"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersiap pergi
Srak.
"Aaakhhh!"
Kanaya meringis saat tiba tiba punggungnya di lempar sesuatu, tapi Sanca langsung muncul dan membuat serangan itu tidak begitu parah mengenai Kanaya.
"Oops... maaf ya Kanaya aku tidak sengaja, tadi aku mau melempar batu itu pada kucing yang sudah mengambil makananku" ucap seorang perempuan berpura pura merasa bersalah dan menghampiri Kanaya.
"Iya, tidak apa apa yang penting aku tidak terluka" jawab Kanaya yang tidak mau membuat keributan di kampus itu meskipun batu yang di lempar cukup besar dan bisa saja membuat Kanaya terluka jika mengenai kepalanya.
"Kamu pasti sengaja melakukan itu Irma!" kesal Irsyad
"Jangan menuduh, aku memang hanya ingin melempar kucing" jawab Irma.
"Sudah Irsyad, tidak apa apa" bujuk Kanaya
"Kalian mau pulang?" tanya perempuan itu
"Iya" jawab Kanaya langsung pergi tapi kembali Irma membuat ulah, kali ini Irma sengaja berpura pura tersandung dan mendorong tubuh Kanaya hingga dia terjatuh dan hampir membentur sebuah motor yang terparkir di sana.
Sanca menarik tubuh Kanaya sebelum kepala Kanaya membentur stang motor yang terparkir di sana, Sanca bahkan sudah mulai emosi dan itu di sadari oleh Kanaya.
"Irma!" bentak Irsyad segera menolong Kanaya.
"Hiks... maafkan aku Irsyad, aku benar benar tidak sengaja" ucap Irma yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Perempuan munafik!" umpat Irsyad segera membawa Kanaya pergi dari sana karena mereka sudah jadi bahan tontonan pada mahasiswa lain.
"Hahahaha... gila Irma, akting Lo benar benar hebat, si Kanaya benar benar Lo buat terluka" ucap teman Irma yang sejak tadi hanya diam menonton pertunjukan Irma yang penuh kebohongan.
"Mereka tidak akan bisa berbuat apapun, gue anak salah seorang dosen di sini jadi si Kanaya pasti takut tidak di luluskan tahun ini" sinis Irma yang memang merupakan anak seorang dosen di sana.
"Kanaya juga anak seorang dosen Irma" ucap teman satunya lagi.
"Dosen yang mengundurkan diri demi membuka jasa jadi tukang cuci" cibir Irma tersenyum sinis.
"Dasar perempuan ular, dia sudah meremehkan Kanaya dan kedua orang tuanya, tunggu saja pembalasan dariku" kesal Sanca melihat sekeliling dan dia melihat ada seekor kucing sedang bersantai di atas sebuah motor.
"Kamu bilang ingin melempar kucing yang mencuri makanan kamu kan? maka silahkan lari dari kucing itu" ucapnya lagi memasukkan sesuatu ke dalam tubuh si kucing hingga si kucing melotot pada Irma dan menyerang Irma.
"Hhrrrr...."
"Serang dia, jangan berhenti sampai wajahnya penuh dengan luka cakaran darimu!" perintah Sanca dan kucing itu mulai mendekati Irma.
"Eh, kenapa kucing ini tiba tiba melotot ke arahku dan mencakar ku!" teriak Irma langsung berlari ke arah dalam kampus karena kucing itu terus mengejar Irma.
Sanca tak hanya membuat Irma di kejar kucing, dia juga mengambil handphone Irma dan mengirimkan video Irma yang sedang memakai dalaman saja ke akun kampus dan mengirim isi percakapan Irma dengan pacarnya yang berisi banyak chat mesum dan juga foto foto tidak pantas.
"Kita lihat besok, apa kamu masih bisa tertawa karena tidak boleh ada yang mengganggu anakku!" sinis Sanca yang bahkan sudah melihat Irma penuh luka cakaran kucing.
"Aaakhhh! Resti, Jani tolong aku!" teriak Irma tapi para mahasiswa tidak ada yang menolongnya, hanya menertawakan penderitaan Irma.
