NovelToon NovelToon
Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: SATU MALAM UNTUK MEMBAYAR

#

Kasino itu berdiri di puncak bukit Marenta seperti kue ulang tahun yang dibangun di atas tulang, tujuh lantai kaca dan marmer, dengan lampu kristal yang menyala sepanjang malam dan empat puluh lelaki bersenjata yang digaji untuk memastikan tidak ada yang naik ke atas tanpa diundang. Kenzo berdiri di atap gudang parkir di seberang jalan sejak senja, tanpa bergerak, dengan topeng porselen di wajah dan hujan tipis yang membasahi bahunya.

Di telinganya tidak ada suara. Earpiece itu masih terselip di saku dalam jaket, mati, tidak ia pasang. Tidak ada lagi suara datar yang berbisik *napasmu terlalu cepat, hitung sampai empat*. Ia menghitung sendiri, dan hitungannya berantakan.

*Satu.* Kamera di sudut barat berputar lambat, jeda empat detik di ujung sapuannya. Axel pernah bilang jeda itu bisa dipakai. Axel selalu tahu hal-hal seperti itu.

*Dua.* Ia menelan sesuatu yang rasanya seperti besi.

Tiga.

Ia melompat.

---

Pelajaran pertama yang diajarkan Laksmi di gudang pewarna itu: orang yang terlatih jarang jatuh karena kekuatan. Mereka jatuh karena urutan. Kenzo menembus lantai dasar melalui dapur kasino yang bau minyak dan alkohol, melewati dua koki yang membeku dengan pisau di tangan dan mata melebar melihat wajah putih tanpa mulut itu. Ia hanya mengangkat telunjuk ke arah mereka, dan mereka berdua merunduk di balik meja stainless tanpa sepatah kata pun.

Penjaga pertama menunggu di lorong servis dengan senapan pendek. Kenzo tidak menembaknya. Ia menyapu kaki lelaki itu dari samping, menangkap senapannya di udara, dan menghantamkan popornya ke pelipis sebelum tubuh itu menyentuh lantai. Penjaga kedua dan ketiga datang berbarengan dari tangga darurat. Tembakan pertama menyambar daun telinganya dan meninggalkan garis panas. Ia berguling ke bawah rak handuk, menendang lutut yang satu sampai bunyinya terdengar sampai ke ujung lorong, lalu meraih kerah yang lain dan membantingnya ke dinding sampai plester retak.

Tidak ada yang mati. Itu disiplin yang ia pegang sendiri dengan keras kepala yang aneh, seperti satu-satunya tali yang masih tersambung ke sesuatu yang dulu miliknya. Anderson yang harus membayar. Bukan mereka yang cuma digaji.

"Penyusup! Lantai satu! Dia..."

Teriakan itu terputus oleh sikunya.

Lantai dua, lantai tiga. Alarm menyala di lantai empat, bunyi sirene meraung memantul di dinding marmer, dan lampu-lampu kristal mulai bergetar oleh derap sepatu yang turun dari lantai atas. Dua puluh orang, kemudian tiga puluh. Mereka menyerbu lorong dengan teriakan dan tembakan liar, dan Kenzo, di tengah-tengah mereka, bergerak dengan sesuatu yang bukan lagi teknik, bukan lagi pelajaran dari siapa pun. Ia tidak berpikir. Ia tidak menghitung. Setiap kali satu tangan terangkat, ada pergelangan yang patah. Setiap kali satu senjata menyalak, ada tubuh yang sudah tidak berada di tempatnya. Seorang lelaki bertubuh dua kali lipatnya mengayunkan pentungan baja ke kepalanya dan Kenzo menangkap pentungan itu dengan telapak tangan terbuka, bunyinya seperti kulit memukul batu, lalu memutar dan menendang dadanya sampai ia terlempar menabrak dua orang di belakangnya.

Rasa sakit ada di sana. Rusuk kanannya, yang dulu retak di Kota Tua, berdenyut tiap kali ia memutar badan. Darah mengalir dari alis, dari bibir, dari lengan kirinya yang tergores pecahan kaca. Tapi semua itu terasa seperti sesuatu yang terjadi pada orang lain, jauh, di balik kaca tebal.

