Janitra Widari Pramudya memutuskan kembali ke Tanah Air. Sebelumnya, ia tinggal di luar negeri selama lima tahun karena melanjutkan kuliah. Orang tuanya telah meninggal dunia sejak enam tahun yang lalu karena kecelakaan.
Janitra akhirnya menerima perjodohan dari Keluarga Syailendra sesuai wasiat mendiang kakeknya. Janitra baru mengetahui ternyata dirinya dijodohkan dengan Kresna Maharaja Syailendra sejak lama. Bagi Janitra, Kresna adalah cinta pertamanya.
Aku mencintainya sederas hujan. Namun, dia memilih untuk membangun tembok setinggi langit~Janitra.
Jangan pernah melangkah jauh menembus batasan yang sudah aku terapkan karena itu percuma saja. Kita menikah bukan karena cinta. Hanya sebatas utang budi keluarga. Aku harap kamu tidak pikun~Kresna.
Simak kisah mereka.💋💋
Mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Gusti Sudah Kelewatan !!
Kresna akhirnya memutuskan menuruti ajakan Mayang untuk minum kopi bersama di cafe baru dekat rumah sakit Satya Medika.
"Lumayan bagus juga ya Kres interior cafenya," puji Mayang.
"Hem,"
"Lumayan rame juga ternyata. Aku coba jalan ke arah sana cari tempat duduk kosong," ucap Mayang.
Kresna hanya menganggukkan kepalanya kecil di depan Mayang dengan tatapan datar dan terkesan cuek seperti biasanya.
Saat Kresna mencoba mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat duduk kosong, tiba-tiba pupil matanya melebar melihat Janitra duduk satu meja dengan pria yang masih punya hubungan kerabat dengannya yakni Dewa.
Rahangnya seketika mengeras.
Tangan Kresna mengepal rapat.
Kemarahan tampak jelas di wajah putra mahkota Syailendra tersebut.
Mungkin jika pria itu bukan Dewa, Kresna tak terlalu marah. Akan tetapi, saat ini Dewa duduk berdua dengan Janitra.
Apalagi keduanya seakan sedang asyik bercengkerama hingga Kresna melihat jelas tawa kecil terbit di wajah istrinya itu. Begitu pun di wajah Dewa yang tampak sumringah.
Awalnya ingin melihat kesibukan Janitra mengurus perihal koas di Satya Medika. Jika sang istri kesulitan, Kresna bersedia membantu walau dari jalur belakang secara diam-diam dan tak diketahui Janitra.
Namun, pemandangan tak indah justru menyambutnya di cafe dekat rumah sakit. Seketika dari hati Kresna yang ingin memberikan perhatian untuk Janitra, sontak hilang tertiup angin berganti gertakkan gigi kala melihat Janitra duduk bersama Dewa.
"Jadi begini kelakuan dia di luar. Dikasih hati minta jantung!" geram Kresna di hatinya.
Langkah kaki Kresna perlahan penuh senyap datang mendekat ke meja Janitra dan Dewa.
"Aku cari di rumah sakit ternyata istriku sedang asyik duduk di sini," sapa Kresna dengan nada menyindir Janitra dan Dewa.
Deg...
Janitra cukup terkejut melihat kedatangan Kresna yang tak diduganya. Sedangkan Dewa bersikap lebih santai dan tersenyum tipis seolah ia sama sekali tak terganggu kedatangan Kresna saat ini.
"Hai, Kres. Lama kita gak bertemu,"
"Aku pikir kamu lebih suka tinggal di luar negeri. Kenapa lantas cepat pulang?"
"Ada hal yang ingin aku gapai di sini. Jadi, aku pulang."
"Oh begitu,"
"Silahkan duduk. Kita bisa ngopi bertiga siang ini," ajak Dewa dengan nada suara riuh santai.
Janitra sudah berdiri membuka kursi untuk Kresna.
"Maaf, kalau aku menolaknya. Aku ke sini ingin memberi kejutan untuk istriku. Kebetulan ada hal mendesak yang harus kami lakukan siang hari ini," ucap Kresna seraya tangannya sudah berada di pinggang Janitra dan menariknya lebih dekat hingga tubuh keduanya saling menempel.
"Ada hal mendesak apa, Gusti?" tanya Janitra dengan sedikit mendongakkan kepalanya menatap wajah Kresna karena postur tubuh suaminya itu lebih tinggi darinya.