Sanca langsung pergi dari sana untuk menyusul Kanaya, dia selalu melihat Kanaya yang sabar meskipun terus di hina oleh teman satu fakultasnya itu, tapi Sanca tahu di balik diamnya Kanaya, dia hanya ingin memastikan satu hal, dia ingin ke kampung Curug dan menemui ayah kandungnya yang sudah dia ketahui siapa dengan cara berkomunikasi dengan Sanca.
Awalnya Sanca diam, tapi melihat Kanaya yang sudah hampir dua puluh tahun akhirnya Sanca mengatakan siapa ayah kandung Kanaya bahkan mendukung Kanaya untuk membalas orang orang yang sudah membunuh Riyanti ibunya dengan menjadi kutukan di keluarga Raditya.
••••••••••
Di rumah.
"Nak, kamu yakin mau ke sana?" tanya Rebecca yang sedang membantu Kanaya membereskan pakaiannya.
"Iya ma, lagipula di sana yang paling cocok untuk tugas magang Kanaya, pabrik itu sudah beroperasi sejak lama dan masih tetap berdiri, Kanaya ingin melihat secara langsung bagaimana pengelolaan pabrik dan juga manajemen di sana" jawab Kanaya.
"Tapi kamu jangan lupa hubungi kami ya, kamu akan lama loh di sana" keluh Rebecca
"Iya mamaku sayang" jawab Kanaya memeluk Rebecca
"Ma..."
"Apa nak"
"Kanaya sayang mama dan papa, sayang sekali" ungkap Kanaya membuat Rebecca terkekeh.
"Kami juga menyayangi kamu nak" jawab Rebecca
"Nanti di sana kamu jangan jauh jauh dari Irsyad ya, dia akan jaga kamu" ucap Rebecca
"Siap mama, kalau tempat tinggal kami berbeda ya mungkin akan sulit ma buat Irsyad jaga Kanaya" jawab Kanaya
"Memangnya ada berapa orang yang akan ke pabrik itu juga?" tanya Rebecca
"Ada empat orang ma, aku, Shaquilla, Irsyad sama Sultan" jawab Kanaya
"Kalian mau magang atau mau pacaran?" cibir Andar yang sejak tadi hanya duduk mendengarkan obrolan ibu dan anak itu.
"Kami tidak pacaran pa.." keluh Kanaya
Andar tertawa, tadi di balik tawanya ada rasa khawatir karena Sanca mengatakan wajah Kanaya itu mirip dengan Raditya, dia khawatir Raditya akan mengenali Kanaya dan mengambil Kanaya darinya.
"Jangan khawatir Andar, Kanaya tidak akan pernah kembali ke keluarga itu" bisik Sanca
"Jaga dia Sanca, aku sudah mencari tahu juga tentang kampung yang sudah lama tidak aku injak sejak menemukan Kanaya, katanya di sana dukun bernama Tarman sering melakukan praktek diam diam karena di kampung itu juga ada sebuah pesantren milik Kiai Adrian Wijaya" ungkap Andar
"Ya, pesantren itu begitu besar bahkan banyak di kenal sampai ke Jakarta dan kota kota lain, kamu tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya, pasti akan aku jaga dengan seluruh jiwaku karena Kanaya sudah aku anggap sebagai anak sendiri" jawab Sanca
"Kalau bisa minta Kanaya tinggal di pesantren saja supaya aman" ucap Andar dan Sanca tersenyum.
"Kanaya di panggil bayi terkutuk oleh Hilda neneknya, jadi Kanaya akan melakukan tugasnya di tempat Raditya, dia akan benar benar menjadi kutukan untuk mereka terutama Hilda dan Eva" jawab Sanca semakin membuat Andar cemas.
"Papa... ayo cari uban" ajak Kanaya
"CK... Papa masih muda" gerutu Andar tapi dia tetap berdiri karena itu adalah kegiatan yang di sukai Kanaya.
"Papa jaga kesehatan ya nanti kalau Kanaya sudah berangkat"
"Tidak mau ah, papa maunya kamu di sini saja dengan kami"
"Ish .. Papa ini ngeyel mirip Kanaya" gerutu Kanaya dan keduanya tertawa.