Seorang penjaga muda, mungkin dua puluh tahun, menjatuhkan senjatanya dan mundur ke dinding dengan tangan terangkat, gemetar dan menangis. Kenzo berhenti. Ia berdiri di depannya, bahu naik turun, topeng itu miring sedikit menatap wajah yang basah itu.

"Pulang," katanya. Suaranya serak dan tidak dibuat-buat. "Sekarang."

Anak itu lari. Kenzo berbalik dan melihat selusin tubuh bergelimpangan di lorong, mengerang, bergerak lemah, tidak satu pun berhenti bernapas. Di dalam dadanya sesuatu yang dingin dan lapar mengangguk sekali, puas.

Itu yang membuatnya takut.

---

Di lantai tujuh, Michael Anderson tidak duduk dengan lampu menyala menunggu seperti yang diminta. Ia berlari.

Tangga pribadi di belakang ruang kerjanya menuju helipad di atap, dan ia menuruninya, bukan menaikinya, dua anak tangga sekaligus dengan jas krem yang kusut dan tas kulit kecil yang berisi lebih banyak uang daripada yang bisa dibawa lelaki mana pun. Di kakinya sepasang sepatu mahal yang tidak dirancang untuk berlari, dan di pinggangnya sebuah pistol yang belum pernah ia pakai di hadapan siapa pun.

"Pak! Pak, lantai enam sudah jatuh! Dia sendirian, tapi..."

"DIAM!" Anderson menepis ajudannya sampai terhuyung. "Mobil. Garasi bawah. Sekarang!"

Ia tidak melihat bayangan putih yang berdiri di ujung koridor atas, menatap punggungnya yang menjauh, dengan kepala miring seperti pemburu yang melihat rusa memilih jalan yang salah.

Kenzo mengejarnya.

Kejar-kejaran itu berlangsung melewati lantai demi lantai, lorong demi lorong, dan Anderson ternyata lebih licin dari yang diperkirakan. Ia membanting pintu besi di belakangnya, menjatuhkan lemari ke jalan, menembak membabi buta ke belakang tanpa menoleh. Peluru menghantam dinding, vas, patung marmer di lorong tamu VIP. Satu peluru menyerempet bahu Kenzo dan merobek jaketnya. Kenzo membalas dua kali, bukan untuk membunuh, tapi untuk memaksa lelaki itu menunduk, dan tembakan itu meledakkan dua lampu gantung di atas kepala Anderson yang membuatnya menjerit dan jatuh menggelinding.

Mereka berlari menembus ruang judi yang sudah kosong, meja-meja hijau dan kartu yang berserakan, roda roulette yang masih berputar pelan di bawah lampu temaram. Anderson melompati meja, Kenzo meluncur di atasnya, dan sepatu mahal itu terpeleset di atas chip yang tumpah. Kenzo hampir meraih kerahnya. Satu tembakan dari arah tangga memaksanya berguling berlindung di balik mesin slot, dan ketika ia bangkit, lelaki itu sudah menghilang ke dalam lift pribadi, pintunya menutup dengan bunyi lembut.

Ia tidak mengejar lewat tangga. Ia melemparkan dirinya ke celah poros lift yang terbuka di sebelahnya, menangkap kabel baja dengan tangan telanjang, dan meluncur turun dua lantai dengan telapak yang terbakar.

---

Di tempat lain, jauh dari bukit itu, di sebuah kamar kontrakan bobrok di distrik pelabuhan yang berbau ikan asin dan solar, Axel duduk di depan tiga layar kecil yang ia rakit dari barang bekas.

Ia tidak sedang melakukan apa-apa. Itu yang ia katakan pada dirinya sendiri untuk keempat kalinya malam itu. Ia hanya duduk. Tablet di pangkuannya mati. Jendela-jendela di layar menampilkan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan Kenzo: harga saham, peta cuaca, arsip pelabuhan yang ia gali untuk dirinya sendiri, nama-nama yang masih belum selesai.

