NovelToon NovelToon
Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Langkah kaki Maya terasa kian lambat menyusuri koridor sekolah yang perlahan mulai sepi. Seragamnya yang sempat basah akibat disiram air kotor di kamar mandi tadi siang kini telah mengering, namun menyisakan rasa gatal dan bau apek yang menusuk. Hatinya yang teriris oleh kepedihan tak lagi meneteskan air mata rasa sakit itu telah berubah menjadi rasa kebas yang teramat dingin. Setiap kali bel pulang sekolah berbunyi, bukan rasa lega yang menghampiri dadanya, melainkan bayangan beban berat penderitaan yang tak kunjung usai akibat ulah kejam Lexa dan kelompoknya.

Namun, di tengah himpitan takdir yang teramat tidak adil, ada percik api kecil yang berkobar di dalam diri Maya. Ia meremas tali ransel kusamnya erat-erat. Maya sadar betul, jika ia terus pasrah tanpa perlawanan, hidupnya dan ibunya tidak akan pernah berubah. Kebencian dan penghinaan yang dilontarkan Lexa baik di sekolah maupun di depan gubuk sederhananya kemarin menjadi bahan bakar terkuat bagi Maya untuk membuktikan bahwa kepintaran serta kerja kerasnya adalah satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kemiskinan dan ketidakberdayaan ini.Olimpiade Sains minggu depan bukan sekadar perlombaan biasa bagi Maya. Itu adalah panggung tempat ia bisa menegakkan kepalanya, membuktikan pada dunia bahwa seorang anak penjual sayur yang dihina memiliki martabat dan potensi yang tak bisa dibeli dengan uang.Sebelum melangkah keluar menuju pintu gerbang sekolah, Maya memutar arah langkahnya menuju perpustakaan. Ruangan beraroma kertas tua yang tenang itu selalu menjadi tempat berlindung favoritnya. Maya melangkah menyusuri lorong-lorong rak kayu tinggi, menyapukan jarinya di sepanjang punggung buku Biologi Molekuler, Genetika Lanjutan, dan Anatomi Tumbuhan. Dengan teliti, ia memilih empat buku tebal yang memuat soal-soal latihan olimpiade tingkat nasional tahun-tahun sebelumnya.Setelah mencatatkan pinjaman bukunya kepada petugas perpustakaan, Maya memeluk tumpukan buku berat itu di dadanya. Ada rasa hangat yang membuncah di hatinya. Meski bahunya pegal dan tubuhnya lelah, bayangan untuk belajar hingga larut malam demi mempersiapkan olimpiade justru memberinya energi baru untuk terus bertahan.Sementara itu, di tempat yang sangat berbeda, atmosfer kepanikan yang membara sedang melanda interior mewah sebuah mobil sedan hitam yang meluncur membelah kemacetan sore.

Lexa duduk di kursi belakang dengan menyilangkan kaki. Namun, keangkuhan yang biasanya terpancar dari wajah cantiknya kini luntur total, berganti dengan raut kepanikan yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Jemari terawatnya berulang kali meremas tali tas mewahnya hingga kulit tas itu terlipat-lipat.Saat amarah dan rasa tidak mau kalah menguasai otaknya di kelas tadi pagi, mengajukan diri untuk ikut olimpiade terasa seperti keputusan paling hebat untuk menampar kepopuleran Maya. Namun kini, setelah efek euforia emosinya mereda dan logika dingin kembali menguasai kepalanya, fakta membentur kesadaran Lexa dengan sangat keras.

"Gue tadi mikir apa sih?!", bisik Lexa di dalam hatinya, napasnya memburu halus.

Lexa tahu betul kapasitas otaknya. Ia sadar sepenuhnya bahwa selama ini nilainya bisa bertahan di angka aman hanya berkat bantuan contekan dari teman-temannya, joki tugas, atau pemaksaan terhadap Maya seperti yang ia lakukan semalam. Soal-soal ujian harian biasa saja sering kali membuat otaknya seperti benang kusut, apalagi soal-soal olimpiade sains yang terkenal sangat rumit, penuh analisis mendalam, dan jebakan logika.

Kepanikan Lexa kian menjadi-jadi ketika ia membayangkan konsekuensi dari tindakan nekatnya. Jika dalam perlombaan itu nanti nilainya hancur total sementara Maya meraih juara, rasa malu yang akan ditanggungnya akan puluhan kali lipat lebih mengerikan. Guru-guru akan memandangnya sebagai murid sombong yang tak tahu diri, teman-teman gengnya akan meragukan kepemimpinannya, dan yang paling menakutkan dari semuanya Mama Lexa pasti akan makin gencar membanding-bandingkan dirinya dengan Maya. Fasilitas hidupnya yang kini dipotong bisa-bisa dicabut sepenuhnya untuk jangka waktu yang tak terbatas.

"Nggak... ini nggak boleh terjadi!" gumam Lexa pelan, meraba pelipisnya yang mulai terasa pening.

Ponsel genggam di tangannya terus bergetar. Pesan dari Hani dan Aurel masuk bertubi-tubi di grup percakapan mereka

"Lex, lu beneran mau ikut? Gue tadi iseng liat contoh soal olimpiade tahun lalu di internet, rumitnya minta ampun! Lu ada persiapan apa?"

"Iya Lex, kalau sampai lu kalah jauh dari si Maya, posisi lu di sekolah gimana?"

Lexa melempar ponselnya ke samping tempat duduk dengan rasa jengkel yang memuncak. Pertanyaan-pertanyaan dari teman-temannya justru makin menyudutkan posisinya dan memperjelas kebodohan tindakan impulsifnya tadi pagi.Mobil sedan itu akhirnya berhenti di depan pelataran rumah megah milik keluarga Lexa. Dengan langkah terburu-buru dan hati yang kacau balau, Lexa melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menyapa siapa pun. Ia menaiki tangga menuju kamarnya, mengunci pintu rapat-rapat, lalu menjatuhkan diri di atas kasur mewahnya.Ia menatap langit-langit kamar yang berukir indah dengan mata yang membelalak cemas. Pikirannya berputar liar mencari cara. Membatalkan keikutsertaannya di depan Ibu Heni sama saja dengan mengaku kalah sebelum berperang sebuah hal yang diharamkan oleh gengsi tingginya. Namun, belajar mati-matian dari nol dalam waktu satu minggu adalah hal yang hampir mustahil bagi otak yang tak pernah terbiasa diasah.Gengsi, rasa takut akan kegagalan, dan dendam membara kepada Maya kini berkelindan menjadi satu labirin penderitaan baru bagi Lexa. Tanpa ia sadari, jerat yang ia pasang sendiri untuk menjatuhkan Maya kini perlahan-lahan mulai melilit lehernya sendiri, bersiap menyeret sang ratu sekolah ke dalam jurang kehancuran reputasi yang amat sangat ia takuti.

1
Hadi Mulyono
seru ceritanya
Hadi Mulyono
jaman sekarang jangankan anak orang kaya .anak orang biasa ga pny aja bnyk yg kelakuan gayanya kaya orang kaya .kasihan maknya jg
Hadi Mulyono
kapan nih pindah jiwa maya
Hadi Mulyono
di awal cerita SDH menarik semoga bab nya ga terlalu panjang yg penting pny kualitas isi yg bagus
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!