Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.
Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.
Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEMARI DIKAMAR TIDUR
Motor itu nyaris terbang menembus gelap.
Laras tidak lagi merasakan dingin. Ia tidak mendengar klakson yang menjerit di perempatan, tidak melihat lampu merah yang ia terobos. Satu-satunya yang ada di kepalanya hanya satu kata, diulang-ulang seperti doa yang putus asa: *Kenzo, Kenzo, Kenzo.*
Di kaca spion, dua cahaya lampu mobil menempel di belakangnya. Mira. Sahabatnya menyetir dengan Vania di kursi penumpang, mengejar tanpa pernah tertinggal jauh.
Gang perumahan itu muncul di depan mata. Laras membanting stang, ban belakang terpeleset sebentar di aspal basah, lalu motor berhenti miring di depan rumah dengan mesin masih meraung.
Pintu depan terbuka lebar.
Lampu ruang tamu menyala terang. Di lantai, vas bunga pecah berserakan, kursi terguling, dan bantal sofa terkoyak, kapasnya menyembul keluar seperti isi perut. Laras berdiri di ambang pintu, dan seluruh darahnya terasa surut.
"Kenzo!"
Suaranya pecah, serak, asing di telinganya sendiri.
"KENZO!"
Tidak ada jawaban. Hanya bunyi jam dinding yang berdetak, seolah tak terjadi apa-apa.
Ia berlari melewati ruang tengah. Benteng dinosaurus anaknya hancur berantakan, balok-balok berserakan di karpet. Di dapur, laci-laci ditarik keluar, isinya dibongkar. Buku catatan kecilnya, yang ia sembunyikan di bawah tumpukan serbet, tergeletak di lantai dengan halaman-halaman terbuka.
Seseorang telah mencari sesuatu, dan mereka tidak berhati-hati.
"Kenzo, Sayang! Mama pulang!"
Dari arah kamar utama terdengar bunyi pelan. Bukan suara anak kecil. Bunyi benda berat yang digeser.
Laras menahan napas dan melangkah ke koridor. Pintu kamarnya setengah terbuka. Ia mendorongnya perlahan.
Reza tergeletak di lantai dekat lemari pakaian, bersandar ke dinding. Darah mengalir dari pelipis kirinya, membasahi kerah kausnya. Matanya terbuka setengah, napasnya pendek-pendek, dan tangannya menahan sesuatu di belakang punggungnya: pintu lemari yang tertutup rapat.
"Mas Reza!"
Laras jatuh berlutut di sampingnya. Reza menoleh pelan, dan senyumnya, senyum yang aneh di wajah berdarah itu, muncul tipis.
"Mbak," bisiknya. "Maaf... saya lambat kirim pesannya."
"Kenzo mana?"
Reza mengangguk samar ke arah lemari di belakangnya. "Di dalam. Saya suruh dia sembunyi... dan jangan keluar sampai Mbak yang buka. Dia pintar. Nggak bersuara sama sekali."
Laras menggeser tubuh Reza dengan hati-hati, membuka pintu lemari dengan tangan gemetar.
Di antara gantungan baju dan tumpukan selimut, meringkuk Kenzo dengan boneka dinosaurusnya, kedua tangan menutup telinga, mata terpejam rapat. Pipi kecilnya basah oleh air mata, tapi ia tidak bersuara. Bahkan ketika pintu terbuka, ia tidak bergerak, seperti kelinci kecil yang terlalu takut untuk percaya bahwa bahaya sudah lewat.
"Kenzo," bisik Laras. "Sayang, ini Mama."
Mata kecil itu terbuka perlahan. Memandangnya. Lalu, seperti bendungan yang jebol, tangisnya pecah.
"Mama!"
Laras menariknya keluar dan memeluknya sekencang mungkin, mencium rambutnya, pipinya, dahinya, seolah ingin memastikan setiap bagian dirinya masih utuh. Tubuh kecil itu gemetar hebat dalam pelukannya.
"Mama di sini. Mama di sini, Nak. Nggak apa-apa. Nggak apa-apa."
"Om yang jahat masuk..." Kenzo tersengal. "Om Reza bilang... sembunyi di lemari... aku nggak keluar... aku nggak keluar, Ma..."
"Kamu pintar, Sayang. Kamu anak yang sangat pintar."
Ia membuka mata dan bertemu pandang dengan Reza yang masih bersandar lemah di lantai. Pria itu memandang mereka berdua dengan senyum letih, seperti orang yang baru menurunkan beban terberat dari pundaknya.
Laras merasakan matanya memanas. "Mas, kenapa Mas lakukan ini?"
"Kenzo anak yang baik," jawab Reza pelan. "Saya nggak bisa biarkan siapa pun menyakitinya."
---
Mira dan Vania muncul di pintu kamar beberapa detik kemudian, napas mereka memburu.
Vania berhenti di ambang pintu. Matanya jatuh pada Reza yang berlumuran darah, dan wajahnya runtuh seketika.
"Mas!"
Ia berlari dan jatuh berlutut di sisinya, tangannya gemetar menyentuh luka di pelipis Reza. "Ya Tuhan, Mas, kenapa... siapa yang..."
Reza menatap istrinya. Untuk beberapa detik, tak seorang pun berbicara. Pandangan Reza bergeser perlahan dari wajah Vania ke tangan kirinya yang gemetar, lalu ke pergelangan yang kini kosong, tempat gelang perak itu dulu melingkar.
"Gelangmu," katanya lirih. "Ke mana?"
Vania membeku.