Tapi di sudut layar paling kiri, sebuah jendela kecil menyala berwarna merah. Rekaman kamera keamanan kasino Anderson. Ia tidak membukanya. Ia hanya tidak menutupnya, dan rekaman itu terus berjalan dalam diam, lorong demi lorong, tubuh demi tubuh yang bergelimpangan dalam gambar abu-abu tanpa suara.

*Biarkan dia.*

Jari-jarinya bergerak sendiri di atas paha, membentuk kalimat tanpa ada yang membaca. *Dia bunuh Victor. Biarkan dia dibunuh balik. Itu adil.*

Di layar, sosok putih itu jatuh meluncur ke poros lift. Axel memalingkan muka.

Ia berdiri, mengambil gelas air, menaruhnya lagi tanpa minum. Duduk. Membuka jendela kecil itu setengah. Menutupnya. Menutup layar lain. Di dinding di atas meja ada selembar foto lama yang ia cetak sendiri bertahun-tahun lalu: tiga orang di halaman sempit, satu berambut beruban dengan tangan menendang debu, satu bocah berambut berdiri, satu lagi kurus dengan kerah hoodie ditarik sampai dagu, tertawa dengan mulut terbuka lebar tanpa suara. Foto itu tidak pernah ia lepas, dan malam ini ia tidak sanggup menatapnya.

*Dia bunuh Victor.*

Tapi ia juga melihat tangan yang gemetar itu di bawah hujan, dan dahi yang menempel di dadanya, dan satu kalimat yang ia tulis sendiri di tanah ketika berumur delapan tahun: *aku juga nggak ada yang nyari.* Ia sudah membuat banyak keputusan dalam hidupnya hanya dengan logika. Malam ini logikanya tidak mau bicara.

Di layar, jendela merah itu menampilkan lantai bawah tanah. Tiga mobil hitam berjajar di garasi. Dan dari sisi lain bingkai, di luar jangkauan kamera yang selama ini ia bayangkan, ada gerakan yang tidak seharusnya ada di sana. Lampu-lampu garasi padam satu per satu, dari ujung ke ujung.

Axel berhenti bernapas. Jarinya menggantung di atas papan ketik, gemetar di antara dua tombol yang berbeda dunia. Satu akan mengirim peringatan ke telepon kecil di saku seorang lelaki bertopeng. Satu lagi hanya menutup jendela itu untuk selamanya.

Ia menatap keduanya, dan tidak menekan apa pun.

---

Garasi bawah tanah itu gelap total ketika Kenzo mendarat dari poros lift, dan ia langsung tahu ada yang salah.

Lampu-lampu itu tidak padam karena alarm. Tidak ada bunyi generator, tidak ada getar listrik. Ruang parkir yang tadi diterangi neon dingin tiba-tiba pekat seolah seseorang sengaja memutus dari sumbernya, dan di kejauhan terdengar suara kunci mobil dilepas, pintu besi diseret. Bau bensin, oli, dan sesuatu yang manis dan asing.

"Kamu cepat." Suara Anderson datang dari kegelapan di sebelah kiri, hampir menyenangkan. "Aku tidak mengira kamu bisa melewati lantai lima. Kamu bukan manusia."

Kenzo bergeser tanpa suara ke balik pilar beton, napas ditahan, tangan kanannya menggenggam pistol dengan dua peluru tersisa. Ia tidak menjawab. Orang yang bicara di kegelapan sedang mencari sesuatu, dan sesuatu itu adalah posisinya.

"Aku tahu apa yang kamu cari." Langkah-langkah pelan, berjalan melingkar. "Kamu pikir aku tidak tahu siapa yang kamu bunuh malam itu? Aku tahu semua tentang Pradana, bayangan. Aku tahu dia menjaga Budiawan. Aku tahu dia pernah mengajarimu cara jatuh yang tidak sakit."

Dada Kenzo seperti diremas dari dalam.

"Aku tidak membunuhnya karena aku tidak mau mengotori tangan. Aku mengirimmu ke sana karena aku tahu kamu pasti akan ragu. Dan jika kamu ragu, kamu mati. Jika kamu tidak ragu, dia yang mati." Tawa kecil, kering. "Aku tidak peduli yang mana. Aku menang di kedua sisi."

