Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Monster Pusaka dan Pertumpahan Darah
Tanah berlumpur di bawah kaki mereka bergetar hebat saat monster raksasa itu menerjang maju.
Tidak ada auman panjang. Hanya suara dengusan berat dan derak akar pohon yang hancur terinjak empat kaki berotot Ironscale Basilisk. Setiap kali rahangnya terbuka, tetesan liur hijau jatuh ke tanah, mendesis keras dan membakar rumput menjadi abu berbau belerang busuk.
"Menyebar!" teriak Max, suaranya pecah oleh ketegangan.
Kelima prajurit itu melompat ke arah yang berbeda sedetik sebelum rahang raksasa itu menutup tepat di tempat mereka berdiri sebelumnya. Gigi-gigi setajam pedang itu menggigit tanah dan batu, mengunyahnya hingga hancur berkeping-keping.
Kin, yang berguling ke sisi lereng tanah, dengan cepat menarik tali busurnya. Jari-jarinya bergetar, namun matanya menatap tajam ke arah mata kuning monster tersebut.
Sring! Tak!
Anak panah berujung besi itu melesat lurus, namun meleset beberapa sentimeter dari mata, menghantam sisik kelabu di atas alis sang Basilisk. Anak panah itu memantul begitu saja, nyaris tanpa meninggalkan goresan, seolah baru saja menabrak pelat baja tempaan.
Monster itu menoleh cepat, mendesis marah ke arah Kin.
"Jangan biarkan dia mengunci target! Butakan matanya!" raung Josh.
Josh dan Willi meraup gumpalan lumpur yang bercampur darah pemburu dari tanah, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah wajah reptil raksasa itu. Beberapa gumpalan lumpur mendarat telak di moncong dan area sekitar mata kuningnya.
Basilisk itu mengibaskan kepalanya dengan kasar. Cipratan liur asam terlempar ke udara.
"Argh!" Willi menjerit tertahan saat setetes cairan hijau itu mendarat di pelindung bahu kulitnya. Asam itu mendesis, memakan lapisan kulit zirah hingga menembus kain di baliknya. Willi panik, memotong tali pengikat zirahnya dengan belati dan membuang pelindung bahu itu ke lumpur sebelum asamnya membakar dagingnya.
Bau menyengat dari daging busuk dan belerang membuat napas mereka sesak. Mereka baru saja bertarung habis-habisan melawan kelompok pemburu dewasa, dan kini paru-paru mereka dipaksa bekerja di luar batas wajar manusia.
Erson mencoba mencari celah dari sisi belakang. Ia mengangkat pedangnya, menebas pangkal paha belakang monster itu.
Trang!
Tebasan sekuat tenaga itu hanya menghasilkan percikan api kecil. Tangan Erson mati rasa akibat getaran benturan tersebut. Sisik makhluk ini benar-benar terbuat dari lapisan sekeras besi murni.
Basilisk itu mulai kehabisan kesabaran. Mangsa-mangsa kecil ini terlalu lincah dan mengganggu. Monster itu berhenti mengejar Kin, menancapkan cakar depannya dalam-dalam ke lumpur, lalu memutar separuh tubuh masifnya dengan gerakan menghentak yang mengejutkan untuk ukuran sebesar itu.
"Ekornya! Awas!" teriak Arya dari tengah genangan lumpur, suaranya menembus hiruk-pikuk pertarungan.
Sebuah bayangan hitam kelabu yang tebalnya seukuran batang kayu menyapu tanah. Ekor berlapis sisik berduri itu bergerak bagai godam raksasa, menghancurkan udara dan menyapu bersih semak belukar di jalurnya.
Erson, yang masih terhuyung akibat tangannya yang mati rasa, berdiri tepat di jalur sapuan maut itu. Matanya terbelalak ngeri melihat ekor raksasa itu mendekat. Kakinya membeku akibat rasa takut yang melumpuhkan akal sehat.
Dalam sepersekian detik sebelum ekor itu menghantam tubuh Erson dan mengubahnya menjadi serpihan daging, sebuah dorongan keras menghantam bahu pemuda itu.
Max menerjang dari arah samping, menabrak Erson hingga pemuda itu terpental ke kubangan lumpur.
Namun, harga untuk dorongan itu sangat mahal. Max tidak punya waktu lagi untuk menghindar. Ia memutar tubuhnya, menanamkan kedua kakinya ke tanah, dan mengangkat pedang serta lengan kirinya yang berlapis pelat besi tipis secara menyilang untuk melindungi dadanya.
KRAK! BUUGHH!
Suara besi patah dan tulang yang remuk terdengar mengerikan, menenggelamkan suara desisan sang monster.
Tubuh Max terangkat dari tanah, terlempar sejauh lima meter di udara bagai boneka kain yang rusak, sebelum akhirnya menabrak lereng tanah curam dengan suara benturan yang memuakkan.
"MAX!" jerit Josh dan Willi bersamaan.
Max berguling jatuh ke tanah basah. Ia terbatuk keras, memuntahkan darah segar yang menodai dagunya. Ia mencoba menumpukan tangannya untuk berdiri, namun tubuhnya ambruk kembali. Lengan kirinya—dari siku hingga pergelangan—bengkok ke arah yang tidak wajar. Pelat besi di zirahnya hancur lebur, dan tulang yang patah menonjol merobek kulit di balik kain lengan bajunya.
Pedang yang tadi ia gunakan untuk menangkis telah patah menjadi dua bagian. Jika ia tidak menyilangkan pedang itu, tulang rusuk dan jantungnya pasti sudah hancur.
Melihat satu mangsanya jatuh tak berdaya, Ironscale Basilisk itu mendengus puas. Monster itu memutar tubuhnya sepenuhnya ke arah Max yang terkapar, perlahan mengangkat kepalanya yang masif ke udara. Rahangnya terbuka lebar, bersiap menghujamkan taring pemutus tulang itu ke dada Max.
Namun, saat monster itu mendongak dan meregangkan lehernya, sisik tebal di pangkal rahangnya saling bergeser terbuka, memperlihatkan celah sebesar dua jari tangan yang sedari tadi dilindungi.
Dari jarak sepuluh langkah, mata Arya yang sedingin es menyala redup. Udara di sekitarnya seakan tersedot masuk.
Dada Arya membusung hingga batas maksimal yang bisa ditanggung tulang rusuk manusia. Ia tidak sedang bernapas; ia sedang memasukkan api ke dalam aliran darahnya. Serat otot di kakinya menjerit robek saat ia melontarkan dirinya melesat ke depan, membelah jarak menuju celah kematian itu.
👍