Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Kepergian yang Tak Pernah Diduga
.
Pagi harinya, Bara keluar dari kamar dengan wajah kusut. Ia baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaian kerja ketika langkahnya terhenti di depan ruang makan. Pandangannya langsung tertuju pada meja panjang yang biasanya sudah dipenuhi hidangan sarapan setiap kali ia keluar dari kamar.
Namun, pagi ini meja itu kosong. Tidak ada sepiring nasi goreng kesukaannya, tidak ada secangkir kopi hitam yang biasa disiapkan Mentari, bahkan tidak ada sepotong roti yang bisa dimakannya sebelum berangkat ke kantor.
Bara berdiri beberapa saat, memandangi meja tersebut dengan kening berkerut.
“Mentari?” panggilnya.
Tidak ada jawaban ia melirik ke arah dapur, berharap perempuan itu sedang sibuk menyiapkan sesuatu di sana. Namun, dapur terlihat kosong. Tidak ada suara peralatan masak atau langkah kaki yang biasanya terdengar ketika Mentari sedang menyiapkan sarapan.
Bara menghembuskan napas kasar. Selama tiga hari terakhir, ia memang tidak terlalu memperhatikan ketidakhadiran Mentari. Masalah dengan masalah yang terjadi di perusahaan membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor.
Namun, pagi ini suasananya terasa berbeda. Apartemen itu seperti kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi bagian dari kesehariannya. Tidak ada yang menyambutnya, tidak ada yang menanyakan apakah ia tidur dengan nyenyak, dan tidak ada pula seseorang yang mengingatkannya untuk sarapan sebelum berangkat bekerja.
Hal-hal kecil yang sebelumnya dianggap biasa kini justru membuatnya merasa tidak nyaman.
Bara menarik kursi, lalu duduk dengan wajah masam. Ia mengambil ponselnya dan kembali memeriksa ruang percakapan dengan Mentari. Tidak ada pesan baru dari perempuan itu, sementara pesan yang dikirimkannya semalam juga belum mendapatkan balasan.
“Benar-benar keterlaluan,” gerutunya sambil meletakkan ponsel di atas meja, kemudian menyandarkan tubuhnya sambil mengusap wajah.
Perusahaan sedang berada dalam kondisi genting. Ada banyak hal yang harus diselesaikan. Seharusnya Mentari bisa memahami situasi tersebut, bukan malah menghilang tanpa kabar hanya karena dirinya merasa tersinggung.
“Di saat seperti ini, dia malah sibuk mencari perhatian dengan cara yang tidak jelas,” gumam Bara kesal.
Namun, setelah mengucapkan kalimat itu, ia justru terdiam. Mencari perhatian? Apakah benar itu yang sedang dilakukan Mentari? Pria itu baru teringat bahwa selama ini ia memang tak pernah memberikan perhatian pada Mentari. Sebaliknya justru Mentari lah yang selalu memperhatikan segala kebutuhannya.
Bara mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa perempuan itu hanya ingin membuatnya merasa bersalah. Selama ini, Mentari selalu berada di sampingnya dengan setia walau seperti apapun kondisi mereka dulu.
“Ya benar. Dia hanya ingin aku merasa bersalah. Sudahlah. Nanti juga dia kembali sendiri,” gumamnya lagi.
Bara bangkit dari kursinya karena tak ingin membuang waktu hanya untuk memikirkan sikap Mentari yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan.
Setelah memakai dasi dan jas lalu mengambil tas kerja, ia segera meninggalkan apartemen.
Perjalanan menuju kantor terasa lebih panjang daripada biasanya. Bara beberapa kali melirik ponselnya ketika berhenti di lampu merah, berharap ada pesan dari Mentari yang masuk. Namun, layar ponselnya tetap tidak menunjukkan pemberitahuan apa pun dari perempuan itu.
Ia mendengus kesal, lalu meletakkan ponselnya kembali.
“Jangan harap aku akan mencoba menghubungimu lagi,” gumamnya. “Sepertinya benar kata Vanya, kamu harus lebih dilatih mental lagi supaya bisa berdiri dengan layak di sisiku."
Bara mencoba mengalihkan pikirannya pada pekerjaan, termasuk rapat dengan tim pemasaran dan pembahasan mengenai proyek yang sedang diupayakan perusahaannya. Ia tidak bisa membiarkan masalah pribadi mengganggu konsentrasinya.
Sesampainya di perusahaan, Bara langsung memasuki gedung dengan langkah cepat. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menyapa dengan sopan, tetapi ia hanya membalasnya dengan anggukan singkat. Wajahnya yang muram membuat tidak seorang pun berani mengajaknya berbicara lebih jauh.
Alih-alih langsung menuju ruangannya, Bara justru berbelok ke area kerja para staf yang berada di salah satu sisi lantai tersebut. Entah kenapa tiba-tiba saja ia ingin bertemu dengan Mentari. Namun, begitu tiba di area kerja tersebut, langkahnya langsung melambat. Meja yang biasanya ditempati Mentari terlihat kosong.