Jadi ia tahu. Sejak awal.

Sesuatu di dalam Kenzo, yang sudah dua hari ia tekan dengan seluruh berat badannya, pecah.

Ia tidak ingat melompat dari balik pilar. Ia hanya ingat suara yang keluar dari mulutnya, bukan teriakan, tapi sesuatu yang lebih rendah dan lebih tua, dan ketika ia menyadarinya ia sudah menabrak tubuh Anderson dari samping dan keduanya terbanting di atas kap sebuah mobil sampai kacanya remuk berhamburan. Kepalan Kenzo menghantam rahang, satu, dua, tiga, dan kepala lelaki itu terdorong ke samping dengan bunyi yang tidak ia dengar. Pistol Anderson terlepas dan meluncur ke kegelapan.

Tapi lelaki enam puluhan itu bukan pengusaha biasa. Siku Anderson menghantam telinga Kenzo dari bawah dengan akurasi orang yang pernah menjalani pelatihan sungguhan, bertahun-tahun lalu, di tempat yang tidak ia ceritakan pada siapa pun. Dunia berdengung putih. Lutut menghantam selangkangannya, dan ketika Kenzo membungkuk, sebuah botol pecah di atas kepalanya.

Ia jatuh ke lantai beton, pandangan berputar, darah hangat mengalir di tengkuk.

"Aku berlatih Krav Maga di Tel Aviv sebelum kamu lahir, Nak." Anderson berdiri sambil mengelap darah dari bibir, kemeja krem sobek, napas tersengal tapi mata menyala. "Orang mengira aku cuma tahu menyuruh."

Kenzo meludah darah dan tersenyum di bawah porselen. Itu bukan senyum yang bisa dilihat siapa pun, tapi Anderson merasakannya, dan untuk sesaat langkahnya ragu.

Mereka bertarung di antara deretan mobil. Pukulan bertemu tangkisan, tangkisan bertemu sapuan, dan tidak ada yang bisa mengakhiri. Anderson menembak dari balik mobil yang berbeda, Kenzo membalas dari balik tiang. Peluru memercik di beton. Satu peluru lagi menembus lengan Kenzo, di bagian daging yang tidak mengenai tulang, panas dan basah. Satu lagi melubangi kap mobil tepat di tempat kepalanya tadi. Mereka bergantian maju mundur, saling menutup jarak, saling menjauh, dan setiap kali tangan salah satu hampir menggapai, yang lain sudah menghilang.

"Kamu tidak bisa membunuhku!" teriak Anderson, suaranya menggema di langit-langit rendah. "Kalau aku mati, pelabuhan selatan jatuh ke tangan orang-orang yang jauh lebih jahat dari aku!"

"Aku tidak peduli."

"Kamu pikir Pradana mati demi ini?! Kamu pikir dia mau..."

Satu tendangan mengenai dada Anderson, melontarkannya ke dinding sampai napasnya habis. Kenzo menyusul, memukul perutnya, rahangnya, perutnya lagi, tidak lagi dengan kontrol, tidak lagi dengan hitungan. Hanya amarah, murni dan kosong, membuat tangannya bergerak sendiri. Setiap pukulan membuka satu lagi pintu di dalam dadanya, dan di balik pintu itu ada tong sampah plastik, boneka dengan telinga terlipat, kaus kaki tidak sepasang, kain hitam yang lepas dari wajah beruban.

"Jangan... sebut... namanya..."

Anderson jatuh berlutut. Wajahnya bengkak, satu mata tertutup, dan di antara dua napas terengah-engah ia mulai tertawa.

"Itu dia. Itu yang kuinginkan. Kamu yang menyakitkan, bayangan. Kamu terlalu mirip..."

Kenzo mengangkat tangannya untuk pukulan terakhir.

Dan pada saat itulah ia mendengar langkah-langkah di belakangnya.