"Kamu lupa ya, Sayang. Siang ini kita harus check in di hotel demi melanjutkan garis keturunan ningrat di Keluarga Syailendra," ucap Kresna seraya memberi kode pada Janitra.
Lalu pandangan Kresna beralih ke Dewa.
"Maaf jika aku mengganggu acara obrolan kalian tadi. Maklum kami masih pengantin baru. Kamu pasti paham da_rah muda laki-laki seperti apa tanpa harus ku jelaskan," ucap Kresna penuh penekanan di ujung kalimatnya.
"Kami pamit dulu," sambungnya.
"Oke, hati-hati di jalan. Semoga apa yang kamu mau segera terwujud Kres," sahut Dewa.
"Hem,"
"Maaf, Mas Dewa. Kami pergi dulu. Terima kasih," ucap Janitra berpamitan.
"Oke, Jani."
Kresna semakin kesal atas sikap sopan dan kalimat yang tampak manis dalam hal berpamitan yang baru saja terjadi antara Janitra dengan Dewa di depannya.
Tanpa basa-basi Kresna segera membawa Janitra keluar dari cafe tersebut. Saat berada di area parkir, Kresna menarik lengan Janitra cukup keras.
"Tanganku sakit, Gusti. Jangan seperti ini," pinta Janitra sembari meronta.
Kresna tak peduli akan rintihan Janitra. Lalu, ia membuka pintu kursi penumpang dan menghempaskan tubuh Janitra masuk dengan cukup kencang disusul dirinya.
"Pulang ke Kasepuhan sekarang!" titah Kresna pada sopirnya.
Di area sudut cafe, Mayang tersenyum bahagia karena rencananya sepertinya berjalan lancar.
Ya, Mayang sengaja mengajak Kresna ke cafe tersebut agar pria itu bisa melihat Janitra bersama Dewa. Lalu, Kresna akan berpikir Janitra berselingkuh dengan Dewa. Mayang berharap Kresna dan Janitra segera bercerai.
"Mayang kamu lawan. Rasakan pembalasanku," batin Mayang.
Dewa yang menatap kepergian Kresna dengan Janitra dari cafe, hatinya sebenarnya sakit. Namun, ia tak bisa berbuat banyak karena Janitra adalah istri sah dari Kresna.
Lalu, ia sedikit tersenyum tipis setelah menyadari tingkah laku Kresna tadi karena pria itu cemburu padanya.
"Semoga kali ini kamu benar-benar bisa mencintai dan membahagiakan Janitra, Kres. Jika tidak, jangan salahkan aku jika merebut dia darimu. Apapun akan aku lawan. Tak peduli jika aku harus berhadapan dengan Kasepuhan Keluarga Syailendra sekalipun," batin Dewa.
☘️☘️
Di dalam mobil, aura tak nyaman tentu Janitra rasakan. Bahkan bulu kuduknya seakan mengajaknya berdiri semua. Suasana tampak mencekam.
Tatapan Kresna dingin begitu menusuk tubuhnya dengan ribuan jarum yang tajam. Insting Janitra jelas merasakan bahwa Kresna begitu marah padanya.
Namun, Janitra masih belum mengetahui jelas tentang akar permasalahannya atau kesalahan yang sudah dilakukan dirinya. Dewa bukan orang lain bagi mereka berdua. Dewa juga masih kerabat Kresna.
Lantas, apa salah jika dirinya minum kopi sejenak bersama Dewa ?
Janitra juga sudah meminta izin pada Kresna lewat pesan singkat.
Akan tetapi, kondisi di lapangan tampak berbeda. Kresna sekarang ini bak banteng yang seakan siap menyeru_duk tubuhnya hingga mati terpojok.
"Jadi begini kelakuanmu di luar!" seru Kresna.
"Kelakuan yang mana, Gusti?" tanya Janitra karena ia benar-benar tak paham maksud Kresna terhadapnya.
"WEDOKAN GATEL (perempuan gatal atau penggoda) !" maki Kresna.
Seketika...
PLAKK !!
Sebuah tamparan keras secara tiba-tiba mendarat di pipi Kresna dari telapak tangan Janitra.
"Jogo omongane (jaga ucapannya), Gusti !" bentak Janitra seraya kedua matanya perlahan mulai berkaca-kaca.
"GUSTI SUDAH KELEWATAN !!"
Bersambung...
🍁🍁🍁
Mentolo tak kruwes sampai remet.
MBK Fira awas yaa aku ngk relaa kalo sampe si Mayang berhasil naik ke ranjang Gusti kresna😡😡