring. Pintu terbuka sebelum sampul sempat ia tutup.
Pria di ambang tidak memakai tali pengunjung. Jasnya hitam, kancing atasnya terpasang, seperti pakaian itu bagian dari jam kerja dan bukan bagian dari undangan. Rambutnya masih rapi. Ia berhenti setengah langkah. Matanya menyusuri meja, berhenti pada Alina, pada map yang tidak tertutup, lalu pada ponsel di tangan Alina.
Alina mengenal wajah itu dari foto laporan tahunan dan dari berita yang tidak pernah berpihak pada ayahnya. Adrian Mahendra. Direktur Utama Mahendra Group. Mereka belum pernah berada dalam satu ruangan, dan ruangan ini terlalu terang untuk berpura-pura hal itu tidak baru saja berubah.
“Itu bukan meja resepsionis,” kata Adrian.
Ia masuk dan menutup pintu. Kunci diputar dari dalam. Bunyinya kecil. Alina mendengarnya sampai ke ujung jari.
“Rapatnya pukul sepuluh,” jawab Alina. “Aku datang lebih dulu.”
“Nama Anda tidak ada di daftar data room.” Adrian tidak mengangkat suara. Ia melangkah ke papan klip di dekat pintu, memastikan, lalu kembali menatap ponsel itu. “Letakkan.”
“Kalau daftarnya lengkap, pintu ini tidak terbuka di antara dua sesi. Kartunya masih tergantung di dalam. Bukan aku yang membuatnya terbuka.”
“Saya tidak menuduh Anda meretas.” Adrian mengulurkan tangan, telapak ke atas. Ia tidak menyentuh Alina. “Saya menuduh Anda memotret dokumen yang bukan hak Anda. Ponselnya.”
Alina menimbang pintu yang sudah terkunci, kerai yang tidak bisa ditarik tanpa terlihat dari lorong, dan jarak dua langkah di antara mereka. Lari tidak masuk akal. Menjelaskan siapa dirinya lebih tidak masuk akal lagi. Ia meletakkan ponsel di atas map. Layar masih hidup pada foto terakhir: sudut tabel, sebagian nama, huruf yang terpotong di tepi kertas.
Adrian mengambil ponsel itu sebelum layar mengunci diri. Ia tidak membuka galeri di depan Alina. Ibu jarinya menekan tombol samping. Layar menjadi hitam. Ponsel masuk ke saku dalam jas, di sisi yang jauh dari tangan Alina.
“Tas,” katanya.
“Tidak.”
“Saya tidak sedang menawar.”
“Dan aku tidak sedang menyimpan bom.” Alina menggeser tas ke sisi kursi, cukup jauh sehingga Adrian harus memutari meja jika ingin meraihnya. Di dalamnya ada pena, salinan undangan atas nama yang bukan namanya, dan kamera yang baru saja berbunyi. “Kalau Pak Adrian menggeledah tamu tanpa saksi, pukul sepuluh cerita yang beredar bukan tentang akuisisi.”
Adrian berhenti. Sebutan itu tidak melunakkan apa pun di wajahnya.
“Anda tahu siapa saya.”
“Wajah Anda ada di sampul yang dibagikan ke wartawan. Sulit untuk tidak tahu.”
“Nama Anda.”
“A. Pramesthi. Buku tamu di lobi. Resepsionis Anda yang mengetiknya.”
“Itu nama yang Anda ucapkan. Bukan nama Anda.”
“Itu nama yang diterima meja depan Anda. Kalau pintunya longgar, jangan salahkan orang yang berjalan melewatinya.”
Adrian menarik map abu-abu ke sisinya. Ia membalik halaman pertama, menemukan klip yang miring, dan meletakkan dua jari di atas lampiran tanpa mengeluarkan seluruhnya. Jam di pergelangan tangannya sederhana. Tali kulitnya sudah diganti. Muka jamnya bukan jenis yang dipakai agar orang lain bertanya mereknya.
“Anda memotret ini,” katanya.
“Aku memotret banyak halaman. Sebagian isinya jadwal forklift.”
“Yang ini bukan jadwal forklift.”
“Kalau begitu, jangan tinggalkan di ruangan yang pintunya menganga.”
Adrian menutup map. Ia tidak mengembalikannya ke tumpukan. Ponselnya sendiri keluar dari saku celana. Ibu jarinya berhenti di atas sebuah nama. Alina tidak perlu melihat layar untuk menebak itu keamanan, atau seseorang yang bisa memanggil keamanan dengan satu kalimat.
“Sebelum itu ditekan,” kata Alina, “bandingkan angka di ringkasan dengan angka di lampiran. Kalau sama, panggil saja. Pintunya sudah Anda kunci. Aku tidak akan berubah menjadi asap.”
Adrian tidak menekan. Ia juga belum membuka lampiran itu lebar-lebar.
“Anda tidak dalam posisi memberi syarat.”
“Aku dalam posisi sudah melihat halaman yang mungkin tidak ingin Anda jelaskan di depan orang lain pukul sepuluh. Termasuk orang yang tidak bekerja di gedung ini.”
Adrian melihat wajahnya lebih lama daripada melihat tangannya. Bukan karena kagum. Ia sedang mengukur apa yang bisa dilakukan orang ini dengan informasi, dan apa yang belum sempat dilakukan.
“Siapa yang mengirim Anda?”
“Tidak ada.”
“Kusuma Pacific?”
Alina menggeleng sekali. “Kalau aku utusan mereka, aku tidak akan masuk lewat pintu yang lupa ditutup, dengan baterai sebesar ini.”
Adrian menyimpan ponselnya sendiri. Ponsel Alina tetap di jasnya. Ia memeriksa kunci sekali lagi, lalu menunjuk kursi di seberang meja.
“Duduk. Jangan sentuh map lain. Kalau angka yang Anda sebut ternyata kalimat kosong, panggilan berikutnya bukan ke resepsionis.”
Alina duduk. Tas tetap di pangkuan. Bentuk kamera saku menekan tulang pahanya dari dalam kain, dan Adrian belum menanyakannya. Jam dinding menunjukkan pukul 09.47. Di luar kerai, Sudirman bergerak tanpa suara. Di dalam, pendingin mendesis. Map abu-abu ada di tangan orang yang, bagi Alina, mewarisi cerita yang merusak ayahnya. Bagi Adrian, map itu ada di tangan pemilik ruangan, dan perempuan di seberangnya adalah orang asing yang baru saja memotretnya. Rapat yang tinggal tiga belas menit belum tahu bahwa salah satu dokumennya sudah terlanjur meninggalkan meja, setidaknya sebagai cahaya di dalam sebuah ponsel yang layarnya sudah gelap.