Terlalu banyak. Terlalu rapi. Berbaris, tidak terburu-buru, seperti tamu yang menunggu dipersilakan masuk. Kenzo membeku, tinjunya masih terangkat, dan di antara kegelapan garasi itu ia melihat satu per satu lampu senter menyala dari segala arah, memotong gelap menjadi serpihan putih.

Satu pasang sepatu hitam berhenti tepat di sampingnya. Sepatu mengilap, jas abu-abu, tangan kosong yang merapikan manset dengan gerakan tenang.

"Lingkar Hitam," kata Anderson dari lantai, di antara tawa dan darah. "Aku memanggil mereka sebelum kamu melewati lantai tiga. Aku hanya perlu menahanmu sampai mereka tiba. Kamu ingat Gandara, kan?"

Kenzo menoleh terlalu lambat.

Gandara berdiri di sampingnya, hampir sopan, dan di belakang lelaki itu enam, delapan, sepuluh orang berjaket kulit membentuk setengah lingkaran sempurna. Senter-senter mereka menyorot wajahnya, dan porselen putih itu menangkap cahaya seperti bulan retak. Ia mencoba bergerak, tapi lututnya, yang sudah dua jam menahan lompatan dan tendangan, tidak lagi mau menurut. Rusuknya menjerit. Lengan kirinya mati rasa. Seluruh adrenalin yang tadi menahan tubuhnya tiba-tiba surut, dan di bawahnya hanya ada tubuh yang sudah menyerah sejak bukit itu.

Itu kesalahannya. Ia tidak memikirkan Lingkar Hitam, karena di kepalanya yang tersisa hanya satu nama. Dan ia tidak memasang earpiece, karena memasangnya berarti mendengar suara yang sudah tidak mau berbicara dengannya. Kalau Axel ada di sana, suara datar itu akan menyebut gerakan mobil di jalan bawah, tiga belas menit lalu. Ia sendirian, dan ia tahu itu, dan ia tetap melompat dengan sepenuh hati.

"Anak muda yang menyedihkan." Gandara berjongkok, hampir lembut, menarik pistol dari tangan Kenzo yang kehilangan tenaga. "Waktu itu aku sudah bilang, bagus saja tidak cukup."

Sebuah lutut menghantam punggungnya. Kenzo jatuh tertelungkup ke beton, wajahnya menekan lantai yang berbau oli, dan tangan-tangan kasar menahan lengannya, bahunya, kepalanya. Sesuatu yang dingin menempel di tengkuknya.

Seseorang menarik topeng itu dengan satu tarikan kasar. Porselen putih itu terbanting ke lantai dan berputar pelan, berhenti dengan lubang matanya menatap langit-langit.

Wajah Kenzo, telanjang, penuh darah dan lumpur dan air mata yang tidak sempat kering, menatap sepatu-sepatu di depannya. Di antara semua itu, ia melihat Anderson berdiri tertatih-tatih, menyeka darah dari mulut dan tersenyum lebar.

"Aku tidak akan membuat kamu mati cepat," kata Anderson. "Tapi bos kami ingin kamu hidup untuk ditanyai. Dia bilang, bawa yang itu padaku, apa pun yang terjadi."

Gandara menegakkan badan dan mengangkat tangan sedikit. Isyarat kecil, seperti menyuruh pelayan membawakan teh.

"Tapi sebelum itu..." Anderson memungut pistol Gandara, memeriksa isinya, dan berlutut di depan wajah Kenzo. Moncong dingin itu menempel di pelipisnya, tepat di titik di mana retak emas dulu menandai porselen. "Aku ingin dia mengerti sesuatu. Sekali saja. Sebelum aku kembali jadi orang yang tidak mengotori tangan."

Jari di pelatuk menegang.

Kenzo menatap lurus ke dalam mata Anderson yang bengkak, dan di bawah semua ketakutan itu ia merasakan sesuatu yang aneh dan hampir lega. Tidak ada topeng. Tidak ada nama. Tidak ada janji yang harus ia ingkari lagi. Ia memikirkan lelaki di bawah pohon jambu, dan tiga piring di rak dapur, dan kertas lipat yang ia selipkan di antara jari-jari yang dingin.