Bara mengerutkan kening memandang kursi yang tersimpan rapi di bawah meja, lalu mengalihkan pandangan pada beberapa barang yang biasanya diletakkan perempuan itu di sana. Tidak ada tas, tidak ada buku catatan, bahkan tidak ada alat tulis yang tertinggal. Semuanya tampak seperti meja yang sudah lama tidak digunakan.
“Di mana Mentari?” tanyanya kepada seorang karyawan yang sedang duduk tidak jauh dari sana.
Karyawan itu mendongak. Begitu menyadari siapa yang sedang bertanya, ia segera berdiri.
“Selamat pagi, Pak Bara,” ucapnya sambil menundukkan kepala dan sedikit membungkukkan badannya.
“Aku bertanya, di mana Mentari? Kenapa mejanya kosong?” tanya Bara tanpa menjawab sapaan karyawan itu.
Karyawan tersebut terlihat ragu sebelum akhirnya menjawab, “Setahu saya, Mbak Mentari sudah empat hari ini tidak masuk kerja, Pak.”
Bara mengerutkan kening lebih dalam. “Empat hari?”
“Benar, Pak,” jawab karyawan sambil mengangguk. “Sejak setelah acara peresmian itu, saya belum melihatnya lagi.”
Bara terdiam sejenak. Ia sudah mengetahui bahwa Mentari tidak pulang ke apartemen selama tiga hari, tetapi mendengar bahwa perempuan itu juga tidak masuk kerja membuat perasaannya semakin tidak nyaman.
“Apa dia mengajukan cuti?” tanyanya lagi.
Karyawan itu menggeleng pelan. “Saya kurang tahu Mbak Mentari mengambil cuti, Pak. Sebelumnya Mbak Mentari tidak pernah bercerita.”
Sebelum Bara sempat bertanya lebih jauh, seorang karyawan lain yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka ikut menoleh. “Bukankah Mbak Mentari sudah resign, Pak?”
Bara langsung memutar kepala ke arahnya. “Apa katamu?”
Karyawan tersebut tampak terkejut melihat perubahan ekspresi Bara. Namun, ia tetap berusaha menjelaskan apa yang diketahuinya.
“Saya dengar dari bagian administrasi bahwa Mbak Mentari sudah mengajukan pengunduran diri keesokan harinya setelah malam peresmian. Katanya, suratnya sudah diproses.”
Untuk beberapa saat, Bara hanya menatapnya tanpa berkata-kata. Resign? Mentari mengundurkan diri? Ia merasa seolah baru saja mendengar sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana mungkin Mentari mengambil keputusan sebesar itu tanpa memberitahunya terlebih dahulu?
Bara segera mengeluarkan ponselnya, lalu membuka ruang percakapan mereka. Ia membaca kembali pesan-pesan terakhir yang dikirimkannya, tetapi tidak menemukan satu pun penjelasan mengenai pengunduran diri tersebut.
Tiba-tiba saja ia teringat dengan percakapan mereka pagi hari setelah acara peresmian perusahaan. Saat itu, Bara memang sempat mengatakan kepada Mentari agar perempuan itu tidak perlu datang ke kantor untuk sementara waktu. Tetapi waktu itu maksudnya adalah untuk melindungi Mentari, agar gadis itu tidak mendengar bahwa dirinya menjadi pergunjingan. Tetapi kenapa Mentari malah resign?
“Tidak mungkin,” gumam Bara.
Ia kembali menatap meja kosong tersebut, seolah berharap semua ini hanyalah kesalahpahaman.
“Tapi saya mendengar dari bagian administrasi kalau pengunduran diri Mbak Mentari sudah mendapatkan tanda tangan dari Pak Bara?” ucap karyawan tadi dengan hati-hati.
Bara semakin terkejut mendengar kata-kata karyawan itu. Kapan dia pernah menandatangani surat resign dari Mentari?
Bara masih berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini, Mentari selalu menjalankan pekerjaannya dengan baik. Bahkan ketika sedang memiliki masalah pribadi, perempuan itu tidak pernah membawa urusannya ke kantor. Lalu, mengapa sekarang ia memilih pergi tanpa sepatah kata pun? Apakah hanya karena perselisihan mereka hari itu lalu membuat Mentari tidak ingin lagi bekerja di perusahaan itu?
Bara mengepalkan tangan. Perasaan kesal yang sejak tadi memenuhi dadanya perlahan bercampur dengan kegelisahan. Pria itu bergegas berjalan menuju bagian administrasi untuk memastikan kebenaran kabar tersebut. Namun, sebelum sempat melangkah, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari arah belakang.
“Bara!”
Ia menoleh dan tampak olehnya Vanya berjalan menghampirinya dengan wajah panik. Perempuan itu tampak begitu terburu-buru hingga napasnya sedikit terengah. Begitu tiba di hadapan Bara, ia langsung mencengkeram lengan pria tersebut.
“Bara, kita harus ke ruang rapat sekarang!” serunya.
Bara mengernyit, memandangi wajah Vanya yang terlihat tidak seperti biasanya. “Ada apa lagi?”
Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