Mira bergerak cepat. Ia berjongkok di dekat Reza, memeriksa luka dengan sigap. "Lukanya dangkal, tapi harus dibersihkan. Ras, ada kotak P3K?"
"Di dapur, rak atas."
Mira bangkit dan keluar. Laras duduk di lantai dengan Kenzo di pangkuannya, tangannya terus mengelus punggung anak itu sampai tangisnya mereda menjadi isak kecil, lalu napas teratur. Beberapa menit kemudian, bocah itu tertidur kelelahan dalam pelukannya, boneka dinosaurus terselip di bawah dagunya.
Laras membaringkannya di atas ranjang, menyelimutinya, lalu kembali ke lantai tempat Reza masih bersandar. Mira sudah membalut lukanya dengan perban, dan Vania duduk di sampingnya dengan wajah basah, tak berani menatap.
"Dua orang," kata Reza, suaranya masih lemah tapi jernih. "Masuk lewat pintu belakang, sekitar jam delapan. Saya sedang main sama Kenzo. Mereka nggak ngomong banyak. Cuma tanya, di mana Laras. Di mana kuncinya. Di mana Dimas menyimpan sesuatu."
Laras menahan napas. "Mereka bilang nama Dimas?"
"Iya. Sempat juga sebut nama Pak Rudi." Reza menatap ke dalam mata Laras. "Mbak, saya bukan orang bodoh. Saya pura-pura nggak tahu apa-apa dari awal, karena saya takut menghadapi kenyataan. Tapi malam ini..." Ia berhenti, menelan ludah. "Malam ini saya sudah nggak bisa pura-pura lagi. Tolong ceritakan semuanya. Apa pun itu."
Laras menoleh pada Mira. Sahabatnya mengangguk pelan, tanpa kata.
Ia menarik napas panjang, lalu meraih amplop cokelat yang sedari tadi digenggam erat oleh Vania. Perempuan itu melepaskannya tanpa melawan, seperti orang yang akhirnya menyerah pada sesuatu yang sudah lama ia takuti.
"Mas Reza," kata Laras pelan, "ada sesuatu yang harus Mas baca. Sesuatu yang seharusnya sampai ke tangan Mas sebelas tahun lalu."
Ia menyerahkan amplop itu.
Reza menerimanya dengan tangan yang masih sedikit bergetar. Perlahan, ia membuka tutup amplop, menarik keluar lembaran dokumen berkop notaris yang menguning, dan membaca judulnya di bawah cahaya lampu kamar.
*SURAT WASIAT — HENDRA WIJAYA.*
Napasnya terhenti.
Ia membaca. Matanya bergerak dari kiri ke kanan, lambat, kemudian semakin cepat. Laras memperhatikan wajahnya berubah dalam keheningan yang menyesakkan. Terkejut. Tidak percaya. Lalu kesedihan yang dalam, kesedihan yang datang dari jauh, dari tempat yang selama ini ia tutup rapat.
Ketika sampai di baris terakhir, catatan tangan bertinta biru itu, tangannya berhenti. Bibirnya bergerak tanpa suara.
*Jangan percaya Rudi.*
"Ayah," bisiknya. Satu kata saja, tapi di dalamnya ada seluruh masa kecil yang direnggut, seluruh duka yang tak sempat selesai. "Ibu."
Air matanya jatuh ke atas kertas tua itu, membuat tinta di sudutnya sedikit melebar.
Vania menutup mulutnya dengan telapak tangan, bahunya berguncang.
Reza mengangkat wajah. Matanya merah, basah, tapi sorotnya berubah. Bukan lagi pria lembut yang mudah percaya. Ada sesuatu yang lain sekarang, sesuatu yang keras dan jernih seperti baja yang baru ditempa.
"Siapa yang menyimpan ini?" tanyanya, suaranya serak tapi tenang.
Laras ragu, lalu menjawab jujur. "Dimas. Suami saya. Selama delapan tahun."
"Dan dia nggak pernah bilang apa-apa."
"Nggak."
"Dan Vania," Reza menoleh pelan pada istrinya, "kamu tahu sejak kapan?"
Ruangan itu seolah menahan napas. Vania menunduk dalam-dalam. Air matanya menetes ke lantai.
"Baru kemarin, Mas," bisiknya. "Baru kemarin aku tahu."
Reza menatapnya lama sekali. Laras tidak bisa membaca ekspresi di wajahnya, bukan marah, bukan benci, tapi sesuatu yang jauh lebih sulit diberi nama.
"Dan soal Dimas," lanjut Reza, suaranya sangat pelan, "ada yang ingin kamu ceritakan juga?"
Vania mengangkat wajah. Matanya bertemu mata suaminya, dan di dalam keheningan yang berat itu, Laras melihat sesuatu yang hancur dan sesuatu yang berusaha bertahan, dua hal yang berperang di dalam satu tatapan.
"Aku akan cerita semuanya, Mas," ucap Vania akhirnya. "Semuanya. Tanpa ada yang kututupi."
Di luar jendela, jauh di ujung gang, sebuah mobil sedan hitam melintas pelan di bawah lampu jalan, berhenti sejenak, lalu mematikan lampunya.
Laras menatapnya dari balik tirai, lalu menoleh pada anaknya yang tertidur, pada Reza yang menggenggam wasiat orang tuanya, pada Vania yang gemetar menunggu hukuman.
Dari semua yang telah terjadi, satu hal kini tak lagi bisa ia sangkal. Perang ini bukan lagi tentang suami yang diperebutkan.