*Papa. Aku datang.*

Di tempat jauh, di kamar kontrakan yang berbau solar, sebuah jendela merah di layar paling kiri menampilkan satu gambar terakhir, dari kamera di sudut garasi yang masih hidup: seorang lelaki berlutut dengan pistol di pelipisnya, dan sepuluh orang berjaket kulit yang berdiri mengelilinginya seperti sedang menyaksikan upacara.

Jari Axel yang menggantung di atas papan ketik berhenti gemetar.

Dan di garasi gelap itu, jari Anderson menarik pelatuk setengah inci...

---

*Bersambung ke Bab 18*

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iih jadi inget.. 🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: yang baca ini.. 🤭🤭
total 4 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu harunya ingat saat pas kalian masih bersama, melewatkan segala susah senang bersama, bahkan saat tersulit pun kalian bisa menghadapinya.. jangan hanya kesalahan yang bahkan membuat Kenzo menyesal seumur hidupnya pun kamu meninggalkan dia, dan juga karena seorang cewek yang sudah memberikan hati ya padanya.. padahal Kenzo sendiri cuek sama dia kan.. dia tidak membalas perasaan Silva...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaahh cinta segitiga gak tuh nantinya... terus Silva gimana dong Ken... kamu jangan memberi harapan palsu ke Silva.. kasihan kan dia.. mana si Axel juga jadi ninggalin kamu kan karena Silva suka sama kamu.. eh kamunya malah suka sama anak musuh mu sendiri.. emang enak ditinggalin sama orang yang pernah kita sayangi dan kita percayai dalam hidup kita....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah Kenzo dong... super hero datang juga akhirnya... kak authornya pinter banget sih, lagi tegangan tinggi langsung datengin hero nya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh siapa tuh yang pakee motor🤔🤔🤔
tania Weh
kalau kekasih lama. suka gak😍?
tania Weh
dangdut ya 🤭🤭, yang dak dik duk gitu deh, kayak hatiku padamu loh 🤣
tania Weh
mungkin author nya pernah deh
tania Weh
iiiiihhhn jadi flashback deh saat aku di suapin seseorang 😍😍😍😍
tania Weh
peran jahat lagi ini
tania Weh
romantis bangeeeeett 😍😍, jadi pengen deh di peluk kak author nya 🤭
tania Weh
diskusi apa sih, 😍😍😍😍😍 , apaa jangan jangan aku ya 😄😄
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waah kak authornya mau berdiskusi dulu ternyata.. silahkan kak.. nyantai aja...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaaahh Axel kenapa kamu begitu... ahh tidaaakk.. 😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah apa maksudnya si lord ini.. dia mau memecah Axel sama Kenzo... dan siapa 2 orang yang bertopeng dengan tongkat itu.. apakah dia yang tadinya duduk di kursi roda itu kah? 😱😱😱
EVandri Beloved❤❤: yang jelas bukan penjahat waspadalah... waspadalah.. waspadalah
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaahh Axel hubungan kamu sama kenzo jangan jadi rusak gara² hal ini dong... hati tidak bisa berpindah begitu saja kan.. hati yang memilih.. kamu juga pasti tahu hati tidak bisa ditebak kita akan menyukai siapa didunia ini.. karena kalau jati sudah memilih maka kita tidak bisa menolak... pliisssss jangan jadi renggang sama Kenzo...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa lagi mereka???
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah kamu Kenzo... kenapa kamu tembak mati dulu... harusnya walaupun kamu tembak, tapi jangan di tempat yang fatal duku biar kamu bisa ngorek. informasi yang kamu cari dari dia...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apakah itu adalah ayahnya si Kenzo itu? 🤔🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah cinta segitiga nih.. Axel kamu jangan jadi begitu dong sama Kenzo.. hati tidak bisa dipaksakan untuk mencintai... kita tidak bisa memilih atau menolak haal itu... semoga kamu bisa legowo Axel... ingat kalian sudah tumbuh bersama selama ini, jangan hanya karena hal itu hubungan kalian jadi retak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!